© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana prospek Startup Dycode pada hardware dan bidang iOT di Indonesia ?

Dycode

Apa yang membuat Startup Dycode mulai berfokus pada hardware dan menggunakan fungsi IoT yang hanya dikenal beberapa kalangan di Indonesia? Seperti apa kira-kira prospek bisnis dalam IoT untuk Indonesia kedepannya?

2 Likes

Masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mengerti apa itu IoT, pertama tama saya akan menjelaskan sedikit tentang IoT. IoT merupakan kepanjangan dari Internet of Things , mungkin ada beberapa yang sudah mendengar istilah IoT ini. Secara singkat, Internet of Things bisa diartikan sepertti benda-benda disekitar kita dapat berkomunikasi antara satu sama lain melalui sebuah jaringan seperti internet

PT. Dycode Cominfotech Development adalah perusahaan pengembangan aplikasi perangkat lunak yang beralamat di Jl. Setrasari Kulon II No. 2, Bandung, Jawa Bawat. Perusahaan ini mengembangkan, membuat, memberi lisensi, dan mendukung beragam produk dan jasa terkait dengan teknologi komputer, terutama pada pengembangan dan pembuatan aplikasi perangkat lunak. Dycode didirikan oleh 6 orang pendiri pada tanggal 31 April 2007, dan pada 9 Mei 2007 secara resmi menjadi bentuk PT, dengan nama PT. Dycode Cominfotech Development.DyCode didirikan oleh seorang coder yaitu Andri Yadi yang memiliki spesifikasi dibidang aplikasi mobile dan backend. Memiliki latar belakang Fisika dan elektronika di samping rekayasa perangkat lunak, usaha terakhirnya adalah seputar IoT. Dia mendirikan DycodeX sebagai anak perusahaan DyCode, untuk memungkinkan adopsi IoT dan gerakan pembuat pendukung seputar perangkat keras / elektronik.

jepret

Awalnya DyCode merupakan layanan photo editing dan cetak bernama “Jepret” lalu pada awal tahun 2015 Dycode berimigrasi ke DyCodex dengan nama Allegra .

Dan pada akhirnya DyCode meilirik pemakaian IoT
Tujuan DyCode merubah style dengan menerapkan Internet of Things karena dapat menyempurnakan kenyamanan dan mobilitas yang lebih baik dari keseluruhan layanan jepret sebelumnya. Seseorang dapat mengumpulkan berbagai foto dari media sosial seperti instagram dan foto-foto yang telah dikumpulkan dapat dicetak secara otomatis dengan Jepret Allegra. Jepret Allgera ini sebagai autonomous printing box yang menjadi sangat spesial karena dalam pengoperasiannya tidak memerlukan dedicated operator seperti mesin cetak foto pada umumnya. Dengan demikian, konsep DyCode menerapan IoT sangat cocok dengan beberapa kebutuhan jepret yang semakin berkembang saat ini dibeberapa kalangan di Indonesia.

Peluang pengembangan bisnis IoT
untuk Indonesia sendiri akan menjadi sesuatu yang besar dan dapat mempengaruh beberapa hal kecil menjadi sesuatu yang berarti ,seperti:
- Iot akan mengubah industri yang ada dan membuatnya menjadi baru
Peluang yang tercipta jika menggunakan Internet of Things akan memberikan manfaat impplementasi di kehidupan sehari-hari. Misalnya kulkas yang dapat memberitahukan kepada pemiliknya via e-mail tentang kesediaan makanan dan minuman, dan apa saja makanan atau minuman yang sudah habis dan harus distok lagi

- IoT akan dapat merubah dan menyelamatkan hidup seseorang
IoT bisa membuat pengelolaan penyakit kronis menjadi lebih mudah dan terprogram. Misalnya, orang-orang yang terkena diabetes dapat menggunakan perangkat IoT untuk memonitor kadar gula darah mereka sendiri. Ketika mencapai level kritis, perangkat secara otomatis akan memberikan insulin, menghilangkan keharusan pasien diabetes untuk selalu memantau kadar glukosa mereka dan mencegah komplikasi serius.

