Bagaimana Sejarah atau Asbaabun Nuzul Turunnya Surah Al Baqarah?

Surah Al-Baqarah adalah surah ke-2 dalam Al-Qur’an. Surah ini terdiri dari 286 ayat, 6.221 kata, dan 25.500 huruf dan tergolong surah Madaniyah. Surah ini merupakan surah dengan jumlah ayat terbanyak dalam Al-Qur’an.

Surah ini dinamai al-Baqarah yang artinya Sapi Betina sebab di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil (ayat 67-74). Surah ini juga dinamai Fustatul Qur’an (Puncak Al-Qur’an) karena memuat beberapa hukum yang tidak disebutkan dalam surah yang lain.

Bagaimana sejarah atau Asbaabun Nuzul turunnya Surah Al Baqarah ?

1 Like

Ayat 6-7,

Firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.” (al-Baqarah: 6)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Abi Muhammad dari Ikrimah atau dari Sa’id ibnuz-Zubair dari Ibnu Abbas tentang firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 6-7,

“Sesunggulmya orang-orang kafir …”

Kedua ayat ini turun pada orang-orang Yahudi Madinah.

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Rabi’ bin Anas, dia berkata, "Dua ayat turun pada peperangan al-Ahzaab, yaitu,

“'Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Mu- hammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah te/ah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.”’ (al-Baqarah: 6-7)

Ayat 14,

Firman Allah ta’ala,

“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan- setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, 'Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.”’ (al-Baqarah: 14)

Sebab Turunnya Ayat

AI-Wahidi dan ats-Tsa’labi meriwayatkan dari jalur Muhammad bin Marwan dan as-Suddi dari al-Kalabi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Ayat ini turun pada Abdullah bin Ubay dan rekan-rekannya. Pada suatu hari mereka bertemu dengan beberapa sahabat Rasulullah. Lalu Abdullah bin Ubay berkata kepada rekan-rekannya itu, ‘Lihatlah bagaimana saya menjauhkan orang-orang bodoh itu dari kalian.’

Kemudian Abdullah bin Ubay mendekati Abu Bakar dan memegang tangannya, lalu berkata,

'Selamat datang ash-Shiddiq, tuan Bani Tamim, Syekh Islam, orang kedua setelah Rasulullah ketika ‘berada di dalam goa, serta orang yang telah mencurahkan jiwa dan hartanya unruk Rasulullah.’

Lalu dia memegang tangan Umar dan berkata, ‘Selamat datang Tuan Bani Adi bin Ka’ab, al-Faruq yang kokoh dalam agama Allah, yang telah mencurahkan jiwa dan hartanya untuk Rasulullah.’

Setelah itu dia memegang tangan Ali dan berkata, ‘Selamat datang anak paman Rasulullah dan menantu beliau. Tuan Bani Hasyim setelah Rasulullah.’

Kemudian masing-masing sahabat Nabi itu pun pergi ke arah yang berbeda.

Lalu Abdullah kembali menemui rekan-rekannya dan berkata,

‘Menurut kalian bagaimana yang saya lakukan tadi? Maka jika kalian melihat mereka berkumpul, lakukan saja seperti yang saya lakukan tadi.’

Rekan-rekannya pun memuji apa yang dilakukan Ubay tadi. Kemudian orang-orang muslim menemui Nabi saw. dan memberi tahu beliau tentang hal itu, maka turunlah ayat di atas."

Isnad riwayat ini sangat lemah. Karena Suddi ash-Shaghir adalah pendusta, demikian juga dengan al-Kalbi. Abu Shaleh sendiri lemah.

Ayat 19,

Firman Allah ta’ala,

“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegelapan, petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindari) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang orang yang kafir.” (al-Baqarah: 19)

Sebab Turunnya Ayat

lbnu Jarir meriwayatkan dari jalur as-Suddi al-Kabir dari Abu Malik ’ dan Abu Shaleh dari Ibnu Abbas dan dari Murrah dari lbnu Mas’ud dari sejumlah saha at, mereka berkata, "Dulu ada dua orang munafik penduduk Madinah melarikan diri dari Rasulullah menuju tempat orang-orang musyrik. Di perjalanan hujan lebat mengguyur mereka. Hujan tersebut sebagaimana disebutkan oleh Allah. swt. bahwa di dalamnya terdapat petir yang dahsyat dan kilat yang menyambar- nyambar. Setiap kali petir menggelegar, mereka menutupkan jari-jari mereka ke telinga mereka karena takut suara petir itu masuk ke gendang telinga mereka dan membunuh mereka.

Dan ketika sinar kilat berkelebat, mereka berjalan menuju cahayanya. Jika tidak ada cahaya kilat, mereka tidak dapat melihat apa-apa. Lalu keduanya kembali pulang ke tempat mereka, dan keduanya berkata,

“Seandainya saat ini pagi sudah tiba, tentu kita segera menemui Muhammad, lalu kita menyerahkan tangan kita ke tangan beliau.”

Kemudian ketika pagi tiba, keduanya menemui.beliau, lalu masuk Islam dan menyerahkan tangan mereka ke tangan beliau. Setelah itu keduanya menjadi muslirn yang baik. Lalu Allah menjadikan keadaan kedua munafik itu sebagai perumpamaan bagi orang-orang munafik yang ada di Madinah."

Setiap kali orang-orang munafik Madinah tersebut menghadiri majelis Nabi saw., mereka meletakkan jari-jari mereka di telinga karena takut mendengar jika ada wahyu yang turun yang berkenaan dengan mereka atau mereka diingatkan dengan sesuatu yang bisa membuat mereka mati ketakutan. Hal ini sebagaimana dua orang munafik tadi yang menutupkan jari-jari mereka ke telinga mereka.

“… Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, …” (al-Baqarah: 20)

Jika orang-orang muslim mempunyai harta dan anak-anak yang banyak, serta mendapatkan ghanimah atau kemenangan, mereka ikut di dalamnya dan berkata,
“Sesungguhnya agama Muhammad saw. saat ini adalah benar.”

Maka mereka pun istiqamah di dalamnya, sebagaimana dua orang munafik tersebut yang berjalan di bawah sinar kilat setiap kali sinarnya menyinari.

“… dan apabila gelap menerpa mereka, mereka berhenti…”(al-Baqarah: 20)

Jika harta dan anak-anak orang-orang muslim sedikit, dan mereka tertimpa kesulitan, mereka pun berkata,

“Ini karena agama Muhammad.” Maka, mereka pun keluar dari Islam (murtad) dan menjadi orang-orang kafir, sebagaimana dikatakan dua orang munafik tersebut di atas, ketika kilat tidak menyinari mereka.

Ayat 26,

Firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,” (al-Baqarah: 26)

Sebab turunnya ayat

lbnu Jarir meriwayatkan dari as-Suddi dengan sanad-sanadnya, bahwa ketika Allah membuat dua perumpamaan untuk orang-orang munafik, yaitu dalam firman-Nya,

“Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api, …” (al- Baqarah: 17)

Dan firman-Nya,

"Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari /angit, …’’(al-Baqarah: 19)

Orang-orang munafik berkata,

“Allah sangat agung dan mulia, tidak layak bagi-Nya membuat perumpamaan-perumpamaan ini.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan …,” hingga firman-Nya, “… .Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (al-Baqarah: 26-27)

Al-Wahidi meriwayatkan dari jalur Abdul Ghani bin Sa’id ats- Tsaqafi dari Musa bin Abdirrahman dari lbnu Juraij dari Atha’ dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Allah menyebutkan kondisi Tuhan-tuhan orangg-orang musyrik dalam firman-Nya,

‘Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, …"’ (al-Hajj: 73)

Dan ketika Allah menyebutkan tipu daya para Tuhan tersebut, Allah mengumpamakannya seperti rumah laba-laba. Maka orang- orang munafik berkata,

“Tidakkah kalian lihat, ketika Allah menyebutkan lalat dan laba-laba dalam Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad, apa yang bisa Dia lakukan dengan keduanya?”

Maka Allah menurunkan ayat ini.

Namun Abdul Ghani-salah satu perawinya-sangat lemah. Abdurrazzaq di dalam tafsirnya, berkata,

“Muammar memberitahu kami dari Qatadah, 'Ketika Allah menyebutkan laba-laba dan lalat, orang-orang musyrik berkata, ‘Mengapa laba-laba dan lalat di- sebutkan dalam Al-Qur’an?’ Maka Allah menurunkan ayat ini.”’

Ibnu Abi Hatim dari Hasan al-Bashri, dia berkata, "Ketika turun firman Allah,

'Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan…" (al-Hajj: 73)

Orang-orang musyrik berkata,"Ini bukan termasuk perumpamaan-perumpamaan,’ atau, ‘Ini tidak menyerupai perumpamaan- perumpamaan.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan…"’ (al- Baqarah: 26)

Saya katakan, "Pendapat yang pertama lebih benar sanadnya dan lebih sesuai dengan awal surah. Dan penyebutan tentang orang-orang musyrik tidak sesuai dengan status surah ini sebagai surah Madianiyyah.

Adapun riwayat yang saya sebutkan dari Qatadah dan Hasan al-Bashri, disebutkan oleh al-Wahidi dari mereka tanpa sanad, dengan lafazh, ‘Orang-orang Yahudi berkata … .’, dan ini lebih sesuai."

Ayat 44,

Firman Allah ta’ala,

''Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Ttdakkah kamu mengerti?" (al-Baqarah: 44)

Sebab turunnya ayat

Al-Wahidi dan ats-Tsa’labi meriwayatkan dari jalur al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata,

“Ayat ini turun pada orang- orang Yahudi Madinah. Ketika itu salah seorang dari mereka berkata kepada keluarga menantu, para kerabat, dan orang-orang yang mempunyai hubungan sesusuan dengannya yang semuanya adalah muslim, 'Tetaplah pada agama kalian dan pada apa yang diperintahkan oleh orang itu (Muhammad) karena apa yang diperintahkannya adalah benar.”

