© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Prinsip Adab Murid Terhadap Guru dalam Kitab Adāb al-‘Ālim wa al- Muta’allim?

adab

Murid dan guru adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam proses belajar mengajar. Bagaimana adab yang baik kepada guru ?

kitab Adāb al-Alim wa al-Muta‟allim adalah kitab yang mengajarkan prinsip-prinsip adab atau etika dalam menuntut ilmu.

Prinsip-prinsip adab atau etika yang seharusnya dimiliki seorang pelajar terhadap guru setidaknya ada 12 macam, sebagaimana berikut :

  1. Dalam memilih figur seorang guru, seorang pelajar hendaknya mempertimbangkan terlebih dahulu dengan memohon petunjuk kepada Allah Swt. Tentang siapa orang yang dianggap paling baik untuk menjadi gurunya dalam menimba ilmu pengetahuan dan yang bisa membimbing terhadap akhlak yang mulia. Jika memungkinkan, hendaknya murid berupaya mencari guru yang benar-benar ahli di bidangnya, memiliki kecakapan dan kredibilitas yang baik, dikenal kehati-hatiannya dalam berpikir dan bertindak, serta tidak sembrono dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Sebagian ulama salaf mengatakan:

Ilmu adalah agama, maka hendaknya kalian melihat (memertimbangkan terlebih dahulu) kepada siapakah kalian mengambil agama kalian itu (menimba ilmu pengetahuan).

Ungkapan ulama salaf di atas menganjurkan bahwa seseorang ketika akan mencari ilmu hendaknya diawali dengan memertimbangkan dan memilih guru yang memiliki ilmu pengetahuan sempurna. Dalam hal ini ilmu pengetahuan agama yang sejalan dengan sumber pedoman al-Qur’ān dan as-Sunnah.

  1. Bersungguh-sungguh (berusaha keras) dalam mencari seorang guru yang diyakini memiliki pemahaman ilmu-ilmu syariat (agama Islam) yang mendalam serta diakui
    keahliannya oleh guru-guru lain. Seorang guru yang baik adalah orang yang banyak melakukan kajian (pembahasan/penelitian), perkumpulan (berdiskusi), serta bukan orang yang memelajari ilmu hanya melalui buku (tanpa bimbingan seorang guru) ataupun dia tidak pernah bargaul dengan guru-guru lain yang lebih cerdas.

Imam Syafi’i berkata:

Barang siapa memelajari ilmu pengetahuan yang hanya melalui buku, maka ia telah menyia-nyiakan hukum.

Imam Syafi‟i dalam ungkapannya, beliau melarang para penuntut ilmu agar tidak hanya mengandalkan ilmu dari buku saja tanpa adanya bimbingan dari seorang guru. Karena ilmu yang dipelajari tanpa adanya bimbingan dari seorang guru niscaya setan lah yang menjadi gurunya.

Adapun memilih guru, sebaiknya penuntut ilmu hendaknya memilih guru yang lebih alim dan wira‟i serta lebih tua usianya. Sebagaimana Imam Abu Hanifah di masa belajarnya memilih seorang guru Syekh Hammad bin Abi Sulaiman setelah beliau benar-benar merenung dan berpikir. Beliau memilih guru dari kalangan seorang ulama yang paling alim pada zamannya dan lebih tua usianya serta wira‟i .

  1. Seorang pelajar hendaknya patuh kepada gurunya serta tidak membelot dari pendapat (perintah dan anjuran- anjurannya). Bahkan idealnya, sikap pelajar kepada gurunya adalah laksana sikap seorang pasien kepada seorang dokter ahli yang menangani (penyakit)nya. Oleh karena itu, hendaknya selalu meminta saran terlebih dahulu kepada sang guru atas apapun yang akan ia lakukan serta berusaha mendapatkan restunya. Sesungguhnya kehinaan seorang pelajar di hadapan gurunya justru merupakan suatu kemuliaan. Ketundukannya adalah suatu kebanggaan. Dan kerendahan hati terhadapnya adalah suatu keluhuran.

  2. Memiliki pandangan yang mulia terhadap guru serta meyakini akan derajat kesempurnaan gurunya. Sikap yang demikian ini akan mendekatkan kepada keberhasilan seorang pelajar dalam meraih ilmu pengetahuan yang bermanfaat.
    Diriwayatkan dari Abu Yusuf bahwa sebagian ulama salaf pernah berkata:

Barang siapa tidak memiliki tekad memuliakan guru, maka ia termasuk orang yang tidak beruntung.