Sumber :

Dycode merupakan salah satu startup lokal yang berasal dari kota Bandung dan mulai berjalan sejak tahun 2007 silam. Fokus dari Dycode sendiri adalah melayani dalam hal Custom App Development, Education dan products, beberapa aplikasi yang sudah dibuat dan di release oleh Dycode antara lain Movreak, Jepret Story dan Jepret.

Produk – produk Dycode tersedia di berbagai platform sperti iOS dan andorid, salah satu produk Dycode yaitu Movreak yang sukses mencapai lebih dari 100.000 unduhan. Sedangkan untuk produk aplikasi, startup Dycode yang digawangi oleh Andri yadi ini selaku founder dan CEO, telah menciptakan aplikasi dengan berbagai platform seperti Android, IOS, Blackberry dan windows phone.

Selain mengeluarkan berabgai produk aplikasi, Dycode juga menciptakan beberapa game yang dapat dinikmati oleh pengguna platform iOS. Sehingga tak menyangkal jika Dycode dapat dikatakan sebagai startup yang besar dan meraih keuntungan yang besar.

Lalu, mengapa Andri selaku CEO memutuskan untuk memanfaatkan fungsi ioT dan mulai berfokus pada hardware?
IoT (Internet of Things) merupakan pemanfaat internet untuk mengirim dan menerima data, dimana semua orang sudah saling terhubung dengan menggunakan jasa internet ini, sehingga disebutlah Interned of Things. Mungkin di Indonesia sendiri hanya beberapa saja yang menerapkan fungsi IoT itu sendiri, namun untuk dapat mengambil secara utuh manfaat IoT itu sendiri, menurut Andri kita harus menguasai mengenai Physical Computing itu seperti apa, karena hal ini berkaitan dengan software dan hardware. Melihat fungsi IoT yang mulai potensial, Andri mengklasifikasikan beberapa model bisnis yang dapat menjadi pilihan untuk membuka lapangan bisnis tersebut. Andri mengatakan

“ Meski saat ini belum terlalu sering muncul ke permukaan, namun potensinya cukup besar”.

Beberapa lapangan bisnis yang dikatakan oleh Andri antara lain :

1. Hardware
2. IoT enable platform
3. Developer platform

Dari ketiga peluang tersebut, Dycode mempunyai gagasan untuk mencoba dalam rana bisnis hardware, tidak lama setelah Dycode berjalan, munculah nama “DycodeX” pada tahun 2015 yang berfokus pada produk – produk hardware dan berkaitan dengan memanfaatkan fungsi Internet of Things disini, DycodeX merupakan anak perusahaan dari Dycode yang berfokus pada perangkat hardware.

the-state-of-nbiot-in-indonesia-5-638
Lalu, apa alasan Dycode memilih memperluas bisnisnya dengan hardware dan IoT?

  1. Dycode melihat keadaan saat ini hardware dapat diproduksi dan dirancang sesuai kebutuhan perusaan, seperti Raspberry Phi, Intel Galileo, dan Arduino -------> oleh karena itu Dycode berencana untuk meluas pasarnya dengan bisnis hardware yang dirasa masih baru dan berpeluang besar.
  2. DycodeX mencoba mengenalkan solusi teknologi terbaik yaitu IoT.
  3. DycodeX ingin memberikkan one stop solusi untuk hardware prototype stage yang nantinya dapat melakukan integrasi dengan induk perusahaannya yaitu Dycode untuk pengembangan web app dan mobile app.
  4. Dycode melihat bahwa belum ada supplier hardware lokal yang bisa memenuhi kebutuhannya dengan kualitas yang diinginkan dan harga bersaing.
  5. Dycode ingin mengurangi kegiatan pemesanan hardware yang dilakukan secara import oleh pihaknya. Karena Ia menilai biaya yang dikeluarkan untuk import lebih besar, bea cukai yang tinggi, sehingga Dycode menilai dengan melakukan proses import barang terus menerus bukanlah solusi dari permasalahan.

sumber :
1.https://dycode.co.id/#products
2. https://id.techinasia.com/dycode-developer-lokal-bandung-bisnis-sejak-2007
3. https://id.techinasia.com/internet-of-things-dari-perspektif-dycode-codepolitan
4. https://dycodex.com/2017/04/01/dycodex-kini-miliki-manufacturing-hardware/#comment-49