Ketika itu, orang-orang Yahudi memang terbiasa menganjurkan hal itu kepada orang-orang, namun mereka sendiri tidak melakukannya.

Ayat 62,

Firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang- orang Nasrani dan orang-orang Sabi’in, siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (al Baqarah: 62)

####Sebab turunnya ayat
Ibnu Abi Hatim dan al-Adni meriwayatkan di dalam musnadnya dari jalur lbnu Abi Najih dari Mujahid, dia berkata,

"Salman berkata, 'Saya bertanya kepada Nabi saw. tentang para penganut agama yang dulu satu agama dengan saya. Saya katakan kepada beliau juga tentang sembahyang dan ibadah mereka.

Maka turunlah firman Allah,

‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi… …"’

Al-Wahidi meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Katsir dari Mujahid, dia berkata,

"Ketika Salman menceritakan kepada Rasulullah tentang kisah rekan-rekannya dulu, Rasulullah bersabda,

"‘Mereka di dalam neraka.’

Salman berkata,

“Maka bumi pun terasa gelap bagiku.”

Lalu turun firman Allah,

‘Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi… .’, hingga firman-Nya, ‘… .dan mereka tidak bersedih hati.’

Maka saya pun merasa sangat lega, seakan-akan sebuah gunung telah disingkirkan dari atas tubuh saya."’
lbnu Jarir dan lbnu Abi Hatim meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata,

“Ayat ini turun pada rekan-rekan Salman al-Parisi (sebelum dia masuk Islam).”

Ayat 76,

Firman Allah ta’ala,

"Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya, ‘Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti? "’ (al-Baqarah: 76)

Sebab turunnya ayat

lbnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, "Ketika peperangan dengan Bani Quraizhah, Nabi saw. berdiri di bawah benteng mereka. Lalu beliau bersabda,

‘Wahai para saudnra kera! Wahai para saudara babi! Wahai hamba-hamba thaghut!’

Mereka pun berkata,

“Siapakah yang memberi tahu hal itu kepada Muhammad? Hal itu pasti berasal dari kalian. Apakah kalian menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian supaya mereka dapat mengalahkan hujah kalian di hadapan Tuhan?”’

Maka turunlah ayat di atas.

lbnu Jarir meriwayatkan dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata,

"Dulu orang-orang Yahudi, jika bertemu dengan orang-orang yang beriman mereka berkata, ‘Kami beriman bahwa teman kalian (Muhammad) adalah utusan Allah. Akan tetapi beliau diutus untuk kalian saja.’

Apabila hanya antar mereka bertemu, mereka pun berkata," Apakah dia memberi tahu orang-orang Arab
dengan hal ini?

Karena sesungguhnya kalian dulu minta bantuan kepadanya untuk mengalahkan mereka dan beliau dulu adalah bagian dari mereka."

Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan apabila mereka berjumpa … .”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata,

"Ayat di atas turun kepada beberapa orang Yahudi yang beriman, kemudian mereka menjadi munafik. Lalu mereka mendatangi orang-orang mukmin yang berasal dari kalangan Arab dan memberi tahu mereka dengan hukuman yang pernah menimpa golongan mereka. Maka dengan kesal sebagian mereka (orang-orang Yahudi itu) berkata kepada sebagian yang lain, 'Apakah kalian menceritakan kepada orang-orang mukmin tentang hukuman yang telah diterangkan Allah kepada kalian agar mereka berkata,

‘Kami lebih dicintai dan lebih mulia di sisi Allah daripada kalian?!’"

Ayat 79, yaitu firman Allah ta’ala

“Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, ‘Ini dari Allah,’ (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat.”(al-Baqarah: 79)

Sebab turunnya ayat

An-Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata,

“Ayat ini turun kepada Ahli Kitab.”

lbnu Abi Hatim dari jalur Ikrimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata,

"Ayat ini turun kepada para pendeta Yahudi. Mereka menemukan ciri-ciri Nabi saw. termaktub di dalam Taurat, yaitu pelupuk di sekeliling matanya berwarna hitam, bertubuh sedang, berambut ikal, dan berwajah tampan. Lalu mereka menghapuskan keterangan tersebut karena kedengkian dan kezaliman mereka. Atau dengan berdusta mereka berkata,

‘Kami menemukan ciri-cirinya bertubuh tinggi, berkulit hijau, dan berambut lurus."’

Ayat 80

Firman Allah ta’ala,

"Dan mereka berkata, ‘Neraka tidak akan menyentuh kami, kecuali beberapa hari saja.’ Katakanlah,“Sudahkah, kamu menerima janji dari Allah, sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, ataukah kamu mengatakan tentang Allah sesuatu yang tidak kamu ketahui?”’ (al-B aqarah: 80)

Sebab turunnya ayat

Ath-Thabrani di da1am al Mu’jamul Kabir, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Ibnu Ishaq dari Muhammad bin Abu Muhammad dari lkrimah atau Sa’id ibnuz-Zubair dari Ibnu Abbas, dia berkata,

"Ketika Rasulullah datang ke Madinah, orang- orang Yahudi mempunyai pendapat bahwa usia dunia adalah tujuh ribu tahun. Juga pendapat bahwa sesungguhnya orang-orang disiksa di dalam neraka satu hari dalam setiap seribu tahun menurut hitungan hari di akhirat. Dan siksa itu hanya selama tujuh kali, kemudian akan berhenti.

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan mereka berkata, "Neraka tidak akan menyentuh kami, … .’ hingga firman-Nya, ‘… Mereka kekal di dalanmya."’ (al-Baqarah: 80-81)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Yahudi berkata,

“Kami tidak akan masuk neraka kecuali hanya memenuhi sumpah Allah. Kita hanya akan disiksa selama jumlah hari ketika kita menyembah patung lembu, yaitu selama empat puluh hari. Setelah itu siksa pun akan berhenti.”

Maka turunlah ayat di atas.

lbnu Jarir juga meriwayatkan dari lkrimah hadits yang berbeda.

Ayat 89,

Firman Allah ta’ala,

"Dan setelah sampai kepada mereka Kita[, (Al-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.» (al-Baqarah: 89)

Sebab turunnya ayat

Al-Hakim meriwayatkan di dalam al-Mustadrak dan al-Baihaqi di dalam Dalaa’ilun Nubuwwah, dengan sanad dhaif dari Ibnu Abbas, dia berkata,

"Dulu orang-orang Yahudi Khaibar selalu berperang dengan orang-orang Ghathfan. Setiap kali berperang, orang-orang Yahudi selalu kalah. Oleh karena itu mereka berdoa,

‘Ya Allah, kami memohon kepada-Mu dengan kebenaran Muhammad, Nabi yang ummi,yang Engkau janjikan akan mengutusnya untuk kami di akhir zaman, tolonglah kami.’

Setiap kali berdoa dengan doa di atas dan kemudian berperang dengan Ghathfan, mereka pun mendapatkan kemenangan. Lalu ketika Nabi Muhammad saw. diutus, mereka tidak beriman kepada beliau. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

'…sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir,… ’ (al-Baqarah: 89)

Ibnu Abi Hamn meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang Yahudi memohon kepada Allah dengan bertawassul dengan Rasulullah sebelum beliau diutus, untuk mendapatkan kemenangan atas orang-orang Aus dan Khazraj. Ketika beliau diutus dari kalangan orang-orang Arab, mereka pun kafir dan mengingkari apa yang telah mereka katakan. Maka Mu’ adz bin Jabal,

Bisyr ibnul-Barra’, dan Dawud bin Salamah berkata,

“Wahai orang- orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah dan masuklah Islam. Kalian dulu memohon kepada Allah dengan bertawassul kepada Muhammad untuk dapat mengalahkan kami ketika kami masih musyrik. Dan kalian beri tahu kami bahwa dia pasti akan diutus dan kalian juga pemah rnenyebutkan sifat-sifatnya sesuai dengan sifat-sifatnya saat ini.”

Maka Salam bin Misykam, salah seorang dari Bani Nadhir, berkata,

“Dia tidak datang kepada kami dengan apa yang kami ketahui. Dan yang kami sebutkan kepada kalian bukan diia.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan setelah sampai kepada mereka Kitab (AI-Qur’an) dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka sedangkan sebelumnya mereka memohon kemenangan atas orang-orang kafir, ternyata setelah sampai kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka mengingkarinya. Maka laknat Allah bagi orang-orang yang ingkar.” (al-Baqarah: 89)

Ayat 94,

Firman Allah ta’ala,

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian jika kamu orang yang benar.’” (al-Baqarah: 94)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abul Aliyyah, dia berkata,

"Orang- orang Yahudi berkata, ‘Hanya orang-orang Yahudi yang akan masuk surga.’

Maka Allah berfirman,

'Katakanlah (Muhammad), ‘jika negeri akhirat di sisi Allah, khusus untukmu saja bukan untuk orang lain…"’

Ayat 97,

Firman Allah ta’ala,

“Katakanlah (Muhammad), 'Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kita.b-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.”’ (al- Baqarah: 97)

Sebab turunnya ayat

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas, dia berkata,

"Abdullah bin Salam mendengar informasi kedatangan Rasulullah ketika dia sedang berada di dalam kebunnya pada musim panen. Kemudian dia mendatangi Rasulullah dan berkata,

‘Saya akan bertanya kepadamu tiga hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pertama, apa tanda- tanda awal terjadinya hari kiamat? Kedua, apa makanan pertama para penghuni surga? Ketiga, bagaimana seorang anak mirip dengan ayah atau ibunya?’

Lalu Rasulullah menjawab,

‘Baru saja Jibril memberitahu saya.’ Abdullah bin Salam dengan nada terkejut bertanya, ‘Jibril?’ ‘Ya,’ jawab Rasulullah singkat.

Abdullah bin Salam berkata, ‘Dia adalah malaikat yang jadi musuh orang-orang Yahudi.’

Maka Rasulullah rnembacakan ayat,

'Katakanlah, 'Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu … ’ (HR Bukhari dalarn Kitaabut Tafsir, No. 4480.)

