Bagaimana risiko penerapan sistem informasi dalam sebuah start up?

manajemen_risiko

(Naura Raya) #1

Start up adalah sebuah perusahaan rintisan sehingga pada umumnya merupakan perusahaan yang belum lama beroperasi dan dalam fase pengembangan serta penelitian sehingga dapat menemukan pasar yang tepat.

Menurut John F. Nash sistem Informasi adalah kombinasi dari manusia, fasilitas atau alat teknologi, media, prosedur dan pengendalian yang bermaksud menata jaringan komunikasi yang penting, proses atas transaksi-transaksi tertentu dan rutin, membantu manajemen dan pemakai intern dan ekstern dan menyediakan dasar pengambilan keputusan yang tepat sedangkan menurut Henry Lucas sistem Informasi adalah suatu kegiatan dariprosedurprosedur yang diorganisasikan, bilamana dieksekusi akan menyediakan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan dan pengendalian di dalam.

Lalu bagaimanakah risiko penerapan sistem informasi dalam sebuah start up?


(Arief Rino Wahyu Putra) #2

Membuat sebuah startup sendiri adalah sebuah dambaan banyak orang terutama orang di bidang Teknologi. Membangun sebuah startup memungkinkan akan banyak peluang, inovasi, dan potensi mendapatkan penghasilan yang banyak, namun hal tersebut dibarengi dengan resiko yang tinggi pula. Menurut saya sebelum memulai sebuah startup akan lebih baik memanejemen risiko lebih awal karena banyak kemungkinan yang akan di hadapi saat membangun ataupun setelah ada sebuah startup itu sendiri. Manajemen risiko yang diatur dalam pembuatan startup menurut saya ada beberapa poin diantaranya,

1. Financial

Menurut saya financial sangat lah penting di atur di awal sebelum memulai membangun sebuah startup, karena modal atau uang akan mempengaruhi operasi jalannya sebuah startup. Sebuah startup juga harus memiliki kerjasama dengan pihak luar soal Financial ini, karena tidak banyak kemungkinan sebuah startup menggunakan dana sendiri untuk membangun dan menjalankan bisnis startup tersebut. Tujuan utama manajemen resiko Financial. Untuk meminimalkan potensi kerugian yang timbul dari perubahan tak terduga dalam harga mata uang, kredit, komoditas dan equitas.

2. Market

Setelah Anda tahu apa yang akan startup Anda luncurkan dan jual, Anda harus tahu kemana Anda menjualnya. Pasar menjadi kebutuhan yang penting untuk Anda menjual produk yang diciptakan. Anda harus melakukan penelitian atau riset terhadap pasar yang Anda tuju. Tujuannya adalah jelas untuk menemukan dan menentukan pasar yang cocok untuk produk yang Anda ciptakan. Tapi tidak semua pengusaha mampu mengidentifikasi pasar mereka dengan tepat. Baik dari segi jenis pasar, waktu peluncuran dan penjualan, dan lain sebagainya. Resiko pasar ini juga bisa terjadi saat pengusaha terlalu terburu – buru masuk ke pasar mereka, sedangkan dari segi produk dan management belum siap.

3. Produk

Putuskan terlebih dahulu apa yang ingin dijual. Ini berkaitan dengan kebutuhan dan permintaan pasar. Produk yang dijual juga harus jelas, bagaimana produk yang dijual dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Dengan begitu startup akan lebih mudah dalam mengajak konsumen untuk membeli produk.

4. Team

Tidak mungkin setiap individu dapat menyelesaikan atau menaklukan setiap resiko yang ada, itulah mengapa sebuah tim dibutuhkan dalam membangun sebuah startup. Namun tidak jarang awal pendirian startup akan terganjal masalah team. Karena terkadang saat seseorang berambisi membangun sebuah startup, ia lupa dengan konsep kolaborasi team. Startup adalah tentang kolaborasi antar setiap individu. Jadi Tidak ada startup yang berhasil tanpa adanya sebuah team.


(Dian Ayu Permatasari) #3

Sistem informasi dirancang untuk memberikan informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan yang efektif oleh manajer. Tujuan utama sistem informasi adalah memberikan informasi yang benar kepada orang yang tepat pada waktu yang tepat. Sehingga pada startup sistem informasi sangat diperlukan untuk melancarkan proses bisnis pada startup tersebut. Adapun manfaat penggunaan sistem informasi adalah,

Memberi kecepatan
Manfaat utama sistem informasi adalah kecepatan pemrosesan tugas. Data dimasukan sekali dan kemudian dapat digunakan kembali. Jika membutuhkan koreksi karena kesalaham memasukkan nominal angka atau salah penempatannya, hanya perlu merevisi kesalahan tersebut.

