Bagaimana simbolisme yang terdapat dalam kain batik?

batik making

Batik termasuk kain tradisional, dan dari peralatannya membatik juga digolongkan kerja tradisional, yang menggunakan peralatan seperti anglo, gawangan, dan tepas. Selain itu tentunya ada canting, yang merupakan alat utama membatik. Sebagian kalangan menyebut bahwa canting inilah yang menentukan apakah hasil pekerjaan itu dapat disebut batik atau bukan (Hamzuri, 1989). Canting terbuat dari tembaga, dan ada berbagai macam, dilihat dari besar kecil/berapa banyak ujungnya, dan untuk mengerjakan bagian apa canting itu digunakan (untuk melukis pola, untuk mengisi bidang). Proses pembuatan batik tergolong rumit dan memakan waktu cukup lama, dan terdiri dari banyak tahap yang berulang-ulang dan bahkan bisa dikerjakan banyak orang, mulai dari melukiskan pola dasar, pola isian, pencelupan, hingga peluruhan lilin dan persiapan kain menjadi produk akhir.

Secara tradisional, banyak ragam hias batik yang memiliki makna, tetapi makna-makna ini tidaklah seragam. Suatu ragam hias bisa memiliki arti dan signifikansi yang berbeda bagi masyarakat yang berbeda, dan sebutan suatu corak/ragam hias yang serupa dapat berbeda-beda pula. Namun memang ada ragam hias tertentu yang telah dimaknai sama secara lebih luas. Karena berbagai simbolisme inilah maka kain batik banyak digunakan dalam konteks ritual, misalnya pada upacara pemberian nama pada anak, sunatan, perkawinan, dan upacara-upacara kerajaan. Di lingkungan keraton, bahkan ada ragam hias tertentu yang disebut sebagai ‘larangan’, yaitu ragam hias dengan arti khusus yang hanya boleh dipakai oleh raja dan kalangan ningrat, dan terlarang dipakai masyarakat umum.

Ragam hias dan pola-pola pada batik yang ada di Indonesia antara lain dipengaruhi oleh simbol-simbol dan kebudayaan Hindu-Jawa, Cina, Melayu, Arab-Islam, dan Eropa. Di batik pesisiran, pengaruh Cina dan Eropa/Belanda sangat terlihat. Pengaruh Cina misalnya pada ragam hias yang menampilkan makhluk dari mitologi Cina seperti naga, singa, burung phoenix, dan kain model lokcan, sementara pengaruh Eropa sangat terlihat pada ragam hias buketan dengan warna-warna cerah dan pastel, seperti yang dipopulerkan pengusaha batik keturunan Belanda seperti Metzelaar dan Van Zuylen.

Tidak semua simbol yang memiliki arti tertentu di kebudayaan asalnya, memiliki arti yang sama atau bahkan tidak dimaknai khusus dalam batik. Misalnya lambang-lambang ikonografi Cina seperti banji (swastika) yang di kebudayaan Cina bermakna infinitas dan imortalitas, di banyak desain batik Jawa dan Madura perannya lebih sebagai pola pengisi tanpa makna simbolis seperti di Cina. Bagi konsumen keturunan Cina, makna tersebut mungkin jelas, namun bagi masyarakat di luar komunitas itu (konsumen Jawa sebagai pasar utama), simbol tersebut bisa diartikan lain (Kerlogue, 2004).

Warna yang digunakan juga memiliki makna-makna tertentu. Misalnya di kebudayaan Jawa yang mengasosiasikan warna merah dengan perempuan dan putih dengan laki-laki; dan kain berwarna merah – putih biasanya digunakan dalam upacara perkawinan, melambangkan persatuan laki-laki dan perempuan. Warna tertentu juga ada yang digunakan untuk membedakan usia atau kedudukan.

Pada masa lampau umumnya kain batik berbentuk empat persegi panjang, terdiri dari berbagai ukuran sesuai dengan penggunaannya dan bersifat serba guna. Kain batik terutama dipakai untuk busana dan perlengkapannya serta sebagai hiasan pada berbagai upacara adat atau keagamaan (Djoemena, 1991). Batik tradisional memiliki tata cara dan aturan tersendiri dalam pemakaiannya. Yang termasuk dalam batik tradisional adalah kain panjang, kain sarung, ikat kepala, kemben, selendang, dan dodot. Yang terakhir ini hanya ada di batik kerajaan, dan merupakan busana kebesaran kerajaan yang hanya digunakan pada acara-acara khusus tertentu. Aturan-aturan dalam penggunaan batik tradisional ini memiliki juga makna, seperti misalnya lipatan-lipatan atau warna-warna tertentu yang menunjukkan status sosial, status perkawinan, dan usia; serta pada peristiwa apa batik itu digunakan. Dari cara penggunaan ini juga dapat diketahui tempat asal batik, misalnya blangkon gaya Sala dan gaya Yogyakarta yang berbeda di bagian belakangnya, cara menyampirkan selendang, kebaya yang dipakai sebagai atasan kain sarung, dan bentuk wiron serta sereddan pada kain panjang. Kebiasaan atau cara pemakaian berbagai jenis batik sangat bervariasi dari daerah yang satu dengan lainnya (Djoemena, 1991).

