Bagaimana sejarah Konstantinopel ?

sejarah_eropa

(Simpton) #1

Konstantinopel merupakan ibu kota banyak peradaban,mulai dari bangsa Yunani, Kekaisaran Romawi Timur dan setelahnya Kekaisaran Bizantium. Saat ini, konstatinopel dikuasai oleh bangsa Turki dan berganti nama menjadi Istanbul. Bagaimana sejarah Konstantinopel ?


(Zul Afrianes Pratama) #2

Byzantium adalah sebuah kota Yunani Kuno yang menurut legenda didirikan oleh para warga koloni Yunani dari Megara pada tahun 667 SM dan dinamai menurut nama raja mereka Byzas atau Byzantas. Nama Byzantium merupakan latinisasi dari nama asli kota tersebut yaitu Byzantion, kota ini kelak menjadi pusat kekaisaran Byzantium (kekaisaran Romawi menjelang dan pada abad pertengahan dengan nama Konstantinopel).

Pada tahun 196 M, kota ini dikepung oleh pasukan Romawi dan menderita kerusakan parah. Byzantium kemudian dibangun kembali oleh Septimus Severus, yang pada saat itu telah menjadi kaisar dan dengan segera memulihkan kemakmurannya. Lokasi Byzantium menarik perhatian Kaisar Romawi Konstantinus I yang pada tahun 330 M, membangun ulang kota itu menjadi Nova Roma. Setelah mangkatnya, kota ini disebut Konstantinopel (Kota Konstantinus). Kota ini selanjutnya menjadi ibukota Kekaisaran Romawi timur.
Kombinasi imperialisme dan lokasi ini mempengaruhi peran Konstantinopel sebagai titik penyeberangan antara dua benua Eropa dan Asia. Kota ini merupakan sebuah magnet komersial, kultural dan diplomatik. Dengan letak strategisnya itu Konstantinopel mampu mengendalikan rute antara Asia dan Eropa, serta pelayaran dari Laut Mediterania ke Laut Hitam.

Pada tanggal 29 mei 1453, kota ini jatuh ke tangan Bangsa Turki Ottoman dan sekali lagi menjadi ibukota dari Negara yang kuat, yakni kerajaan Ottoman. Bangsa Turki menyebut kota ini Istanbul (meskipun tidak secara resmi sampai tahun 1930) dan terus menjadi kota terbesar dari Republik Turki, sekalipun yang menjadi ibukota Turki adalah Ankara.


(sonny Aleandro Wijaya) #3

Konstantinopel didirikan ribuan tahun yang lalu oleh seorang berkebangsaan Yunani yang bernama Byzas pada tahun 658 SM. Kota ini dikenal dengan nama Byzantium. Byzantium awalnya merupakan pusat peradaban kristen kedua setelah Roma. kemudian pada tahun 324 M, Kaisar konstantin memindahkan ibukota Romawi Timur kekota ini dan sejak itu namanya diubah menjadi Konstantinopel dan negaranya disebut dengan Byzantium. Konstantinopel merupakan ibukota imperium terbesar pada masanya dan dihuni oleh berbagai etnis dan bangsa yang didominasi oleh etnis yunani.

Letak Geografis


Lima ratus lima puluh tujuh tahun yang lalu pada Maret 1453, pemandangan yang tidak banyak berbeda akan ditemukan oleh seseorang yang mendatangi tempat itu, walaupun keadaannya tidak sepadat sekarang dan tentunya belum ada adzan yang berkumandang. Konsantinopel terletak di posisi yang strategis, terhampar di daratan berbentuk segitiga seperti tanduk dan terletak di sebelah barat Bosphorus, antara Balkan dan Anatolia, anara laut Hitam dan laut Tengah.

Disebelah utara kota ini terdapat teluk tanduk emas (Golden Horn), sebuah pelabuhan alami yang sempurna. Diseberang Selat Boshporus terhampar daratan yang kaya dengan hasil bumi, semenanjung Asia kecil atau lebih dikenal dengan nama Anatolia. Dari selat Boshporus ini seseorang dapat berlayar ke utara menuju Laut Hitam (Black Sea) atau keselatan melewati Selat Dardanela lalu menuju ke laut Mediterania. Posisinya di tengah dunia membuat Konstantinopel menjadi kota pelabuhan paling sibuk di dunia pada masanya. Inilah kota yang mendapatkan kesempatan terhormat menjadi bagian terpenting dari 3 peradaban besar manusia.


