Bagaimana sejarah musik keroncong di Indonesia?

Bagaimana sejarah musik keroncong di Indonesia?

Musik keroncong sudah sangat populer di indonesia pada tahun 80-90an, tetapi sudah mulai memudar pada zaman sekarang karna perubahan selera musik yang terjadi di masyarakat. Lalu bagaimana sejarah musik keroncong ini sendiri di Indonesia?

2 Likes

Meski pendaratan pertama bangsa Portugis ke tanah Jawa bermula pada abad ke 12, di Pelabuhan Marunda – Sunda Kelapa. Tetapi, mereka membawa cikal-bakal Keroncong pada abad ke 16, pada saat masuknya Belanda ke Indonesia dan menguasai Malaka (Ade Soekino, 1995)

Pada abad ke 16 inilah, bangsa Portugis membawa pengaruh fado ke Indonesia. Fado merupakan tradisi tutur dalam bermusik di Portugis. Biasanya mengenai perjalanan mengarungi lautan, kemiskinan dan kesedihan. Berawal dari jatuhnya Malaka dari Portugis ke tangan Belanda pada tahun 1648, budaya bermusik dari Portugis dibawa oleh para turunan Moor, Bengali, Malabar dan Goa (India), mereka adalah budak-budak Portugis, yang banyak berasal dari Maluku yang ditawan di Batavia pada masa itu.

Pada tahun 1661 mereka dibebaskan, pada tahun itu dimukimkan di sekitar rawa-rawa daerah Cilincing, atau Kampoeng Toegoe. Mata pencaharian mereka adalah bertani dan berburu, di waktu-waktu senggang mereka memainkan musik dan bernyanyi dengan khas berirama lambat diiringi rajao (gitar kecil berdawai lima), biola, gitar, cello, dua jenis ukulele (cak dan cuk), rebana dan suling.

Bisa dibilang, bahwa catatan awal mengenai sejarah lahir dan berkembangnya keroncong, adalah hasil percampuran budaya bermusik para budak yang dibawa Portugis dan budaya Indonesia. Percampuran budaya bermusik ini, awalnya disebut moresco. Moresco/Moresko merupakan musik dengan tarian dari bangsa atau kaum Moor/Moorish (kaum muslim berasal dari Moro, yakni orang kulit hitam yang berasal dari Pantai Utara Afrika) yang tinggal di Portugis.

Tarian Moresko sendiri sudah melekat sejak 500 tahun yang lalu (Ensiklopedi Jakarta, Culture & Heritage, Hal. 135). Ada pula lafal lain yakni Morisca, namun Morisca lebih cenderung untuk menyebut nama jenis gitar yang ada pada kaum Moorish ini, yakni gitar berbentuk oval dan memiliki banyak lubang (sebab, alat musik ini membawa pengaruh Arabia yang berasal dari kaum Moorish yang berketurunan Arab).

Kaum Moor ini masuk di benua Eropa pada abad 15, dan masuk ke Indonesia pada abad 16 lewat bangsa Portugis. Aslinya musik Kaum Moor bernama Moresco ini dimainkan untuk mengiringi tarian anggar antara hulubalang Kristen dan hulubalang Muslim dengan irama ‘tripel’, cenderung ‘mars’ (Remy Sylado, 2005) dan dalam kenyataannya, awalnya Moresco adalah tarian yang menceritakan tentang Perang Salib antara Muslim dan Nasrani pada budaya bangsa Moor/Moro sendiri.

Pada abad ke 19 musik ini berubah secara pelafalannya sesuai lidah orang Indonesia, menjadi Keroncong. Alasannya sederhana, “Karena musik ini berbunyi creng-crong.” Ada pula yang menyebutkan bahwa asal mula nama Keroncong berasal dari suara kerincing Rebana. Pendapat masyarakat ini bisa benar, bisa juga tidak.

Dalam buku Ensiklopedi Jakarta mengenai Keroncong menyebutkan bahwa asal mula ‘keroncong’ berasal dari Bahasa Portugis yakni jukulele (ukulele) dalam Bahasa Portugis disebut dengan nama croucho, yang artinya kecil (untuk menyebut ukulele sebagai gitar dengan ukuran kecil).

Keunikan Keroncong salah satunya adalah dari bunyi cak, cuk dan cello. Cak dan cuk-lah khas dari Keroncong ini dengan suara creng-crongnya, cak dan cuk pula yang merupakan evolusi dari croucho ini. Lalu khas keroncong pun ditambah dengan cello 3 senar gut-nya, dimainkan oleh orang Indonesia dengan cara dipetik, tidak digesek seperti biola, konon mengapa cello dipetik karena orang Indonesia tidak mengerti cara memainkan cello, walaupun pada kenyataannya cello pun bisa dimainkan dengan dipetik.

Alat-alat musik yang disebutkan tadi berbaur dengan budaya lokal Indonesia, selain dimainkan dengan biola dan sebagainya, biasanya musik ini dimainkan dengan sitar dan gamelan lalu dinyanyikan dengan lagu-lagu bernuansa tradisional Jawa yakni Langgam Jawa.

