Bagaimana perspektif Islam tentang stress?

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup muslim, menyampaikan pesan kepada kita agar dapat mengendalikan emosi sedih dan gembira. Tidak semestinya seseorang larut dalam kesedihan atau tekanan psikologis lantaran sesuatu: ketakutan, kelaparan, kekurangan harta kehilangan jiwa maupun kekurangan makanan (buah-buahan). Begitu pula larut dalam kesombongan, keangkuhan, riya atau membanggakan diri jika memperoleh kesuksesan: jabatan, keunggulan atau prestise.

Sebab segala gangguan dan musibah yang menimpa itu merupakan ujian dari Allah SWT.

Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Surat Al-Hadid Ayat 22

(kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai Setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Surat Al-Hadid Ayat 23

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Surat Al-Baqarah Ayat 155

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Surat Al-Baqarah Ayat 156

Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. Surat Al-Baqarah Ayat 157

Mereka menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, Maka janganlah kamu Termasuk orang-orang yang berputus asa”. Surat Al-Hijr Ayat 55

Ibrahim berkata: “tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat”. Surat Al-Hijr Ayat 55

Berdasarkan ayat di atas, secara umum Allah berpesan agar kita mampu menguasai, mengendalikan dan mengontrol emosi atas semua musibah dan cobaan yang terjadi. Ini berarti bahwa apapun yang terjadi pada diri kita hendaknya tidak membuat jiwa tertekan yang akhirnya dapat memicu timbulnya stress.

Bagaimana perspektif Islam tentang stress ?

1 Like

Menurut islam, stress adalah sesuatu yang harus kita kelola, bukan kita hindari. Karena sejatinya, sangat manusiawi apabila manusia mengalami stress. Didalam AlQuran terdapat tiga hal utama dimana Al-Quran memberikan petunjuk dalam pengelolaan stress.

Sabar


Jika stress menghadapi masalah yang sukar diputuskan “salah atau benarnya sesuatu“ maka Al-Quran memberi petunjuk “ fa shabrun jamil “ ( Maka bersabar itu lebih indah ). Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan. (QS. Yusuf :18).

"Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Ucapan itu disampaikan Nabi Ya’kub, ketika anak-anaknya datang membawa kemeja yang berlumuran darah kepunyaan Yusuf, sebagai bukti bahwa ia telah diterkam binatang buas. Daripada stress, karena darahnya meragukan, Nabi Ya’kub berkata “Sabar itu lebih indah”.

Demikian Siti Maryam, ketika dituduh melacur karena melahirkan anak (Isa) tanpa ayah, juga sabar, untuk mengobati stres yang berkepanjangan. Bahkan Aisyah, isteri Rasul, ketika digossip, juga menjadikan Sabar sebagai pengobatan dalam stress.

Dzikrullah


Mengingat Allah (dzikrullah) termasuk dapat mengatasi stres. Dengan mengingat dan mengembalikan segalanya dari dan untuk Allah, maka stres akan dapat diatasi, sesuai Al-Quran, “tathmain al-qulub“ (Mengingat Allah, hati akan tenang) (QS. Al-Raad 28 ).

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Menurut ulama tafsir, yang masuk dzikrullah, adalah melakukan salat, membaca Al-Quran dan langsung menjebut Lailaha ilallah sebanyak-banyaknya. Diperkuat Al-Quran dengan ayat “Dan carilah pertolongan, dengan berlaku Sabar dan mengerjakan Salat (QS.al-Baqarah: 45).

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’,

Menurut Huzaifah, bila Nabi bersedih atau menghadapi masalah, beliau langsung melakukan salat, sekalipun, sedang dalam perjalanan. Memperbanyak dzikrullah berupa salat sunnat, atau membaca Al-Quran, atau istigfar, atau membaca Lailaha Illallah.

Di samping kedua hal tersebut, juga yang dapat mengatasi stres, adalah akidah dengan meyakini kebenaran ayat Al-Quran yang berbunyi “inna ma’al usri yusra (Sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan. Setelah kesulitan, ada kemudahan). (Q.S. Al-Insyirah: 5-6 ).

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Menurut ulama tafsir, karena kata kesulitan (Al-usri), menggunakan “al” dan kemudahan (Yusra) tidak menggunakan “al “ , itu artinya kesulitan itu cuma satu macam, tapi ada beberapa solusi kemudahan. Berarti dua alternatif kemudahan dalam satu kesulitan.

Qona’ah, Iffah dan Syukur


Mahmud Muhammad al-Khazandar (2008) menjelaskan, yang dimaksud dengan Qana’ah adalah merasa cukup dengan apa yang telah diterima dari Allah SWT, sementara ’iffah berarti suci, jauh dari sifat yang tidak baik, dan menahan diri dari meminta kepada sesama manusia.

Salah satu stressor adalah psikososial terdiri dari stress adaptasi, frustrasi, overload, dan deprivasi. Stress jenis ini muncul lantaran apa yang menjadi harapan tidak sesuai dengan realitas yang terjadi sehingga terjadi kegoncangan jiwa. Oleh karena itu, sifat qana’ah sangat diperlukan untuk menetralisir ketegangan akibat peristiwa yang menimpanya.

Di antara teknis menanamkan jiwa qana’ah adalah ”memandang kepada orang yang berada di bawahnya (lebih miskin darinya dalam urusan dunia), agar ia menyadari nikmat Allah kepadanya”.