Gambar Ilustrasi kota Konstantinopel

Pemandangan yang paling menonjol dari kota ini tentu saja sistem pertahanannya yang merupakan pertahanan terbaik pada masanya. Konstantinopel dilindungi tembok yang mengelilingi kota dengan sempurna, baik wilayah laut maupun darat. Keseluruhan kota ini nampak seperti sebuah benteng yang kokoh.

Apabila kita meluaskan pandangan lebih jauh ke arah barat, kita pasti melihat selintas jalan lurus utama menuju Edirne, ibukota bagian Eropa Utsmani. Di tempat itu, sejumlah besar pasukan sedang berbaris rapi dari kota Edirne. Pasukan infanteri berbaris dengan tombak-tombak mereka yang menutupi sinar matahari, menjadikan pasukan itu berada dalam bayangan sepanjang waktu.

Dari lautan, layar-layar kapal perang terkembang dan dayung-dayungnya memandu kapal melawan arus laut bendera-benderanya berwarna hijau dan merah berlambang bulan sabit berkibar megah melawan arah angin. Kapal-kapal ini menyusuri Selat Dardanela lalu masuk ke laut Marmara menuju perairan Konstantinopel untuk panggilan seorang panglima perang yang telah ditakdirkan. Dari laut Hitam di utara Konstantinopel, kapal-kapal membawa logistik juga berdatangan membawa kayu, peluru, meriam, dan perlengkapan perang lainnya.

Napoleon Bonaparte terpukau atas letaknya yang strategis yang menghubungkan dua benua besar yaitu benua Eropa dan Asia, serta keindahan negeri itu. Dia pernah mengatakan bahwa dia tidak akan merasa berat menjadi kaisar yang memerintah seluruh alam, bilamana pusat kekuasaanya berada di Konstantinopel. Dari segi keindahan alam, Konstantinopel merupakan kota tepi pantai yang sangat mengagumkan dunia, sejajar dengan Napoli di Italia dan Lissabon di Portugal, bahkan lebih indah dari pada kedua kota tersebut.


Gambar Peta kota Konstantinopel

Konstantinopel, atau Istanbul atau Asatinah adalah sebuah kota di Turki yang terletak di dua tepian Teluk Bosporus. Ia adalah Byzantium kuno. Didirikan oleh bangsa Romawi kuno pada abad ke-7 SM. Constantine, kaisar Roma menetapkannya sebagai ibukota Imperium Romawi Timur, dan ia menamakan kota itu dengan nama Konstantinopel pada tahun 330 M.

Kondisi Kota ini sempat mengalami kemunduran sepeninggal Kaisar Yustinianus yang agung. Kota inipun kehilangan begitu banyak kemampuan pertahanannya akibat misi Perang Salib IV yang menghabiskan semua pertahanannya. Maka kota ini, selama 200 tahun lamanya tidak mampu melepaskan diri dari Bangsa Latin yang menawan para penduduknya dan membakar rumah-rumah, bangunan-bangunan dan tanah-tanah lapang mereka.

Imperium Romawi sendiri telah terbagi menjadi dua bagian: Imperium Romawi Timur dan Imperium Romawi Barat. Kaisar Imperium Byzantium , Konstantin I mulai melaksanakan pembangunan Kota Konstantinopel pada tahun 330 M untuk dijadikan sebagai pusat ibukota Imperium Romawi Timur, yang di kemudian hari dikenal sebagai Imperium Byzantium.

Perairan Teluk emas melindungi sisi kota bagian Timur Laut yang dikunci dengan rantai besi besar yang ditarik pada kedua sisinya dan diletakkan pada jalan masuk antara benteng Kastellion dan benteng Konstantinopel.

Para Ahli sejarah dari kalangan Utsmani menyebutkan bahwa jumlah pasukan yang melindungi kota tersebut mencapai 40.000 prajurit.

