Bagaimana Risiko yang Ditimbulkan dari Penerapan "E-Money" ?

payment-gateways

Pertukaran barang atau jasa antara dua pihak (atau lebih) menggunakan uang sebagai alat mediasi. Instrumen pembayaran non tunai dalam bentuk Uang Elektronik (E-Money) mengacu pada Kartu Pintar (Smartcard). Pada dasarnya, aspek keamanan dan kenyamanan menjadi faktor pertimbangan utama bagi pelaku transaksi.

Jelaskan Bagaimana Risiko yang Ditimbulkan dari Penerapan “E-Money” !

E-money adalah alat pembayaran yang memiliki nilai uang yang tersimpan secara elektronik. Saat ini di Indonesia telah menerbitkan berbagai E-Money, yaitu E-Money Mandiri, Flazz BCA, T-Cash, Brizzi. E-money sebagai alat transaksi berbentuk kartu dengan chip dianggap aman. Namun, ada beberapa risiko dari penerapan E-Money sebagai media transaksi pengganti uang kas, di antaranya :

  • Pencurian
    Pencurian E-Money dilakukan dengan menggunakan sisa dana dalam kartu E-Money yang tidak dilengkapi dengan PIN pengaman saat transaksi. Pencurianjuga dapat dilakukan oleh oknum penyelenggara E-Money, misalnya dengan melakukan pengisian dana secara tidak legal dengan mencuri keunci cryptographic.

  • Duplication of devices
    Duplikasi dari kartu asli dapat dilakukan dengan menggunakan chip serta operating system yang sama persis dengan kartu asli

  • Alteration or duplication of data/software
    Upaya perubahan atau modifikasi data atau aplikasi yang ada pada kartu asli, sedemikian rupa dengan mengubah sistem internal aplikasi, sehingga prosedur perhitungan tidak bekerja dengan baik, atau dengan melakukan ‘’physical attacks’’ pada chip kartu.

  • Alteration of message
    Upaya mengubah/ intervensi ketika data elektronis/ message dikirim pada saat transaksi berlangsung. Potensi risiko terjadi ketika E-Money digunakan saat transaksi melalui internet.

  • Penyangkalan transaksi (repudiation)
    Penyalahangunaan dengan penyangkalan transaksi. Prosedur penyangkalannya dengan mengirimkan message saat transaksi melalui jaringan internet.

  • Malfunction
    Risiko malfunction data berupa data corrupt/ hilang, tidak berfungsinya kartu dan aplikasi dalam pengiriman message.

  • Kehilangan kartu
    Kehilangan kartu juga dapat menyebabkan uang hilang

  • Merchant masih terbatas
    Penyebaran merchant pengguna E-Money belum merata, sehingga terlalu berisiko juga mengalokasikan seluruh uang ke dalam E-Money

Referensi :


https://sis.binus.ac.id/2014/10/06/kajian-aspek-keamanan-uang-elektronik-e-money/
http://atmbersama.com/id/info-and-tips/2014/11/28/untung-rugi-dalam-menggunakan-e-money/

Penggunaan e-money sebagai alternatif alat pembayaran non-tunai menunjukkan adanya potensi yang cukup besar untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penggunaan uang tunai, khususnya untuk pembayaran - pembayaran yang bersifat mikro sampai dengan ritel.

Penerapan e-money bukan tanpa risiko, sistem pembayaran canggih ini memiliki banyak celah yang dapat ditembus. Motivasi utama seseorang untuk melakukan kejahatan terhadap e-money adalah untuk memperoleh keuntungan finansial. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menciptakan produk palsu, mencuri kartu atau data e- money milik orang lain. Jika e-money yang dipalsukan atau dicuri itu kemudian dapat ditukarkan ke dalam bentuk uang tunai atau aset lain maka hal ini tentunya dapat menyebabkan kerugian bagi pihak-pihak yang terkait seperti penerbit maupun konsumen pengguna e-money.

Dalam penyelenggaraan e-money, faktor utama yang mempengaruhi tingkat security penggunaannya antara lain adalah instrumen/peralatan (hardware) yang digunakan, baik oleh konsumen maupun oleh merchant, aplikasi (software) serta proses pertukaran data elektronik pada saat terjadi transaksi.