Memudahkan Klasifikasi
Dengan menggunakan sistem informasi, proses klasifikasi ini mudah dilakukan dengan menu drop-down dengan memilih kategori yang tepat, sehingga dapat dengan cepat menghasilkan laporan yang melibatkan klasifikasi. Dengan sistem manual, proses ini memakan waktu lebih lama.

Keamanan
Setelah data masuk ke komputer, maka semua data akan aman. Kemungkinan kehilangan data akan sangat kecil, terutama jika melakukan backup sistem secara teratur. Dalam sistem manual, tumpukan laporan dalam bentuk kertas bisa hilang atau rusak dengan lebih mudah.

Menghasilkan Keputusan Cepat
sistem informasi dapat menyediakan informasi tepat waktu, akurat, tepercaya, dan dapat di-verifikasi untuk mempercepat proses pengambilan keputusan. Sistem ini menyediakan laporan keuangan dan prosedur pengambilan keputusan lanjutan untuk mengevaluasi manfaat atau kekurangan dari pendekatan operasional dan strategi bisnis. Hal ini tentunya berpengaruh untuk mengurangi ketidakpastian yang dapat menggagalkan implementasi keputusan bisnis.

Manfaat penggunaan sistem informasi pada startup sangat berpengaruh pada kinerja bahkan proses pada startup. Risiko dari penggunaan sistem informasi yaitu penambahan biaya yang cukup besar pada pembangunan sistem informasi. Misalnya pada penyimpanan data, penyimpanan data membutuhkan perangkat komputer bahkan server sehingga membutuhkan biaya untuk pembeliannya. Pada keamanan data, keamanan data harus melakukan backup sistem secara teratur sehingga membutuhkan storage yang besar sehingga memerlukan tambahan biaya untuk membeli storage/memory yang besar.


(Inggit Setyo Rini) #4

Tidak ada pengertian baku mengenai start up. Tetapi cukup tepat apabila start up dikatakan sebagai sebuah usaha atau perusahaan rintisan yang belum lama beroperasi dan masih dalam fase pengembangan. Beberapa pendapat dan beberapa ulasan di berbagai web mengenai start up mengatakan bahwa start up berbeda dengan bisnis kecil tradisional. Start up didesign untuk dapat tumbuh dengan cepat dan memiliki potensi memperoleh pasar yang sangat luas. Hal tersebut yang menyebabkan start up kebanyakan adalah start up dalam bidang teknologi terutama dengan memanfaatkan internet yang dapat menjangkau berbagai wilayah di dunia dan digunakan kapan saja. Start up pada umumnya juga memperoleh dana atau modal dari investor walaupun tidak sedikit yang memperoleh modal dari pinjaman bank.

Mengelolah sebuah start up di era serba teknologi saat ini disertai dengan berbagai kompetitor penting untuk memperhatikan penggunaan sistem informasi. Sistem informasi menurut Sutabri (2005:42) adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan. Penerapan sistem informasi memiliki beberapa resiko yang harus dihadapi yaitu risiko dalam hal keamanan data, integrasi data, mempertahankan performa sebuah sistem dan server, proses administrasi yang harus dapat digunakan data dan informasi dalam pengambilan keputusan, kemampuan sumber daya manusia yang mengelolah, kebijakan yang berlaku, enviromental issue, bahkan hingga bencana alam yang mungkin terjadi. Cukup banyaknya risiko yang harus dihadapi dalam menerapkan sistem informasi membuat penerapan sistem informasi di start up perlu mempertimbangkan berbagai hal. Penting bagi pengelolah dan pemilik start up untuk mengetahui beberapa risiko yang mungkin dihadapi ketika menerapkan sistem informasi. Beberapa risiko yang mungkin dihadapi adalah sebagai berikut

  • Keuangan dan Kualitas
    Tidak semua start up memiliki peruntungan yang bagus dalam hal keuangan terutama ketika mulai dirintis. Permasalah cash flow dapat menghambat sebuah start up melakukan peluncuran produk, hiring sumber daya manusia, ataupun mencari tempat usaha. Penggunaan sistem informasi yang kemungkinan besar membutuhkan kombinasi teknologi, manusia, dan manajerial yang dapat berjalan baik dapat memberikan tuntutan untuk melakukan pengadaan perangkat lunak, pengembangan produk, ruang kantor, dan berbagai biaya operasional lainya sehingga sistem informasi dapat menunjang start up mencapai tujuanya.

  • Pemasaran dan Penjualan
    Sistem informasi yang tidak hanya merupakan sebuah aplikasi melainkan juga membutuhkan sumber daya dan manajerial dapat memperoleh hambatan ketika start up tidak memiliki cukup sumber daya, terutama dalam hal pemasaran. Sering kali pemasaran dilakukan dengan media sosial online yang data penjualan setiap harinya harus dilakukan di analisis dengan membuat rincian data sendiri karena tidak bisa mengakses database media sosial yang digunakan. Tetapi ketika memilih pemasaran dan penjualan menggunakan website sendiri, belum tentu akan memperoleh banyak perhatian pelanggan dan dipercaya ketika melakukan transaksi menggunakan sistem informasi penjualan start up tersebut. Dalam hal ini juga muncul masalah dalam keamanan data.