Syaikhul Islam Ibnu Hajjar al-Asqalani berkata di dalam kitab Fathul Baari, “Secara zhahir dari susunan riwayat tersebut, Nabi saw: membacakan ayat di atas untuk membantah keyakinan orang-orang Yahudi. Dan hal itu tidak mengharuskan ayat tersebut turun waktu itu.” Ibnu Hajjar kernudian menambahkan, “Dan inilah yang paling kuat.”

Terdapat kisah lain juga yang shaihih tentang sebab turunnya ayat di atas.

Imam Ahmad, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i meriwayatkan dari jalur Bukair bin Syihab dari Sa’id ibnuz-Zubair, dari Ibnu Abbas, dia berkata,

“Pada suatu hari orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah, lalu berkata, 'Wahai Abul Qasim, kami akan bertanya kepadamu lima hal. Jika engkau menjawab semuanya, maka kam.i tahu bahwa engkau adalah seorang nabi.”’

Lalu Ibnu Abbas menyebutkan isi hadits tersebut. Di antaranya, orang-orang Yahudi itu menanyakan tentang apa yang diharamkan oleh Bani Israel terhadap diri mereka sendiri, tentang tanda-tanda seorang nabi, tentang petir dan suaranya, tentang bagaimana seorang anak mempunyai kelamin laki-laki atau wanita dan tentang siapakah yang membawa berita dari Iangit, yaitu ketika mereka bertanya, “Beri tahu kami siapa dia?”

Rasulullah menjawab, “Jibril.”

Salah seorang dari mereka pun berkata, “Jibril yang datang dengan membawa peperangan, pembunuhan, dan siksaan adalah musuh kami. Kalau seandainya kau katakan Mikail, sang malaikat pembawa rahmat, tetumbuhan, dan hujan, tentu akan lebih baik.”

Maka turunlah ayat di atas. (HR Ahmad dalam al-Musnad (1/274), Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’(8/242))

lshaq bin Rahuyah dalam musnadnya dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur asy-Sya’bi bahwa suatu kali Umar pernah mendatangi orang-orang Yahudi, Lalu dia mendengar isi Taurat. Maka dia pun takjub, karena isi yang dia dengar sama dengan apa yang ada di dalam Al-Qur’an. Lalu Nabi saw. lewat di depan mereka. Maka Umar ber- tanya kepada orang-orang Yahudi,

“Demi Allah, apakah kalian tahu bahwa dia adalah seorang utusan Allah?”

Seorang pendeta mereka menjawab,

“Ya kami tahu bahwa dia adalah utusan Allah.”

Maka Umar pun menyahut,

“Lalu mengapa kalian tidak mengikuti ajarannya?”

Mereka menjawab,

“Karena ketika kami bertanya kepadanya tentang siapa yang membawa berita kenabian kepadanya, dia menjawab yang membawanya adalah Jibril. Sedangkan Jibril adalah musuh kami karena Jibril turun ke burni dengan membawa kekerasan, kesusahan, peperangan, dan kehancuran.”

Umar pun kembali bertanya,

“Lalu siapakah malaikat yang menjadi utusan Allah untuk kalian?”

Mereka menjawab,

“Dia adalah Mikail, malaikat yang turun dengan membawa air hujan dan rahmat.”

Umar kembali bertanya,

“Bagaimana posisi keduanya di sisi Allah?”

Mereka menjawab,

“Satunya di sebelah kanan dan satunya lagi di sebelah kiri-Nya.”

Maka Umar berkata,

“Sesungguhnya Jibril tidak mungkin memusuhi Mikail. Mikail juga tidak mungkin berdamai dengan musuh Jibril. Saya bersaksi bahwa keduanya dan Tuhan keduanya berdamai dengan siapa saja yang berdamai dengan mereka. Dan Dia juga berperang dengan yang mereka perangi.”

Kemudian Umar mendatangi Nabi saw. untuk memberi tahu beliau tentang hal itu. Ketika Umar baru bertemu dengan beliau dan belum menyampaikan hal ini, beliau bersabda,

“Maukah engkau saya beri tahu tentang ayat yang baru saja diturunkan kepadaku?”

Umar menjawab,

“Ya, wahai Rasulullah.”

Lalu Rasulullah membacakan firman Allah,

“Katakanlah (Muhammad), ‘Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang beriman.’ Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesunggulmya Allah musuh bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 97-98)

Maka Umar berkata,

“Wahai Rasulullah, demi Allah saya datang dari tempat orang-orang Yahudi hanya untuk mendatangimu dan memberi tahumu tentang apa yang mereka katakan kepada saya dan apa yang saya katakan kepada mereka. Namun ternyata Allah telah mendahului saya unhtk memberi tahumu.”

Isnad hadits ini adalah shahih, akan tetapi asy-Sya’bi tidak pemah bertemu Umar. (HR lbnu Abi Syaibah dalam al-Mushanna/(41/285).)

Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari jalur lain dari asy-Sya’bi. Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari jalur as-Suddi dari Umar. Dia juga dari jalur Qatadah dari Umar. Dan kedua jalur tersebut juga terputus. lbnu Abi Hatitn meriwayatkan dari jalur lain dari Abdurrahman bin Abi Laila bahwa seorang Yahudi bertemu dengan Umar ibnul- Khaththab. Lalu orang Yahudi ini berkata,

“Sesungguhnya Jibril yang menyampaikan berita langit untuk temanmu iht adalah musuh kami.”

Umar pun menjawab,

“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.”

Maka, turunlah ayat di atas melalui lisan Umar.

Jalur-jalur ini saling menguatkan.

Ibnu Jarir menyatakan bahwa sebab turunnya ayat tersebut adalah cerita di atas merupakan ijma’ para ulama.

Ayat 99-100,

Firman Allah ta’ala,

“Dan sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad). dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang fasik. Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman.” (al-Baqarah: 99- 100)

Sebab turunnya ayat

lbnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari lbnu Abbas, dia berkata,

"lbnu Shuriya berkata kepada Nabi saw., ‘Wahai Muhammad, engkau tidak datang dengan apa yang kami ketahui. Dan Allah tidak menurunkan ayat yang jelas kepadamu.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan sungguh, Kami telah menurunkan ayat-ayat yang jelas kepadamu (Muhammad), dan tidaklah ada yang mengingkarinya selain orang-orang Jasik."’ (al-Baqarah: 99)

Ketika Rasulullah diutus dan beliau menyampaikan tentang perjanjian yang ditetapkan atas mereka dan kewajiban yang ditetapkan atas mereka terhadap Nabi Muhammad, Malik lbnush Shaif berkata,

“Demi Allah, tidak ada yang ditetapkan atas kami terhadap Muhammad dan tidak ada perjanjian yang ditetapkan atas kami.”

Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya,

"Dan mengapa setiap kali mereka mengikat janji, sekelompok mereka melanggarnya? Sedangkan sebagian besar mereka tidak beriman:’(al-Baqarah: 100)

Ayat 102,

Firman Allah ta’ala,

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui…” (al-Baqarah: 102)

Sebab turunnya ayat

lbnu Jarir meriwayatkan dari Syahr bin Hausyab, dia berkata,

"Orang-orang Yahudi berkata, ‘Perhatikanlah Muhammad, dia mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan. Dia mengatakan bahwa Sulaiman adalah nabi seperti nabi-nabi yang lain, padahal Sulaiman adalah seorang penyihir yang dapat terbang di atas angin.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan …"’ (al- Baqarah: 102)

lbnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Abul Aliyah bahwa dalam waklu yang cukup lama, orang-orang Yahudi menanyakan beberapa hal di dalam Taurat kepada Nabi saw… Tidak satu pun pertanyaan yang mereka sampaikan, kecuali Allah menurunkan kepada beliau jawabannya. Ketika melihat kondisi yang demikian, mereka berkata,

“Orang ini lebih tahu dari kita tentang kitab yang diturunkan kepada kita.”

Dan mereka pun menanyakan tentang sihir dan berusaha memojokkan beliau, maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman. (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir). …” (al-Baqarah: 102)

Ayat 104,

Firman Allah swt.:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (al-Baqarah: 104)

Sebab turunnya ayat

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata,

"Ada dua orang Yahudi yang bernama Malik ibnush-Shaif dan Rifa’ ah bin Zaid. Setiap kali bertemu Nabi saw., mereka berkata kepada beliau,

‘Raa’ina pendengaranmu dan dengarlah sedangkan kamu tidak mendengamya.’

Orang-orang muslim mengira itu adalah sesuatu yang mereka gunakan untuk mengagungkan nabi-nabi mereka sehingga mereka mengatakan hal itu kepada Nabi saw…

Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.” (al-Baqarah: 104)

Di dalam Dalaa’ilun Nubuwwah Abu Nu’aim meriwayatkan dari jalur as-Suddi ash-Shaghiir dari al-KaJbi dari Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata, Raa’ina dalam bahasa Yahudi adalah sebuah celaan yang buruk. Ketika orang-orang Yahudi itu mendengar para sahabat Rasulullah berkata,

'Perdengarkanlah kata-kata itu kepada Nabi saw… ’ Sedangkan orang-orang Yahudi mengatakan hal itu dan tertawa-tawa setelah mengatakannya. (Lalu turunlah firman Allah di atas.) Ketika mendengar kata-kata itu dari mereka, Sa’ad bin Mu’adz berkata,

“Wahai musuh-musuh Allah, jika saya mendengar lagi kata-kata itu dari salah seorang kalian setelah majelis ini, sungguh saya akan penggal lehemya.”’