Overview
PT Dycode Cominfotech Development atau Dycode, merupakan startup yang memiliki beberapa fokus pada bidang IT yang berbasis di Bandung. Dycode sendiri memiliki anak perusahaan bernama PT DycodeX Teknologi Nusantara atau DycodeX. Keduanya memiliki latar belakang dan fokus yang berbeda-beda, Dycode lebih cenderung pada pengembangan modern mobile platforms, seperti Android and iOS, BlackBerry, Windows Phone, Symbian, dan Meego. Sedangkan DycodeX sendiri lebih fokus terhadap Internet of Things (IoT) application dan services. DycodeX juga memanfaatkan komunitas IoT milik mereka yang diberi nama Makestro, dimana difungsikan sebagai wadah pendukung makers di Indonesia, memfasilitasi anggota untuk mengembangkan dirinya dan berinovasi dengan Internet of Things (IoT).

IoT
Internet of Things (IoT) merupakan sistem perangkat komputasi yang saling terkait, mesin mekanis dan digital, objek yang berupa hewan atau orang-orang yang dilengkapi dengan unique identifiers dan kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer.

DycodeX
Salah satu produk dari DycodeX adalah Jepret Allegra, Smart Gallon, dan Magic Printer. Jepret Allegra atau Allegra yang memiliki fitur untuk mengumpulkan, mengelola dan mencetak foto secara otomatis di setiap event-event pelanggannya. Jepret Allegra dapat membantu untuk meningkatkan online & offline engagement antara brand/venue dengan para pengunjung dalam bentuk hasil cetak foto yang diunggah ke media sosial.

Dycode yang awalnya hanya fokus dalam pengembangan mobile platforms, namun menurut menurut CMO Dycode Dyan Raditya Helmi, saat ini di pasaran sudah terdapat banyak hardware yang bisa dirancang sesuai kebutuhan, seperti Raspberry Phi, Intel Galileo, dan Arduino.

CEO DyCode dan DycodeX Andri Yadi juga menuturkan bahwa langkah ini merupakan momen yang tepat untuk mulai mengikuti arus tren IoT yang kini mulai hangat diperbincangkan. Diakui ekosistem itu sendiri masih muda, berdasarkan pengalaman mobile app bubble beberapa tahun silam DyCode justru ingin kembali menjadi pionir kali ini. Andri sendiri percaya di tahun-tahun berikutnya IoT akan mendapat perhatian jauh lebih besar dari sebelumnya.

Big Data di Indonesia dan IoT
Pada bulan April tahun lalu, chief executive dan chairman dari General Electric, salah satu perusahaan terbesar dunia, menandatangani partnership dengan Databott, salah satu perusahaan big-data analytic Indonesia. Ilustrasi tersebut menggambarkan mengenai mengenai bagaimana big data dapat menerapkan kecerdasan buatan untuk mengubah sektor industri di Indonesia. Dengan menggunakan Big Data, Dattabot membantu perusahaan industri Indonesia untuk meningkatkan efektivitasnya dengan mengumpulkan, membaca dan menafsirkan data dari sensor cerdas, sehingga menciptakan konektivitas, yang juga dikenal sebagai Internet Things (IoT).

Sebagai contoh, IoT memungkinkan kita untuk memonitor dan melakukan tuning, setting terhadap peralatan-peralatan berat didalam sebuah lingkungan pertambangan (misal) untuk mengantisipasi keausan dan downtime, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan performa. Indonesia, yang merupakan negara dengan SDA yang melimpah, IoT dapat menjadi key catalyst dimana hal tersebut dapat membantu dalam sektor SDA yang nantinya akan meningkatkan produktivitas juga menekan biaya.

IoT as a solution
Langkah yang diambil DycodeX untuk meluaskan startup-nya dalam IoT merupakan salah satu langkah yang cukup strategis, mengingat trend big data di Indonesia semakin meningkat. Salah satu solusi untuk memonitor berbagai data yang dinamis dan cepat, adalah dengan IoT sebagai embedded system yang dilekatkan pada objek-objek tertentu sesuai kebutuhan.

Sumber :

Kemajuan teknologi telah mengubah wajah dunia. Berbagai macam perangkat (devices) elektronik yang sebelumnya berukuran besar, boros energi dan mahal, saat ini sudah dapat digantikan dengan perangkat-perangkat yang berukuran jauh lebih kecil, lebih canggih, hemat energi (low-power), hemat bandwith dan jauh lebih murah.

