Bagaimana sejarah muculnya Syi'ah ?

sejarah_islam

(Bima Satria) #1

Syi'ah

Syi’ah adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah “Syi`ah Ali” yang berarti “pengikut Ali”. Kata Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Kaum yang berkumpul atas suatu perkara. Adapun menurut terminologi Islam, kata ini bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib adalah yang paling utama di antara para sahabat dan yang berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan atas kaum Muslim, demikian pula anak cucunya.

Bagaimana sejarah muculnya Syi’ah ?


(mandala aditya) #2

Islam merupakan agama yang rahmatan li al-‘Alamin. Islam memberi penerangan bagi umat manusia dan menuntunnya kepada jalan yang lurus. Ajaran Islam ini kemudian dengan begitu cepat menyebar keseluruh penjuru dunia. Hal ini menimbulkan rasa iri dan dengki dari umat lain, terutama dari kalangan Yahudi. Mereka berupaya menebar kerusakan dan konspirasi untuk merusak Islam dengan berbagai macam cara. Mereka berusaha membunuh Nabi dan menebarkan fitnah di tengah umat Islam.

Pasca wafatnya Rasulullah, Islam terus berkembang ke berbagai wilayah Arab dan bahkan ke luar Arab. Kekuasaan kaum muslimin semakin luas. Di saat itu pula, berbagai persekongkolan muncul, terutama dari kaum Yahudi. Adalah Abdullah Ibn Saba’, tokoh Yahudi yang masuk Islam pada masa Utsman bin Affan. Ia mendapatkan celah kesempatan untuk melaksanakan rencananya memperkeruh suasana kedamaian pada kaum muslimin, juga turut menyebarkan fitnah di kalangan umat Islam.

Pada masa Utsman muncul propaganda dan konspirasi dari Yahudi membisikkan kepada sebagian kaum muslim bahwa Ali merupakan orang yang sah menduduki khalifah. Maka munculah orang-orang yang mengatakan bahwa Ali dan kedua putranya, Hasan dan Husain serta keturunan Husain ra. adalah orang yang lebih berhak memegang khalifahan Islam, daripada yang lain. Kekhalifahan adalah hak mereka berdua. Propaganda ini menemukan tanah yang sangat subur di al-Mada’in, ibu kota Imperium Persia, terlebih bahwa Husain telah menikahi putri Kaisar Persia, Yazdajir yang singgasananya dihancurkan oleh pasukan Islam yang telah menang. Hal inilah yang barang kali merupakan sebab terpusatnya para Imam Syi’ah, sejak imam keempat, pada keturunan Husain dan disingkirkannya keturunan Hasan.

Pengertian Syi’ah


Menurut bahasa, Syi’ah berasal dari bahasa Arab Sya ’a yasyi ’u syi ’an syi ’atan yang berarti pendukung atau pembela. Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa Syi’ah seseorang merupakan pengikut dan pendukungnya. Kelompok pendukung ini bisa terdiri dari dua orang atau lebih, laki-laki maupun perempuan. Arti Syi’ah secara bahasa terdapat dalam al-Qur’an, sebagaimana firman- Nya:

Dan di antara Syi’ahnya, adalah Ibrahim (QS. As-Saffat: 83).

Syi’ah Ali adalah pendukung dan pembela Ali, sementara Syi’ah Mu’awiah adalah pendukung Mu’awiyah. Pada zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman kata Syi’ah dalam arti nama kelompok orang Islam belum dikenal. Pada saat pemilihan khalifah ketiga setelah terbunuhnya Abu Bakar, ada yang mendukung Ali, namun setelah umat Islam memutuskan untuk memilih Utsman bin Affan, maka orang-orang yang tadinya mendukun Ali, akhirnya berbaiat kepada Utsman termasuk Ali. Dengan begitu, belum terbentuk secara faktual kelompok umat Islam bernama Syi’ah.

Ketika timbul pertikaian dan peperangan antara Ali dan Mu’awiyah, barulah kata Syi’ah muncul sebagai nama kelompok ummat Islam. Tetapi bukan hanya pendukun Ali yang disebut Syi’ah, namun pendukung Mu’awiyah pun disebut dengan Syi’ah, terdapat Syi’ah Ali dan Syi’ah Muawiyah. Nama ini didapatkan dalam naskah perjanjian Tahkim , di situ diterangkan bahwa apabila orang yang ditentukan dalam pelaksanaan tahkim itu berhalangan, maka diisi dengan orang yang Syi’ah masing-masing dua kelompok. Namun pada waktu itu, baik Syi’ah Ali maupun Muawiyah semuanya beralihan Ahlussunnah, karena Syi’ah pada waktu hanya berarti pendukung dan pembela. Sementara aqidah dan fahamnya, kedua belah pihak sama karena bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Sehingga Ali pun memberikan penjelasan bahwa peperangan antara pengikutnya dan pengikut Muawiyah adalah semata-mata berdasarkan ijtihad dan klaim kebenaran antara kedua kelompok yang bertikai tersebut.

Setelah mengalami perkembangan, Syi’ah kemudian menjadi madzhab politik yang pertama lahir dalam Islam setelah terjadinya tahkim tersebut. Setiap kali Ali berhubungan dengan masyarakat, mereka semakin menggumi bakat-bakat, kekuatan beragama, dan ilmunya. Oleh sebab itu, para propagandis Syi’ah mengeksploitasi kekaguman mereka terhadap Ali untuk menyebarluaskan pemikiran-pemikiran mereka tentang dirinya. Ketika keturuan Ali, yang sekaligus merupakan keturunan Rasulullah mendapatkan perlakuan yang tidak adil dan perlakukan zalim serta banyak mengalami banyak penyiksaan pada masa Bani Umayah, cinta mereka terhadap keturunan Ali semakin mendalam. Mereka memandang bahwa Ahlul Bait ini sebagai syuhada dan korban kezaliman. Dengan demikian, semakin meluas pula madzhab Syi’ah dan pendukungnya pun semakin banyak.5 Maka, pada umumnya nama Syi’ah dipergunakan bagi setiap dan semua orang yang menjadikan Ali berikut keluarganya sebagai pemimpin secara terus menerus, sehingga Syi’ah itu akhirnya khusus menjadi nama bagi mereka saja.

Lebih lanjut, Abu Zahrah menjelaskan bahwa maksud dari Syi’ah kemudian menyempit kepada pengikut Ali sehingga mereka berkeyakinan bahwa Ali adalah khalifah pilihan Nabi Muhammad da ia adalah orang yang paling utama (afdal) di antara para sahabat Nabi lainnya. Tampaknya di antara para sahabat sendiri ada beberapa orang yang sependapat dengan Syi’ah tentang keutamaan Ali atas sahabat Nabi yang lain.