Dengan kata lain Keroncong berbaur menjadi musik folk baru di Indonesia atau “mempribumikan” musik ini dengan menambahkan unsur tradisional Indonesia. Selain Langgam Jawa, Keroncong pun memakai alat musik seperti: sitar India, rebab, suling bambu, gendang, kenong, dan saron.

Sejarah Keroncong di Kampung Tugu dan Kampung Bandan (Kampung Bandan sekarang adalah Kecamatan Pademangan di Tanjung Priok). Sekitar tahun 1610 Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen mengalahkan Pangeran Jayakarta dan tahun 1621 menaklukkan Pulau Banda, tawanan-tawanan asal Pulau Banda ini adalah dijadikan budak lalu dikirim ke Kampung Tugu dan Kampung Brandan di Batavia, di kawasan itu terkenal sebagai tempat penampungan budak-budak asal Maluku dari Pulau Banda (Muhadjir, 2000).

Lagu keroncong Portugis atau Keroncong Moresco yang pertama populer di masa itu adalah Prounga. Lagu ini sangat disenangi penduduk Kampung Bandan, jenis Keroncong seperti Prounga ini akhirnya disebut sebagai Keroncong Bandan. Prounga adalah jenis Keroncong rohani yang biasa dinyanyikan di Gereja saat itu. Pada tahun 1673, mereka para keturunan Portugis ini berpindah ke daerah Cilincing. Di sana mereka mendirikan Gereja Tugu, sesuai nama kampungnya Kampung Tugu.

Dari sanalah kita kini mengenal kesenian musik yang bernama Keroncong Tugu. Lagu-lagu Keroncong pada saat itu di antaranya: Keroncong Tugu, Keroncong Kaparino dan Nina Bobo (Muhadjir, 2000, Bahasa Betawi : Sejarah dan Perkembangannya: 45). Dalam catatan yang ada di Wikipedia.org, modernisasi Keroncong bermula pada 1960-an, Keroncong disulap menjadi tradisi populer kaum muda-mudi di Indonesia.

Musik ini dikawinkan dengan alat musik modern seperti gitar elektrik, keyboard dan drum. Modernisasi Keroncong era 1960-an ini di Indonesia dan Belanda sendiri sudah tidak asing lagi dengan nama Wieteke Van Dort yang membawakan Keroncong dengan gaya modern, salah satu lagunya yang terkenal adalah Geef Mij Maar Nasi Goreng.

Adaptasi Keroncong dengan Langgam Jawa, berkembang pesat pada tahun 1950an. Penyanyi Keroncong dengan Langgam Jawa yang terkenal di tahun itu seperti Waldjinah. Langgam Jawa ini khas memakai sitar, saron dan kendang. Biasanya bila kendang tidak tersedia peran cello menggantikan peranan suara kendang dalam Langgam Jawa. Di hari ini, keroncong, masih tetap lestari. Baik masih menjadi tontonan yang berkelas di gedung-gedung pertunjukan atau pun di jalanan.

Referensi

https://gigsplay.com/sejarah-singkat-keroncong-di-indonesia/

Awalnya, jenis musik keroncong diperkenalkan oleh bangsa Portugis sebagai sarana hiburan bagi para budak Portugis yang berasal dari Afrika Utara dan India. Para budak berkesempatan memainkan alat musik berkolaborasi bersama tuannya, memainkan sejenis musik kerakyatan Portugis yang disebut Fado. Demikian pula para budak yang berasal dari Ambon berkesempatan memainkan instrumen musik dengan mengadopsi gaya fado. Dari sinilah kisah tentang keroncong dimulai pada akhir abad ke-16.

Kekuasaan Portugis yang surut dan digantikan oleh kekuasaan Belanda tidak membuat musik yang biasa dimainkan hilang. Para budak Ambon yang tinggal di Kampung Tugu (Jakarta Utara) yang terlanjur terbiasa dengan musik ini, bersama keturunannya terus memainkan musik ini. Dari waktu ke waktu musik ini selalu mengalami perubahan, hingga pada akhirnya pada abad ke-19 disebut dengan nama keroncong.

Sebelum muncul lagu keroncong, bahkan sebelum alat musik khas keroncong yaitu ukulele, istilah keroncong sebenarnya sudah ada. Menurut ahli etnomusikologi Rosalie Groos, kata keroncong menunjukkan bunyi tertentu. Salah satunya adalah gelang keroncong, yaitu lima sampai sepuluh gelang yang terbuat dari emas atau perak yang dikenakan di lengan kaum hawa. Jika lengannya berlenggang ketika berjalan, gelang-gelang tersebut bersentuhan dan menimbulkan suara crong…crong…crong. Istilah keroncong juga dikatakan berasal dari tiga ukuran yang selain dipergunakan sebagai perhiasan biasa dan perhiasan tari, juga berasal dari perhiasan kuda penarik delman atau andong. Pemeran karakter wayang orang juga mengenakan gelang keroncong.