Perangkat-perangkat elektronik kecil ini dilengkapi dengan software, sensor dan actuator serta terhubung dalam sebuah jaringan telekomunikasi yang memungkinkan setiap perangkat tadi dapat mengambil data dan saling bertukar informasi. Interaksi antar perangkat inilah yang disebut dengan Internet of Things (IoT).

Potensi IoT

Irza Suprapto, Direktur Asia IoT Business Platform mengatakan, sebagai sebuah negara yang berkembang, Indonesia memiliki potensi yang amat besar bagi bisnis Internet of Things (IoT). pertumbuhan teknologi yang pesat di Indonesia mendorong tingginya permintaan terhadap teknologi IoT.

Seiring berkembangnya teknologi di Indonesia dan mular memasuki industri 4, data adalah sesuatu yang sangat berharga dalam era industri 4 ini, ole Karena itu perangkat IoT yang dapat mengambil data dengan realtime sancta dibutuhkan unto pengumpulan data yang nantinya digunakan untuk analisis dalam banyak aspek. Karena itu Dycode mulai berfokus pada hardware yang dibekali IoT yang akan sancta dibutuhkan di era industri 4 ini.

Summer :
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/09/103206626/bisnis-internet-of-things-berpotensi-jadi-sumber-pertumbuhan-baru

Dycode, yang berdiri diatas PT. Dycode Cominfotech Development adalah salah satu software house atau perusahaan development software di Indonesia, tepatnya Jl. Setrasari Kulon II No.2, Sukarasa, Sukasari, Kota Bandung, Jawa Barat.

Perusahaan ini mungkin masih jarang terdengar oleh orang awam, tapi ternyata DyCode telah berdiri sejak tahun 2007, masih beberapa tahun sebelum diluncurkannya sistem operasi Android dan iOS, dan masih beberapa tahun lagi sebelum sistem operasi tersebut booming dan dikenal masyarakat Indonesia

Sejauh ini, pada sisi bisninya , DyCode memiliki tiga layanan utama yakni Custom App Development, Education, dan Products. Dycode biasanya menerima pemesanan aplikasi dari pihak korporat yang membutuhkan. Beberapa klien yang sudah bekerja sama dengan mereka di antaranya adalah Nokia, United Tractor, dan Telkom Indonesia.

Pada tahun 2015, menanggapi mulai munculnya industry Internet of Things (IoT) DyCode memutuskan untuk membuat anak perusahaan yang berfokus spesifik pada bidang IoT, smart hardware, embedded system, dan berbagai produk disruptif lainnya. Berdiri diatas PT DycodeX Teknologi Nusantara, lahirlah DyCodeX secara resmi di bulan April tahun 2015.

DyCodeX, sebagai salah satu pionir industri smart hardware yang masih dalam tahap awal pertumbuhannya, berkomitmen untuk membuat produk hardware yang berkualitas tinggi, serta di saat yang sama, terus berkontribusi dalam pertumbuhan komunitas maker / tinkerer lokal melalui event dan seminar.

Menurut Andri Yadi, CEO dari DyCodeX, IoT merupakan gelombang ke-tiga dari era internet

Secara konsep (IoT) akan membuat benda hidup dan benda mati saling erhubung melalui internet.

Menurutnya, walaupun market dari end user belum tumbuh pesat, jika fokus untuk IoT tidak dimulai dari sekarang, maka akan ketinggalan ketika saatnya booming nanti.

Dari segi pemanfaatannya, IoT memiliki banyak peluang, baik untuk pengguna umum atau bisnis. Dari rilis yang dikeluarkan Hitachi, adopsi teknologi IoT akan menjadi tren adopsi global di tahun 2018. Hitachi memaparkan solusi IoT akan mampu memberikan wawasan yang berharga untuk mendukung transformasi digital dan dengan cepat menjadi keharusan di hampir semua sektor industri.

Menurut Teguh Prasetya, Direktur PT Alita Praya Mitra, IoT di tahun 2017 masih terus bertumbuh dengan dominasi oleh industrial IoT yang bertumbuh di luar ekspektasi, sedangkan untuk consumer IoT masih dalam tahap pengenalan dan sosialisasi.