Di Indonesia, batik tumbuh dan berkembang pesat di Pulau Jawa, dengan daerah Jawa Tengah sebagai pusatnya. Bila melihat daerah penghasilnya, sejak masa pendudukan Belanda batik bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu batik Vostenlanden, yang berasal dari Surakarta dan Yogyakarta (disebut juga batik pedalaman), serta batik pesisiran yang berasal dari pusat-pusat batik di luar kedua kota tersebut.8 Secara umum, batik Vorstenlanden memiliki ragam hias bersifat simbolis dan dilatari kebudayaan Hindu-Jawa, dengan warna yang tidak banyak (soga, indigo, hitam, putih); sementara batik pesisir memiliki ragam hias bersifat naturalistis dengan pengaruh berbagai kebudayaan asing terutama Cina dan Eropa, dan warnanya lebih beragam.

Batik Solo dan Yogya juga biasa disebut batik kerajaan atau batik keraton. Batik keraton di Jawa Tengah diperkirakan sudah ada dari masa Sultan Agung di era Kerajaan Mataram, pada awal abad ke-17. Dipercaya bahwa pola-pola yang kemudian dijadikan pola larangan asalnya adalah pola-pola yang diciptakan oleh Sultan Agung (misalnya pola parang rusak). Pada pertengahan abad ke-18, pusat kerajaan pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Ciri-ciri dasar batik Mataram tetap dibawa, tetapi pihak keraton Yogyakarta membedakan diri dengan Surakarta, misalnya dengan membuat arah diagonal yang berbeda dalam ragam hias parang rusak, dan warna dasar yang lebih putih (Kerlogue, 2004).

Batik keraton ini banyak dipengaruhi kebudayaan Hindu Jawa dan Islam. Sebagian besar warisan budaya klasik Jawa yang bertahan hingga saat ini pun masih mengandung unsur Hindu-Jawa, suatu akulturasi budaya yang tetap dipelihara terutama di dalam lingkup tembok keraton. Batik keraton awalnya secara keseluruhan dibuat di dalam lingkungan keraton, dan tentunya dibuat khusus untuk keluarga kerajaan. Putri-putri raja terlibat dalam proses pembuatan pola dan pembatikan, sedangkan proses selanjutnya oleh umumnya dilakukan oleh abdi dalem. Lama-kelamaan kebutuhan akan batik semakin meningkat, sehingga muncullah kegiatan pembatikan di luar tembok istana.

Pada mulanya batik hanya dikerjakan secara rumahan dan sederhana. Ada perajin-perajin batik dari desa yang lalu diangkat oleh pihak keraton dan ditempatkan di sekitar lingkungan keraton, untuk memproduksi batik bagi kerajaan. Kembali kebutuhan batik semakin meningkat pesat, sehingga akhirnya muncullah usaha batik para saudagar. Saudagar batik kemudian membuat batik yang diperuntukkan bagi pasar yang lebih luas, yaitu masyarakat umum dan bukan hanya kaum ningrat.

Karena pemakaian batik menjadi luas dan lebih umum, pihak keraton lalu menentukan pola-pola larangan yang hanya boleh dipakai raja dan keluarga kerajaan. Pola yang termasuk larangan ini misalnya ragam hias parang rusak. Namun, seiring dengan perubahan jaman, pihak keraton lama-kelamaan memperlonggar kebijakan mengenai pola larangan. Peraturan pola larangan hanya berlaku di dalam keraton, terutama dalam pelaksanaan upacara-upacara (Doellah, 2002; Kerlogue, 2004).

Penggunaan batik akhirnya meluas ke luar lingkungan keraton, timbullah batik yang disebut batik saudagar/sudagaran dan batik petani. Peralihan selera masyarakat yang tadinya mengenakan tenun ke kain batik sebagai pakaian sehari-hari secara tidak langsung menyebabkan tumbuhnya perajin dan pengusaha batik, dan membuatnya terus berkembang (Doellah, 2002). Banyak saudagar batik yang membuka usaha di kota-kota pelabuhan di daerah pesisir utara Jawa. Dari batik saudagar inilah di kemudian hari muncul canting cap yang menghasilkan batik cap. Batik cap tercipta untuk memenuhi selera pasar, karena proses pembuatannya lebih cepat dari batik tulis sehingga kain yang dihasilkan bisa lebih banyak, namun mutunya dianggap lebih rendah. Mereka juga memodifikasi pola-pola larangan dan menciptakan pola-pola baru sehingga bisa digunakan umum.