Di antara sahabat yang mengutamakan Ali atas sahabat lainnya adalah: Ammar bin Yasir, Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghiffari, Salman al-Farisi, Jabir bin Abdullah, Ubay bin Ka’ab, Hudzaifah, Buraidah, Abu Ayyub al-Anshari, Shal Ibn Hanif, Utsman Ibn Hanif, Abu Haitsam ibn al-Taihan, Abu al-Thufail Ammar ibn Wa’ilah, al-Abbas Ibn Abdullah Muthalib dan anak- anaknya serta seluruh Bani Hasyim.

Asal Usul Kemunculan Syi’ah


Menilik dari sejarahnya, ajaran Syi’ah berawal pada sebutan yang ditujukan kepada pengikut Ali, yang merupakan pemimpin pertama ahl al-Bait pada masa hidup Nabi sendiri. Kejadian-kejadian pada munculnya Islam dan pertumbuhan Islam selanjutnya, selama dua puluh tiga tahun masa kenabian, telah menimbulkan berbagai keadaan yang meniscayakan munculnya kelompok semacam kaum Syi’ah di antara para sahabat Nabi.

Akar permasalah umat Islam, termasuk munculnya madzhab Syi’ah bermula dari perselisihan mereka terkait siapa yang paling layak menjadi pemimpin setelah Rasulullah Saw. wafat. Sebab, Rasulullah sebelum wafat tidak menentukan siapa yang akan menggantikannya sebagai pemimpin umat dan negara. Sementara kaum muslimin sesudah wafatnya Rasul merasa perlu mempunyai khalifah yang dapat mengikat umat Islam dalam satu ikatan kesatuan. Sebelum dikebumikan kaum Anshar berkumpul di Bani Sa’idah. Mereka berpendapat bahwa kaum Ansharlah yang paling layak menjadi pengganti Rasul, lalu menyodorkan Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin. Di waktu yang sama, Umar mengajak Abu Bakar dan Abu Ubaidah bin Jarrah. Ketiganya berangkat ke pertemuan kaum Anshar. Di hadapat kaum Anshar Abu Bakar berpidato tentang keistimewaan kaum Anshar dan kaum Muhajirin, di antaranya bangsa Arab tidak akan tunduk kecuali kepada kaum Muhajirin, bahkan Allah dalam al-Qur’an mendahulukan kaum muhajirin daripada kaum Anshar. Sesudah perdebatan persoalan pemimpin itu, kemudian secara aklamasi kedua belah pihak memilih Abu Bakar menjadi pemimpin mereka. Dengan demikian hilanglah perselisihan paham dan umat Islam kembali bersatu.

Permasalahan kemudian muncul, ketika saat itu Ali tidak turut hadir dalam sidang tersebut. Setelah mendengar pembaiatan Abu Bakar, nampak ketidak puasan Ali bin Abi Thalib. Belakangan orang-orang yang menjadi pengikut Ali, Abu Bakar dan Umar menelikung Ali sebagai khalifah. Timbullah pendapat bahwa yang berhak memegang khalifah adalah keluarga Nabi, dan Ali lah yang paling pantas. Karena ia adalah menanti Rasul, orang yang paling besar jihadnya, paling banyak ilmunya, keluarganya adalah seutama-utama keluarga Arab. Namun demikian, akhirnya Ali turut membaiat Abu Bakar sesudah beberapa waktu berlalu.

Setelah Abu Bakar Wafat, khalifah dipegang oleh Umar bin Khatab, banyak daerah yang bisa dikuasai pada masa Umar.

Setelah Umar bin Khattab terbunuh, Utsman didapuk menjadi khalifah. Pada masa Utsman ini bani Umayyah mengambil manfaat untuk diri mereka sendiri. Utsman merasakan bahwa Bani Umayyah benar-benar ikhlas dan membantunya dengan penuh kejujuran. Lalu Utsman mengangkat banyak pembantu dari Bani Umayyar. Masyarakat muslim melihat Utsman menempuh jalan lain yang ditempuh dua khalifah sebelumnya. Munculah ketidak puasan atas kepemimpinan Utsman sehingga Utsman akhirnya terbunuh.

Sayyidina Ali akhirnya dibaiat oleh sebagian besar kaum muslimin, termasuk mayoritas kaum Muhajirin. Namun beberapa sahabat nabi yang enggan membaiat Ali, yaitu Zubair dan Thalhah, dengan persetujuan Aisyah keduanya menentang Ali dan berkecamuklah perang Jamal antara pasukan Ali dan Pasukan Aisyah, Zubair dan Thalhah gugur dalam pertempuran tersebut. Di sisi lain, Muawiyah dari keluarga Bani Umayyah yang menjadi Gubernur Syam mempresur Ali untuk mengusut secara tuntas dan menghukup orang yang membunuh Utsman. Atas ketidak puasan bani Umayyah ini, Muawwiyah memberontak khalifah Ali. Terjadilah pertempuran di lembah Shiffin. Setelah agak terdesak, dan hampir-hampir pasukan Ali memenangkan pertempuran, Muawiyah menyuruh salah satu tentaranya untuk mengangkat mushaf di atas lembing yang tinggi, sebagai tanda menyerah dan permintaan perdamaian. Beberapa orang dari pasukan Ali merasa tidak puas atas keputusan damai ( tahkim ) tersebut, sebab mereka merasa pasukan Ali hampir menumpaskan pasukan pemberontak.

Peristiwa tahkimini tidak malah menyebabkan perdamaian antara dua belah pihak, namum memunculkan faksi-faksi di tubuh umat Islam menjadi tiga (3) kelompok:

  • Kelompok Syi’ah, yaitu golongan yang memihak pada Ali dan kerabatnya dan berpendapat bahwa Ali dan keturunannyalah yang berhak menjadi khalifah.

  • Kelompok Khawarij, yaitu golongan yang menentang Ali dan Muawiyah, mereka berpendapat bahwa tahkim itu menyalahi prinsip agama.

  • Kelompok Murjiah, yaitu golongan yang menggabungkan diri kepada salah satu pihak dan menyerahkan hukum pertengkaran itu kepada Allah semata.

Kelompok Syi’ah di atas, mula-mula merupakan orang-orang yang mengagumi Sayyidina Ali, sebagai pribadi dan kedudukan istimewa di sisi Rasulullah, sehingga ia mempunyai pengaruh yang besar dan muncullah rasa cinta sebagian kaum muslimin kepadanya. Sebagian sahabat yang sangat mencintainya menganggap bahwa Ali merupakan sosok paling utama di antara para sahabat, dan dialah yang paling berhak atas kedudukan khalifah daripada yang lainnya. Namun, kecintaan itu telah bergeser menjadi fanatisme yang buta dua abad selanjutnya. Sehingga menjadi perbedaan yang besar dan esensial antara pandangan sekelompok sahabat tersebut terhadap Ali ra., dengan prinsip-prinsip yang dianut oleh kaum Syi’ah dua abad kemudian.