  • Membutuhkan Pelatihan Sumber Daya
    Sistem informasi tidak hanya dapat diterapkan pada bidang penjualan ataupun pemasaran, tetapi juga dalam bidang kepegawaiaan, rencana dan model bisnis, serta pengambilan keputusan untuk masa depan. Penerapan sistem informasi tentu membutuhkan sumber daya yang dapat mengelolah dan mengembangkan. Sehingga untuk memperoleh hasil maksimal, sebuah start up perlu meningkatkan SDM, baik dengan pelatihan maupun otodidak dengan mempelajari berbagai literatur. Hal tersebut tentu dapat memakan waktu dan dana. Apabila memutuskan untuk menggunakan ahli belum tentu ahli tersebut dapat memberikan value yang signifikan, sedangkan biasanya start up juga terbatas oleh modal.

  • Daya Saing Produk
    Penggunaan sistem informasi dalam sebuah start up diharapkan mampu menaikan nilai dan keuntungan yang diperoleh. Sistem informasi yang diterapkan harus mampu membantu memecahkan masalah dan menarik investor sehingga dapat mengembangkan start up. Sistem informasi yang diterapkan harus mampu digunakan untuk menganalisis sehingga produk yang dihasilkan merupakan produk yang tepat diwaktu yang tepat. mengetahui culture dan trend, serta memiliki cakupan yang sesuai dengan keuangan.

  • Kerja Sama
    Apabila sebuah sistem informasi telah baik, tetapi kerja sama tim dalam start up tidak cukup baik bahkan lebih mementingkan keegoisan atau ada yang bersikap like a boss dapat menjadi faktor ketidakberhasilan sistem informasi dalam start up dan start up itu sendiri.

Referensi

https://articles.bplans.com/whats-difference-small-business-venture-startup/

https://productiveteams.io/11-challenges-startups-face/

https://www.entrepreneur.com/article/234094

https://www.odu.edu/ts/security/risk-assessment/information-systems-risks


(mohamad ilham ridho) #5

Definisi dari sebuah startup intinya adalah sebuah perusahaan yang baru merintis dan belum lama beroperasi. Jika dilihat dari sisi perusahaan maka ada pertimbangan yang harus dipikirkan dalam penerapan sistem informasi pada perusahaannya terlebih lagi pada saat fase startup atau bisnis yang baru. Maka dalam rencana untuk penerapan sistem informasi di sebuah perusahaan tidak akan lepas dari yang namanya risiko gagalnya sistem informasi yang pasti akan berakibat langsung ke kinerja perusahaan tersebut. Berikut beberapa risiko penerapan sistem informasi dalam sebuah start up, diantaranya,

  1. Sistem informasi yang diterapkan tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan
  2. Naiknya biaya pengembangan sistem informasi karena tak terkendalinya pengembangan yang
    ada
  3. Tidak ada peningkatan kinerja perusahaan atas sistem informasi yang sedang dikembangkan

Karena adanya risiko risiko yang akan memberikan dampak terhadap suatu startup, maka perlu dilakukan evaluasi atau review pada pengembangan sistem informasi yang ada. Pengelolaan Sistem Informasi yang maksimal akan dengan baik dilaksanakan dengan menyelaraskan penerapan sistem informasi dengan kebutuhan perusahaan itu sendiri. Tidak dipungkiri jika di dalam sebuah organisasi ada penerapan TI maupun SI maka dibutuhkan evaluasi ataupun manajemen risiko terhadap risiko risiko yang kemungkinan akan dihadapi oleh perusahaan tersebut.


(Anindhita Firdani) #6

Startup merupakan suatu usaha yang baru dalam tahap rintisan dan baru beroperasi. Biasanya sebuah startup masih belum memiliki profit yang signifikan. Tentu saja tidak semua startup memiliki kondisi yang sama. Penerapan sistem informasi dalam suatu startup akan memiliki dampak yang berbeda-beda sesuai dengan bagaimana perspektif dan kebutuhan dari startupnya.

Automation of Manual Tasks
Arsitektur sistem informasi dapat mengubah yang manual menjadi serba otomatis, seperti contohnya pelaporan.

Hardware and Software Integration
Konsep sistem informasi sebagai platform scalable dapat menggabungkan sistem perangkat keras dan perangkat lunak yang berbeda. Suatu sistem dapat memproses, menyimpan dan mendistribusikan informasi jika diintegrasikan ke dalam alur kerja suatu sistem informasi.