Ibnu Jarir meriwayatkan dari adh-Dhahhak, dia berkata,

“Dulu seseorang dari kalangan Yahudi berkata, ‘Ar’ini pendengaranmu.’ Maka turunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkari dari Athiyyah, dia berkata,

“Dulu beberapa orang Yahudi selalu berkata kepada Nabi saw., ‘Ra’inaa pendengaranmu,’ hingga beberapa orang muslim ikut mengucapkannya. Sedangkan hal itu tidak disukai oleh Allah. Maka tunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, “Dulu orang-orang berkata, ‘Raa’ina pendengararunu.’ Lalu orang-orang Yahudi datang kepada Rasulullah dan mengatakan hal iht, maka htrunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Atha’, dia berkata, “Dulu, itu adalah kata-kata dalam bahasa orang-orang Anshar ketika masih jahiliah. Lalu turunlah ayat 104 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abul Aliyyah, dia berkata, “Dulu, ketika berbicara kepada temannya, orang-orang Arab berkata, ‘Raa’ina pendengaranmu.’ Lalu mereka pun dilarang mengatakannya.”

Ayat 106,

Firman Allah ta’ala,

“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?” (al-Baqarah: 106)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata,

"Terkadang turun wahyu kepada Nabi saw. pada malam hari, namun ketika siang tiba beliau lupa, maka Allah menurun.kan firman-Nya,

‘Ayat mana saja yang Kami nasakhkan … .’" (al-Baqarah: 106)

Ayat 108,

Firman Allah ta’ala,

“Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani lsrail) dahulu? Barangsiapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Baqarah: 108)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Rafi’ bin Huraimalah dan Wahab bin Zaid berkata kepada Rasulullah,

‘Wahai Muhammad, datangkanlah kitab yang kau turunkan kepada kami dari langit dan bisa kami baca. Atau pancarkanlah sungai-sungai untuk kami, maka kami akan mengikuti dan membenarkanmu.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya tentang hal itu,

‘Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Musa (pernah) diminta (Bani lsrail) dahulu? Barangsiapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus."’ (al-Baqarah: 108)

Huyay bin Akhthab dan Abu Yasir bin Akhthab adalah dua orang Yahudi yang sangat iri kepada orang-orang Arab karena Allah mengutus Rasul-Nya pada kalangan mereka. Keduanya berusaha sekuat tenaga untuk membuat orang-orang rneninggalkan Islam. Maka, Allah rnenurunkan firman-Nya pada keduanya,

“Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan …” (al-Baqarah: 109)

IbnuJarir meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata,

"Orang-orang Quraisy meminta Nabi Muhammad saw. untuk mengubah bukit Shafa menj adi emas.

Maka Nabi Muhammad saw. menjawab,

‘Saya akan melakukannya, dan ia akan menjadi seperti makanan yang diturunkan dari langit kepada Bani Israel jika kalian menjadi kafir.’

Orang-orang Quraisy pun tidak menyanggupi syarat tersebut dan mereka menarik kernbali permintaan itu. Maka turulah firman Allah,

‘Ataukah kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad) … …"’(al- Baqarah: 108)

lbnu Jarir meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata,

“Orang-orang Arab rneminta Nabi Muhammad saw. untuk mendatangkan Allah sehingga mereka dapat melihat-Nya dengan jelas. Maka turunlah firman Allah ayat 108 surah al-Baqarah.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Abu! Aliyyah, dia berkata, "Seorang lelaki berkata kepada Nabi saw., ‘Wahai Rasulullah, coba kafarat kita seperti kafarat Bani Israel.’ Nabi saw. menjawab, 'Apa yang diberikan Allah kepada kalian adalah lebih baik. Dulu orang- orang Bani Israel jika salah seorang dari mereka melakukan sebuah dosa, maka dia akan menemukan dosa itu tertulis di daun pintu rumahnya beserta kafaratnya. Apabila dia menebusnya, maka itu adalah kehinaan di dunia. Namun jika tidak menebusnya, maka itu akan menjadi kehinaan baginya di akhirat. Sungguh Allah telah memberi kalian hal yang lebih baik dari itu. Allah ta’ala berfirman,

'Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, …" (an- Nisaa ': 110)

Dan shalat lima waktu serta hari Jumat ke Jumat lainnya adalah kafarat untuk dosa-dosa yang dilakukan di antara keduanya.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Ataukah, kamu hendak meminta kepada Rasulmu (Muhammad)… …"’

Ayat 113,

Firman Allah ta’ala,

“Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” (al-Baqarah: 113)

Sebab turunnya ayat

lbnu Abi Hamn rneriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrirnah dari lbnu Abbas, dia berkata,

"Ketika orang-orang Nasrani dari Najran mendatangi Rasulullah, para pendeta Yahudi mendatangi mereka dan mereka pun berdebat. Rabi’ bin Huraimalah berkata,

‘Kalian tidak mempunyai landasan apa-apa.’ Dan dia mengingkari kenabian Isa dan kebenaran lnjil.

Lalu salah seorang dari orang-orang Nasrani Najran itu berkata,

‘Kalian tidak mempunyai landasan apa-apa.’ Lalu dia pun mengingkari kenabian Musa dan kebenaran Taurat.

Maka Allah menurunkan firman-Nya,
'Dan orang Yahudi berkata, ‘Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu (pegangan).’ dan orang-orang Nasrani (juga) berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu (pegangan),’… :"

Ayat 114,

Flrman Allah ta’ala,

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.” (al-Baqarah: 114)

Sebab turunnya ayat

lbnu Abi Hatim rneriwayatkan dari jalur Sa’id atau lkrimah dari lbnu Abbas bahwa orang-orang Quraisy melarang Rasulullah shalat di Ka’bah. Maka Allah menunmkan firman-Nya,

"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya, … "

lbnu Jarir juga meriwayatkan dari Ibnu Zaid, dia berkata,

“Ayat di atas turun pada orang-orang musyrik ketika mereka melarang Rasulullah datang ke Mekah pada masa Hudaibiyyah.”

Ayat 115,

Firrnan Allah ta’ala,

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al- Baqarah: 115)

Sebab turunnya ayat

Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata,

“Dulu Nabi saw. shalat sunnah di atas unta beliau ke mana pun arah unta itu. Pada suatu ketika beliau datang dari Mekah ke Madinah.”

Lalu lbnu Umar membaca firman Allah,

"Dan milik Allah timur dan barat… … "

Dan, dia mengatakan bahwa ayat ini turun pada masalah tersebut.
Al-Hakim meriwayatkan juga dari Ibnu Umar, dia berkata,

“Ayat, ’ … Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah … .,”

maksudnya engkau boleh shalat sunnah ke mana pun arah unta yang engkau tunggangi." Dan dia berkata,

“Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Muslirn.” (HR Muslim dalam Kilab Shaalatul Musaafiriin (700), at-Tirmidzi di dalam Kitabut -Tafsiir (1/221) dan an-Nasa’i dalam Kitabush Shalat (490).

Ini adalah riwayat yang sanadnya paling shahih tentang sebab turunnya ayat di atas. Sejumlah ulama pun telah menguatkannya. Akan tetapi, tidak ada penjelasan yang sahih bahwa itu adalah sebab turunnya ayat di atas. Namun, dia berkata,

“Ayat di atas turun pada masalah ini.”

Dan telah disebutkan sebelumnya tentang lafazh ini, juga telah disebutkan dengan jelas tentang sebab turunnya ayat ini. Oleh karena itu, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ketika hijrah ke Madinah, Allah memerintahkan beliau un.tuk menjadikan Baitul Maqdis sebagai kiblat. Melihat hal itu, orang-orang Yahudi pun merasa senang. Dan Rasulullah menjadikan Baitul Maqdis sebagai kiblat dalam beberapa belas bulan, padahal beliau senang dengan kiblat Nabi Ibrahim a.s… Oleh karena itulah, beliau sering berdoa dengan melihat ke arah langit, lalu turunlah firman-Nya,

“…Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…”(al-Baqarah: 144)

Maka orang-orang Yahudi pun meragukan perubahan kiblat itu. Mereka berkata,

“Apa yang membuat mereka berpaling dari kiblat mereka yang dulu?”

Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan milik Allah timur dan barat. Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah …” (al-Baqarah: 115)

Dan Allah berfirman,

“… Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah …”

Isnad hadits ini adalah kuat. Maknanya juga menopangnya, maka ia pWl dijadikan sandaran. Terdapat sejumlah riwayat lain yang lemah tentang sebab turun ayat di atas.

Pertama, at-Trrmidzi, lbnu Majah, dan ad-Daruquthni meriwayatkan dari jalur Asy’ats as-Saman, dari Ashiin bin Abdillah bin Amir bin Rabi’ah da,ri ayahnya, dia berkata,

"Pada suatu malam, kami bersama Nabi saw. dalam sebuah perjalanan yang gelap dan kami tidak tahu arah kiblat. Maka masing-masing dari kami shalat dengan menghadap ke arah depannya. Ketika pagi tiba kami menceritakan hal itu kepada Rasulullah, maka turunlah firm.an Allah,

'… Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah …"'1 4

At-Tirmidzi berkata, “Riwayat ini gharib. Dan, Asy’ats dilemahkan dalam hadits.”

Kedua, ad-Daruquthni dan Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan dari jalur al-Arzam’i dari Atha’ dari Jabir, dia berkata,

"Pada suatu ketika Rasulullah mengutus satu pasukan dan saya termasuk di dalamnya. Lalu kami terjebak dalam kegelapan sehingga kami tidak tahu arah kiblat. Maka beberapa orang dari kami berkata, ‘Kita sudah tahu arah k:iblat, yaitu ke arah utara dari sini.’ Lalu mereka pun melakukan shalat dan membuat garis ke arah yang mereka yakini sebagai kiblat. Namun sebagian yang lain berkata,"Arah kiblat dari sini adalah ke arah selatan.’ Maka mereka pun melakukan shalat dan membuat garis-garis ke arah yang mereka yakini sebagai arah kiblat. Ketika pagi tiba dan matahari menyinari bumi, tampak bahwa garis-garis yang kami buat tidak mengarah ke arah kiblat.