Sebagai misal, kelompok sahabat pecinta Ali tersebut tidak mungkin dinamai Syi’ah dalam artian istilah yang dikenal sekarang. Meskipun mereka mencintai Ali melebihi kecintaan kepada sahabat lainnya (termasuk kepada para khalifah sebelum Ali). Mereka juga membaiat para khalifah yang telah disepakati oleh para sahabat pada waktu itu.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka merupakan kekeliruan besar bagi kaum Syi’ah yang fanatis yang menganggap bahwa sahabat-sahabat yang sangat mencintai Ali merupakan pengikut Syi’ah sebagaimana pengikut-pengikut Syi’ah yang sekarang ini dengan doktrin menghukumi kafir para sahabat lainnya, seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah, Thalhah, Zubair dan lainnya. Sementara para penganut Syi’ah sekarang telah terjadi selisih pendapat terkait dengan masalah-masalah madzhab dan aqidah. Mereka telah terpecah belah menjadi beberapa kelompok; sebagian dari mereka bersikap ekstrim, sehingga bisa dikatakan doktrin mereka telah keluar dari ajaran Islam. Sedangkan, sebagian pengikut Syi’ah lain bersikap moderat, sehingga hampir-hampir menyerupai kaum ahlussunnah wa al-jama’ah.

Aliran-Aliran Syi’ah


Dalam sekte Syi’ah terdapat beberapa kelompok, ada yang ekstrim ( gulat ), moderat, dan ada juga yang liberal. Di antara kelompok yang ekstrim ada yang menempatkan Sayyidina Ali pada derajat kenabian, bahkan ada yang sampai mengangkat Ali pada derajat keTuhanan. Kaum Syi’ah, sejak menjadi pengikut Ali sesudah peristiwa perang jamal dan shiffin, pasukan Ali terpecah menjadi empat golongan:

  • Kelompok pertama, Syi’ah yang mengikuti Sayyidina Ali., mereka tidak mengecam para sahabat. Dalam diri mereka terdapat rasa cinta dan memuliakan para sahabat Nabi Saw. mereka sadar betul bahwa yang mereka perangi adalah saudara sendiri. Oleh sebab itu, mereka segera berhenti memerangi mereka, bahkan ketika terjadi tahkim mereka menerima keputusan-keputusan yang dibuat oleh kelompok lainnya.

  • Kelompok kedua, mereka yang mempercayai bahwa Sayyidina Ali memiliki derajat yang lebih tinggi daripada para sahabat lainnya. Kelompok ini disebut tafdhiliyah. Ali memperingatkan mereka dengan keyakinan ini dan akan menghukumi dera bagi para sahabat yang masih berkeyakinan tersebut. Kelompok Syi’ah sekarang, mereprentasikan kelompok ini.

  • Kelompok ketiga, yang berpendapat bahwa semua sahabat Nabi adalah kafir dan berdosa besar. Mereka disebut Saba’iyah, mereka adalah para pengikut Abdullah bin Saba’.

  • Kelompok keempat, kelompok gulat , yaitu mereka yang paling sesat, paling bid’ah di antara empat kelompok di atas. Mereka berpendapat bahwa Allah telah masuk pada diri Nabi Isa.

Sementara, Abu Zahrah menjelaskan bahwa kelompok ekstrim yang karena keekstrimannya telah keluar dari Islam, sementara kelompok Syi’ah dewasa ini menolak untuk memasukkan mereka dalam golongan madzhabnya. Di antara aliran-aliran Syi’ah itu adalah sebagai berikut:

Saba’iyah


Aliran Syi’ah Saba’iyah adalah pengikut Abdullah bin Saba’ seorang Yahudi dari suku al-Hirah yang masuk Islam. Ia termasuk yang paling keras menentang Utsman dan para pejabatnya. Banyak pemikiran sesat yang disebarluaskan secara bertahap oleh Abdullah bin Saba’. Temanya adalah mengenai Ali bin Abu Thalib. Ia mengembangkan pemikiran di tengah- tengah masyarakat sebagaimana di muat dalam Taurat, setiap Nabi mempunyai penerima wisatnya, dan Ali adalah penerima wasiat Muhammad. Ketika Ali terbunuh, Abdullah berusaha merangsang kecintaan rakyat kepada Ali dan perasaan menderita karena kehilangan Ali dengan cara menyebarkan kebohongan- kebohongan. Di antaranya, bahwa yang terbunuh bukanlah Ali, namun setan yang menyerupai Ali, sedangkan Ali naik ke langit sebagaimana dinaikkannya nabi Isa ke langit. Yang lebih parah adalah keyakinan Sabaiyah bahwa Tuhan bersemayam dalam diri Ali dan diri imam sesudah wafatnya.

Ghurabiyah


Aliran Ghurabiyah ini keyakinannya tidak sampai menempatkan Ali sebagai Tuhan, akan tetapi lebih memuliakan Ali ketimbang Nabi Muhammad. Mereka beranggapan bahwa risalah kenabian seharunya jatuh kepada Ali, namun Jibril salah menurunkan wahyu kepada Muhammad. Kelompok ini disebut Ghurabiyah karena mereka berpendapat bahwa Ali mirip dengan Nabi Muhammad, sebagaimana miripnya seekor burung gagak (ghurab), dengan burung gagak lainnya. Pandangan aliran ini disanggah oleh Ibnu Hazim, pandangan ini muncul karena ketidak tahuan mereka tentang sejarah dan keadaan yang sebenarnya. Pada waktu Muhammad diangkat menjadi rasul Ali masih kanak- kanak, belum pantas untuk mengemban risalah kenabian.

Kaisaniyah


Penganut aliran Kaisaniyah ini adalah pengikut al-Mukhtar ibn ‘Ubaid al-Tsaqa. Al-Mukhtar asal mulanya berasal dari kalangan khawarij, kemudia masuk ke dalam kelompok Syi’ah yang mendukung Ali. Nama Kaisaniyah berhubungan erat dengan nama Kaisan, yang menurut satu kalangan adalah nama lain dari al-Mukhtar. Aliran ini mempunyai keyakinan ketidak tuhanan para imam dari ahlul bait sebagaimana yang dianut aliran Saba’iyah, namun didasarkan atas paham bahwa seroang imam adalah pribadi yang suci dan wajib dipatuhi. Mereka percaya sepenuhnya akan kesempurnaan pengetahuannya dan keterpeliharaannya dari dosa karena ia merupakan simbol dari ilmu Ilahi. Para penganut aliran Kaisaniyah juga berkeyakinan adanya doktrin bada’, yaitu keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan perubahan ilmu-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan kemudian memerintahkan sebaliknya.

Hakimiyah dan Druz


Syi’ah Imamiyah

Dewasa ini, kelompok-kelompok Syi’ah yang berada di dunia Islam seperti Iran, Irak, Suriah, dan negara Islam lainnya, adalah golongan yang membawa nama Syi’ah Imamiyah. Dalam masalah imamah, kelompok Syi’ah Imamiyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad melalui nash.

