© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana proses pembuatan sebuah film ?

Proses pembuatan sebuah film

Proses pembuatan sebuah film dilakukan oleh sekumpulan sutradara dan kru filmnya dan tentunya banyak pengambilan keputusan yang dilakukan untuk menghasilkan sebuah film tersebut. Karena selain skill atau kemampuan teknik pengambil scene,editing,dan keoriginalan cerita .dibutuhkan juga pengambilan keputusan untuk membuat film yang bagus dan berkualitas.

Bagaimana proses pembuatan sebuah film yang baik ?

Cara membuat sebuah film :

  1. Menentukan Ide Cerita
    Buatlah sebuah ide cerita untuk filmmu. tentukan terlebih dulu genre film yang ingin kamu buat. Drama, horor, action, atau genre lain. Usahakan untuk menciptakan ide cerita yang tidak pasaran.

  2. Tentukan Sasaran Penonton
    Setelah menentukan ide cerita dan tema. Tentukan pula film ini ingin ditujukan untuk siapa? Apakah anak-anak, remaja, atau dewasa? menentukan segmentasi penonton akan mempermudah kita membuat alur cerita yang menarik.

  3. Membuat Sinopsis Film
    Sinopsis adalah komponen yang harus ada dalam sebuah film. Semua film memerlukan sinopsis, tidak terkecuali film dokumenter. Tulislah sinopsis yang ringkas, padat, jelas, tepat sasaran dengan konflik yang jelas, dan ending yang bisa memberi kejutan bagi penonton.

  4. Menulis Skenario
    Setelah membuat sinopsis singkat, langkah selanjutnya adalah menulis skenario. Skenario ini bisa kamu tulis sendiri atau meminta orang lain (yang kompeten) untuk menuliskannya. Skenario harus ditulis seecara detail dan rinci. Dimana scene akan diambil (apakah diluar atau di dalam ruangan), bagaimana ekspresi dan gerak-gerik para pemain, serta penjelasan dilokasi mana mereka akan mengambil gambar.

  5. Menyiapkan Alat-alat Teknis
    Tentukan story board (alat perencanaan yang menggambarkan urutan kejadian berupa kumpulan gambar dalam sketsa sederhana), tentukan lokasi yang sesuai dengan skenario. Siapkan kru, lampu, kamera, setting, property, kostum, make up team, dll.

  6. Menentukan Budget
    Setelah menentukan semua alat teknis dan pemain yang kita inginkan, maka kita harus membuat anggaran agar tidak melebihi budget yang sudah kamu tentukan. seandainya anggaran melebihi budget mungkin kamu bisa menyiasati dengan “sewa” entah itu sewa kostum, properti atau alat sehingga biaya tidak terlampau membengkak.

  7. Syuting dan Editing
    Setelah ke enam komponen persiapan siap dan izin untuk pembuatan film sudah turun, maka kamu sudah bisa memulai proses syuting sesuai dengan skenario yang ada. Apabila proses syuting sudah selesai maka langkah selanjutnya adalah mengedit film berdasarkan urutan scene dalam skenario.

  8. Review dan Revisi
    Setelah melalui tahap editing bukan berarti film sudah jadi. Alangkah baiknya jika kamu meriviewhasil fil yang sudah ada kemudian melakukan revisi apabila ada scene yang jelak dan tidak sesuai dengan skenario. Scene tersebut bisa kamu buang atau kamu ganti dengan
    yang baru.

  9. Buat Promosi
    Setelah semua proses pembuatan selesai, saatnya kamu mempromosikan film yang kamu buat dengan berbagai media. Bis amelalui web, blog, twitter, facebook, poster, trailer, dan media lain.

  10. Masukkan dalam DVD
    Setelah seluruh proses persiapan, pembuatan, dan revisi selesai. Kamu bisa memasukkan film tersebut dalam keping DVD untuk digandakan. Entah itu untuk keperluan pribadi atau promosi.

Nah, itulah tadi langkah – langkah untuk membuat film. Tentunya, untuk membuat film kita harus mempunyai pikiran yang kreatif. Nah bagaimana sih berpikir kreatif itu? Berpikir kreatif ini merupakan suatu kepiawaian pola berpikir kita yang didasari dengan pemahaman yang mendalam tentang konsep-konsep yang telah diketahui sebelumnya dan kemudian memberikan suatu perubahan.

Menurut John Adair kreativitas adalah daya pikir dan semangat yang memungkinkan kita untuk mengadakan sesuatu yang memiliki kegunaan, tatanan, keindahan, atau arti penting dari sesuatu yang kelihatannya tidak ada. Kendatipun kita sepakat bahwa kreativitas itu memang perlu dikembangkan, namun kadang-kadang kita memandang istilah kreativitas itu sebagai sesuatu yang berbeda satu sama lain, yang dapat menyebabkan kaburnya makna essensial dari istilah ini.