Maka ketika kami kembali dari petjalanan kami, kami bertanya kepada Nabi saw., namun beliau tidak langsung menjawab. Lalu Allah menurunkan firman-Nya, ‘Dan milik Allah timur dan barat … "’

Ketiga, Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan dari jalur al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas bahwa pada suatu ketika Rasulullah mengutus satu pasukan. Ketika dalam perjalanan, kabut membuat sekeliling mereka menjadi gelap sehingga mereka tidak mengetahui arah kiblat. Lalu mereka melakukan shalat. Setelah matahari terbit, mereka baru tahu bahwa shalat mereka tidak menghadap ke arah kiblat. Setelah kembali, mereka menghadap Rasulullah dan memberitahukan hal itu kepada beli au. Maka Allah menurunkan ayat,

"Dan milik Allah timur dan barat … "

Keempat, Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Qatadah bahwa Nabi saw. bersabda,

“Sesungguhnya seorang saudara kalian yang beliau maksud adalah Najasyi- 'telah meninggal dunia, maka shalatilah dia.” Maka mereka berkata, “Kami menshalati orang yang bukan muslim?”

Maka turunlah firman Allah ta’ala,

“Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah, …” (Ali Imran: 199)

Lalu mereka berkata lagi,

“Sesungguhnya ketika masih hidup, dia tidak shalat menghadap ke arah kiblat.”

Maka turunlah firman Allah,

"Dan milik Allah timur dan barat … "

Riwayat terakhir ini sangat gharib dan mursal atau mu’dhal.

Kelima, Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, "Ketika turun firman Allah,

'… Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…" (al- Mu’min: 60)

Mereka berkata, ‘Ke arah mana?’ Maka turunlah firman Allah,

'… Ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah … '"

Ayat 118,

Firman Allah ta’ala,

“Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.” (al-Baqarah: 118)

Sebab turunnya ayat

IbnuJarir dan lbnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata,

"Rafi’ bin Huraimalah berkata kepada Rasulullah,

‘Jika benar engkau adalah seorang utusan dari Allah sebagaimana yang engkau katakan, maka sampaikan kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami hingga kami mendengar kata- kata-Nya.’

Maka turunlah firman Allah,

‘Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata … …’"

Ayat 119,

Firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.”(al-. Baqarah: 119)

Sebab turunnya ayat

Abdurrazzaq berkata, "Ats-Tsauri memberi tahu kami dari Musa bin Ubaidah dari Muhammad bin Ka’ab al-Qarzhi bahwa Rasulullah bersabda,

‘Duhai apakah yang terjadi dengan kedua orang tuaku?’

Maka turunlah firman Allah,

'Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka."(al- Baqarah: 119)

Allah tidak pemah menyebutkan tentang kedua orang tuanya hingga beliau meninggal dunia." Hadits ini adalah mursal.

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari jalur Ibnu Juraij, dia berkata, “Dawud bin Abi Ashim memberi tahu saya bahwa pada suatu hari Nabi saw. berkata, ‘Di manakah kedua orang tua saya?’ Maka turunlah ayat 119 surah al-Baqarah.” Riwayat ini juga mursal.

Ayat 120,

Firman Allah ta’ala,

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (al-Baqarah: 120)

Sebab turunnya ayat

Ats-Tsa’labi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata,

"Dulu orang-orang Yahudi Madinah dan orang-orang Nasrani Najran berharap agar Rasulullah shalat menghadap ke arah kiblat mereka. Ketika Allah mengubah kiblat ke arah Ka’bah, mereka pun tidak suka dan putus asa untuk membuat beliau mengikuti agama mereka. Maka turunlah firman Allah ta’ala,

‘Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu… ."’

Ayat 125,

Firman Allah ta’ala,

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.”’ (al Baqarah: 125)

Sebab turunnya ayat

Al-Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan dari Umar, dia berkata,

"Secara tidak sengaja, tiga hal yang saya katakan sesuai dengan firman Allah.

Pertama, ketika saya berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, coba kita jadikan tempat berdiri Nabi Ibrahim sebagai tempat shalat.’ Maka turunlah firman Allah,

'Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat." (al-Baqarah: 125)

Kedua, ketika saya berkata kepada Rasulullah,

‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya yang mendatangi para istrirnu ada orang yang baik dan ada juga yang jahat. Coba seandainya engkau perintahkan mereka untuk memakai hijab.’ Maka turunlah ayat hijab.

Ketiga, pada suatu ketika para istri Rasulullah melampiaskan rasa cemburu mereka kepada beliau. Maka saya katakan kepada mereka, ‘Bisa-bisa Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian.’ Maka, turunlah firman Allah dalam hal ini. " (HR Bukhari dalam Kilaabush Shalat, No. 4.02, Muslim dalam Kitabu Fadhaa’ilish Shahaabah, No. 2399.)

Riwayat di atas mempunyai jalan periwayatan yang banyak, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatirn dan Ibnu Mardawaih dari Jabir, dia berkata,

"Ketika Nabi saw. melakukan tawaf, Umar berkata kepada beliau, ‘Apakah ini tempat berdiri ayah kami, Ibrahim?’

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Umar kembali bertanya, ‘Mengapa tidak kita jadikan tempat shalat?’

Maka Allah menurunkan firman- Nya,

‘Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat. "’ (al-Baqarah: 125)

Kedua, Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari jalur Amr bin Maimun dari Umar ibnul-Khaththab bahwa dia berdiri di tempat berdirinya Nabi Ibrahim, lalu dia bertanya kepada Rasulullah,

“Wahai Rasulullah, bukankah kita sedang berdiri di tempat berdirinya Kekasih Tuhan kita?”

Rasulullah menjawab, “Benar.”

Maka Umar bertanya lagi, “Mengapa tidak kita jadikan tempat untuk shalat?”

Lalu tidak lama dari itu turunlah firman Allah,

“Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

Secara zhahir dari riwayat ini dan yang sebelumnya bahwa ayat tersebut turun pada haji wada’.

Ayat 130,

Firman Allah ta’ala,

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” (al- Baqarah: 130)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Uyainah berkata, "Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam mengajak kedua keponakannya, Salamah dan Muhajir, untuk masuk Islam. Dia berkata kepada keduanya, 'Telah kalian berdua ketahui bahwa Allah berfirman di dalam Taurat,

‘Sesungguhnya Aku akan mengutus seorang nabi yang bernama Ahmad dari keturunan lsma’il. Barangsiapa beriman kepadanya, maka dia mendapatkan petunjuk dan berada dalam kebenaran. Dan barangsiapa tidak beriman kepadanya, maka dia akan terlaknat.’"

Maka Salamah pun masuk Islam, namun Muhajir -, saudara- nya, tidak mengikuti jejaknya. Lalu turunlah firman Allah di atas.

Ayat 135,

Firman Allah ta’ala,

"Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (al-Baqarah: 135)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Ibnu Shuriya berkata kepada Nabi saw., ‘Petunjuk itu hanyalah apa yang kami ikuti. Oleh karena itu ikutilah kami wahai Muhammad agar engkau juga mendapatkan petunjuk.’ Orang-orang Nasrani juga mengatakan hal yang serupa. Maka Allah menurunkan firman-Nya untuk mereka,

‘Dan mereka berkata, ‘Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.’…"’

Ayat 142-144,

Firman Allah ta’ala,

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus”.(142)”

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (143)”

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.(144)” (al-Baqarah: 142- 144)

Sebab turunnya ayat

lbnu Ishaq berkata, "Isma’il bin Khalid memberi tahu saya dari Abu Ishaq dari al-Barra’, dia berkata, 'Dulu Rasulullah shalat meng hadap ke arah Baitul Maqdis. Ketika itu beliau sering melihat ke arah langit menanti-nanti perintah Allah. Maka, Allah ta’ala menurunkan firman-Nya,

'Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram…" (al-Baqarah: 144)

Lalu seorang muslim berkata, ‘Kami ingin tahu tentang orang- orang muslim yang telah meninggal sebelum kiblat kita berubah dan bagaimana shalat kita ketika kita masih menghadap ke arah Baitul Maqdis?’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

'…Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu…"(al-Baqarah: 143)

Namun orang-orang yang akalnya kurang berkata, ‘Apa yang membuat mereka meninggalkan kiblat mereka sebelumnya?’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

'Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata … ', hingga akhir ayat."
Dan terdapat riwayat-riwayat lain yang sejenisnya.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari al-Baraa’, dia berkata, “Beberapa orang meninggal dan terbunuh sebelum arah kiblat diubah sehingga kami tidak tahu apa yang kami katakan tentang mereka.”

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“…Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu…”(al-Baqarah: 143)16 (HR Bukhari dalam Kitaabut Tafsiir, No. 4486 dan Muslim dalam Kitaabul Masaajid, No.525)

Ayat 150,

Firman Allah ta’ala,

“Dan dari mana saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-Baqa.rah: 150)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur as-Suddi dengan sanad- sanadnya, dia berkata, "Ketika kiblat shalat Rasulullah dipindahkan ke arah Ka’bah setelah sebelumnya ke arah Baitul Maqdis, orang- orang musyrik Mekah berkata,"Muhammad bingung dengan agamanya sehingga kiblatnya mengarah kepada kalian. Dia tahu bahwa kalian lebih benar darinya dan dia pun akan masuk ke dalam agama kalian.’ Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya,

‘… agar tidak ada alasan bagi manusia (untuk menentangmu), …"’ (al- Baqarah: 150)

Ayat 154,

Firman Allah ta’ala,

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (al-Baqarah: 154)

Sebab turunnya ayat

lbnu Mandah meriwayatkan dalam Ma’rifatush Shahabah dari jalur as-Sud di ash-Shaghiir dari al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Tamim ibnul-Hammam terbunuh pada Perang Badar, dan padanya serta pada yang lainnya turun firman Allah ta’ala,

‘Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati…"’

Abu Nu’aim berkata, “Para ulama sepakat bahwa yang terbunuh itu adalah Umair ibnul-Hammam dan as-Suddi melakukan kesalahan ketika menuliskan namanya.”