Eropa sendiri terbagi-bagi akibat perseteruan politik antara mereka. Perancis yang merupakan kekuatan Eropa terbesar akhirnya takluk pada Inggris dalam perang 100 hari pada tahun Seribu tiga ratus empat puluh sampai seribu empat ratus tiga puluh tiga. Perpecahan dalam bidang politik dan militer Eropa ini sangat membantu pihak Utsmani. Mereka juga terbantu dengan adanya perpecahan agama disebabkan terjadinya perseteruan madzhab antara Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik35

Kota ini sendiri telah mendapatkan beberapa nama, antara lain:

  • Byzantium: Ketika bangsa Yunani medirikan kota ini mereka menyebutnya dengan nama “Bizantium”. Kaisar Constantine telah menetapkannya sebagai ibukota untuk Imperium Romawi Timur pada tahun 324 M.

  • Nova Roma: Kaisar Constantine kemudian mengganti namanya dengan “Roma Baru” (Nova Roma)

  • Konstantinopel: karena nama yang diberikan oleh kaisar untuk kota ini ternyata tidak mendapatkan respon yang baik dari rakyat, maka dengan segera kota ini pun berganti nama mengikuti nama Kaisar Constantine

  • Islam Bul: setelah pertempuran yang sengit dan pengepungan yang berlangsung lama, Sultan Muhammad II pada tahun 857 H/ 1453 M pun melancarkan serangan ke kota Konstantinopel, hingga akhirnya berhasil menundukkan kota tersebut di bawah kekuasaan Sultan Utsmani, Muhammad al-Fatih, yang kemudian menamakan kota itu dengan “Islambul” (yang berarti dalam bahasa Turki “Kota Islam”)

Sosial Budaya


Kehidupan sosial budaya Romawi barat didasarkan atas kebudayaan Romawi,maka Romawi Timur melanjutkan kebudayaan Yunani dan bahasa Yunani yang menjadi bahasa resmi. Di Bizantium, pendidikan yang baik dianggap sebagai salah satu kebijakanutama danmerupakan keharusan bagi setiap orang yang ingin meningkatkan kemampuan pribadinya. Tidak belajar berarti suatu aib. Orang Kristen berbeda dengan orang Berber, disamping berbedaagama, mereka berbeda dengan orang Berber, karena pada dasarnya mereka mempunyai perasaan unggul. Seorang Byzantium percaya bahwa ia terpelajar dan yakin bahwa semua orang Berber tidak tahu apa-apa.

Setiap anggota atas Konstantinopel percaya bahwa pendidikan yang baik merupakan hal yang tak terelakkan bagi kewarganegaraan. Anak laki-laki usia enam tahun mulai diperkenalkan pada tata bahasa Yunani, kemudian mereka dilatih untuk mengarang dalam bahasa Yunani Attika, membaca karya klasik, serta menghapal syair panjang Homerus.

Dalam usia 14 tahun mereka diajari retorika. Mereka mulai diperkenalkan pada orator, penulis prosa, serta filsuf. Geometri, arithmatika, astronomi dan musik, empat mata pelajaran yang di Eropa Barat dikenal dengan Quadrivium. Perpustakaan tentang karya-karya klasik dibangun di berbagai tempat, begitu pula dengan sekolah-sekolah.

Dalam sejarah seni Byzantium menduduki posisi tertinggi. Konstantinpel penuh dengan bangunan megah tempat ibadah umat Kristen, bangunan itulah yang merupakan puncak prestasi arsitektur Byzantium. Setelah Kristen resmi pada 312, bangunan yang bernama Basilica bertebaran di daerah Romawi Timur. Bangunan itu beratap berbentuk kubah raksasa yang disusun dengan cermat terbuat dari batu.

Ciri khas bangunan Byzantium adalah keserba-agungan yang memberikan efek impresif di atas segalanya seperti yang ditulis Charles Diehl dalam The Cambridge Medieval History .

Figur yang digambarkan hampir semuanya berkaitan dengan agama. Seni Byzantium pada dasarnya adalah seni cangkokan. Unsur-unsur diambil propinsi tentangga, namun yang paling dominan adalah dari Yunani. Dari Syria mereka mengambil ide tentang kubah. Dari Persia mereka mengadopsi desain binatang dan tumbuhan.

Dalam bidang seni dan bangunan, Konstantinopel juga penuh dengan bangunan-bangunan megah tempat ibadah umat Kristen (Gereja). Bangunan- bangunan tersebut merupakan puncak prestasi arsitektur Bizantium.