Sebagai wujud penghormatan seorang pelajar kepada guru, di antaranya, adalah tidak memanggil gurunya dengan panggilan “kamu,” “Anda”, dan lain sebagainya, termasuk panggilan langsung nama gurunya itu. Apabila ia hendak memanggil gurnya, seyogyanya ia memanggil dengan menggunakan sebutan “Ya Sayyidi (wahai Tuanku),” “Ya Ustadzi (wahai Guruku)”, dan sejenisnya. Hal yang demikian itu demi mengagungkan kedudukan seorang guru.

Kesuksesan cita-cita seseorang disebabkan ia sangat mengagungkan ilmu, ulama dan guru serta memuliakan dan menghormatinya. Sebaliknya kegagalan seseorang dalam belajar itu karena tidak mau mengagungkan, memuliakan dan menghormatinya, bahkan meremehkannya. Sementara ulama mengatakan, bahwa menghormat itu lebih baik daripada taat. Ketahuilah, bahwa manusia tidak akan kufur disebabkan berbuat kemaksiatan. Tapi manusia dapat menjadi kufur lantaran tidak mau menghormat perintah Allah dan larangan-Nya dengan meremehkan dan menganggap ringan serta sepele.

  1. Mengerti akan hak-hak seorang guru serta tidak melupakan keutamaan-keutamaan dan jasa-jasanya. Selain itu, ia juga hendaknya juga selalu mendo’akan gurunya baik ketika masih hidup ataupun telah meninggal dunia (wafat), serta menghormati keluarga dan orang-orang terdekat yang dicintainya.
    Apabila sang guru telah wafat, seorang pelajar hendaknya menyempatkan diri berziarah ke makamnya, memohonkan ampun kepada Allah SWT atasnya, bershadaqah untuknya, serta melestarikan tradisi-tradisi mulia yang pernah dilakukannya menyangkut petunjuk hidup, agama, dan ilmu pengetahuan. Kemudian hendaknya ia juga berakhlak sebagaimana akhlak yang dipedomani oleh gurunya serta tidak membangkang (berkhianat) kepadanya.

  2. Bersabar atas kerasnya sikap atau perilaku yang kurang menyenangkan dari seorang guru. Sikap dan perilaku seorang guru yang semacam itu hendaknya tidak mengurangi sedikitpun penghormatan seorang pelajar terhadapnya apalagi sampai beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh gurunya itu adalah suatu kesalahan.
    Seorang pelajar juga hendaknya membangun anggapan yang positif bahwa seburuk apapun perlakuan guru terhadapnya merupakan suatu nikmat yang dianugerahkan Allah Swt. Kepadanya sebagai wujud perhatian seorang guru terhadap muridnya.29

  3. Meminta izin terlebih dahulu setiap kali hendak memasuki ruangan pribadi guru, baik ketika guru sedang sendirian ataupun saat ia sedang bersama orang lain. Apabila sang guru mengetahui kedatangannya namun tidak memersilahkan masuk, maka sebaiknya ia beranjak dari ruangan itu. Adapun jika ia masih belum yakin apakah sang guru telah mengetahui kedatangannya atau belum, maka hendaknya ia mengulangi lagi permintaan izinnya namun dengan catatan tidak lebih dari 3 (tiga) kali.
    Apabila saat berkunjung ia tidak mendapati gurunya berada di tempat (kediaman atau tempat mengajar), maka sebaiknya ia bersabar menunggu (tidak segera pulang) supaya ia tidak ketinggalan suatu pelajaran yang akan disampaikan. Namun demikian, ketika menunggu seorang guru ia tidak diperkenankan melakukan hal-hal kegaduhan yang dapat memancing gurunya agar lekas keluar (menemuinya). Begitupun ketika ia mengetahui gurunya sedang tidur, maka hendaknya ia bersabar menunggu hingga gurunya tersebut bangun dari tidurnya.
    Selain itu, perlu diketahui bahwa setinggi apapun status sosial seorang pelajar, ia tidak sepantasnya meminta waktu khusus kepada gurunya, terkecuali apabila guru itu sendiri yang menyarankannya lantaran mungkin adanya suatu uzur (keterpaksaan) yang menyebabkan pelajar itu tidak dapat berkumpul bersama para pelajar yang lain, atau karena suatu alasan kemaslahatan (kebaikan) yang dapat diterima akal.

Apabila seorang pelajar duduk di hadapan guru, hendaknya ia duduk dengan penuh sopan santun. Di antara cara duduk yang baik adalah duduk dengan cara bertumpu di atas kedua lutut (bersimpuh), duduk tasyahud (tanpa meletakkan kedua tangan di atas paha), duduk bersila, dan sebagainya. Selain itu hendaknya tidak terlalu sering memalingkan wajahnya (tengak-tengok) di hadapan guru tanpa kepentingan apapun.