Berikut ini akan diuraikan mengenai potential security risk yang mungkin timbul dalam penerapan e-money ;

1. Alteration or duplication of data/software
Risiko ini merupakan risiko kejahatan melalui upaya perubahan atau modifikasi data atau aplikasi yang ada pada kartu yang asli sedemikian rupa sehingga pelaku memperoleh keuntungan finansial. Misalnya dengan menambah data outstanding dana pada e-money atau merubah sistem internal aplikasi akunting pada kartu chip sehingga prosedur perhitungan akuntingnya tidak bekerja sebagaimana mestinya.

2. Alteration of message
Risiko ini merupakan risiko kejahatan melalui upaya untuk melakukan perubahan/intervensi ketika data elektronis/message dikirim pada saat seseorang melakukan transaksi. Risiko ini akan lebih mungkin terjadi ketika produk e-money digunakan untuk pembayaran melalui jaringan internet.

3. Stealing
Bentuk kejahatan e-money yang paling sederhana adalah dengan mencuri kartu e-money milik orang lain untuk kemudian menggunakan dana yangmasih tersisa. Pencurian juga dapat dilakukan oleh orang-orang dalam yang terlibat dalam penyelenggaraan e-money, misalnya dengan melakukan pengisian dana secara tidak legal ke dalam kartu. Pencurian juga bisa dilakukan oleh oknum yang memproduksi smart card atau issuer sebelum instrumen tersebut dijual atau diterbitkan ke konsumen atau bahkan mencuri kunci cryptographic tanpa sepengetahuan perusahaan.
Penggunaan e-money yang tidak menggunakan otorisasi online atau PIN, membuat e-money ini dapat digunakan oleh siapapun. Andai kata e-money tersebut dicuri atau hilang lalu ditemukan oleh orang lain, maka si penemu itu bisa bebas menggunakan e-money tersebut tanpa sepengetahuan pemilik asli nya.

Selain risiko di atas, penggunaan e-money dalam transaksi sehari-hari tentunya dianggap sangat praktis dan efesien, namun apabila ditinjau dari aspek psiklogis hal tersebut secara tidak disadari akan meningkatkan nilai transkasi pengguna nya sehingga budaya konsumerisme akan meningkat pula.

Referensi :
id.techinasia.com
id.beritasatu.com

Risiko yang Terjadi Akibat Penerapan E-Money
images_7

E-money sendiri merupakan output dari adanya evolusi pada sistem pembayaran nasional yang diketahui dibuat oleh pemerintah terkhusus bank Indonesia dalam meminimalisasi jumlah uang beredar sehingga tingkat inflasi dapat dikontrol. Sistem pembayaran menggunakan e-money adalah sebuah proses modernisasi dari sistem pembayaran yang aman terpercaya dan mudah dan telah digunakan di berbagai belahan dunia. Namun dalam penerapan nya sendiri pasti akan menimbulkan risiko-risiko, seperti risiko keamanan, risiko teknologi, dan risiko operasional.

Pada Risiko Keamanan dapat terjadi yaitu yang pertama pastinya adalah pencurian, dikarenakan pada e-money tidak memerlukan PIN dalam transaksinya maka jika kartu dicuri maka uang bisa habis tidak tersisa di dalam kartu. Yang kedua yaitu duplikasi dari kartu asli, sehingga dapat digunakan untuk melakukan transaksi pembayaran sebagaimana kartu asli. Jenis kejahatan ini cukup rumit dan dilakukan oleh oknum yang memiliki tingkat keahlian teknis tinggi. Resiko yang ketiga Alteration or duplication of data/software yaitu memodifikasi data atau aplikasi yang ada pada kartu asli, sedemikian rupa sehingga pelaku memperoleh keuntungan finansial. Dan resiko kemanan yang terakhir yaitu Alteration of message Resiko ini melalui upaya perubahan/intervensi ketika data elektronis/message dikirim, pada saat transaksi berlangsung.