Dalam pembuatan sebuah film dibutuhkan sebuah alur cerita yang logis, serta permasalahan yang ada diperlukan solusi yang logis pula agar dapat diterima oleh pemirsa. Dalam proses pembuatan hal utama yang perlu ditinjau adalah Naskah/Alur dari sebuah film tersebut.

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatannya adalah :

1. Ide Cerita
Cerita tidak akan tercipta tanpa sebuah ide. Ide cerita yang ada dalam imajinasimu sebaiknya langsung tuangkan dalam bentuk tulisan. Contoh ide cerita misalnya tentang sepasang kekasih yang sama-sama selingkuh karena tidak puas dengan pasangannya.

2. Merumuskan naskah
Dalam langkah kedua ini, kamu harus membuat kerangka dari ide cerita yang sudah kamu dapatkan. Kerangka nantinya akan membantumu memetakan jalan cerita agar ceritamu tidak ‘glambyar’.

3. Menyusun Plot
Penyusunan plot yang merupakan alur cerita sangat diperlukan dalam menulis naskah film. Struktur plot pada umunya terdiri dari 3 (tiga) babak yaitu set up atau awal konflik, confrontation atau komplikasi masalah, dan resolution atau penyelesaian masalah.

4. Setting dan Penokohan
Menentukan setting sebuah film harus kamu lakukan secara detail, agar mempermudah proses syuting (peralatan menggambil gambar). Begitu juga dalam penokohan, jelaskan secara rinci karakter setiap tokoh yang ada dalam ceritamu.

5. Sasaran
Penting bagimu untuk menentukan segmentasi dari film yang akan dibuat. Apakah film ini ditujukan untuk anak-anak, dewasa, keluarga, atau remaja.

6. Pesan
Film yang baik adalah film yang memberikan sebuah pesan moral bagi yang menontonnya. Setelah melalui enam tahapan diatas, kamu juga harus memperhatikan bagian-bagian yang ada dalam naskah film. Suatu naskah film terdiri dari enam bagian, yaitu:

  • Title Page, adalah judul yang akan dijadikan pedoman pertama bagi seorang produser untuk menilai apakah pembuat naskah itu seorang profesional atau hanya amatiran.
  • Scene Heading, merupakan sebuah petunjuk dimulainya suatu naskah. Kata yang digunakan yaitu “EXT. — ” (cerita berlangsung di luar ruangan) dan “INT. — (cerita berlangsung di dalam ruangan). Kemudian diikuti nama sebuah tempat yang harus ditulis dengan huruf kapital.
  • Action, biasanya ditulis 2 baris dibawah Scene Heading. Action adalah gambaran yang menceritakan apapun yang akan terlihat dalam adegan film dan selalu pada keadaan sekarang ( Present Time ).
  • Dialogue, merupakan segala sesuatu yang dibicarakan oleh tokoh atau karakter.
  • Parenthetical, adalah keterangan yang menjelaskan segala sesuatu yang dilakukan oleh karakter atau tokoh.
  • Transition, sebuah deskripsi pendek untuk menjelaskan bahwa cerita berpindah dari scene ke scene lain. Diantaranya adalah: CUT TO, DISSOLVE TO, INTERCUT WITH atau INTERCUT BETWEEN. Sedangkan pada akhir cerita biasanya FADE OUT, IRIS OUT, dll.

Ketika sebuah naskah sudah terbentuk, maka hal yang perlu dilakukan adalah merealisasikannya kedalam kegiatan perfilman, yang dimana sutradara beserta krunya harus menentukan bagaimana jalannya sebuah cerita tersebut memiliki makna yang sama dari sebuah naskah yang ada.

Pengambilan sebuah keputusan dari sebuah pembuatan film dilakukan serta merta oleh sutradara yang dimana ia bertugas mengatur jalannya cerita. Pengambilan keputusannya tentu dengan berpikir secara kritis mengenai realisasi kedunia nyata dari sebuah naskah yang bentuknya adalah sebuah imanjinasi semata. Maka dari itu hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusannya adalah :

  1. Pemahaman terhadap alur cerita
  2. Penerapan sebuah gagasan dari naskah kebentuk nyata/ real-nya
  3. Penataan setiap scene yang bertujuan untuk membuat sebuah cerita menjadi logis

Tiga hal diatas menjadi hal yang perlu dilakukan dalam sebuah pengambilan keputusan disebuah film yang dibuat oleh seseorang. Jika ketiga hal diatas tidak dilakukan, maka sebuah film tidak akan menuai hasil yang maskimal dan tentunya film tersebut tidak akan mendapatkan jiwanya yang telah dituangkan didalam sebuah naskah ceritanya.

Referensi :

Kegiatan produksi film dan produk audio visual lainnya secara umum terdiri atas lima proses. Akan tetapi dari kelima kegiatan tersebut, yang utama dan menyangkut dengan proses produksi meliputi kegiatan Pra-produksi, Produksi, dan Post-produksi.

