Bagaimana Sejarah Perkembangan Kawasan Lamongan (1569-1942)?

Lamongan
Bagaimana Sejarah Perkembangan Kawasan Lamongan (1569-1942) ?

Kehidupan Masyarakat Kawasan Lamongan Hingga Masa Hindu-Budha

Keberadaan komunitas masyarakat di kawasan yang sekarang disebut Lamongan, telah ada sejak masa Praaksara. Bahkan kelompok ini telah mengenal cara bercocok tanam dan kehidupan religius-magis yang dibuktikan dengan ditemukannya peninggalan berupa perhiasan, benda-benda besi, gerabah dan nekara yang biasa disebut juga dengan masa perundagian. Kawasan Lamongan pada masa tersebut juga memiliki geografis yang cukup strategis yang diidentifikasikan dari lokasi penemuan benda-benda praaksara di wilayah utara dan wilayah selatan. Wilayah utara yang terdapat aliran Bengawan Solo dan selatan yang terdapat aliran Kali Lamong. Kebudayaan masyarakat tersebut berlanjut pada masa Hindu-Budha yang dibuktikan dengan adanya sejumlah prasasti Airlangga dan prasasti Biluluk yang dikeluarkan Hayam Wuruk. Penyebutan status Sima pada wilayah Biluluk dan Tenggulunan yang memiliki jarak sekitar 38 km dari pusat kota Lamongan saat ini.

Kawasan Lamongan Tahun 1569-1942

Pada masa Islam telah berkembang kebudayaan lisan-tulis yang dibuktikan dengan adanya naskah badu wanar dan serat yusuf yang tersimpan di museum Sunan Drajad. Selain itu, cerita lisan mengenai Sunan Drajad juga sudah cukup dikenal. Pada masa Mataram, Lamongan berkedudukan sebagai vasal yang dibuktikan sebutan cacah pada Amangkurat II.

Pada masa VOC, lamongan menjadi wilayah kekuasaannya, yang dibuktikan dengan adanya perjanjian giyanti. Pada saat itu Lamongan menjadi sebuah kabupaten menengah, hal tersebut dibuktikan dengan gelar Raden Tumenggung pada pemimpin wilayah tersebut. Faktor yang menjadikan Lamongan berkembang selain karena adanya Bengawan Solo, juga karena memiliki pelabuhan di pantai utara yang memudahkan untuk melakukan perdagangan dan wilayah selatan yang memiliki lahan pertanian yang menghasilkan padi dan tebu yang merupakan hasil pertanian yang dibutuhkan orang-orang Belanda.

Nilai-nilai Pendidikan

Dalam Kemendiknas (2010: 49), mata pelajaran Sejarah memiliki nilai-nilai yaitu Semangat Kebangsaa, Cinta Tanah Air, Mengharagai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Senang Membaca, Peduli Sosial, Peduli Lingkungan, Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis dan Rasa Ingin Tahu. Pembahasan mengenai sejarah Lamongan dimulai dari manusia pertama yang diperkirakan telah ada di Lamongan, peninggalan Hindu-Budha dan Islam yang menunjukkan penyebarannya di Lamongan sampai masa kedatangan bangsa Belanda di kawasan Lamongan, dari studi tersebut dapat diambil nilai-nilai pendidikan yang bisa dikaitkan dengan pendidikan karakter, diantaranya adalah masa Praaksara yang mengandung nilai religius-magis dan kerja keras. Masa Hindu-Budha mengandung nilai toleransi, rasa ingin tahu dan peduli sosial. Masa Islam mengandung unsur religius, peduli sosial, toleransi, keadilan sosial dan tanggung jawab. Masa masuknya bangsa kolonial mengandung nilai menghargai prestasi dan semangat kebangsaan.

Sumber: