Bagaimana potensi Media Sosial sebagai platform utama dari e-commerce di masa mendatang?

Seperti yang kita ketahui sekarang, media sosial merupakan sebuah jajaran berbasis Web dimana mempermudahkan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain apalagi dengan vitur seperti panggilan langsung, video call, berkirim gambar/video, dll. Selain itu juga mulai bermunculan berbagai iklan e-commerce dalam media sosial saat ini dimana fungsinya sama dengan Web platform e-commerce yang dibuat oleh perusahaan yaitu untuk memasarkan produk yang mereka punya. Melihat makin maraknya iklan pada media sosial, Akankah media sosial akan menjadi platform utama dari e-commerce di masa mendatang?


Kita hidup di era dimana perubahan menyapu dunia pengusaha kecil. Bisnis online telah menciptakan jalan baru bagi orang-orang yang ingin membangun bisnis mereka. Banyak konsumen lebih suka berbelanja online daripada di dalam toko. Untuk bisnis e-commerce, kemampuan untuk terhubung dengan pelanggan melalui web dengan cara itu hanyalah mimpi di masa lalu. Ini hanyalah salah satu dari sekian banyak keuntungan dari e-commerce. Dan diperkirakan di masa mendatang media social merupakan sebagai pusat dari e-commerce.

Selama beberapa dekade, kunci pemasaran dan periklanan menempatkan iklan secara langsung di depan mata kita. Tapi hari ini, situasinya sedikit berbeda. Dengan beberapa klik saja, merk apa pun, besar atau kecil, produsen dapat membuat laman atau iklan pada media sosial yang dapat menarik potensi jutaan pembelanja tanpa mengeluarkan satu sen pun. Media sosial tidak hanya murah, tapi juga memungkinkan percakapan dua arah antara produsen dan konsumen dan mengubah model pemasaran yang biasa.

Melalui alat yang luar biasa ini, kita sekarang dapat membuat tautan ke demografis yang langsung, pribadi, dan praktis. Bahkan, pelanggan sekarang berharap dapat menemukan pengalaman sosial dan dukungan pelanggan online dari situs web e-commerce mana pun yang mereka gunakan. Kini pelanggan juga dapat berbagi kepuasan dan keluhan mereka secara umum, berinteraksi dengan produsen dan bahkan dapat berbagi pengalaman menggunakan produk yang telah dibeli. Jika di masa sebelumya, jual beli hanya bisa dilakukan apabila bertemunya produsen dengan konsumen atau antara penjual dan pembeli. Namun di masa sekarang banyak sekali web sebagai platforms dari e-commerce yang menyediakan berbagai iklan produk yang telah disertai segala macam keterangan untuk menarik minat pembeli dan memungkinkan proses jual beli tanpa harus langsung bertatap muka dan memudahkan untuk melakukan transaksi dimana pun kita berada.

Tapi dengan begitu banyak sekali pilihan platforms e-commerce di luar sana yang telah disediakan, sulit untuk mengetahui platform sosial mana yang tepat untuk toko e-commerce kita. Namun jika kita mengingat kembali bagaimana meningkatnya pengguna media social dari tahun ke tahun , tentu ini dapat membuat para produsen melirik media social sebagai platforms e-commerce mereka dan dirasa lebih mudah serta strategis selain biaya yang murah juga lebih efektif karena dapat dilihat oleh semua pengguna media social tersebut.

Berikut adalah beberapa media social yang dapat dijadikan sebagai platforms e-commerce :

1. Facebook

Dengan hampir 2 miliar pengguna Facebook yang aktif, Facebook adalah pusat pengguna media sosial. Sebenarnya, sebagian besar pengguna e-commerce menemukan halaman Facebook lebih menguntungkan daripada situs perusahaan yang memang disediakan sebagai platforms e-commerce . Hal ini karena konsumen lebih cenderung melihat posting Facebook kita beberapa kali dalam seminggu daripada mengunjungi beranda kita. Dan baru-baru ini, Facebook telah meluncurkan Dynamic Ads dimana dapat melacak informasi penjelajahan pengguna untuk memberikan iklan produk yang ditargetkan.

2. Twitter

Twitter adalah media sosial yang berbeda. Batas komunikasi lebih pendek (140 karakter) yang berarti pesan panjang kita mungkin terbaik untuk situs lain. Sebagai gantinya, kutipan inspirasional yang terkait dengan industri kita akan ditautkan ke video atau posting blog penting kemudian kirim lansiran tentang produk baru, diskon dan penjualan.