Syi’ah Imamiyah merupakan kelompok Syi’ah orang-orang Syi’ah yang mempromosikan keimaman Ali ras langsung sesudah Rasulullah saw., dan menyatkan bahwa terdapat dalil yang sahih dan eksplisit mengenai keimaman Ali ra. Kelompok ini bersepakat tentang keimaman Ali ra., dan diteruskan kepada kedua putranya (Hasan dan Husain), lalu kepada putra Husain Zainal Abidin, terus kepada, anaknya, Muhammad al-Baqir, di, dilanjutkan oleh anaknya, Ja’far ash-Shadiq. Setelah imam Ja’far ini, mereka berselisih pendapat mengenai siapakah selanjutnya yang berhak menjadi imam setelah itu. Mereka membagi keimaman itu dari kalangan mereka sendiri.

Pada masa berikutnya, kelompok Syi’ah Imamiyah ini menjadi Imamah Itsna Asyriyah (juga disebut dengan Syi’ah Ja’fariyah). Aliran ini berpendapat bahwa setelah Ja’far ash- Shadiq, imamah berpindah kepada putranya, Musa al-Kazhim, lalu kepada putranya Ali Ridha, kemudian kepada putranya Muhammad al-Jawwad, selanjutnya kepada putranya, Ali al-Hadis, berlanjut kepada putranya Hasan al-‘Askary, kemudia kepada putranya, Muhammad al-Mahdi al-Muntadzar (al-Mahdi yang ditunggu-tunggu) yang merupakan imam kedua belasa bagi mereka. Aliran Syi’ah Itsna Asyriyah ini berkeyakinan bahwa imam yang ke dua belas (al-mahdi) tidak mati, tapi menghilang selama masa tertentu, dan kelak akan muncul kembali untuk memenuhi dunia dengan keadilan dan keamanan, setelah merajalelanya kedzaliman dan kegelapan.

Selain kelompok Syi’ah Ja’fariyah, terdapat kelompok Syi’ah Itsna Asyriyah lain yaitu kelompok Syi’ah Isma’iliyah, kelompok ini berpendapat bahwa imamah setelah Ja’far ash- Shadiq perpindah kepada puteranya Ismail, berdasarkan nash dari bapaknya, lalu beralih atau diwariskan kepada putranya Muhammad al-Maktum, yang merupakan imam pertama dari imam-imam lain yang hilang menurut keyakinan mereka. Imam- imam sesuh al-Maktum semuanya tersembunyi, sampai akhirnya mereka menganggap bahwa Abdullah, kepala kaum Fathimiyah, sebagai imam mereka. Syi’ah Imamiyah Ismailiyah terkenal pula dengan bermacam-macam sebutan lain, di antaranya: Bathiniyah, Qaramithah, Haramiyah, Sab’iyah dan lain-lainnya.

Pada masa kekinian, penganut madzhab Syi’ah Imamiyah secara umum, menempati daerah-daerah Irak, Iran, Suriah, Libanon dan beberapa negara lainnya. Hampir setengah penganutnya berada di Iran dan Iraq. Mereka hidup menjalankan agama Islam bermadzhab Syi’ah sesuai aturan yang mereka tetapkan baik dalam bidang aqidah, aturan-aturan perdata, hukum waris, wasiat, zakat, dan seluruh bidang ibadah. Pada mulanya mereka secara rukun, bisa hidup berdampingan dengan kelompok sunni (ahlussunnah wa al-jama’ah).

Menurut ajaran Syi’ah Imamiyah, seorang Syi’ah Imamiyah dapat menetapkan undang-undang, segala ucapannya adalah syari’at dan tidak mungkin sesuatu yang berasal dari para imam bertentang dengan syari’at. Terkait dengan pembuatan undang-undang fungsi imam sebagai berikut:

Nabi Muhammad meninggalkan rahasia-rahasia syari’at untuk dititipkan kepada para imam yang merupakan penerima wasiatnya. Nabi tidak menerangkan seluruh hukum, namun hanya menjelaskan sebagainnya saja, yang sesuai dengan zamannya, sementara sebagian lagi ditinggalkan agar para penerima wasiat menjelaskan kepada kaum muslimin sesuai dengan zaman setelah ia wafat.

Mereka memupunyai doktrin bahwa ucapan dan perbuatan imam merupakan syari’at Islam. Sebab, imam bertugas sebagai penyempurna risalah kenabian, maka ucapanny dalam bidang agama merupakan syari’at. Ucapan para imam itu setaraf dengan sabda Nabi Muhammad karena merupakan titipan Nabi kepada mereka.

Menurut mereka, para imam memiliki hak untuk melakukan takhshish terhadap nash-nash yang bersifat umum dan melakukan taqyid terhadap nash- nash yang bersifat mutlak. Karena seorang imam memiliki kedudukan sebagai mana disebutkan di atas dalam penetapan hukum, maka aliran Imamiyah menetapkan bahwa seorang imam bersifat ma’shum (terhindar dari kesalahan dan dosa).

Syi’ah Zaidiyah

Secara genelogi, Zaidiyah adalah salah satu sekte Syi’ah yang dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abu Tlib. Ia menyatakan perang terhadap khalifah Hisyam ibn Abd Malik, dan akhirnya disalib di Kufah. Di masa hidupnya, Zaid berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan dan memiliki hubungan baik dengan para ulama di zamannya. Di antara ulama yang berhubungan dan menjadi gurunya adalah Washil ibn ‘Atha’ dan Abu Hanifah.

Jika dibandingkan dengan kelompok Syi’ah lainnya, kelompok Syi’ah Zaidiyah ini lebih moderat dan lebih dekat dengan paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebab mereka tidak mengangkat para imam kepada derajat kenabian, bahkan tidak sampai mendekati itu. Menurut mereka, para imam merupakan manusia paling utama setelah Nabi Muhammad. Mereka juga tidak mengkafirkan para sahabat, khususnya mereka yang telah dibai’at Ali ra., mereka juga mengakui kepemimpinan mereka.

Zaidiyah berpendapat bahwa Sayyidina Ali merupakan orang yang paling pantas menjadi Imam sepeninggal Rasulullah Saw., karena ialah orang yang paling dekat dan mirip dengan sifat- sifat yang pernah disebutkan Rasulullah sebelumnya. Dan untuk Imam sesudah Ali haruslah dari keturunan Fatimah. Itulah sifat-sifat yang terbaik seorang Imam (al-afdal) . Namun, jika sifat-sifat itu tidak dapat dipenuhi, maka bolehlah yang lain diangkat menjadi imam.

Imam bentuk kedua ini disebut dengan istilah al- mafdul . Berdasarkan pendapat ini, Syi’ah Zaidiyah bisa menerima Abu Bakar, Umar dan Utsman. Di sisi lain, Imam Zaid dalam pandangan hukum tidak jauh berbeda dengan imam Ahlussunnah lainnya, kalaupun ada perbedaan tidaklah banyak. Dalam metode istinbath juga tidak jauh beda dengan dari metode para ulama semasanya seperti Abu Hanifah, Ibnu Abu Laila, Utsman al-Bitti, az-Zuhri, dan lain baik ulama Madinah maupun Ulama’ Irak. Menurut madzhab Zaidiyah peranan akal dalam masalah akidah sama dengan golongan Mu’tazilah yang menggunakan akal sebagai kekuatan besar untuk memahami wahyu dan syariat.