Support of a Multi-Processing Environment
Sistem informasi dapat mendukung real-time multi-processing environment melalui time-sharing.

System Partitioning
Layout sistem informasi dipartisi sesuai dengan kebijakan keamanan data, akses pengguna dan aplikasi program.

Provides Data for Decision Support
Peran terpenting sistem informasi dalam suatu organisasi adalah menyediakan data untuk membantu manajemen eksekutif mengambil keputusan. Manajemen eksekutif dapat menganalisis beberapa area organisasi dan membuat skenario melalui sistem informasi untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Dari beberapa penjelasan diatas mengenai role of information system, jika dihubungkan dengan penerapan sistem informasi dalam startup sebenarnya masih belum terlalu dibutuhkan, apalagi sistem informasi yang sifatnya sangat kompleks. Startup sendiri biasanya belum terlalu banyak catatan atau transaksi yang bersifat komersial dengan pihak eksternal sehingga masih belum banyak data yang harus diproses untuk mendukung suatu keputusan maupun melakukan perencanaan strategis. Selain itu, apabila startup ingin menerapkan sistem informasi pasti akan membutuhkan biaya yang cukup besar mulai dari pemasangan hingga perawatan. Padahal disisi lain juga membutuhkan biaya untuk pengembangan produk yang dibuat agar bisa menarik pembeli lebih banyak lagi dan meningkatkan kepuasan pelanggan saat menggunakan produknya. Scope organisasi dalam startup juga kecil, sehingga apabila diterapkan sistem informasi dengan tujuan meningkatkan efektifitas dan efisiensi organisasi nantinya tidak akan jauh berbeda karena dengan ada atau tidaknya sistem informasi yang diterapkan organisasi akan tetap berjalan seperti yang seharusnya. Namun tidak menutup kemungkinan apabila ada startup yang memang membutuhkan penerapan sistem informasi untuk keberlangsungan proses bisnisnya. Pada dasarnya semuanya kembali pada apa yang dibutuhkan dalam organisasi dan tidak semua yang terotomatisasi akan memudahkan pekerjaan.

Referensi

https://bizfluent.com/about-6525978-role-information-systems-organization.html


(Nilna Minhatillah) #7

Sistem informasi menurut O’Brien dan Marakas adalah:

Kombinasi dari orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah, menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi.

Sistem informasi dibedakan menjadi dua, sistem informasi manual dan sistem informasi berbasis komputer (CBIS).

Start up sendiri merupakan perusahaan baru yang sedang dikembangkan. Dari kalimat “yang sedang dikembangkan” tentunya dapat dilihat bahwa start up perlu mempelajari dan menerapkan banyak hal yang sesuai, dengan tujuan untuk membuat perusahann semakin berkembang. Salah satunya menerapkan sistem informasi. Sistem informasi merupakan hal penting yang harus ada dan diterapkan pada perusahaan terutama pada start up yang merupakan perusahaan baru. Sebab sistem informasi inilah yang akan mengatur integrasi data, mengumpulkan, mengubah, dan menyebarkan informasi. Sistem informasi yang diterapkan pada start up saat ini lebih kearah computer-based information system (CBIS) karena start up sendiri lebih condong ke teknologinya meskipun telah merambah ke bidang lain seperti pertanian dan perairan. Untuk membuat sistem informasi yang baik, diperlukan manajemen risiko untuk meminimalisir risiko-risiko yang mungkin akan dihadapi.

Berikut beberapa risiko yang mungkin akan dihadapi oleh perusahaan.

  • Keuangan

    Perusahaan baru atau start up ini tentunya membutuhkan anggaran yang tidak sedikit baik di awal maupun ketika sedang berjalan. Selain dari income perusahaan, diperlukan investor-investor yang ingin berinvestasi pada perusahaan. Dalam hal ini perusahaan harus memiliki strategi yang baik untuk mendapatkan investor. Karena investor akan berinvestasi apabila perusahaan memiliki kredibilitas yang tinggi.

  • Sumber Daya Manusia

    Dibutuhkannya sumber daya manusia yang potensial. SDM ini sangat penting karena apabila ada permaslahan pada SDM, maka akan berdampak ke semua bidang. Perusahaan tentunya telah menyeleksi dan memilih sumber daya manusia yang memiliki latar belakang baik, pendidikan tinggi, dan potensial. Namun ada kalanya SDM masih tidak familiar dengan sistem perusahaan sehingga diperlukan training untuk mendukng kinerja dari SDM itu sendiri.

  • Kompetitor

    Umur perusahaan yang masih tergolong baru juga merupakan hal yang rentan karena akan banyak pesaing-pesaing yang bermunculan dengan ranah yang sama. Selain itu akan banyak produk yang turut bersaing dang kemungkinan merebut pangsa pasar.

Referensi

https://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2014-1-01340-KA%20Bab2001.pdf