Bagaimana Pertumbuhan dan Perkembangan Emosi Pada Anak?

perkembangan emosi pada anak

Emosi dapat juga beradaptasi dan berkembang seperti tingkah laku. Emosi membutuhkan pengalaman dan pematangan untuk dapat dikendalikan dengan baik. Semakin besar atau dewasa individu maka kemampuannya untuk mengendalikan emosi akan semakin kuat. Perkembangan emosi melalui proses belajar hanya berlangsung sampai dengan satu tahun usia. Setelah itu perkembangan yang terjadi adalah ditentukan oleh proses belajar.

Perubahan Fisiologis dalam Emosi

Pada saat emosi muncul maka ada perubaha perubahan yang terjadi pada tubuh atau fisik.

  1. Galvanic Skin Respon
    Pada emosi terangsang, terdapat perubahan listrik pada kulit yang dapat diamati. Elektrode ditempelkan pada kulit untuk dihubungakan pada galvanometer. GSR merupakan indikator yang cukup peka terhadap perubahan emosional.

  2. Peredaran Darah
    Terjadi perubahan dalam peredaran darah seperti perubahan tekanan darah, permukaan kulit membesar dan memiliki lebih banyak darah, denyut jantung meningkat, nafar meningkat, respon pupil mata membesar, sekresi air liur pada waktu perangsangan emosional, gerakan usus meningkat, ketegangan otot, dan perubahan komposisi darah. Indikator tersebut menunjukkan jika emosi mampu berpengaruh secara luas terhadap tubuh.

Perkembangan Emosi pada Anak Usia Sekolah


Perkembangan emosi pada anak melalui beberapa fase yaitu :

1. Pada bayi hingga 18 bulan

  • Pada fase ini, bayi butuh belajar dan mengetahui bahwa lingkungan di sekitarnya aman dan familier. Perlakuan yang diterima pada fase ini berperan dalam membentuk rasa percaya diri, cara pandangnya terhadap orang lain serta interaksi dengan orang lain. Contoh ibu yang memberikan ASI secara teratur memberikan rasa aman pada bayi.

  • Pada minggu ketiga atau keempat bayi mulai tersenyum jika ia merasa nyaman dan tenang. Minggu ke delapan ia mulai tersenyum jika melihat wajah dan suara orang di sekitarnya.

  • Pada bulan keempat sampai kedelapan bayi mulai belajar mengekspresikan emosi seperti gembira, terkejut, marah dan takut.

Pada bulan ke-12 sampai 15, ketergantungan bayi pada orang yang merawatnya akan semakin besar. Ia akan gelisah jika ia dihampiri orang asing yang belum dikenalnya. Pada umur 18 bulan bayi mulai mengamati dan meniru reaksi emosi yang di tunjukan orang- orang yang berada di sekitar dalam merespon kejadian tertentu.

2. 18 bulan sampai 3 tahun

  • Pada fase ini, anak mulai mencari-cari aturan dan batasan yang berlaku di lingkungannya. Ia mulai melihat akibat perilaku dan perbuatannya yang akan banyak mempengaruhi perasaan dalam menyikapi posisinya di lingkungan. Fase ini anak belajar membedakan cara benar dan salah dalam mewujudkan keinginannya.

  • Pada anak usia dua tahun belum mampu menggunakan banyak kata untuk mengekspresikan emosinya. Namun ia akan memahami keterkaitan ekspresi wajah dengan emosi dan perasaan. Pada fase ini orang tua dapat membantu anak mengekspresikan emosi dengan bahasa verbal. Caranya orang tua menerjemahkan mimik dan ekspresi wajah dengan bahasa verbal.

  • Pada usia antara 2 sampai 3 tahun anak mulai mampu mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Anak mulai beradaptasi dengan kegagalan, anak mulai mengendalikan prilaku dan menguasai diri.

3. Usia antara 3 sampai 5 tahun

  • Pada fase ini anak mulai mempelajari kemampuan untuk mengambil inisiatif sendiri. Anak mulai belajar dan menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan anak lain, bergurau dan melucu serta mulai mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.

  • Pada fase ini untuk pertama kali anak mampu memahami bahwa satu peristiwa bisa menimbulkan reaksi emosional yang berbeda pada beberapa orang. Misalnya suatu pertandingan akan membuat pemenang merasa senang, sementara yang kalah akan sedih.

4. Usia antara 5 sampai 12 tahun

  • Pada usia 5-6 anak mulai mempelajari kaidah dan aturan yang berlaku. Anak mempelajari konsep keadilan dan rahasia. Anak mulai mampu menjaga rahasia. Ini adalah keterampilan yang menuntut kemampuan untuk menyembunyikan informasi- informasi secara.

  • Anak usia 7-8 tahun perkembangan emosi pada masa ini anak telah menginternalisasikan rasa malu dan bangga. Anak dapat menverbalsasikan konflik emosi yang dialaminya. Semakin bertambah usia anak, anak semakin menyadari perasaan diri dan orang lain.

  • Anak usia 9-10 tahun anak dapat mengatur ekspresi emosi dalam situasi sosial dan dapat berespon terhadap distress emosional yang terjadi pada orang lain. Selain itu dapat mengontrol emosi negatif seperti takut dan sedih. Anak belajar apa yang membuat dirinya sedih, marah atau takut sehingga belajar beradaptasi agar emosi tersebut dapat dikontrol (Suriadi & Yuliani, 2006).

  • Pada masa usia 11-12 tahun, pengertian anak tentang baik-buruk, tentang norma-norma aturan serta nilai-nilai yang berlaku di lingkungannya menjadi bertambah dan juga lebih fleksibel, tidak sekaku saat di usia kanak-kanak awal. Mereka mulai memahami bahwa penilaian baik-buruk atau aturan-aturan dapat diubah tergantung dari keadaan atau situasi munculnya perilaku tersebut. Nuansa emosi mereka juga makin beragam.