Syi’ah Zaidiyah mempunyai doktrin tentang bolehnya memba’iat dua imam dalam dua daerah kekuasaan yang berbeda selama mereka memiliki sifat-sifat yang sah menjadi imam, dan selama keduanya dipilih secara bebas oleh ahl al-hall wa al-aqd . Berangkat dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa mereka tidak membenarkan adanya dua imam dalam satu daerah kekuasaan, karena hal itu akan mengakibatkan rakyat membaiat dua orang imam, semenatara perbuatan itu dilarang oleh hadis shahih.

Dalam doktrin aqidah, mereka berkeyakinan bahwa aliran Zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal dalam neraka, selama mereka belum bertaubat dengan taubat yang sebenarnya. Dalam hal ini mereka mengikuti faham Mu’tazilah. Hal ini disebabkan tokoh Mu’tazilah bernama Washil ibn Atha’ merupakan guru dari Imam Zaid. Namun, hubungan ini pulalah yang membuat sebagian penganut Syi’ah marah terhadap Zaid karena Washil ragu-ragu ketika menentukan posisi Ali dalam perang Jamal melawan pendukung Mu’awiyah dari Syam. Sebab, Washil tidak sepenuhnya yakin, Ali dalam posisi yang benar.

Pada era berikutnya, akibat kelemahan aliran Zaidiyah dan serangan pemikiran dari aliran-aliranSyi’ah lainnya, dasar-dasar pemikiran aliran ini menjadi goyah atau kalah dan mati. Karena itu generasi berikutnya dari Zaidiyah tidak membenarkan pengangkatan imam yang mafdul (bukan yang terbaik), sehingga mereka dianggap termasuk aliran yang ekstrim. Mereka adalah yang menolak dan menentang kekhalifahan atau keimaman Abu Bakar dan Umar dengan begitu hilanglah ciri khas dari aliran Zaidiyah generasi pertama. Berdasarkan realitas ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa aliran Zaidiyah terbagi menjadi dua:

  1. para penganut aliran Zaidiyah generasi pertama, kelompok ini tidak dianggap sebagai kelompok yang ekstrim dan mengakui keimaman Abu Bakar dan Umar;

  2. penganut Zaidiyah generasi belakanganan, mereka inilah yang dipandang ekstrim. Sementara, penganut aliran Zaidiyah yang berada di Yaman dewasa ini, lebih dekat kepada aliran Zaidiyah generasi pertama yang moderat.2

Sumber : Ahmad Atabik, Melacak historitas Syi’ah : Asal Usul, Perkembangan dan Aliran-Alirannya, STAIN Kudus, Jawa Tengah, Indonesia


(Danastri Luna Badira) #3

Masalah khalifah sesudah Rasul wafat, merupakan fokus perselisihan diantara tiga golongan besar, yaitu: Golongan Ansar, Muhajirin, dan Bani Hasyim. Selain itu, sebenarnya masih ada kelompok terselubung yang cukup potensial dalam mewujudkan ambisinya sebagai penguasan tunggal, ialah golongan Bani Umayyah. Sikap golongan terakhir ini, tercermin pada sikap tokoh utamanya yaitu Abu Sufyan yang enggan membai’at Khalifah Abu Bakr, sekembalinya dari Saqifah menuju masjid Nabawi bersama-sama dengan ummat Islam lain, sebagai yang dilakukan oleh kaum Bani Hasyim.

Prakarsa pemilihan khalifah di Saqifah yang dimotori oleh Sa’ad ibn ‘Ubbadah adalah benar-benar menggugah kembali bangkitnya semangat fanatisme golongan dan permusuhan antar suku yang pernah terjadi sebelum Islam. Kiranya dapat dipahami bahwa pemilihan khalifah tersebut, tanpa keikutsertaan 'Ali sebagai wakil Bani Hasyim, tampaknya membawa kekecewaan mereka yang menginginkan hak legitimasi kekhilafahan di tangan 'Ali, yang saat itu sedang mengurus jenazah Nabi. Mereka beralasan bahwa 'Ali adalah lebih berhak dan lebih utama menggantikannya, karena dia adalah menantunya, dan selain itu ia juga seorang yang mula-mula masuk Islam sesudah Khadijah, istri Rasulullah. Selanjutnya tak seorang pun yang mengingkari perjuangan, keutamaan, dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di antara mereka yang berpendapat demikian adalah salah seorang dari golongan Ansar yaitu Munzir ibn Arqam, ia menyatakan dalam suatu pertemuan di Saqifah:

“… Kami tidak menolak keutamaan orang-orang yang kalian sebutkan (Abu Bakr, Umar, dan Ali), sebenarnya ada di antara mereka itu, seorang yang seandainya ia menuntut (kekhilafahan), tak seorang pun yang akan menentangnya (‘Ali ibn Abi Talib).

Peristiwa pembaiatan Abu Bakr pada tahun 12 H (634 M), tanpa sepengetahuan ‘Ali, tampaknya melahirkan berbagai pendapat yang kontroversial tentang siapa diantara tokoh-tokoh sahabat itu yang lebih berhak menduduki jabatan khalifah. Selain itu, juga merupakan awal terbentuknya pemikiran golongan ketiga yakni Bani Hasyim, di samping golongan Muhajirin dan Ansar. Oleh karenanya tidak mengherankan jika saat itu ada orang yang ingin membai’at ‘Ali ibn Abi Talib. Keinginan tersebut secara tegas ditolak ‘Ali dan sebagai akibatnya, para pendukung 'Ali menunda-nunda pembaiatan mereka pada Khalifah Abu Bakr.

Memang benar, bahwa sesudah ‘Ali membaiat Khalifah pertama ini, isu politik tentang hak legitimasi Ahlul-Bait, sebagai pewaris kekhilafahan sesudah Nabi, berangsur-angsur mereda sampai berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar ibn Khattab. Peredaan isu politik ini, mungkin sekali disebabkan oleh keberhasilan kedua khalifah tersebut dalam mempersatukan potensi ummat Islam untuk menghadapi musuh-musuh baru yang bermunculan saat itu.

Munculnya Bani Umayyah dalam pemerintahan ‘Usman, sebagai kekuatan politik baru, telah mengundang reaksi keras ummat Islam, terhadap kebijaksanaan Khalifah, terutama sesudah enam tahun yang terakhir pemerintahannya. Kelemahan khalifah ketiga ini terletak pada ketidakmampuannya membendung ambisi kaum kerabatnya yang dikenal sebagai kaum aristokrat Mekkah yang selama 20 tahun memusuhi Nabi. Sebagai akibatnya, isu politik tentang hak legitimasi Ahlul-Bait memanas kembali.