Risiko selanjutnya ada Risiko Teknologi, yaitu apabila terjadi malfunction pada kartu e-money yang dapat diakibatkan oleh gangguan fisikal maupun elektronis pada instrumen atau karena adanya interupsi saat pengiriman message antara para pihak yang bertransaksi. Selanjutnya yaitu risiko teknologi yang bisa menghambat proses bisnis yaitu ketika sistem itu tidak berjalan, maka mesin tidak akan mampu membaca uang-el yang akhirnya justru membuat antrean panjang. Suatu contoh ketika Satelit Telkom 1 tidak berfungsi. Akibatnya, ribuan ATM tidak berjalan normal. Dengan bahasa lebih lugas, terdapat 4.700 ATM BCA, 2.000 ATM Bank Mandiri, 1.500 ATM BNI, dan 300 ATM BRI yang mengalami gangguan. Tentu saja, hal itu sangat merugikan ribuan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan dan bisnis lainnya.

Risiko yang terakhir yang dapat terjadi yaitu Risiko Operasional. Pada kenyataan di Indonesia sendiri masih banyak yang masih belum terbiasa dengan penerapan e-money ini. Contoh kasus nya yaitu penerapan bayar Tol yang hanya bisa menggunakan e-money. Pada kenyataan di lapangan e-money ini malah membuat operasional terhambat akibat dari pengguna jalan tol yang masih belum mengetahui kebijakan ini atau ada juga pengguna yang isi saldonya kurang pada saat ingin membayar, hal ini malah mengakibatkan jalan yang menjadi macet dan kegiatan operasional terhambat.

“Teknologi memang membawa dampak yang begitu luar biasa bagi kehidupan manusia di dunia, namun perkembangan teknologi harus di terima secara bijaksana oleh masyarakat itu sendiri.”

Referensi :

money

Penyalagunaan yang terjadi pada uang elektronik sangat mudah terjadi, karena sistem keamanan yang belum bisa melindungi pemegang kartu uang elektronik, dimana pada saat kartu e-money dicuri atau hilang bisa digunakan oleh orang lain dengan mudah dan gampang, karena tidak terhubungan dengan rekening, sehingga tidak memerlukan Personal Identification Number (PIN) dan/atau Tanda Tangan sebagai otorisasi transaksi/untuk menyetujui transaksi, artinya kerugian/resiko penyalagunaan ini sepenuhnya ditanggung oleh pemegang kartu uang elektronik (e-money).

Berikut beberapa risiko lain yang mungkin timbul :

Boros
Beberapa studi yang pernah dilakukan menunjukkan kalau proses pembayaran menggunakan kartu atau sistem cashless, cenderung membuat manusia menjadi lebih boros secara psikologis. Hal ini terjadi karena kebiasaan manusia yang menganggap uang tunai sebagai alat pertukaran fisik. Saat membayar menggunakan kartu, Anda tidak akan merasa telah mengeluarkan sejumlah uang karena ketidakhadiran uang tunai.

Mudah Hilang dan Berpindah Tangan
Berbeda dengan kartu kredit maupun kartu debit, uang elektronik tidak menyertakan kode pengaman atau pin ketika Anda ingin menggunakannya. Hal ini tentu membuat tingkat keamanan uang elektronik cenderung lebih rendah. Saat kartu terjatuh atau hilang, itu berarti Anda harus merelakkan saldo yang masih tersisa di dalam kartu. Sebaiknya simpan kartu pada tempat yang aman atau memanfaatkan sling strap.

Jika Kartu Rusak, Saldo Tersisa Tidak Dapat Dikembalikan
Jika kartu uang elektronik patah atau chipnya tidak lagi terbaca, Anda tidak dapat melakukan klaim atau pengembalian sisa saldo yang ada pada kartu tersebut, hal ini tentu cukup riskan dan perlu kehati-hatian ekstra saat Anda menyimpan kartu di dalam dompet. Untuk mencegah hal ini, selain meletakkan kartu dengan baik, sebaiknya Anda juga hanya mengisi saldo sesuai kebutuhan saja, ya.