Bangunan kuno peninggalan Kekaisaran Romawi Timur. Bangunan ini dikenal dengan nama Aya Sofia, terletak di tengah-tengah kota Konstantinopel semula sebagai bangunan gereja, kemudian menjadi masjid dan terakhir menjadi museum. Konstantinopel sebelumnya bernama Byzantium Constantinne Agung (280-337), kaisar Romawi mengganti nama kota itu menjadi Konstantinopel, sesuai dengan namanya sendiri. Sekarang ini kota Konstantinopel bernama Istanbul, sebuah kota penting di Turki.

Sebagai gereja umat Kristen Timur Aya Sofia dibangun oleh Constantinus, putra Kaisar Constantine Agung, pada mulanya berupa basilika yang ditahbiskan tahun 360. Pada masa kaisar Justinianus (527-565), Aya Sofia yang melambangkan kejayaan kekaisaran Romawi Timur diresmikan pada tanggal 7 Mei 558. Pemugaran besar-besaran dikerjakan pada awal abad ke-14.

Ketika Konstantinopel jatuh ke tangan tentara Islam di bawah pimpinan Sultan Muhammad II (Muhammad al-Fatih, memerintah tahun 1444-1446 dan 1451-1481) pada tanggal 27 Mei 1453, nama kota itu diganti menjadi Istanbul dan dijadikan ibu kota Daulah Turki Utsmani. Begitu Konstantinopel dapat direbut dan Gereja Aya Sofia dikuasai, Sultan Muhammad al-Fatih mengumandangkan takbir dan melakukan sholat.

Sejak saat itu Gereja Aya Sofia dijadikan masjid yang kemudian terkenal dengan nama masjid Aya Sofia. Setelah hampir lima abad dijadikan masjid, penguasa baru Turki, Mustafa Kemal Ataturk, menjadikan masjid Aya Sofia sebagai museum di bawah pengawasan pemerintah. Bangunan Aya Sofia masih tegak berdiri sampai sekarang.

Keistimewaan bangunan Aya Sofia terletak pada bentuk bangunan kubahnya yang besar dan tinggi, ukuran tengahnya 30 meter, tingginya dari fundamen 54 m, interiornya dihiasi dengan mozaik dan fresco, tiang-tiangnya terbuat dari pualam berwarna-warni dan dindingnya dihiasi dengan berbagi ukiran.

Ekonomi


Ekonomi Romawi Timur merupakan salah satu yang paling maju di Eropa dan Mediterania selama berabad-abad. Eropa tak mampu menandingi kekuatan ekonomi Romawi Timur hingga akhir abad pertengahan. Konstantinopel merupakan pusat utama dalam jaringan perdagangan yang meliputi hampir seluruh Eurasia dan Afrika Utara. Kota tersebut juga menjadi salah satu kota utama dalam Jalur Sutra. Beberapa ahli menyatakan bahwa, hingga datangnya bangsa Arab pada abad ketujuh, ekonomi Romawi Timur merupakan yang terkuat di dunia. Penaklukan Arab menyebabkan terjadinya kemunduran dan stagnansi.

Reformasi Konstantinus V (765) menandai mulainya pemulihan ekonomi yang berlangsung hingga tahun 1204. Dari abad kesepuluh hingga akhir abad keduabelas, Kekaisaran Romawi Timur memproyeksikan citra mewah, dan pengelana kagum dengan kekayaan di Konstantinopel. Semuanya berubah pada masa Perang Salib Keempat, yang membawa bencana ekonomi. Palaiologos mencoba memulihkan ekonomi, tetapi negara Romawi Timur akhir tidak akan memperoleh kuasa penuh atas kekuatan ekonomi domestik dan asing. Pelan-pelan, Romawi Timur juga kehilangan pengaruhnya dalam modalitas perdagangan dan mekanisme harga, dan juga kuasa atas aliran logam-logam berharga, dan bahkan, menurut beberapa ahli, terhadap pencetakan koin-koin.