Sebagaimana diketahui dalam sejarah, tindakan politik Khalifah yang memberhentikan para gubernur yang diangkat oleh Khalifah ‘Umar, dan mengangkat gubernur-gubernur baru dari keluarga ‘Usman sendiri, rupanya membawa kekecewaan dan keresahan ummat secara luas. Seperti: Pengangkatan Marwan ibn Hisyam sebagai sekretaris Khalifah, Mu’awiyah sebagai Gubernur Syria, ‘Abdullah ibn Sa’ad ibn Surrah sebagai wali di Mesir, dan ia masih saudara seibu dengan Khalifah, dan Walid sebagai Gubernur Kufah. Mereka dikenal sebagai penguasa yang lebih berorientasi pada kepentingan pribadi dan kelompoknya, daripada berorientasi pada kepentingan dan aspirasi rakyat. Sikap politik seperti ini tampaknya merupakan faktor penyebab timbulnya protes-protes sosial yang keras yang sangat kurang menguntungkan pada pemerintahannya sendiri.

Setelah ‘Usman wafat, ‘Ali adalah calon utama untuk menduduki jabatan khalifah. Pembaiatan khalifah kali ini, segera mendapat tantangan dari dua orang tokoh sahabat yang berambisi menduduki jabatan penting tersebut. Kedua tokoh itu adalah Talhah dan Zubair yang mendapat dukungan dari Aisyah, untuk mengadakan aksi militer yang dikenal dengan perang Jamal. Akhirnya kedua tokoh tersebut terbunuh, sedangkan ‘Aisyah, oleh Khalifah ‘Ali dikembalikan ke Madinah.

Aksi militer tersebut, tampaknya sebagai akibat kegagalan kedua tokoh itu dalam memenuhi ambisinya. Di samping itu, keduanya merasa dipaksa oleh sekelompok orang dari Kufah dan Basrah untuk membaiat ‘Ali, di bawah ancaman pedang terhunus. Alasan terakhir ini rupanya dijadikan alasan baru untuk menuntut Khalifah, mereka berjanji akan taat dan patuh, jika Khalifah menghukum semua orang yang terlibat dalam peristiwa pembunuhan Usman ibn ‘Affan. Tuntutan tersebut senada dengan tuntutan Mu’awiyah, yaitu agar Khalifah 'Ali mengadili Muhammad ibn Abu Bakr, anak angkatnya, yang mereka pandang sebagai biang keladi peristiwa terbunuhnya ‘Usman. Dengan demikian, Khalifah ‘Ali dihadapkan pada posisi yang cukup sulit di awal pemerintahannya.

Tampaknya tuntutan Talhah dan Zubair tersebut, dipolitisasikan oleh Muawiyah untuk memojokkan ‘Ali, yang dipandang sebagai saingan utamanya. Untuk membangkitkan semangat antipati dan permusuhan terhadap Khalifah ‘Ali, Mu’awiyah menggantungkan baju ‘Usman yang berlumuran darah beserta potongan jari istrinya, yang dibawa lari dari Madinah ke Syria oleh Nu’man ibn Basyar. Posisi ‘Ali yang sulit ini, ditambah lagi dengan tindakan pemecatannya terhadap Gubernur Damaskus, Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, adalah sebagai faktor yang mempercepat berkobamya perang Siffin. Perang ini mengakibatkan munculnya golongan Khawarij, musuh ‘Ali yang paling ekstrem, sesudah terjadinya upaya perdamaian dari pihak Mu’awiyah dengan ber- tahkim pada al-Quran, setelah pasukannya terdesak oleh pasukan ‘Ali di bawah panglima Malik al-Astar. Siasat licik Mu’awiyah yang dimotori oleh ‘Amr ibn ‘Ash ini, sebenarnya telah diketahui oleh Ali. Sayang sekali usaha menghadapi siasat licik ini terhalang oleh sebagian besar pasukannya sendiri yang memaksanya menerima tawaran damai tersebut. Akhirnya, kedua belah pihak sepakat untuk berdamai, dan masing-masing harus diwakili oleh seorang juru runding. Pihak Mu’awiyah diwakili oleh ‘Amr ibn ‘Ash, sedangkan pihak 'Ali diwakili Abu Musa al-Asy’ari.

Kekalahan diplomasi pihak 'Ali di Daumatul-Jandal, sebagaimana dalam penuturan sejarah, adalah disebabkan oleh sikap Abu Musa yang amat sederhana dan mudah percaya kepada siasat ‘Amr. Bahkan menurut pendapat Syed Amir 'Ali, Abu Musa ini secara diam-diam memusuhi ‘Ali. ‘Amr ibn ‘Ash tampaknya dengan mudah meyakinkan Abu Musa, bahwa untuk kejayaan ummat Islam, ‘Ali dan Mu’awiyah harus disingkirkan. Dengan perangkap ‘Amr ini Abu Musa sebagai wakil yang lebih tua, dipersilakan naik mimbar lebih dahulu guna mengumumkan hasil perundingan mereka, dan secara sungguh-sungguh Abu Musa menyatakan pemecatan ‘Ali sedangkan ‘Amr yang naik mimbar kemudian, menyatakan kegembiraannya atas pemecatan ‘Ali tersebut, kemudian ia mengangkat Mu’awiyah sebagai penggantinya. Sekalipun pihak ‘Ali kalah total, namun 'Ali tetap memegang jabatan khalifah sampai ia terbunuh di mesjid Kufah, oleh seorang Khawarij bernama Ibn Muljam, tahun 41 H/661 M.

Pembelotan kaum Khawarij yang disebabkan oleh peristiwa tahkim atau arbitrase antara 'Ali dengan Mu’awiyah, semakin mempersulit dan memperlemah posisi Khalifah 'Ali terutama sekali sesudah penumpasan pasukan 'Ali terhadap kaum separatis ini di Nahrawan. Perang di Nahrawan, menyebabkan dendam mereka semakin memuncak terhadap Khalifah. Dalam hubungan ini, Donaldson menjelaskan bahwa kaum Khawarij membentuk pasukan berani mati yang terdiri: 'Abdur-Rahman ibn Muljam untuk membunuh 'Ali, Hajjaj ibn 'Abdullah as-Sarimi untuk membunuh Mu’awiyah, dan Zadawaih untuk membunuh 'Amr ibn 'As. Akan tetapi, dua petugas yang disebut belakangan ini gagal mencapai maksudnya. Dengan demikian, posisi Mu’awiyah semakin kuat.

Dalam menghadapi dilema politik ‘Ali lebih tampak sebagai seorang panglima perang daripada sebagai seorang politikus. Ia lebih suka menempuh jalan kekerasan, sekalipun harus banyak memakan korban, sedangkan dengan jalan diplomasi yang pernah ditempuhnya, ia tampak lebih banyak didikte oleh pihak lawan. Tipe perjuangan ‘Ali ini rupanya dikembangkan oleh sekte Syi’ah Zaidiyyah.