Sementara batik petani atau pedesaan merupakan hasil karya perajin di pedesaan. Batik rakyat di Yogyakarta yang ternama berasal dari Bantul, yang ragam hiasnya bersumber pada alam pedesaan. Batik petani terdapat di berbagai pelosok Jawa. Batik petani yang berkembang di daerah Surakarta dan Yogyakarta masih banyak dipengaruhi ragam hias batik keraton, di samping ragam hias seperti tumbuh-tumbuhan, satwa, dan bunga-bungaan. Batik petani dari daerah pesisir bercirikan ragam hias yang bersumber pada kehidupan laut dengan warna khas pesisiran (Doellah, 2002)

Batik pesisir, yang antara lain meliputi Pekalongan, Cirebon, Garut, Indramayu, Lasem, dan Madura, seperti telah disinggung sebelumnya banyak mendapat pengaruh kebudayaan luar. Hal ini karena letak kota-kota ini yang menyebabkannya banyak dikunjungi pedagang dan imigran. Di daerah-daerah ini, batik mulai berkembang sebagai suatu industri, yang pembuatannya untuk memenuhi permintaan pasar. Dibandingkan batik pedalaman, ragam hiasnya lebih naturalis, lebih karya warna, dan tidak mengandung begitu banyak simbolisme.

Sementara bila dilihat dari corak dan ragam hiasnya batik dapat dibagi menjadi pola geometris (misalnya kawung, ceplok, lereng, parang) dan pola non-geometris (misalnya semen, lung-lungan, buketan, dan pola pinggiran). Selain itu ada pula pola-pola khusus yang merupakan ragam hias khas Cirebon, yang ditata horizontal dan mengikuti pengaruh Cina, mengandung unsur mega dan wadasan. Batik dengan pola seperti yang disebut terakhir tadi dapat dikelompokkan menjadi batik keraton Cirebon. (Doellah, 2002)

Batik merupakan salah satu peninggalan seni budaya nenek moyang yang mempunyai nilai luhur dan perlu dilestarikan. Dalam perkembangannya, generasi penerus kebanyakan hanya mengagumi nilai keindahanvisualnya, mereka kurang atau bahkan tidak mengetahui nilai keindahan simbolik atau makna keindahan yang terkandung dalam setiap motif-motifnya. Dalam bentuknya batik memiliki corak atau simbol yang menjadikan identitas dari batik itu sendiri. Para pencipta ragam hias batik pada zaman dahulu tidak hanya menciptakan sesuatu yang indah dipandang mata, tetapi . mereka juga memberi arti atau makna yang erat hubungannya dengan falsafah hidup yang mereka hayati. Mereka menciptakan motif-motif batik tradisional dengan pesan dan harapan yang tulus dan luhur, agar membawa kebaikan serta kebahagiaan bagi si pemakai. Pada waktu motif batik tradisional diciptakan tidak lepas dari pengamh adat-istiadat dan kebudayaan, serta agama. Pengamh agama Hindu terlihat pada motif ragam mas Meru, Sawat, Gurda, Semen, dimana dalam motif ini mempakan simbol-simbol yang ada di dalam kepercayaan agama Hindu. Pengaruh -Islam terlihat adanya perubahan,dimana tidak ada bentuk binatang dan lambang dewa-dewa, seperti kawung, Parang rusak, Bondet. Batik Bengkulu, Jambi dan Cirebon dengan motif kaligrafi Arab. Pengaruh adat terlihat misalnya pada batik tulis Irian Jaya dengan ragam hias suku Asmat. Batik tulis buatan Kalimantan Timur dengan ragam bias lambang perdamaian .Suku Dayak. Bahau. Ragam hias tongkonan dari Toraja Sulawesi Selatan. Pengaruh Tionghoa, motif mega-mendung di Cirebon, Banji, Lok Chan, dan Encim dari Pekalongan.

Berikut ini merupakan simbol dari berbagai macam motif yang terdapat pada kain batik :

  1. Batik Pedalaman (Vorstenlanden) yaitu batik daerah Yogyakarta dan Solo.

    • Motifnya lebih bersifat simbolik, filosofis dan arti-arti magis yang ada maknanya, motif diciptakan dari hasil peng-amatan alam sekitarnya dan bersifat monumental.
    • Warna lebih bersifat sederhana, mistis; misalnya batik tradisionaJ dari Yogyakarta, Solo ·dan sekitarnya warnanya hanya terdiri dari tiga unsur:
      • coklat (unsur merah) berarti api.
      • biru atau hitam berarti tanah.
      • putih berarti air (udara).

    Ketiganya berarti simbol sumber hidup (kehidupan). Dalam agama Hindu tiga unsur tersebut dapat diartikan Brahma (coklat merah), Wishnu (biru, hitam), Siwa (putih) yang artinya sumber kehidupan.

  2. Batik pesisiran. Daerah pantai atau pesisir lebih mudah terpengaruh dari unsur-unsur kebudayaan luar (Cina, Eropa dan lain-lain), maka warna-warnanya lebih cerah dan beraneka ragam dan motifnya lebih bebas, naturalistis, realis, seperti lung-lungan, bunga-bungaan, kunang-kunang, kupu-kupu, singa, naga dan kalau melukiskan alam sekitarnya lebih jelas, realise Motif Cina seperti mega-mendung benar-benar seperti asli motif dari, Tiongkok dan hewan seperti Lokcan, singa yang di Jawa tidak ada diabadikan pada motif batik. Batik ~isiran yang sangat terkenal dari: Cirebon, Pelcalong-an, Lasem, Madura dan lain-lain (Indramajilis: 1983).