Akan halnya keroncong sebagai musik terdapat beberapa pendapat yang berbeda. Di satu pihak ada yang mengatakan bahwa sejarah perkembangan musik keroncong dimulai pada abad ke-17, masa ketika kaum mardijkers, keturunan Portugis mulai memperkenalkannya di Batavia. Menurut A. Th. Manusama, Abdurachman R. Paramita, S. Brata, dan Wi Enaktoe, keroncong bukanlah kesenian asli ciptaan orang-orang Indonesia. Di pihak lain ahli keroncong seperti Kusbini dan Andjar Any menyatakan bahwa musik keroncong adalah musik asli Indonesia. Menurut Kusbini, musik keroncong adalah musik asli ciptaan bangsa Indonesia sehingga keroncong adalah musik asli Indonesia. Banyak ahli yang meragukan kalau musik keroncong berasal dari Portugis, karena tidak ditemukan group musik keroncong maupun lagu yang dinyanyikan seperti keroncong di Portugis.

Lagu-lagu keroncong Indonesia memang banyak dipengaruhi dan diilhami oleh lagu-lagu Portugis abad ke-17, pada saat kedatangan bangsa Portugis ke Batavia. Pada tahun 1969 Konsul Portugal, Antonio Pinto da Franca menyatakan kepada Andjar Any bahwa di Portugis tidak ada musik keroncong atau musik sejenis yang melahirkan musik keroncong. Kesimpulannya, bahwa musik keroncong itu bukan musik impor, setidaknya merupakan adaptasi terhadap musik yang datang dari luar. Meskipun terdapat perbedaan pendapat tersebut, patut disadari bahwa keberadaan keroncong di Indonesia dimulai pada abad ke-17 pada saat kedatangan Portugis di Batavia.

Perbedaan pendapat mengenai asal-usul keroncong tidak perlu berlarut-larut. Sebagaimana pendapat Ernest Heins bahwa keroncong mewarisi situasi multiras karena tercampur unsur-unsur budaya Eropa Utara, Afrika, dan Jawa. Semua itu dimungkinkan karena Portugis adalah Bangsa Eropa pertama yang datang ke Nusantara pada abad ke-16. Hal ini juga sejalan dengan pendapat Victor Ganap bahwa keroncong merupakan musik hibrida, hasil dari berbagai komponen budaya yang menyatu melalui proses perjalanan sejarah yang panjang dengan segala keunikannya. Istilah moresco yang melekat pada musik keroncong merupakan pertanda bahwa ada pengaruh orang Moor dari Afrika Utara yang Islami, yang masuk ke Portugal sejak abad ke-8 hingga abad ke-13. Budaya dari orang Moor yang tertanam di Portugal kemudian dibawa oleh pelaut Portugis pada abad ke-16 untuk berlayar ke timur hingga ke Goa, Malaka, dan Maluku. Ketika VOC menyerbu Maluku pada abad ke-17, Moresco terbawa hingga ke Kampung Tugu, dan dari sana lahir istilah keroncong untuk menamakan instrumen sejenis gitar buatan Tugu yang kemudian juga menjadi nama dari musiknya dan orkesnya yang dikenal sebagai Krontjong Toegoe.

Penamaan musik keroncong diperkirakan dari bunyi hasil petikan pada instrumen gitar kecil (ukulele) sebagai instrumen yang harus ada pada ansambel musik keroncong. Musik keroncong kemudian dianggap sebagai hasil perkawinan antara musik Eropa (Inggris, Spanyol, Belanda, dan terutama Portugis) dengan musik lokal Indonesia, terutama gamelan. Hal tersebut tampak pada perlakuan dan cara bermain beberapa instrumen pada perangkat musik keroncong. Walaupun mayoritas instrumen pada perangkat ini adalah instrumen musik Barat, namun pola lagu dan/atau pola ritme serta cara memainkan instrumen banyak menggunakan idiom, mirip atau banyak dipengaruhi idiom-idiom musik daerah di Indonesia. Demikian pula cara atau gaya menyanyi pada lagu-lagu keroncong terutama pada lagu-lagu yang berbentuk langgam.

Referensi
  1. Darini, Ririn. 2012. Keroncong: Dulu dan Kini. Mozaik Jurnal Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora. Vol 6, No 1 : 19- 31.

  2. Agnes Sri Widjajadi. 2007. Mendayung di Antara Tradisi dan Modernitas: Sebuah Penjelajahan Ekspresi Budaya terhadap Musik Keroncong. Yogyakarta: Hanggar Kreator.

  3. Victor Ganap. 2008. Musik Keroncong Hanya Ada di Indonesia, Gong, Edisi 105/IX/.

  4. 8 Mukhlis Paeni (ed.). 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Seni Pertunjukan dan Seni Media. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

1 Like