Sebagaimana di sebutkan dalam hadits:

“Perhatikanlah kepada orang yang di bawah kamu (dalam urusan dunia) dan janganlah kamu memperhatikan kepada orang yang di atasmu. Maka ia lebih pasti bahwa kamu tidak menghinakan nikmat Allah kepadamu.” (Shahih Muslim, kitab zuhud dan raqa`iq, no. 2963)

Di antara yang menguatkan sifat qana’ah adalah mengetahui bahwa meminta adalah kehinaan di dunia, siksaan dan sangat memalukan di akhirat.

Dalam hal itu, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang meminta harta kepada manusia karena ingin menambah, maka sesungguhnya ia meminta bara api, maka hendaklah ia cukup dengan sedikit atau memperbanyak.” (Shahih Muslim, kitab zakat, bab ke-35, no. 1041)

Demikian pula:

“Barangsiapa yang meminta, sedangkan ia mempunyai sesuatu yang mencukupi (kebutuhan)nya, maka sesungguhnya ia memperbanyak dari api neraka.” ) (Shahih Sunan Abu Daud, kitab zakat, bab ke-24, no. 1435/1629)

Sifat qana’ah adalah merupakan gambaran syukur dan ridha yang tertinggi:

“Dan jadilah engkau orang yang bersifat qana’ah, niscaya engkau menjadi manusia paling bersyukur.” ( Shahih al-Jami’ no. 45800).

Alhasil, dari uraian singkat diatas, dipahami mengatasi stress sesuai Al-Quran di samping mencari solusi berupa pengobatan lahir, juga diperlukan pengobatan batin, yaitu meyakini kesempurnaan Tuhan, dan meyakini kekurangan manusia, serta kaifiatnya, banyak bersabar, salat, istigfar dan zikir. Praktek Rasul SAW dalam mencari penyegaran dan menghilangkan stres, di antaranya dianjurkan kepada umatnya berpuasa dan bercampur isteri dua kali seminggu.

Selain dari yang telah diuraiakan di atas, menurut dokter neorologi, perasaan stress sering menjadi ”musuh dalam selimut”. Perasaan ini datang tiba-tiba dan sulit dikendalikan. Bila tidak, dapat memicu timbulnya berbagai penyakit, seperti jantung, darah tinggi dan stroke. Ibarat “sedia payung sebelum hujan”. Menghindari stress ada baiknya dilakukan cara berikut:

  • Pertama, Mengeluarkan energi positif, yaitu optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Bahwa setiap rencana, ada hambatan tapi ada juga solusi. Sebab itu, harus bersikap lebih fleksibel, sehingga dapat menikmati hidup.

  • Kedua, menjaga kesehatan. Dengan cara olahraga yang teratur, tidur yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Olahraga dapat membuat manusia nyaman. Makanan bergizi membangkitkan vitalitas hidup. Sebab itu Islam memerintahkan mengkonsumsi halalan thayiban atau yang bergizi.

  • Ketiga, banyak minum air putih, terutama saat diambang kemarahan. Air putih, dapat menenangkan perasaan, dan berpikir lebih jernih. Rasulullah menganjurkan kalau marah, hendaklah berwudu dan mendinginkan badan (HR.Muslim).

  • Keempat, meluangkan waktu sedikit, untuk setiap minggu, keluar dari rutinitas, dengan berkumpul bersama keluarga. Atau berkunjung kepada teman-teman. Nabi mengajarkan ”hubungkan silaturahim, sebab dapat menambah rezeki dan memperpanjang umur” (HR.Muslim).

  • Kelima, meningkatkan rasa humor. Nabi SAW dan teman-temannya juga menikmati humor, bermain dan olahraga. Hal ini memungkinkan mereka untuk bersantai baik secara fisik dan mental, dan membantu mereka secara rohani. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Fikiran lelah, seperti halnya badan, jadi tolong perlakukan mereka dengan humor.” Demikian pula, Abu al-Darda r.a berkata, "Aku menghibur hatiku dengan sesuatu yang sepele dalam rangka untuk membuatnya lebih kuat dalam pelayanan kebenaran. "

  • Keenam, istirahat siang; keutamaan istirahat siang adalah untuk relaksasi tubuh sehingga membuat tubuh lebih santai dan membantu tidur pada malam hari menjadi lebih baik. Hal ini dapat dipraktekkan dengan berbaring selama waktu tertentu untuk istirahat santai, bukan tidur sepanjang siang. Waktu yang dianjurkan antara 15-20 menit.

  • Ketujuh, posisi tidur; Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu ingin ke tempat tidur, berwudhulah terlebih dahulu sebagaimana kamu berwudhu untuk sholat. Kemudian berbaringlah di atas lambung kanan”. Dalam hal ini, wudhu membuat tubuh segar, bersih dan siap istirahat. Posisi miring ke kanan merupakan posisi yang membuat tubuh dapat berpindah dari satu sisi ke sisi lain dengan lebih mudah tanpa melakukan gerakan besar yang dapat mengurangi kenyamanan waktu tidur.

  • Kedelapan, bersedekah; kehidupan yang serba materialistik dan indivudualis banyak melahirkan gangguan mental. Berawal dari kecemasan akan kepemilikan harta benda, status sampai ke penampilan akhirnya berujung pada depresi hingga gangguan jiwa. Terapi terbaik adalah dengan tidak menjadikan harta sebagai Tuhan dan kebebasan individu sebagai raja dan melatih diri untuk bersedekah.