Bagaimana sejarah terbentuknya kekhalifahan Islam di Spanyol?

Dalam khazanah Sejarah Peradaban Islam, Dinasti Umayyah (selanjutnya disebut Amawiyyah) dibagi ke dalam dua zona dan periode kekuasaan, Timur (yang berpusat di Damaskus) dan Barat (yang berpusat di Spanyol atau Andalusia). Dalam Enseklopedi Islam (Ridwan, 1994) Andalusia adalah sebuah nama yang dikenal di dunia Arab dan Islam untuk semenanjung Iberia. Wilayah itu kini terdiri dari dua Negara, yaitu Spanyol dan Portugal. Sejak Kemenangan Pasukan Islam di bawah kekuasaan Dinasti Amawiyyah I (atau Amawiyyah Timur) dan berhasil merebut serta mengintervensi berbagai kekuatan politik lainnya di Afrika Utara, dengan sendirinya Spanyol telah ikut menyempurnakan keberhasilan mereka. Gubernur Afrika Utara, Mûsâ bin Nusayr mengirim pasukan untuk melakukan penaklukan ke wilayah ini yang dipimpin oleh Panglima Târiq bin Ziyad pada tahun 710 M. dan tidak mendapatkan perlawanan yang intensif dari penguasa mereka. Hal ini terjadi karena secara politis pemerintahan pada waktu itu sangat lemah dan tidak mendapat dukungan yang berarti dari rakyat (Shalabî, 1984).

Pasukan Târiq bin Ziyad berhasil mengalahkan Raja Roderick dan menewaskannya dalam suatu pertempuran. Kemenangan ini menjadi modal bagi Târiq bin Ziyad dan pasukannya untuk menaklukkan kota lainnya seperti Cordova, Archedonia, Malaga, Elvira, dan akhirnya Toledo, yakni pusat kerajaan Visigoth. Setelah mendengar keberhasilan pasukan Islam, pada tahun 712 M. Musa bin Nusair memimpin suatu pasukan menuju Andalusia melalui jalan yang tidak dilalui oleh pasukan Târiq dan berhasil melewati dan menaklukkan pantai barat semenanjung Spanyol yakni Sevilla dan Merida yang kemudian bertemu dengan pasukan Tariq di Toledo. Dengan bergabungnya dua pasukan, daerah yang ditaklukan semakin meluas sampai ke Utara seperti Saragossa, Terrofona, dan Barcelona (Ridwan, 1994; Shalabî, 1984).

Setelah menjadi bagian dari wilayah Islam yang berlangsung dari tahun 711-755 M, wilayah Spanyol diperintah oleh para gubernur yang diangkat langsung oleh pemerintahan pusat Dinasti Amawiyyah yang berada di Damaskus (Syiria). Namun setelah tumbangnya kekuasaan Dinasti Amawiyyah Timur dan berdirinya Dinasti Abbasiyyah, para âmir atau gubernur yang dulu beraviliasi ke Damaskus, kini tidak lagi merasa terikat dengan dinasti sebelumnya yang berpusat di Damaskus maupun dinasti yang baru yang dalam hal ini adalah Dinasti Abbasiyyah yang berpusat di Baghdad. Kendati para gubernur itu secara de jure mengakui eksistensi kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad, secara de facto dan politis, mereka tidak mau terikat atau melakukan bay’ah pada pemerintahan baru di Baghdad (Routledge dan Paul dalam Thohir, 2004).

Sekalipun Dinasti Amawiyyah telah ditaklukan dan seluruh keturunannya dikejar dan dibunuh, salah seorang dari mereka, ‘Abd al-Rahmân bin Mua’wiyyah bin Hishâm bin ‘Abd al-Mâlik (yang kemudian bergelar ‘Abd al-Rahmân al-Dakhîl yang berarti Sang Penyusup, berhasil meloloskan diri dari pengejaran penguasa Dinasti Abbasiyyah. Dengan dukungan politik dari istana Banî Rustâm di Afrika Utara, ‘Abd al-Rahmân al-Dakhîl mulai menyusup memasuki kota Algeciras tahun 755 M. Dalam tahun 756 M., dimulailah masa pengakuan dan bay’ah terhadap eksistensi dan kemenangan al-Dakhîl atas amir-amir di sebagian Spanyol yang meliputi Sevilla, Archidon, Sidonia, dan Moron de Frontura.

Akhirnya, pada tanggal 15 Mei 756 M., ‘Abd al-Rahmân al-Dakhîl memproklamirkan berdirinya Imârah Amawiyyah II di Andalusia. Dengan demikian, secara resmi dimulailah kekuasaan yang kedua dari Dinasti Amawiyyah sebagai Negara yang berdiri sendiri, berdaulat yang lepas dari Abbasiyyah di Baghdad (Sou’ayb, 1977; Shalabî, 1984). Wilayah Islam di Spanyol dalam kekuasaan Amawiyyah II ini, menurut Hitti (1970), terbagi ke dalam lima provinsi (vice royalty) yang dikepalai oleh seorang âmir atau sâhib dengan Cordova sebagai pusat pemerintahan.

Dengan demikian, Spanyol bukan lagi sebagai sebuah provinsi dari sebuah dinasti, akan tetapi sudah menjadi sebuah Negara yang berdaulat yang mempunyai seorang raja yang lebih menyukai menggunakan gelar Amîr al-Mu’minîn daripada Khalîfah. Sejak saat itu, Spanyol menjadi pusat perdaban Islam di wilayah Eropa yang diperhitungkan oleh negara-negara Eropa dari segi pengaruhnya terhadap peradaban Eropa pada masa itu.