Salah satu fondasi ekonomi kekaisaran adalah perdagangan. Tekstil merupakan komoditas ekspor yang paling penting. Negara dengan ketat menguasai perdagangan internal dan internasional, serta memiliki hak monopoli dalam mengeluarkan koin. Pemerintah mengatur tingkat bunga, dan menetapkan parameter aktivitas serikat dan perusahaan dagang, yang dikenakan bunga khusus. Kaisar dan pejabat-pejabatnya melakukan campur tangan pada masa krisis untuk menjamin penyediaan modal dan menjaga harga serealia. Pemerintah mengumpulkan hasil surplus melalui pemungutan pajak, dan mengembalikannya dalam sirkulasi melalui redistribusi dalam bentuk gaji kepada pejabat-pejabat negara, atau dalam bentuk investasi fasilitas-fasilitas umum.

Politik


image

Salah satu putera dari kepemimpinan Utsman I yaitu yang bernama Sultan Orkhan Bin Utsman yang memangku kekuasaan dari ayahnya dan dia melakukan kebijakan sebagaimana yang dilakukakan ayahnya dalam administrasi Negara dan penaklukan-penaklukan negeri. Dia adalah sebuah kota yang berada di Barat Laut Asia Kecil. Di tempat inilah, Orkhan mendirikan sebuah Universitas untuk pertama kalinya. Dia menyerhakan urusan administrasi kepada Daud Al-Qaishari, salah seorang ulama Utsmani yang pernah belajar di Mesir. Orkhan sangat memperhatikan struktur tentara sesuai dengan masanya dan menjadikannya sebagai tentara yang sangat terorganisir.

Sultan Orkhan sangat terobsesi untuk merealisasikan apa yang pernah dikabarkan Rasulullah tentang akan ditaklukkannya Konstantinopel oleh kaum muslimin. Dia telah meletakkan langkah-langkah strategis untuk melakukan pengepungan terhadap kota Byzantium tersebut, dari arah barat dan timur sekaligus.

Kebijakan politik Sultan Orkhan yang terjadi dimasanya terfokus kepada kekaisaran Romawi. Namun peristiwa berbeda terjadi pada tahun 736 H/ 1336 M. Saat itu kepala pemerintahan Saljuk Romawi, Qarashi, wafat. Setelah kematiannya, terjadi perselisihan antara dua anaknya dalam memperebutkan kursi kekuasaan. Orkhan tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, maka dia pun melibatkan diri dalam konflik, sampai akhirnya berhasil menguasai wilayah itu. Memang salah satu tujuan berdirinya Negara Utsmani adalah untuk mewarisi wilayah-wilayah yang semula berada di bawah kekuasaan Saljuk di Asia Kecil. Konflik ini terus terjadi antar pemerintahan Utsmani dan negeri-negeri kecil itu, hingga masa pemerintahan al-Fatih yang kemudian ditandai dengan penyerahan seluruh Asia kecil ke dalam kesultanan Utsmani.

Orkhan berusaha menguatkan penopang kekuasaannya. Untuk itu, dia melakukan pekerjaan-pekerjaan reformatif dan pembangunan, menerbitkan administrasi, menguatkan militer, membangun masjid-masjid, dan akademi- akademi ilmu pengetahuan.

Demikianlah salah satu keijakan politik yang diambil Orkhan tatkala dia menguasai Qarashi, selama 20 tahun tanpa timbul peperangan sekalipun. Bahkan dia berhasil menghapusnya dan menggabungkannya dalam masyarakat sipil dan militer yang dibentuk oleh pemerintahnya. Satu bukti kebesaran Orkhan adalah adanya stabilitas di dalam negeri, pembangunan- pembangunan masjid-masjid, pemberdayaan wakaf, pembangunan tempat- tempat umum. Orkhan memiliki pandang yang sangat bijak karena semua peperangan yang berlangsung di masanya tidak ditujukan sekedar memperluas wilayah kekuasaan. Dia melakukan semua itu agar kekuasaanya memiliki wibawa di mata wilayah-wilayah yang sudah dikuasai. Dalam setiap pembukaan wilayah, dia selalu membangun masyarakat madani, militer, terdidik dan berbudaya, sehingga wilayah-wilayah itu menjadi bagian tidak terpisahkan dari kekuasaan pemerintahan Utsmani di Asia Kecil yang berjalan stabil.

Ini semua menunjukkan pada pemahaman Orkhan yang luas tentang apa yang disebut dengan “Sunnah gradualistik” (proses bertahap) dalam pembangunan sebuah Negara dan peradaban, serta dalam membangkitkan suku bangsa.