Para pendukung dan pengikut setia Khalifah 'Ali apabila dilihat dari aspek akidah mereka, tidak jauh berbeda dengan akidah ummat Islam pada umumnya saat itu. Sudah barang tentu, mereka belum mengenal sama sekali apalagi memiliki doktrin- doktrin seperti yang dimiliki oleh kaum Syi’ah sebagaimana yang kita kenal dalam sejarah, selain pendirian mereka bahwa 'Ali lebih utama memangku jabatan Khalifah sesudah Nabi. Jumlah mereka relatif lebih kecil. Dengan demikian, pengikut setia 'Ali dalam mencapai cita-cita perjuangannya saat itu belum berorientasi pada suatu doktrin tertentu, maka saat itu dapat dikatakan bahwa Syi’ah belum lahir. Ini berbeda dengan aliran Khawarij, semboyan: “Tiada hukum yang wajib dipatuhi selain hukum Allah,” sejak keberadaan sekte ini, telah dijadikan sebagai doktrin dan pengikutnya selalu berorientasi pada ajaran itu. Oleh karenanya dipertanyakan, kapan lahirnya Syi’ah itu? Mengenai lahirnya Syi’ah, terdapat beberapa pendapat yang kontroversial.

Pendapat al-Jawad yang dikutip oleh Abu Bakar Atjeh dalam bukunya Perbandingan Mazhab Syi’ah , menjelaskan bahwa lahirnya Syi’ah adalah bersamaan dengan lahirnya nas (hadis) mengenai pengangkatan ‘Ali ibn Abi Talib oleh Nabi Saw. sebagai khalifah sesudahnya nas yang dimaksud antara lain, mengenai kisah perjamuan makan dan minum yang diselenggarakan oleh Nabi Saw. di rumah pamannya, Abu Talib, yang dihadiri oleh 40 orang sanak keluarganya. Dalam perjamuan itu beliau menyatakan:

“…Inilah dia (‘Ali) saudaraku, penerima wasiatku dan khalifahku untuk kalian, oleh karena itu, dengar dan taati (perintahnya) …”.

Pernyataan ini disampaikan oleh Nabi sesudah ‘Ali ra. menerima tawaran sebagai khalifahnya. Nas seperti ini, jelas tidak terdapat dalam kitab Sahih al- Bukhari dan Sahih Muslim, karena itu golongan Sunni menolak nas tersebut bila dijadikan dalil untuk mengklaim kekhilafahan bagi ‘Ali sebagaimana yang dikehendaki oleh kaum Syi’ah. Sebaliknya, tidak dimuatnya nas-nas semacam itu, demikian Syarafuddin al-Musawi, oleh kedua imam hadis tersebut dalam kitab sahihnya merupakan manipulasi golongan Sunni terhadap hadis-hadis sahih yang berkaitan dengan kekhilafahan ‘Ali, karena nas itu dikhawatirkan akan menjadi senjata kaum Syi’ah untuk menyerang paham mereka.

Abu Zahrah berpendapat bahwa Syi’ah tumbuh di Mesir masa pemerintahan ‘Usman, karena negeri ini merupakan tanah subur untuk berkembangnya paham tersebut, kemudian menyebar ke Irak dan di sinilah mereka menetap. Selain itu, adalah wajar apabila ada yang berpendapat, bahwa lahirnya Syi’ah itu sewaktu Nabi sakit keras, pamannya, ‘Abbas, menyarankan kepada ‘Ali dan mengajaknya menghadap Nabi saw. untuk meminta wasiatnya, siapakah orang yang akan menggantikan kepemimpinan beliau, namun maksud tersebut ditolak ‘Ali ra. dengan tegas, dan ia pun bersumpah tidak akan memintanya.

Selanjutnya masih ada pendapat yang mengatakan bahwa lahirnya Syi’ah itu bersamaan dengan terjadinya perang Jamal, perang Siffin, dan perang di Nahrawan, karena pada saat itu, seorang tidak dapat dikatakan sebagai Syi’ah kecuali orang yang mengunggulkan kekhilafahan 'Ali daripada 'Usman ibn 'Affan, sebagai yang telah disinggung di atas.

Apabila dilihat ciri-ciri dari beberapa pendapat di atas, maka pendapat pertama tampak sama sekali tidak realistis, sedangkan tiga pendapat yang terakhir, rupanya lebih menitikberatkan pada adanya sikap dan tindakan-tindakan nyata sebagai pendukung dan pengikut setia 'Ali semasa hidupnya. Akan tetapi, apabila kelahiran Syi’ah dilihat sebagai suatu aliran keagamaan yang bersifat politis secara utuh, maka ia harus dilihat pula dari aspek ajaran atau doktrin politiknya, yaitu tentang hak legitimasi kekhilafahan pada keturunan 'Ali dengan Fatimah, puteri Rasulullah, sebab dari segi doktrin inilah identitas Syi’ah tampak lebih jelas, berbeda dengan identitas sekte-sekte Islam lainnya. Dan munculnya doktrin Syi’ah seperti ini adalah bermula sejak timbulnya tuntutan penduduk Kufah - pendukung ‘Ali - agar masalah kekhilafahan dikembalikan kepada keluarga Khalifah atau Ahlul-Bait dari tangan orang-orang yang dianggap telah merampasnya.

Sekte-sekte dan Doktrin dalam Teologi Syiah

Pada masa Hasan ibn ‘Ali, posisi kaum Syiah semakin goyah karena derasnya fitnah, perselisihan, dan perpecahan di kalangan mereka, yang sengaja ditanamkan oleh golongan Saba’iyyah, pengikut Ibn Saba’. Lemahnya daya juang dan kurang wibawanya Hasan adalah menjadi faktor yang mempersulit posisi golongan Syi’ah. Usaha Hasan dalam memerangi golongan Saba’iyyah, terutama sesudah kegagalannya menumpas gerakan Mu’awiyah, sungguh hasilnya sangat mengecewakan. Pada saat itulah Hasan mulai ditinggalkan oleh kaumnya, demikian Ihsan Ilahi Zahir, sehingga sebagian pengikutnya bergabung dengan golongan Saba’iyyah, sebagian lagi berpaling pada Mu’awiyah, dan golongan Khawarij. Oleh karena itu, Hasan pun kemudian memilih jalan damai dengan pihak Mu’awiyah. Selanjutnya ia mundur dari jabatan khalifah secara formal pada tahun 41 H/661 M, dengan demikian secara de jure, ia menjabat selama sepuluh tahun, akan tetapi secara defacto, ia berkuasa hanya enam bulan tiga hari.

Sesudah Hasan wafat, diangkatlah saudaranya, Husain ibn 'Ali sebagai Imam. Putera 'Ali kedua ini tampak memiliki semangat dan daya juang sebagai yang dimiliki bapaknya, namun sayang, ia harus tewas di ujung pedang tentara Yazid di padang Karbela secara memilukan, pada tanggal 1 Oktober 680 M.