Ayat 158,

Flrman Allah swt.,

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 158)

Sebab turunnya ayat

Imam Bukhari, Imam Muslim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Urwah, dia berkata, "Saya katakan kepada Aisyah istri Nabi saw., 'Perhatikanlah firman Allah,

'Sesungguhnya Syafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah. Maka barangsiapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya…" (al-Baqarah: 158)

Saya kira tidak ada dosa bagi orang yang tidak melakukan sai di antara keduanya.’

Maka Aisyah berkata, 'Buruk sekali yang kau katakan itu wahai anak saudariku. Seandainya arti ayat itu seperti yang engkau pahami, maka artinya, ‘Maka tidak ada dosa baginya untuk tidak melakukan sai di antara keduanya.’

Akan tetapi ayat itu turun karena orang- orang Anshar sebelum masuk Islam, melakukan sai di antara kedua- nya sambil menyebut-nyebut nama patung Manat sebagai sebuah prosesi ritual. Setelah masuk Islam, mereka merasa keberatan untuk melakukan sai antara Shafa dan Marwa.

Maka mereka bertanya kepada Rasulullah,

‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami merasa tidak suka untuk melakukan sai antara Shafa dan Marwah pada masa jahiliah.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

'Sesunggulmya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syiar (agama) Allah…" (HR Bukhari dalam Kitaabut Tafsiir, No. 4495 dan Muslim dalam Kitubul Hajj, No. 1277)

Imam Bukhari juga meriwayatkan dari Ashim bin Sulaiman, dia berkata, "Saya bertanya kepada Anas tentang bukit Shafa dan Marwa. Maka dia menjawab, 'Dulu keduanya adalah bagian dari ritual jahiliah. Ketika Islam datang, kami pun tidak melakukannya Iagi. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

'Sesunggulmya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama) Allah…" (HR Bukhari dalam Kitaabut Tafsiir. No. 4496.)

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Pada masa jahiliah, setan-setan bemyanyi di seluruh malam di antara Shafa dan Marwa. Dan dulu di antara keduanya terdapat sejumlah berhala yang disembah oleh orang-orang musyrik. Ketika Islam datang, orang-orang muslim berkata kepada Rasulullah,

‘Wahai Rasulullah, kami tidak akan melakukan sai antara Shafa dan Marwa karena kami melakukan hal itu pada masa jahiliah.’ Maka Allah menurunkan ayat 158 surah al-Baqarah." (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak, Vol. 2, No. 298.)

Ayat 159,

Firman Allah ta’ala,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati,” (al-Baqarah: 159)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Jarir dan dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Mu’adz bin Jabal, Sa’ad bin Mu’adz dan Kharijah bin Zaid bertanya kepada beberapa pendeta Yahudi tentang beberapa hal di dahlm Taurat. Namun para pendeta Yahudi itu tidak mau memberi tahu mereka tentang hal-hal yang ditanyakan itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya pada mereka,

‘Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, …"’

Ayat 164,

Firman Allah ta’aia,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (al-Baqarah: 164)

Sebab turunnya ayat

Sa’id bin Manshur dalam Sunannya, al-Faryabi dalam tafsimya dan al-Baihaqi di dalam Syuabul Iman meriwayatkan dari Abudh Dhuha, dia berkata, "Ketika tyryn firman Allah,

'Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang."(al-Baqarah: 163)

Orang-orang musyrik pun terheran-heran, lalu mereka berkata, ‘Satu Tuhan? Kalau benar apa yang dikatakannya, coba dia datangkan kepada kami sebuah ayat.’ Maka turunlah firman Allah,

‘Sesungguhya pada penciptaan langit dan bumi, … bagi orang-orang yang mengerti."’ (al-Baqarah: 164)

Saya katakan, "Hadits ini adalah mu’dlzal, akan tetapi ada riwayat lain yang menguatkannya yaitu yang diriwayatkan oleh lbnu Abi Hatim dan Abusy Syekh di dalam kitab al-‘Azhamah dari Atha’, dia berkata, 'Ketika turun firman Allah,

'Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang." (al-Baqarah: 163)

Rasulullah masih berada di Mekah. Mendengar ayat itu, orang- orang kafir Quraisy berkata, ‘Bagaimana satu Tuhan cukup untuk semua orang?’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

'Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, … bagi orang-orang yang mengerti."" (al-Baqarah: 164)

Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dengan sanad yang baik dan bersambung dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Orang-orang Quraisy berkata kepada Nabi saw., ‘Mintalah kepada Allah untuk mengubah bukit Shafa dan Marwah menjadi emas untuk kita jadikan bekal menghadapi musuh kami.’ Maka Allah mewahyu- kan kepada Rasulullah,

‘Aku akan memberikan apa yang mereka minta, akan tetapijika mereka kafir setelah, itu, maka Aku akan mengazabnya dengan aib yang belum pernah diterimakan kepada.seorang manusia pun.’

Namun Rasulullah berdoa,

‘Ya Allah, biarlah aku berdakwah kepada lawanku hari demi hari secara perlahan.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang…,’ hingga akhir ayat."

Bagaimana mereka memintamu agar bukit Shafa dan Marwah menjadi emas, sedangkan mereka telah melihat bukti-bukti kebesaran Allah yang lebih besar?

Ayat 170,

Firman Allah ta’ala,

''Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”." (al-Baqarah: 170)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau lkrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Rasulullah mengajak dan mendorong orang-orang Yahudi untuk masuk Islam. Beliau juga memperingatkan mereka akan siksa Allah. Maka Rafi’ bin Huraimalah dan Malik bin Auf berkata,

‘Kami hanya akan mengikuti apa yang dipahami nenek moyang kami karena mereka lebih tahu dan lebih baik dari kami.’ Maka pada peristiwa itu Allah menurunkan firman-Nya,

'Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturun- kan Allah,"…"’

Ayat 174,

Firman Allah ta’ala, •

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (al-Baqarah: 174)

Sebab turunnya ayat

lbnu Jarir meriwayatkan dari Ikrimah tentang firman Allah, "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab, … "

Dan tentang ayat dalam surah Ali Imran,

“Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji … .” (Ali Imran: 77)

lbnu Jarir berkata, “Keduanya turun pada orang-orang Yahudi.” Ats-Tsa’labi meriwayatkan dari jalur al-Kalbi dari Abu Shaleh dan Ibnu Abbas, dia berkata, "Ayat di atas turun kepada para pembesar dan para agamawan Yahudi yang mendapatkan hadiah-hadiah dan pemberian-pemberian dari rakyat jelata di kalangan mereka. Mereka berharap agar nabi yang akan diutus adalah dari kalangan mereka. Ketika Rasulullah diutus dari kaum selain mereka, mereka pun takut sumber kehidupan dan kedudukan mereka hilang. Maka, mereka mengubah isi Taurat yang menyebutkan tentang sifat-sifat Nabi Muhammad. Kemudian mereka memperlihatkan isi Taurat yang sudah diubah itu kepada orang-orang Yahudi lainnya dan mereka berkata, ‘Sifat nabi yang akan turun di akhir zaman tidak sesuai dengan sifat orang yang mengaku nabi itu.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Kitab: … ."’

Ayat 177,

Firman Allah ta’ala,

''Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa."(al-Baqarah: 177)

Sebab turunnya ayat

Abdurrazzaq berkata, "Muammar memberi tahu kami dari Qatadah, dia berkata, 'Orang-orang Yahudi melakukan sembahyang menghadap ke barat, sedangkan orang-orang Nasrani sembahyang menghadap. ke arah timur, maka turunlah firman Allah,

‘Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, … ."’

Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari Abul Aliyyah seperti riwayat di atas.

Ibnu Jarir dan ibnul-Mundzir meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, "Kami diberi tahu bahwa seorang lelaki pemah bertanya kepada Nabi saw. tentang kebajikan, maka Allah menurunkan firman: Nya,

‘Kebajikan itu bukanlah menghadapkan. wajahmu ke arah timur dan ke barat, … .’

Kemudian beliau memanggil lelaki yang bertanya tadi dan beliau membacakannya. Ketika orang itu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Nya, kewajiban menunaikan ibadah-ibadah fardhu belum turun. Kemudian orang itu meninggal dunia. Rasulullah pun mengharapkan kebaikan Untuk- nya, maka Allah menuntnkan firman-Nya,

‘Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah tim,ur dan ke barat, … .’

Dan ketika itu, orang-orang Yahudi bersembahyang menghadap ke barat, sedangkan orang-orang Nasrani bersembahyang menghadap ke arah timur."

Ayat 178,

Firman Allah ta’ala,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (al-Baqarah: 178)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id ibnuz-Zubair, dia berkata, "Pada masa jahiliah, penduduk dua perkampungan Arab pernah berperang karna sesuatu yang sepele. Dan di antara mereka banyak yang mati dan terluka. Namun ketika mereka membunuh budak-budak dan para wanita, mereka tidak mempermasalahkannya hingga mereka masuk Islam. Ketika itu salah satu perkampungan mempunyai persenjataan dan harta yang lebih banyak dibanding dengan kampung iainnya sehinggga mereka bertindak sewenang-wenang terhadap yang lain.

Mereka bersumpah bahwa apabila budak mereka terbunuh, mereka akan menganggap impas jika mereka telah membunuh orang merdeka dari pihak pembunuh. Maka turunlah firman Allah pada mereka yang menyatakan bahwa orang merdeka dihukum dengan merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita."

Ayat 184,

Firman Allah ta’ala,

“(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”’ (al-Baqarah: 184)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Sa’ad dalaJn kitab ath-Thabaqaat meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, “Ayat ini turun pada tuan saya, Qais ibnus-Saa’ib. Lalu dia pun tidak berpuasa dan memberi makan kepada orang miskin untuk setiap harinya.” ( lbnu sa’ad dalam Kitab ath-Thabaqaat, Vol. 5, him. 4.)