Referensi :
https://www.google.com/amp/s/journal.sociolla.com/plus-minus-uang-elektronik/amp/
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.bi.go.id/id/publikasi/sistem-pembayaran/riset/Pages/Kajian_Teknis_E-Money.aspx&ved=2ahUKEwi00rL_sbfZAhXJF5QKHf2XDt0QFjADegQIAhAB&usg=AOvVaw3js3tfV04u2_QpMRrQprtN

Digital currency (E-Money) merupakan teknologi yang sedang “hangat” di Indonesia dan semua bank besar di Indonesia mengeluarkan versinya sendiri mengenai konsep dari E-money. Negara pun ikut mendukung penggunaan uang virtual ini dimulai dari sistem pembayaran tol yang hanya menerima kartu e-money. Tidak dipungkiri bahwa sistem e-money telah membawa banyak manfaat seperti pengurangan penggunaan uang fisik serta mengurangi kemungkinan uang palsu untuk dapat digunakan sebagai alat tukar transaksi. E-money juga dapat menambah efisiensi waktu saat bertransaksi serta demi mendorong penggunaan e-money banyak perbankan yang menyediakan diskon tambahan bagi pengguna e-money.

Namun setiap produk pasti memiliki kelemahan begitupun juga dengan e-money. Berikut beberapa resiko yang dapat terjadi saat anda menggunakan e-money :

  • Hilangnya Kartu
    Tidak seperti kartu atm maupun kredit tidak semua kartu e-money dapat diblokir saat terjadi kehilangan contohnya adalah indomaret card. Dampaknya saat anda kehilangan kartu maka hilang pula saldo karena tidak adanya sistem refund saldo.

  • Kesalahan mesin
    Karena berbentuk uang digital maka saldo di dalam kartu akan mudah untuk hilang saat ditap ke mesin pembayaran dan karena kurangnya pengawasan oleh pihak berwenang kesalahan mesin dapat terjadi dan merugikan pengguna. Contoh paling baru adalah pelanggan yang membayar uang tol dengan mengetap mesin pembayaran namun ia mengeluarkan saldo dua kali dari harga tol. Ternyata di dalam mesin tercatat bahwa terlah terjadi pembayaran sebanyak dua kali namun dalam jeda waktu yang sangat singkat.

  • Pencurian
    Pencurian merupakan hal yang lumrah di dunia dan dapat terjadi dalam dunia e-money. Masih berhubungan dengan poin kehilangan kartu dimana jika kartu hilang maka saldo anda pun ikut hilang. Mudahnya penggunaan e-money dengan hanya mentap kartu ke mesin pembayaran tanpa harus memasukkan password terlebih dahulu membuat kartu yang dicuri dapat digunakan secara langsungoleh pencuri.

  • Teknologi
    Sistem pembayaran melalui e-money sangat mengandalkan teknologi penunjangnya seperti satelit dan mesin pembayaran. Namun satelit dan pembayaran tidak memiliki jaminan untuk terus dapat bekerja sesuai performa yang diharapkan atau malah disalah gunakan. Satelit dapat mengalami gangguan sehingga membuat e-money tidak dapat digunakan jika hal ini terjadi saat jam pulang kantor di Jakarta maka jalan tol akan tersendat karena jalan tol sekarang hanya menerima pembayaran melalui e-money. Mesin pembayaran pun selain dapat di modifikasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab mesin pembayaran menyala melalui tenaga listrik. Saya mengalami sendiri disaat terjadi pemadaman listrik di daerah Bintaro, Tangerang Selatan sehingga e-tol tidak berfungsi ditambah juga dengan tidak adanya genset cadangan di lokasi gardu tol yang seharusnya bersifat wajib untuk antisipasi situasi seperti ini. Jumlah pegawai tol yang tidak memadai juga menambah kemacetan yang cukup panjang karena harus mengganti sistem pembayaran ke pembayaran secara manual.

referensi :


http://megapolitan.kompas.com/read/2018/01/02/09300201/listrik-mati-bayar-tol-pakai-tunai-dan-perjalanan-krl-terganggu

TANTANGAN DAN RISIKO PENGGUNAAN TEKNOLOGI E-MONEY SEBAGAI ALAT PEMBAYARAN ALTERNATIF

e-money

Perkembangan teknologi dan informasi telah memberi dampak ke berbagai bidang, tak terkecualiu di bidang sistem pembayaran, khususnya sistem pembayaran ritel dnegan munculnya instrumen pembayaran yang dikenal sebagai electronic money (e-money). Penggunaan e-money sebagai alternatif alat pembayaran non-tunai di beberaoa negara menunjukkan adanya potensi yang cukup besar untuk mengurangi tingkat pertumbuhan penggunaan yang tunai, khususnya untuk pembayaran-pembayaran yang bersifat mikro sampai dengan ritel.

