Bagaimana proses pembentukan Perilaku manusia ?

Perilaku manusia

Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.

Bagaimana proses pembentukan Perilaku manusia ?

Pembentukan perilaku dibagi menjadi tiga cara sesuai keadaan yang diharapkan, sebagai berikut.

1. Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan

Salah satu cara pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan kondisioning atau kebiasaan. Dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, maka akhirnya akan terbentuklah perilaku tersebut.cara ini didasarkan atas teori belajar kondisioning baik yang dikemukakan oleh Pavlov maupun oleh Thorndike dan Skinner terdapat pendapat yang tidak seratus persen sama, namun para ahli tersebut mempunyai dasar pandangan yang tidak jauh berbeda satu sama lain.

2. Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight)

Disamping pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan, pembentukan perilaku juga dapat ditempuh dengan pengertian. Cara ini didasarkan atas teori belajar kognitif yaitu belajar disertai dengan adanya pengertian. Bila dalam eksperimen Thorndike dalam belajar yang dipentingkan adalah soal latihan, maka dalam eksperimen Kohler dalam belajar yang dipentingkan dalah pengertian. Kohler adalah salah satu tokoh psikologi Gestalt dan termasuk dalam aliran kognitif.

3. Pembentukan perilaku dengan menggunakan model

Disamping cara-cara pembentukan perilaku diatas, pembentukan perilaku masih dapat ditempuh dengan menggunakan model atau contoh. Pemimpin dijadikan model atau contoh bagi yang dipimpinnya. Cara ini didasarkan oleh teori belajar sosial (social learning theory) atau (observational learning theory) yang dikemukakan oleh (Albert Bandura, 1977).

Menurut Notoatmodjo (1985:3), terdapat dua faktor penentu atau determinan perilaku manusia sulit untuk dibatasi karena perilaku merupakan penggabungan dari berbagai faktor, baik internal maupun eksternal (lingkungan).

  • Faktor Internal yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan, misalnya tingkat kecerdasan, tingkat emosional, jenis kelamin dan sebagainya. Aliran ini disebut aliran negatisme yang ditokohi oleh Schopenhower (Jerman) yang mengatakan bahwa perilaku manusia itu sudah dibawa sejak lahir.
  • Faktor Eksternal, yaitu lingkungan baik lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan mewarnai perilaku seseorang. Hal sesuai dengan aliran positivisme yang dikemukakan oleh Jhon Locke yang mengataan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh lingkungan

Menurut Geller (2001) menyatakan bahwa faktor internal yang mempengaruhi perilaku tidak aman adalah persepsi, nilai, peralatan, sikap, keyakinan, perasaan, pemikiran dan kepribadian, sedangkan faktor eksternal mencakup pelatihan, pengakuan, pengawasan secara aktif dan kepatuhan terhadap peraturan.


Faktor Internal

  • Pengetahuan

Pengetahuan adalah syarat pertama proses belajar dan mengembangkan para peserta, membantu mereka menigkatkan ketrampilan pengetahuannya, kemapuan mereka untuk belajar dan mengetahui lebih banyak segala sesuatu. Kekhasan manusia paling penting adalah kemampuan pengetahuannya, kemampuan berpikirnya dan mengetahui hubungan sebab akibat dan mengubah pendiriannya atau bagian dunia jika ia mempunyai pengetahuan yang lebih baik. Pengetahuan muncul berdasarkan latar belakang yang mempengaruhi penerimaan seseorang (Dirgagunarsa,1992).

  • Persepsi

Persepsi menurut Robbin (1999) merupakan suatu proses dimana individu – individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indra mereka agar bermakna pada lingkungan mereka, sementara persepsi ini memberikan dasar pada seseorang untuk bertingkah laku sesuai dengan yang mereka persepsikan.

Muslichah Zarkasi (1986) membahas persepsi dalam artian sederhana berupa penglihatan, bagaimana cara individu melihat sesuatu. Sedangkan dalam artian luas yaitu pandangan atau pengertian tentang bagaimana individu memandang atau mengartikan sesuatu

  • Motivasi

Munandar (2001) menyatakan bahwa motivasi merupakan proses dimana kebutuhan yang bersifat pribadi dan manusiawi mendorong seseorang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang mengarah kepada tercapainya tujuan.