Tak lama setelah Orkhan berhasil membangun pemerintahan dalam negerinya, terjadilah konflik perebutan kekuasaan di internal kekaisaran Byzantium (Romawi). Sementara itu kaisar Kontakusianus meminta bantuan Sultan Orkhan untuk melawan musuhnya. Sultan pun mengirimkan pasukan Utsmani untuk memerkuat pengaruh kekuasaan kesultanan Utsmani di Eropa.

Pada tahun 1358 M. terjadi sebuah gema besar di kota-kota Turaqiya sehingga menyebabkan ambruknya benteng-benteng Gallipoli. Peristiwa ini melicinkan jalan bagi kaum muslimin untuk memasukinya. Kaisar Byzantium melayangkan proses terhadap apa yang dilakukan oleh tentara Orkhan itu. Namun tidak mendapatkan jawaban apa-apa. Jawaban Orkhan saat tu adalah, kekuasaan Ilahi telah membuka pintu-pintu kota di depan kekuatan pasukannya. Dengan demikian maka jadilah Gallipolli basis pertama yang akhirnya mampu menguasai kepulalaun Balkan.

Tatkaka Hana V di Luyulujis menyatakan diri terpisah dari pemerintahan Byzantium, maka semua wilayah yang dikuasai Orkhan menyatakan diri berada di bawah kekuasaan Sultan, dengan syarat Sultan akan mengirimkan beberapa kabilah muslimin dalam jumlah besar dengan tujuan untuk menyebarkan Islam serta dalam rangka mencegah pengusiran orang- orang Islam oleh orang-orang Nasrani dari Eropa.

Ada beberapa sebab yang memudahkan Sultan Orkhan merealisasikan tujuan politiknya, antara lain:

  • Kebijakan bertahap, mengelaborasi perjuangan ayahnya Utsman, dan tersedianya berbagai sarana material dan maknawi yang begitu banyak. Semua itu membantu Orkhan menaklukan wilayah- wilayah Byzantium di Anatolia. Strategi yang dilakukan Orkhan memiliki ciri yang sangat unik, yaitu langkah-langkahnya pasti dan terencana dalam melakukan perluasan kekuasaan, serta merentangkan perbatasan. Sedangkan dunia nasrani saat itu sama sekali tidak menyadari akan adanya ancaman dari kekuasaan Utsmani, kecuali setelah mereka mampu menyeberang laut dan mampu menaklukkan Gallipolli.

  • Dalam setiap peperangan yang berlangsung antara kaum muslimin dan penduduk Balkan, pasuka Utsmani memiliki karakteristik, yaitu membantu kesatuan barisan, kesatuan tujuan, dan kesatuan madzhab, yakni madzhab Sunni.

  • Kekuasaan Byzantium (Romawi) saat itu mengalami kemerosotan yang sangat parah. Masyarakat Byzantium telah ditimpa perpecahan politis, kemerosotan agama dan sosial. Dengan demikian sangat gampang bagi kekuasaan Utsmani untuk menaklukan wilayah itu.

  • Kelemahan pihak Nasrani akibat tidak adanya rasa percaya di kalangan penguasa dan pejabat di lingkungan kekaisaran Byzantium, Bulgaria, Serbia dan Hungaria. Dalam berbagai kesempatan mereka tidak mampu menyatukan barisan dalam menghadapi kekuatan tentara Utsmani.

  • Konflik agama yang terjadi antara Roma dan Konstantinopel, atau antara Katholik dan Ortodoks, telah menimbulkan dampak yang begitu besar dikedua belah pihak. Munculnya organisasi militer baru yang didasarkan pada akidah, manhaj, tarbiyah dan tujuan-tujuan Rabbaniyah yang langsung dipimpin oleh orang-orang terbaik dikalangan Utsmani.

Referensi :

  • Felix Y.Siauw ,Muhammad Al-Fatih 1453 , (Jakarta:Al-fatih Press,2013).
  • Agus Santosa ed, World Hiratage Nature & Culture Vol. 2 (Jakarta: Batara Publishin, 2009).
  • Siauw , Muhammad Al-Fatih 1453 . (Jakarta;Al-fatih Press,2013)
  • Ramzi Al-Munyawi , Muhammad Al-Fatih (Jakarta:Al-Kautsar,2012).
  • Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah (Jakarta: Al-Kautsar, 2003).