Ayat 186,

Firman Allah ta’ala,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Sebab turunnya ayat

lbnu Jarir, lbnu Abi Hatim, lbnu Mardawaih, Abusy Syekh, dan yang lainnya meriwayatkan dari beberapa jalur dari Jarir bin Abdul Hamid dari Ubadah as-Sijistani dari ash-Shilt bin Hakim bin Mu’ awiyah dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata, ''Pada suatu hari seorang Arab Badui mendatangi Nabi saw., lalu berkata, ‘Apakah Tuhan kita dekat sehingga kita cukup berbisik saat memohon kepada-Nya, ataukah Dia jauh sehingga kita perlu berteriak memanggilnya?’ Rasulullah pun terdiam, lalu turun firman Allah,

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat."’

Abdurrazzaq meriwayatkan dari Hasan al-Bashri, dia berkata, "Beberapa orang sahabat bertanya kepada Rasulullah, ‘Di rnanakah Tuhan kita?’ Maka turunlah firman Allah,

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat… ."’

Riwayat ini mursal. Namun ada jalur-jalur lain untuk riwayat ini. Pertama, lbnu Asakir meriwayatkan dari Ali, dia berkata, "Rasulullah bersabda,’"Janganlah kalian putus asa untuk berdoa. Sesungguhnya Allah telah menurunkan firman-Nya kepadaku,

'Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…"’ (al-Mu’min: 60)

Lalu seseorang bertanya kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, Tuhan kita mendengarkan doa atau bagaimana?’
Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. … ."’

Kedua, lbnu Jarir meri.waya tkan dari Atha’ bin Abi Rabah bahwa ketika turun firman Allah,

“Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu…”’ (al-Mu’min: 60)

Orang-orang bertanya, “Kami tidak tahu pada waktu apa hendakny.a berdoa kepada Allah?”

Maka turunlah firman Allah,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”" (al-Baqarah: 186)

Ayat 187,

Firman Allah ta’ala,

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (al-Baqarah: 187)

Sebab turunnya ayat

Imam Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim meriwayatkan dari jalur Abdurr.ahman bin Abi Laila dari Mu’adz bin Jabat dia berkata… "Dulu orang-orang ketika berpuasa, mereka makan minum , dan menggauli istrinya di malam hari selama tidak tidur sebelumnya. Apabila mereka sudah tidur sebelumnya, maka mereka pun tidak boleh melakukan semua itu. Kemudian pada suatu ketika., ada seorang Anshar yang bemama Qais bin Sharmah melakukan shalat isya,’ lalu dia tidur sedangkan dia belum makan dan belum mimum setelah berpuasa pada siangnya hingga tiba waktu pagi. Pada pagi harinya dia pun sangat lemah. Pada• suatu ketika juga, Umar pemah menggauli istrinya pada malam hari puasa, setelah tidur sebelumnya. Lalu dia pun mendatangi Nabi saw. dan menceritakan apa yang dia lakukan, maka Allah menurunkan firman-Nya,

'Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu …,"hingga firman-Nya, Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam … ’ "

Ini adalah hadits masyhur dari Ibnu Abi Laila, akan tetapi dia tidak pernah mendengar hadits dari Mu’adz secara langsung. Dan, riwayat ini mempunyai sejumlah penguat.

Imam Bukhari meriwayatkan dari al-Barra’, dia berkata, "Dulu jika salah seorang sahabat Rasulullah berpuasa pada siang harinya, lalu tiba waktu berbuka sedangkan dia tertidur sebelum berbuka, maka dia pun tidak boleh makan pada malam hari itu hingga tiba waktu berbuka lagi. Dan Qais bin Sharmah al-Anshari pernah berpuasa.

Ketika waktu berbuka tiba, dia bertanya kepada istrinya, " ‘Apakah engkau mempunyai makanan?’ lstrinya menjawab, ‘Tidak. Tapi tunggu dulu saya akan pergi dan mencari makanan untukmu.’ Lalu istrinya pergi. Saat itu Qais bin Sharmah kelelahan karena siangnya dia bekerja sehingga rasa kantuk pun menyerangnya. Ketika istrinya kembali, dia melihatnya sedang tertidur. Maka istrinya pun terkejut dan berkata, ‘Celakalah engkau!’
Di siang harinya, ketika panas matahari terik, Qais pingsan. Maka hal itu diceritakan kepada Nabi saw., lalu turunlah firman Allah ta’ala,

‘Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu…’

Maka, orang-orang muslim sangat bahagia dengan turunnya ayat tersebut.
Lalu turun juga firman Allah,

…Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar… …"’

Imam Bukhari meriwayatkan dari al-Barra’, dia berkata, "Ketika turun kewajiban berpuasa bulan Ramadhan, orang-orang muslim tidak menggauli istri-istri mereka selama satu bulan penuh. Namun beberapa orang melanggar larangan itu, maka Allah munurunkan firman-Nya,

:…Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima. tobatmu dan memaafkan kamu … ."’ (al-Baqarah 187)

Imam Ahmad, lbnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Abdullah bin Ka’ab bin Malik dari ayahnya, dia berkata, “Dulu para sahabat jika berpuasa di bulan Ramadhan, lalu tiba waktu sore untuk berbuka sedangkan dia tertidur, maka diharamkan baginya untuk makan, minum, dan menggauli istrinya hingga tiba waktu berbuka pada esok harinya. Pada suatu malam, Umar pulang dari rumah Nabi saw. setelah berbincang-bimcang dengan beliau. Ketika sampai di rumah, dia ingin menggauli istnnya. Namun istrinya berkata, ‘Saya sudah tidur tadi.’ Umar menyahut, ‘Tidak, kamu tidak tidur.’ Maka Umar pun menggaulinya. Ka’ab juga melakukan hal yang sama. Maka ketika siang, keduanya menemui Rasulullah dan memberitahu beliau tentang hal itu. Maka turunlah firman Allah ayat 187 surah al- Baqarah.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Sahl bin Sa’id, dia ber-kata, "Pada awalnya firman Allah, ’ … .dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam’, turun tanpa disertai dengan firman-Nya, ‘Mina/ Fajr’, (yaituJajar). Maka ketika itu, jika orang-orang ingin berpuasa pada esok harinya, mereka mengikatkan benang berwama putih dan benang wama hitam di kedua kakinya. Dan mereka pun terus makan dan minum hingga merka dapat melihat kedua benang itu dengan jelas. Maka setelah itu Allah menurunkan firman-Nya,

'Minal Fajr. “Maka mereka pun tahu bahwa yang dimaksud dengan kedua benang ini adalah malam dan siang.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, "Dulu apabila seseorang sedang beritikaf, lalu dia keluar dari masjid dan pulang ke rumah, jika dia mau dia menggauli istrinya. Maka turunlah firman Allah,

'… Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beritikaf dalam masjid …

Ayat 188,

Firman Allah ta’ala,

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 188)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id ibnuz-Zubair, dia berkata, "Umru’ul Qais bin Abis dan Abdan bin Asywa’ al-Hadhrami memperebutkan sebidang tanah. Lalu Umru’ul Qais ingin bersumpah, maka padanya turun firman Allah,

‘Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, … "’

Ayat 189,

Firman Allah ta’ala,

"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (al-Baqarah: 189)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur al-Aufi dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah tentang hilal (permulaan munculnya bulan) Lalu turunlah ayat ini.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abul Aliyyah, dia berkata, "Kami mendengar bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah, ‘Mengapa hilal-hilal itu diciptakan?’

Maka Allah ta’ala menurunkan firman-Nya,

‘Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit…"’

Abu Nu’aim dan Ibnu Asakir meriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq dari jalur as-Suddi ash-Shaghir dari al-Kalbi dari Abu Shaleh dari lbnu Abbas bahwa Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghanamah bertanya, “Mengapa Hilal awalnya tampak sangat kecil seperti benang, kemudian bertambah besar dan terus membesar hingga menjadi bulat utuh, kemudian dia kembali berkurang dan menjadi kecil seperti semula, dan tidak tetap pada satu bentuk?”

Lalu turunlah finnan Allah,

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bulan sabit…”

Imam Bukhari meriwayatkan dari al-Barra’, ''Pada zaman jahiliah orang-orang memasuki Baitul Haram dari arah belaka:ng. Maka turunlah firman Allah,

'Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya … ." (al-Baqarah: 189)

Ibnu Abi Hatim dan al-Hakim meriwayatkan dari Jabir, dan al- Hakim menshahihkannya, bahwa Jabir berkata, ,"Dulu orang-orang Quraisy disebut sebagai al-Hums. Dan mereka memasuki rumah atau yang lainnya melalui pintunya ketika dalam keadaan ihram. Sedangkan orang-orang Anshar dan yang lainnya ketika berihram tidak memasuki rumah atau yang lainnya melalui pintu-pintunya. Pada suatu ketika, Rasulullah berada di dalam sebuah kebun. Lalu beliau keluar melalui pintunya. Ketika itu Quthbah bin Amir al-Anshari keluar bersama beliau melalui pintunya. Maka orang-orang pun berkata, ‘Sesungguhnya Quthbah bin Amir adalah orang yang jahat, dan tadi dia keluar dari kebun itu bersamamu melalui pintu.’ Maka Rasulullah bertanya kepada Quthbah bin Amir, 'Apa yang membuatmu melakukan hal ‘itu?’

Dia menjawab,

‘Saya melihatmu melakukannya, maka saya juga melakukannya.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Saya terrnasuk orang Ahmas.’ Quthbah pun berkata, ‘Sesungguhnya agamaku adalah agamamu.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya … ."’ (al-Baqarah: 189)

lbnuJarir meriwayatkan dari jalur al-Aufi dari lbnuAbbas riw ayat yang serupa dengan di atas.
Ath-Thayalisi meriwayatkan di dalam musnadnya dari al-Barra’, “Dulu orang-orang Anshar jika tiba di rumahnya dari perjalanan, dia tidak memasukinya dari pintu depan rumahnya. Maka, turunlah firman Allah ayat 189 surah al-Baqarah.”