Perlu diingat bahwa media sosial sering menjadi forum publik untuk keluhan pelanggan. Mengatasi permintaan pelanggan dengan cepat untuk mencegah prasangka negative tentang usaha kita. Di sisi lain, memastikan untuk selalu mempromosikan komentar positif dengan retweeting dan berterima kasih pada post aslinya.

3. Instagram

Instagram merupakan aplikasi untuk berbagi foto mobile. Itulah sebabnya kita akan sering melihat produk yang berhasil menarik minat pembelanja dengan memasang gambar dari dirinya sendiri mengenakan atau menggunakan produk mereka, terkadang dengan imbalan kode kupon atau promosi diri secara bersama. Instagram juga bereksperimen dengan periklanan dan e-commerce langsung dari platform mereka. Kemudian dipastikan selalu menggunakan banyak hashtag yang relevan untuk membantu pengguna menemukan produk kita.

4. Snapchat

Snapchat sangat sulit bagi pengguna non-Millennial untuk mengerti. Mengapa ada orang yang menginginkan pesan foto atau video 10 detik yang hanya bisa dilihat selama 24 jam? Sementara pesan Snapchat segera hilang dari waktu ke waktu, platform ini sebanding dengan ukuran Twitter dan memiliki lebih banyak keterlibatan daripada platform media sosial lainnya.

5. Youtube
Sering dikatakan bahwa sebuah gambar bernilai seribu kata. Video online sangat populer, dengan orang dewasa menghabiskan hampir 5,5 jam dengan konten video daring setiap hari. Salah satu caranya yaitu dengan mengeposkan video yang informatif sekaligus kombinasi pakaian trendi. Ambil kesempatan untuk menjawab pertanyaan umum terkait . Dan pada akhirnya, bisnis kita tidak memerlukan semua platform untuk membuat pernyataan. Tapi ada baiknya menggunakan kombinasi. Bereksperimen untuk melihat apa yang terasa tepat untuk produsen dan pelanggan.

Refrensi :

https://socialnomics.net/2017/03/21/what-social-media-platforms-are-best-for-ecommerce-marketing/

Pada dasarnya, e-commerce dan media sosial memiliki fungsi yang berbeda. Media sosial memiliki fungsi untuk menerima dan menyalurkan informasi serta berkomunikasi dengan orang lain. Sementara e-commerce berfungsi sebagai media jual-beli online, sarana yang mempertemukan antara penjual dan pembeli di dunia maya. Namun seiring dengan pertumbuhan pengguna media sosial , maka terjadi pergeseran yang akhirnya membawa pengguna medsos ke e-commerce meski dalam jumlah yang masih kecil.

Seperti pada Facebook yang menghadirkan fitur fanspage atau group dimana fitur ini banyak dimanfaatkan oleh korporat atau online shop untuk menjalankan bisnisnya. Jumlah pengguna Facebook yang sangat besar dimanfaatkan sebagai sarana promosi atau menyebarkan informasi produk suatu bisnis online. Penyebaran informasi yang cepat dan kemudahan berbelanja secara online inilah yang memicu pertumbuhan perilaku belanja online.

Meskipun saat ini media sosial dianggap sebagai sarana yang cukup ampuh dalam mempengaruhi minat belanja masyarakat secara online, namun beberapa kalangan masih meragukan fungsi media sosial sebagai sarana e-commerce. Media sosial saat ini masih sebatas pada penyebaran informasi produk.
Media sosial masih membutuhkan waktu untuk mengembangkan diri agar menjadi e-commerce dengan basis sistem informasi yang sudah ada didalamnya. Fitur-fitur yang ada pada media sosial masih membutuhkan berbagai penyempurnaan fungsionalitas seperti yang sudah ada pada e-commerce.
Meskipun demikian, peluang perubahan platform pada medsos ini masih terbuka. Mengingat adanya penambahan fitur-fitur baru yang disediakan secara berkala yang pada akhirnya dapat mendukung fungsi e-commerce.

Semoga dengan bertambahnya fungsi media social sebagai platform e-commerce dapat menguntungkan bagi kita semua, bagaimanapun juga jaman sekarang kita sudah harus bisa memanfaatkan internet sebagai salah satu kebutuhan sehari hari.

Keberadaan jaringan 4G dan harga telepon seluler (ponsel) yang semakin terjangkau telah meningkatkan peneterasi internet bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei Asosiasi Pengusaha Jaringan Internet Indonesia (APJII) di tahun 2016, terdapat 132,7 juta orang atau 51,8% dari penduduk Indonesia yang telah memiliki akses terhadap internet.