Menurut Robbin (2001) motivasi merupakan suatu kesediaan individu untuk mengeluarkan tingkat usaha/upaya yang tinggi dalam mecapai tujuan – tujuan tertentu yang dikondisikan oleh kemampuan upaya/usaha tersebut untuk memenuhi suatu kebutuhan individu. Dimana pada intinya terdapat 3 unsur kunci dalam motivasi yaitu upaya/usaha, tujuan dan kebutuhan individu.

  • Kepatuhan terhadap Peraturan

Kepatuhan menurut Geller (2000) yang dikutip dalam Irwadi (2007) merupakan salah satu bentuk perilaku yang dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Kepatuhan sangat berhubungan dengan peraturan, untuk menjaga kelangsungan dari suatu perusahaan maka diperlukan suatu kejelasan dalam segi hukum dan peraturan yang berlaku. Selain itu dalam buku kerja Pedoman Keselamatan British Petroleum (BP) yang dikutip dalam Irwadi (2007) menyatakan bahwa salah satu tindakan yang penting untuk dicermati adalah “mengikuti prosedur” (following procedure) untuk menganalisa penyebab dasar kecelakaan kerja.


Faktor Eksternal

  • Ketersediaan Fasilitas/APD

Ketersediaan Sarana dan prasarana yan mendukung tindakan pekerja berperilaku selamat dalam bekerja (Suma’mur, 1996) menurut Syukri Sahab (1995) bahwa sistem yang didalamnya terdapat manusia (sumber dan manusia) dan fasiltas merupakan salah satu hal yang penting dalam mewujudkan penerapaan keselamatan di tempat kerja.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hendrabuwana (2007) secara statistik bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara ketersediaan fasilitas dengan penerpana perilaku kerja selamat. Menurutnya, meskipun fasilitas yang mendukung penerapan perlaku kerja selamat sudah baik akan tetapi masih terdapat faktor – faktor lain yang kurang mendukung terciptanya perilaku kerja selamat, diman berdasarkan penelitian yang dilakukannya faktor tersebut meliputi faktor lingkungan kerja, peraturan, dan pengawasan.

  • Peraturan dan Kebijakan

Peraturan merupakan dokumen tertulis yang mendokumentasikan standar, norma dan kebijakan untuk perilaku yang diharapkan (Geller, 2001). Peraturan memiliki peran besar dalam menetukan perilaku mana yang dapat diterima dan tidak dapat diterima (Roughton,2002).

Notoatmodjo (1993) menyebutkan salah satu strategi perubahan perilaku adalah dengan menggunakan kekuatan dan kekuasaan misalnya peraturan – peraturan dan perundang – undangan yang harus dipatuhi oleh anggota masyrakat. Cara ini menghasilkan perubahan perilaku yang cepat, akan tetapi perubahan tersebut belum tentu akan berlangsung lama karena perubahan perilaku yang terjadi tidak atau belum didasari oleh kesadaran sendiri.

  • Komunikasi

Menurut kamus besar bahasa Indonesia komunikasi diartikan berhubungan. Carl I. Hovland dalam bukunya Communication dikutip dalam Meisya (2007) menjelaskan komunikas merupakan proses dimana seorang individu (komunikan) mengoper stimulus (lambang/kata – kata) untuk merubah tingkah laku individu.


Proses Terbentuknya Perilaku

Menurut Skiner (1938) proses terbentuknya perilaku yaitu:

  • Melakukan identifikasi tentang hal – hal yang merupakan penguat atau reinforce berupa hadiah – hadiah atau reward bagi perilaku yang akan dibentuk.

  • Melakukan analis untuk menidentifikasi komponen – komponen kecil yang membentuk perilaku yang dikehendaki. Kemudian komponen – komponen tersebut disusun dalm urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentunya perilaku yang dimaksud.

  • Menggunakan urut komponen – komponen itu sebagai tujuan – tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcement atau penguat dan hadiah – hadiah atau reward untuk masing – masing komponen tersebut.