1. Pra-produksi

Merupakan kegiatan tahap perencanaan produksi film yang akan diproduksi. Kompleksitas sebuah kegiatan perencanaan ini bergantung pada besar atau kecilnya film yang akan diproduksi. Di tahap ini, perekrutan awak produksi fim sudah terpilih; kru film sudah menentukan jenis film yang akan dibuat; serta naskah cerita yang akan dipakai, sudah matang dan tidak lagi mengalami perubahan. Selain itu rancangan anggaran juga sudah diselesaikan dan departemen kru yang bersangkutan mulai untuk mencari dana demi pembuatan film. Para pemeran dan pelaku dalam film telah dipilih melalui proses seleksi (casting).

Setiap departemen dari tim pembuat film mulai melakukan preparasi sesuai dengan kewajiban timnya masing-masing. Para pemeran sudah dapat berkumpul untuk melakukan bedah naskah dengan penulis skenario dan sutradara. Departemen sinematografi membuat daftar teknis pengambilan adegan per adegan (shotlist) dan sudah dapat menyusun jadwal syuting (breakdown dan rundown).

Di tahap ini pula dilakukan pencarian lokasi yang sekiranya sesuai dengan plot naskah yang telah dibuat. Saat melaksanakan pencarian lokasi, umumnya beberapa pemeran (aktor dan aktris) juga turut diboyong untuk melakukan latihan akting di lokasi syuting bersangkutan.

2. Produksi

Setelah semua kegiatan pra-produksi serta kegiatan lain yang berkaitan dengan preparasi selesai dilaksanakan, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan pengambilan gambar adegan (take shot) atau yang lebih dikenal kaum awam dengan sebutan ‘syuting’. Proses syuting dilaksanakan sesuai dengan jadwal syuting yang telah dibuat. Jadwal syuting secara garis besar pada umumnya tercantum pada breakdown dan detail jadwal setiap harinya dicantumkan ke dalam rundown. Seluruh kru film dan para pemeran sebisa mungkin harus bekerja sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan agar proses pembuatan film selesai tepat waktu. Apabila melewati batas waktu yang telah dibuat dalam jadwal, maka diperlukan waktu tambahan dan tentunya hal tersebut akan mempengaruhi rancangan anggaran produksi.

Seperti yang telah disampaikan dalam bab sebelumnya, pembuatan film sifatnya kolaboratif, karena kegiatan ini melibatkan sejumlah kegiatan dengan didukung oleh latar belakang keahlian yang berbeda-beda. Dari seluruh pihak yang terlibat dalam pembuatan film, termasuk aktor dan aktris, harus dapat bersinergi dan saling mendukung, agar setiap aspek pekerjaan terlihat sempurna untuk menghasilkan film berkualitas.

3. Post-produksi

Setelah proses produksi rampung, maka kegiatan selanjutnya dalam pembuatan film adalah post-produksi. Dalam tahap ini, hasil perekaman gambar diolah dan digabungkan dengan hasil rekaman suara. Penggabungan tersebut disesuaikan dengan naskah sehingga dapat menjadi satu kesatuan karya audio-visual yang mampu bercerita kepada para penikmat film. Aspek terpenting dalam kegiatan post-produksi adalah:

  • Editing Offline
    Merupakan tahapan penyuntingan kasar, di mana setiap adegan sudah disusun sesuai dengan urutan pada naskah. Pada proses editing offline ini, hanya dilakukan penyuntingan adegan per adegan, tanpa memasukkan efek suara dan efek audio lain seperti musik latar (music scoring). Tahap editing offline ini berakhir ketika susunan adegan dalam film telah sesuai dengan plot cerita dan sudah disetujui oleh sutradara dan pihak produser. Tahapan tersebut diistilahkan dengan picture locked.

  • Editing Online
    Setelah melalui tahap picture locked, maka langkah selanjutnya adalah mengerjakan tahap editing online. Pada kegiatan editing online ini, susunan adegan yang sudah ‘dikunci’ ditambahkan efek suara, music scoring (musik latar), serta efek visual lain seperti coloring, animation, serta special effect. Proses editing tidak lagi mengacu pada naskah. Proses edit coloring pada setiap scene dilakukan sama seperti halnya melakukan penyuntingan pewarnaan dalam sebuah foto. Tone warna di film dapat disunting untuk membantu membangun keindahan visual, seperti membuat tone menjadi hitam-putih, sephia, menaikkan atau menurunkan kontras kualitas gambar, dan lain-lain. Selain untuk tujuan estetika, pewarnaan ini juga bertujuan semakin membangun suasana sesuai dengan plot cerita, sehingga pesan yang ingin disampaikan kepada penonton juga dapat tersampaikan. Kegiatan editing online dilakukan terpisah antara penambahan efek audio dan penambahan efek visual. Setelah proses keduanya selesai, langkah terakhir adalah melakukan proses mixing, dimana hasil suntingan audio dan suntingan visual digabungkan. Jika semua sudah tergabung menjadi satu, maka film sudah selesai diproduksi dan siap untuk dilempar ke pasaran.