Beberapa anjuran lain yang juga harus diperhatikan oleh seorang pelajar ketika berhadapan dengan gurunya adalah sebagai berikut:

  • Apabila terjadi suatu kegaduhan, hendaknya ia tetap tenang dan tidak ikut ribut dan terprovokasi.

  • Tidak bersedekap (menyedekapkan tangan).

  • Tidak mengangkat atau membuka tangan tinggi-tinggi.

  • Tidak iseng (bermain-main) dengan memainkan tangan, kaki, atau anggota tubuh yang lain.

  • Tidak membuka mulut (membiarkannya menganga).

  • Tidak menggerak-gerakkan gigi (rahang).

  • Tidak terlalu sering “dehem”.

  • Tidak memukul-mukulkan telapak tangan atau jari ke atas tanah (meja, lantai, dsb.).

  • Menutup mulut ketika terpaksa harus menguap.

  1. Berbicara dengan baik dan sopan di hadapan guru.Ketika berbicara dengan guru, seorang pelajar hendaknya tidak melontarkan kata-kata yang bernada terlalu menyelidik (ragu) seperti “mengapa”, “saya tidak menerima”, “siapa yang mengutip/menukil ini”, “di manakah tempatnya”, dan lain sebagainya. Jika memang ia ingin meminta penjelasan lebih lanjut dari gurunya, hendaknya ia mengutarakan maksudnya itu dengan bahasa yang lebih santun.

Jika misalnya seorang guru melakukan kekeliruan ketika memberikan suatu pernyataan atau saat mengutip suatu dalil, maka hendaknya ia tidak lekas menapakkan wajah tanda ketidaksetujuannyaa. Akan tetapi sebaiknya ia tetap tenang demi menjaga perasaan gurunya. Karena bagaimanapun guru adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan kekeliruan. Guru juga bukan seorang Nabi atau Rasul yang memiliki sifat ma‟shum (terbebas dari kesalahan).

  1. Ketika seorang murid (pelajar) mendengarkan gurunya tengah menjelaskan suatu keterangan, hikmat (ungkapan/peribahasa), hikayat (cerita), ataupun syair yang telah ia ketahui sebelumnya, ia hendaknya tetap menyimaknya dengan baik seolah-olah ia sama sekali belum pernah mendengar sebelumnya.
    Kemudian, jika suatu saat misalnya murid diminta/ditawari oleh gurunya agar menjelaskan suatu persoalan, sebaiknya ia tidak lekas menjawab “ya” (menyanggupi/bersedia) meskipun mungkin sebenarnya ia mampu. Karena, jawaban semacam itu dapat mengindikasikan bahwa si murid tidak lagi membutuhkan penjelasan dari gurunya. Namun demikian, hendaknya ia tidak segera menjawab “tidak” (tidak mampu) dalam hal-hal yang ia mampu menjelaskannya. Sebab, dengan jawaban seperti itu berarti ia telah berdusta kepada gurunya. Jadi, salah satu jawaban yang paling baik (bijak) adalah dengan mengatakan, “Saya akan lebih senang mendengarkan penjelasan langsung dari guru atas persoalan tersebut.

  2. Tidak mendahului seorang guru dalam menjelaskan suatu persoalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa lain. Lebih-lebih dengan maksud menampakkan (pamer) pengetahuan (kepintaran)nya di hadapan guru. Hendaknya ia juga tidak memotong pembicaraan/penjelasan gurunya ataupun mendahului perkataanya.
    Etika lain yang harus dimiliki oleh seorang pelajar adalah selalu berkonsentrasi menghadapi gurunya. Sehingga apabila sang guru memberikan suatu perintah atau memintanya mengerjakan sesuatu ia bisa langsung tanggap dan melaksanakannya tanpa harus sang guru mengulangi perkataannya.

  3. Jika seorang guru memberikan sesuatu (berupa buku/kitab atau bacaan) agar si murid membacakannya di hadapan guru, ia hendaknya meraihnya dengan menggunakan tangan kanan kemudian memegangnya dengan kedua belah tangan. Lalu apabila ia telah selesai membaca, hendaknya ia mengembalikannya lagi kepada guru tanpa meninggalkan sedikitpun lipatan pada setiap lembar halamannya. Demikian juga ketika guru memintanya memberikan suatu kitab atau sejenisnya, ia hendaknya memberikannya dengan terlebih dahulu membuka (menyiapkan) halaman-halaman yang akan dibacakan oleh gurunya itu.