Saat ini lembaga keuangan, khususnya Bank menghadapi tantangan baru dalam pembayaran eletronik. Dalam hal ini Bank perlu memanfaatknan teknologi informasi yang akan selaras dengan strategi bisnis. Perkembangan teknologi yang telah mampu memunculkan credit card dan debit card. Pada dasarnya e-money telah lama berkembang di dunia perbankan, tetapi penggunaannya belum merata. Hanya beberapa pihak yang menggunakan e-money sebagai alat pembayaran.

Penggunaan e-money pun diklaim akan memberikan sejumlah manfaat dibandingkan dengan menggunakan uang tunai maupun alat pembayaran non-tunai lainnya. Penggunaan e-money dinilai lebih memberikan kenyamanan dibandingkan uang tunai, khususnya untuk transaksi-transaksi yang bernilai kecil. Beberapa fungsi atau kelebihan e-money dibandingkan dengan uang fisik maupun alat pembayaran non tunai lainnya kepada para pengguna, antara lain:

  1. Penggunaan e-money lebih nyaman, khususnya untuk transaksi-transaksi yang bernilai kecil, seperti nasabah tidak perrlu mempunyai sejumlah uang pas untuk suatu transaksi, tidak perlu menyimpan yang kembalian dan keselahan dalam menghitung uang kembalian dari suatu transaksi dapat dikurangi.

  2. Masyarakat dapat melakukan isi ulang ke dalam kartu e-money dari rumah melalui saluran telepon, sehingga mereka tidak perlu mengambil tambahan uang tunai melalui ATM.

  3. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu transaksi dengan e-money jauh lebih singkat dibandingkan transaksi dengan kartu kredit atau kartu debit, karena tidak memerlukan otorisasi on-line, tanda tangan, maupun PIN.

  4. E-money adalah multi-purposed prepaid card sehingga satu kartu e-money dapat digunakan untuk berbagai keperluan misalnya untuk berbelanja di supermarket, separtment store, bioskop, SPBU, dan traansportasi umum tertentu yang terdaftar dalam fitur e-money terkait. Hal ini tentu sangat memudahkan pengguna dalam hal kenyamanan pengoperasian kartu karena tidak perlu membawa banyak kartu untuk bertransaksi pada berbagai keperluan belanja.

  5. Untuk memiliki e-money seseorang tidak perlu memiliki akun di bank, sehingga sangat memudahkan kepada mereka yang belum atau tidak memiliki akun di bank untuk memiliki kartu e-money ini.

  6. E-Money juga mempunyai peranan/fungsi yang besar bagi pemerintah Indonesia yaitu dalam hal mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, sehingga secara makro dapat mengurangi tingkat inflasi Indonesia. Hal ini juga harmonis dengan kondisi masyarakat less cash society yang sedang dicanangkan oleh Bank Indonesia bersama Pemerintah.

  7. Risiko terjadinya tindak kejahatan juga akan semakin kecil karena jumlah uang tunai yang terbatas.

  8. Penggunaan e-money juga menghemat penggunaan uang kertas danuang logam yang biayan pencetakannya cukup besar.

  9. E-money membantu pemerintah mengurangi peredaran uang palsu.

Meskipun begitu, pada prakteknya sekarang, e-money memiliki kelemahan. E-money yang telah banyak disediakan oleh berbagai operator atau penerbit yang berbeda-beda ini, diantaranya belum ada saling interkoneksi serta belum memperhatikan interoperabilitas.

Bank Indonesia pasti mempunyai tujuan yang jelas mengapa e-money diterapkan di Indonesia. Meskipun banyaknya hambatan pada e-money, diyakini e-money akan membawa masa depan yang cerah karena beragam manfaatnya.

SUMBER :