Pengguna internet di tahun 2014 adalah sebesar 88,1 juta atau 34,9% dari jumlah penduduk pada tahun tersebut. Terjadi peningkatan sebesar 50.6% pengguna internet di Indonesia, antara 2014 hingga 2016.
Jika dilihat berdasarkan usia, kelompok usia yang paling besar peneterasi penggunaan internetnya adalah kelompok usia 25-34, yaitu 75,8% penduduk pada kelompok usia tersebut aktif menggunakan internet. Kelompok kedua adalah 10-24 tahun, dengan proporsi pengguna sebesar 75.5%. Oleh karena itu, kelompok ini pula yang seringkali disebut sebagai generasi milenial. Generasi yang memanfaatkan internet dalam kehidupannya, termasuk diantaranya ketika berbisinis.

Internet menyediakan platform bagi jual beli dengan biaya yang murah. Dengan hanya mengeluarkan biaya untuk koneksi internet, produk/jasa dapat diiklankan dengan cuma-cuma melalui beragam media social yang tersedia. Berdasarkan survey APJII (2016), hampir semua pengguna internet pasti (97,4%) mengakses media sosial ketika menggunakan internet. Akses media sosial merupakan yang tertinggi, diikuti dengan hiburan (96,8%), berita (96,4%), pendidikan (93,8%), komersial (93,1%), dan layanan publik (91,6%). Selain itu, 78% dari populasi pengguna internet pernah melakukan belanja online, lebih tinggi dibanding populasi pengguna internet di Amerika Serikat (75%) (McKinsey&Company, 2016).
Kondisi ini mendukung perkembangan e-commerce, atau bisnis secara online. Studi yang dilakukan McKinsey melaporkan potensi kontribusi ekonomi berbasiskan digital adalah sebesar USD 150 triliun di tahun 2025.

E-commerce sendiri sebetulnya sudah berlangsung sejak lama. Bahkan business dictionary, memiliki arti yang sangat luas terhadap e-commerce ini. Jika proses pembayaran dilakukan melalu kartu debit/kredit saja, maka orang tersebut sudah terlibat dalam e-commerce.

Saat ini, hampir semua toko membuat laman toko secara daring. Sehingga memungkinkan konsumennya berbelanja secara daring tanpa harus datang ke tokonya secara fisik. Tidak hanya toko-toko yang telah memiliki nama besar, seperti Starbucks, Bodyshop, Uniqlo, para pedagang yang memiliki toko di ITC pun mulai menjual produknya secara daring, baik melalui marketplace seperti tokopedia dan Lazada, tetapi juga melalui media sosial, seperti Instagram dan Facebook.

Di Indonesia, salah satu bisnis yang dinilai sukses memanfaatkan internet di Indonesia adalah ojek/taksi online serta belanja online. Bahkan Go-jek diprediksi akan segera menjadi perusahaan Unicorn, atau perusahaan dengan valuasi lebih dari $1 miliar.

Media Sosial sebagai Pemicu Perilaku Belanja Online
Pada dasarnya, e-commerce dan media sosial memiliki fungsi yang berbeda. Media sosial memiliki fungsi untuk menerima dan menyalurkan informasi serta berkomunikasi dengan orang lain. Sementara e-commerce berfungsi sebagai media jual-beli online, sarana yang mempertemukan antara penjual dan pembeli di dunia maya. Namun seiring dengan pertumbuhan pengguna media sosial , maka terjadi pergeseran yang akhirnya membawa pengguna medsos ke e-commerce meski dalam jumlah yang masih kecil.

Seperti pada Facebook yang menghadirkan fitur fanspage atau group dimana fitur ini banyak dimanfaatkan oleh korporat atau online shop untuk menjalankan bisnisnya. Jumlah pengguna Facebook yang sangat besar dimanfaatkan sebagai sarana promosi atau menyebarkan informasi produk suatu bisnis online. Penyebaran informasi yang cepat dan kemudahan berbelanja secara online inilah yang memicu pertumbuhan perilaku belanja online.

Potensi media sosial sebagai platform utama dari e-commerce di masa mendatang sangatlah bagus. Mengingat jumla pengguna internet dan sosial media teru meningkat dengan pesat. dan saat ini, hampir semua orang di penjuru dunia sudah menggunakan smartphone.

SUMBER :