Abd lbnu Hamid meriwayatkan dari Qais bin Habtar an-Nah- syali. dia berkata,. “Dulu orang-orang jika melakukan ihram, mereka tidak memasuki apa saja melalui pintu. Sedangkan al-Hums (atau orang-orang Quraisy) tidak demikian. Pada suatu ketika Rasulullah memasuki sebuah kebun, kemudian beliau keluar melalui pintunya dan diikuti oleh seorang lelaki yang bemama Rifa’ah bin Tabut, sedangka n dia bukan dari kalangan al-Hums. Maka orang-orang pun berkata kepada beliau,”‘Wahai Rasulullah, Rifa’ah adalah orang munafik.’ Rasulullah berkata kepada Rifa’ ah,‘Apa yang membuatmu melakukan hal itu?’ Dia menjawab, ‘Saya menirumu.’ Maka Rasu- Iullah berkata kepadanya, ‘Saya adalah dari golongan al-Hums.’ Rifa’ ah pun berkata, ‘Sesungguhnya agama kita adalah satu.’ Maka turunlah firman Allah,

‘Dan bukanlah kebajkan memasuki rumah-rumah dari belakangnya…"’ (al-Baqarah: 189)

Ayat 190,

Firman Allah ta’ala,

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)

Sebab turunnya ayat

Al-Wahidi meriwayatkan dari jalur al-Kalbi dari Abu Shaleh dari lbnu Abbas, dia berkata, “Ayat di atas turun pada Perjanjian Hudaibiyyah. Yaitu ketika Rasulullah dihalangi untuk mendatangi Baitul Haram, kemudian beliau diajak berdamai oleh orang-orang musyrik agar kembali pada tahun depan. Ketika tahun depannya, beliau dan para sahabat bersiap-siap untuk melakukan umrah qadha’. Namun mereka khawatir jika orang-orang Quraisy tidak memenuhi janji mereka dan menghalangi mereka lagi untuk memasuki Baitul Haram, serta memerangi mereka, sedangkan para sahabat tidak senang untuk berperang dengan orang-orang musyrik pada bulan-bulan Haram. Maka, Allah menurunkan fuman-Nya ayat 190 surah al-Baqarah.”

Ayat 194,

Firman Allah ta’ala,

“Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
(al-Baqarah: 194)

Sebab turunnya ayat

lbnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, dia_ berkata, "Nabi Muhammad saw. dan para sahabat pergi ke Baitul Haram untuk melakukan umrah pada bulan Dzul Qa’idah. Mereka juga membawa binatang-ibinatang hadyu. Ketika mereka sampai di Hudaibiyyah, orang-orang musyrik menghalangi mereka agar tidak sampai ke Baitul Haram. Maka Nabi saw. berdamai dengan mereka dan tidak jadi ke Baitul Haram tahun ini dan pergi ke Baitul Haram pada tahun depan. Kemudian pada tahun depannya, Rasulullah dan para sahabat melakukan umrah pada bulan Dzul Qa’idah lalu mereka menetap di Mekah selama tiga malam. Sebelumnya orang-orang musyrik merasa bangga karena berhasil menghalangi Rasulullah melakukan umrah dan membuat beliau kembali ke Madinah. Maka pada tahun ini, Allah memberikan ganti kepada orang-orang muslim dengan membawa beliau masuk Mekah pada bulan yang sama dengan bulan k,etika beliau tidak jadi melakukan umrah. Lalu Allah menurunkan firman- Nya,

‘Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishash …"’

Ayat 195,

Firman Allah ta’ala,

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)

Sebab turunnya ayat

Imam Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, dia berkata, “Ayat ini turun pada masalah sedekah.”

Abu Dawud, at-Trrmidzi (dan dia menshahihkanya), Ibnu Hibban, al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Ayyub al- Anshari, dia berkata, "Ayat ini turun pada kami, orang-orang Anshar, ketika Allah membuat kami jaya dan para penolongnya berjumlah banyak. Ketika itu secara diam-diam sebagian dari kami ada yang berkata kepada sebagian yang lainnya, ‘Sesungguhnya sudah banyak harta kita yang hilang. Dan kini Allah telah membuat Islam jaya. Bagaimana kalau kita merawat harta agar kita dapat mengembalikan jumlah yang telah hilang itu?’ Maka Allah menurunkan ayat yang membantah apa yang kami katakan tadi, yaitu firman-Nya,

‘Dan infakkanlah (hartamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, …’

Maka, kebinasaan adalah menjaga dan merawat harta deng.an meninggalkan perang melawan musuh Islam."

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abu Jabirah ibnudh Dhahhak, dia berkata, "Dulu orang-orang Anshar menginfakkan harta mereka dengan jumlah yang banyak. Lalu pada suatu ketika paceklik menimpa mereka, sehingga mereka pun tidal berinfak lagi, maka Allah menurunkan ayat,

"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan … …"29

Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad shahih dari an-Nu’man bin Basyir, dia berkata, "Dulu ada orang yang melakuan sebuah perbuatan dosa, lalu karena putus asa dia berkata, ‘Allah tidak akan mengampuniku.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

'… dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, …

Riwayat ini mempunyai penguat dari hadits yallg diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dari al-Barra’.

Ayat 196,

Firman Allah ta’ala,

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (al-Baqarab: 196)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Abi Hatiin meriwayatkan dari Shafwan bin Umayyah, dia berkata, “Seorang lelaki yang pakaiannya berlumuran minyak wangi ja’faran mendatangi Rasulullah. Lalu dia berkata,”‘Apa yang engkau perintahkan kepadaku untuk umrah yang sedang saya lakukan ini wahai Rasulullah?’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.’

Setelah beberapa saat berlalu, Rasulullah bertanya, ‘Mana orang yang bertanya tentang umrah tadi?’

Lelaki yang bertanya tadi menyahut,"Saya wahai Rasulullah.’

Rasulullah bersabda, ‘Lepaslah bajumu kemudian mandilah dan beristinsyaaq-lah semampumu. Kemudian apa yang telah kamu lakukan ketika engkau. haji, lakukanlah dalam umrahmu."’

Firman Allah ta’ala,

“jika ada di antaramu yang sakit… .”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ka’ab bin Ajrah bahwa dia ditanya tentang firman Allah,

“… maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa… .”

Dia menjawab, "Ketika saya sedang sakit, saya dibawa menghadap Nabi saw. dan kutu-kutu bertebaran di wajahku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Saya tidak mengira engkau mengalami hal yang sangat berat ini. Apakah engkau tidak mempunyai seekor kambing?’ Aku jawab, ‘Tidak.’

Lalu Rasulullah bersabda lagi,

‘Berpuasalah tiga hari atau berilah makan kepada enam orang miskin, setiap orang dari mereka setengah sha’, dan cukurlah rambutmu.’

Lalu turunlah ayat di atas pada satu orang, tapi ia berlaku umum."

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ka’ab, dia berkata,"'Kami bersama Rasulallah di Lembah Hudaibiyyah. Ketika itu karni sedang dalam keadaan ihram dan orang-orang musyrik menghalangi kami untuk menuju Baitullah. Saat itu panjang rambut saya hlngga cuping telinga dan kutu-kutu berjatuhan di wajah saya. Ketika Nabi saw. berpapasan dengan saya, beliau bertanya kepada, ‘Apakah kutu-kutu di kepalamu mengganggumu?’

Lalu beliau memerintahkan agar rambut saya dicukur. Lalu turun firman Allah,

‘… .jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), maka dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah atau berkurban … ."’ (al-Baqarah: 196)

Al-Wahidi meriwayatkan dari jalur Atha’ dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Ketika kami singgah di Hudaibiyyah, Ka’ab bin Ajrah datang dengan kutu-kutu rambutnya yang menyebar di kepalanya. Lalu dia berkata, "Wahai Rasulµliah, kutu-kutu ini mengganggu saya.’ Pada saat itulah Allah menurunkan firman-Nya,

‘… .jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu dia bercukur), … "’

Ayat 197,

Firman Allah ta’ala,

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 197)

Sebab turunnya ayat

Al-Bukhari dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Orang-orang Yaman selalu menunaikan haji tanpa membawa bekal, dan mereka berkata, ‘Kami bertawakal kepada Allah.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

‘…Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…"’ (HR Bukhari dalam Kitabul Hajj, No. 1532 dan an-Nasa’i dalam Kitab Tafsiir, No. 53.)

Ayat 198,

Firman Allah ta’ala,

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari 'Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (al Baqarah: 198)

Sebab turunnya ayat

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada masa jahiliah, Ukazh, Majinah, dan Dzul Majaz adalah pasar-pasar. Lalu orang-orang takut berdosa jika berjualan pada musim haji. Maka mereka bertanya kepada Rasulullah tentang hal itu. Maka turunlah firman Allah, Tidak ada dosa bagi.mu untuk mencari karunia (rezeki hasil . perniagaan) dari Tuhanmu. “Di .musim-musim haji.””

Imam Ahtnad, Ibnu Abi Hatitn, Ibnu Jarir, al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan dari sejumlah jalur dari Abu Umamah at- Taiil\y, dia berkata, "Saya bertanya kepada Umar, ‘Kami menyewakan tanah kami, apakah pada waktu yang sama kami boleh melakukan haji?’ Umar menjawab, 'Rasulullah pemah didatangi oleh seorang lelaki dan menanyakan hal yang sama dengan pertanyaanmu. Rasulullah tidak langsun g menjawabnya hingga Jibril turun kepada beliau dan menyampaikan ayat ini,

'Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu."

Lalu Rasulullah memanggil si penanya tadi dan berkata kepadanya, ‘Kalian adalah orang-orang yang sedang menunaikan haji.’"

Ayat 199,

Firman.Allah ta’ala,

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak ('Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah; 199)

Sebab turunnya ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, "Dulu orang-orang Arab berdiri di Arafah dan orang-orang Quraisy berdiri di dekatnya, yaitu di Muzdalifah. Maka Allah menurunkan firman- Nya,

‘Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah)’: •…"’

Ibnul Mundzir juga meriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakar, dia berkata, "Dulu orang-orang Quraisy berhenti di Arafah dan selama mereka berhenti di Muzdalifah, kecuali Syaibah bin Rabi’ah, maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah)’…