Kematian Husain ini merupakan bencana bagi kaum Syi’ah, sehingga makamnya dipandang sebagai tempat yang keramat serta memiliki keistimewaan dan keluarbiasaan, lantaran kecintaan mereka terhadap Husain, dan oleh karena itu, mereka mentradisikan ziarah umum ke makamnya setiap bulan Muharam.

Kematian Husain tersebut bermula dari banyaknya surat penduduk Kufah yang menyatakan janji setianya kepada putera 'Ali ini. Aksi militer yang dilancarkan Husain, lantaran dia lebih mempercayai janji orang Kufah daripada ia mempertimbangkan saran-saran para penasihatnya yang cukup berpengalaman dan mengetahui benar tabiat orang Kufah yang telah mengkhianati keluarganya. Dan karenanya, kematian Husain sebagai syahid, menimbulkan unsur baru dalam moral agama di kalangan Syi’ah Kufah. Yaitu mereka merasa sangat berdosa atas kematian Husain dan mereka berkeinginan untuk menebus dosa mereka dengan mengangkat senjata menuntut bela atas kematiannya pada penguasa Umayyah. Golongan tersebut menamakan dirinya at-Tawawabun (orang-orang bertobat).

Golongan terakhir ini berkeyakinan bahwa mati berperang karena membela kepentingan Ahlul-Bait adalah mati syahid. Disinilah mereka mengidentikkan loyalitasnya terhadap 'Ali dan keturunannya, sama dengan loyalitasnya terhadap Nabi atau agama.

Ketidakpuasan kaum mawali dari Persia terhadap penguasa Umayyah, mendorong mereka dan memberi arah yang sama sekali baru, kepada kegiatan-kegiatan sosio-politik kaum Syi’ah, demikian Fazlur Rahman, sehingga pimpinan Syi’ah, mungkin sekali ia orang Arab, tetapi para pengikutnya beralih dari bangsa Arab ke bangsa Persia. Sejak itulah kaum Syi’ah mengalami perubahan besar dan mulai mengarahkan gerakannya, dari gerakan politik semata kepada gerakan keagamaan yang bercorak kemazhaban. Selanjutnya Ihsan Ilahi Zahir menjelaskan bahwa sesudah Syi’ah terikat oleh unsur-unsur asing yang melindas, maka Syi’ah terlepas dari kebiasaan bangsa Arab yang terdidik secara Islami, dan sekalipun mereka kaum Syi’ah masih berada dalam lingkaran Islam, namun bukan-Islam yang ortodoks, akan tetapi, Islam dalam bentuknya yang baru.

Pada saat yang sama, Syi’ah mulai membawa pikiran-pikiran asing secara terselubung, aliran ini juga merupakan wadah dari berbagai aspirasi, dan tempat berlindungnya musuh-musuh Islam yang ingin merusak dari dalam sehingga ia mudah terpecah belah menjadi sub-sub sekte yang banyak sekali.

Di antara kelompok-kelompok yang memasukkan ajaran-ajaran nenek moyang mereka kedalam ajaran Syi’ah ialah golongan Yahudi, Nasrani, Zoroaster, dan Hindu. Mereka itu berkeinginan melepaskan negerinya dari kekuasaan Islam dengan menyembunyikan niat jahat mereka dan menunjukkan sikap berpura-pura mencintai Ahlul-Bait sebagai kedok.

Seperti ajaran Syi’ah tentang: 'Aqidah ar-Raj’ah, ucapan sementara golongan ini bahwa api neraka tidak akan membakar mereka kecuali sedikit saja. Demikian pula diantara mereka ada yang mengatakan bahwa hubungan al-Masih dengan Tuhan, sifat ketuhanan yang menyatu dengan sifat kemanusiaan seperti pada diri seorang imam, juga ada yang mengatakan bahwa kenabian atau kerasulan itu tidak akan terhenti untuk selamanya. Selanjutnya ada pula diantara mereka yang menjisimkan Tuhan, berbicara tentang Tanasukh atau Reinkarnasi dan Hulul dan lain sebagainya.

Tampaknya figur Husain, bagi kaum Syi’ah mempunyai keistimewaan tersendiri; terutama bagi Syi’ah Persia. Hal itu mungkin sekali karena Husain adalah cucu rasul di satu pihak, sedangkan istrinya Syahr Banu puteri Yazdajird III, mantan raja Persia di pihak lain. Sebelum Islam, di Persia telah berkembang suatu tradisi yang bertolak dan pandangan tentang “Hak Ketuhanan” atau Divine right yang berarti bahwa dalam diri raja Persia telah mengalir darah ketuhanan. Dengan demikian, raja memiliki kebenaran tindakan yang harus dipatuhi oleh rakyat. Raja ibarat pengayoman Allah di bumi untuk menegakkan kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Pandangan seperti ini, demikian Ahmad Syalabi, masih tetap ada sesudah orang Persia itu memeluk Islam, sehingga karenanya mereka memandang Ahlul-Bait sebagai orang yang berhak memerintah dan harus ditaati oleh manusia. Rupanya pandangan seperti inilah yang membentuk konsep pola keimaman dalam Syi’ah.

Referensi
  • Shiddiqi Nouruzzaman, Syi’ah dan Khawarij dalam Perspektif Sejarah (Yogyakarta: Bidang Penerbit Pusat Latihan Penelitian Pengembangan Masyarakat, 1985).
  • Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,
  • Ihsan Ilahi Zahir, As-Syi’ah wat-Tasyayyu’. (Lahore Pakist a n: Iradah Tarjuman as-Sunnah, 1984)
  • Syarafuddin al-Musawi, Dialog Sunnah dan Syi’ah , terj. Muhammad al-Baqir (Bandung: Mizan, 1983).
  • Muhammad Abu Zahrah, Tarikhul Mazahibul Islamiyyah , vol. I, (Beirut: Dar Fikr, tt).
  • Ahmad Amin, Fajrul Islam (Singapura: Sulaiman al-Mar’I, 1965).
  • Abu Bakar Atjeh, Perbandingan Mazhab Syiah (Solo: Ramadhani, 1988).
  • Henry Corbin, Imajinasi Kreatif Sufisme Ibn Arabi, terj. M. Khozim dan Suhadi (Yogyakarta: LKiS, 2002).
  • Dwight, M. Donalson, Aqidah as-Syi’ah , terj. dalam Bahasa Arab, (Mesir: Maktabah as-Sa’adah,
  • Mahmoud M Ayoub, The Crisis of Muslim History: Akar-akar Krisis Politik dalam Sejarah Muslim, terj. Munir A. Mu’in (Bandung: Mizan, 2004).
  • Ahmad Amin, Dhuha Islam , Juz 3, (Beirut: Dar Kutub Ilmiyyah, 1971).
  • Ahmad Syalabi, Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1997)