Hal yang tidak jauh berbeda disampaikan Founder Cubecon Tiyo Avianto. Sebagai salah satu pendiri dari startup yang menawarkan solusi IoT, Tiyo mengungkapkan tren IoT saat ini masih didominasi kebutuhan perusahaan atau enterprise. Semua atas nama efisiensi atau meningkatkan kinerja bisnis.

Menurut Teguh, pengembang dan penggunanya masih menjadi tantangan serius. Kemampuan menembus pasar yang lebih luas masih sedikit terhambat. Di sisi lain, Tiyo menyoroti bahwa ekosistem industri di Indonesia masih cukup berat terutama dari segi perangkat keras.

Kurangnya produsen lokal yang memproduksi perangkat keras atau komponen IoT menjadi permasalahan bagi pengembang. Jika mendatangkan perangkat dari luar negeri urusannya adalah dengan pajak sehingga sangat mempengaruhi harga. Dengan sendirinya pengembang solusi IoT tidak bisa mengembangkan solusi yang kompetitif, terutama di sisi harga, melawan perusahaan asing.

Ekosistem dan industri IoT sangat membutuhkan peran aktif dari pemerintah. Frekuensi, sertifikasi, dan penyediaan sarana pengembangan solusi IoT menjadi bagian yang penting. Disebutkan Teguh, peranan pemerintah dalam menunjang pengembangan industri dan ekosistem IoT sangat dibutuhkan, tidak hanya soal regulasi tetapi juga soal penyediaan laboratorium IoT yang dirasa bisa sangat berperan membantu industri IoT Indonesia untuk tumbuh.

Masalahnya, ekosistem IoT harus disikapi dengan cermat. Saat ini ada perangkat IoT yang mengarah menggunakan frekuensi unlicenced 919–923 Mhz. Padahal frekuensi itu berdekatan dengan milik operator. Karena itu pemerintah cenderung terlihat berhati-hati dalam membuat kebijakan terkait industri tersebut.

Dampaknya tentu dapat diperkirakan, misalnya interferensi dengan jaringan yang sudah ada. Belum lagi soal jaminan layanan atau SLA (service level agreement) dan perlindungan data keamanan konsumen. Ini tentu memberi dampak yang tidak diinginkan oleh siapa pun ke depannya.

image

“Kita harus adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk IOT dari sisi regulasi sehingga masyarakat nantinya tidak dirugikan,” ungkap Rudiantara, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) melalui video conference dalam seminar “Mendorong Terbentuknya Regulasi dan Standarisasi Dalam Menata Ekosistem IoT” yang diadakan oleh Indonesia Technology Forum, di Jakarta, Senin (16/10/2017).

Sebelumnya, Indonesia IoT Forum menyatakan, industri IoT siap berkembang di Indonesia. Hanya pelaku industrinya menanti kepastian regulasi dari pemerintah, khususnya alokasi frekuensi, baik license maupun unlicensed.

Pangsa pasar IoT di Indonesia diprediksi akan mencapai Rp444 triliun pada 2022. Rinciannya dari konten dan aplikasi sebesar Rp192,1 triliun, platform Rp156,8 triliun, perangkat IoT Rp56 triliun, serta network dan gateway sebesar Rp39,1 triliun.

Diperkirakan pada 2022 akan ada sekitar 400 juta perangkat sensor yang terpasang. Sebanyak 16% di antaranya terdapat pada industri manufaktur, 15% kesehatan, 11% asuransi, 10% perbankan dan keamanan, masing-masing 8% pada ritel dan layanan komputasi, 7% pemerintahan, 6% transportasi, 5% utilities, masing-masing 4% pada properti, layanan bisnis dan pertanian, serta sisanya sebanyak 3% perumahan dan lain sebagainya.

Sumber
  1. https://dycodex.com/about/
  2. https://id.techinasia.com/internet-of-things-dari-perspektif-dycode-codepolitan
  3. https://id.techinasia.com/dycode-developer-lokal-bandung-bisnis-sejak-2007
  4. https://dailysocial.id/post/perkembangan-industri-internet-of-things-di-indonesia-tahun-2017
  5. https://autotekno.sindonews.com/read/1248700/133/potensi-industri-iot-ratusan-triliunan-rupiah-pemerintah-hati-hati-buat-regulasi-1508133742