Bagaimana penyebab dan proses terjadinya Perikarditis Traumatika?

Perikarditis traumatika adalah radang perikard yang bersifat kronik, dan terjadi karena tertusuknya retikulum oleh benda tajam yang mengarah ke kranial dan melanjut dengan penembusan diafragma serta pleura. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam proses radang perikard tersebut selalu diikuti dengan infeksi oleh kuman-kuman pembusuk. Bagaimana penyebab dan proses terjadinya?

sapitem

Penyebab
Perikarditis traumatika terjadi sebagai kelanjutan dari penusukan benda tajam dari dalam retikulum. Kuman pembusuk yang terbanyak diisolasi adalah F. necrophorum.

Proses terjadinya
Oleh karena tusukan benda tajam atas perikard akan terjadi radang perikard yang sifatnya lokal (circum atau merata (difus). Sebelumnya akan diawali dengan radang peritoneum, diafragma (phrenitis) dan pleura. Dalam proses penusukan perikard oleh benda tajam, yang terjadi sekali saja atau berulang kali, akan terikutkan kuman-kuman pembusuk. Sebagai reaksi atas tusukan tersebut jaringan elastis, pleura dan perikard, akan mengalami peradangan yang reaksi selanjutnya berupa penebalan kedua jaringan tersebut. Selanjutnya di sekitar proses radang akan terjadi pemecahan komponen darah yang kemudian sebagai jonjot-jonjot fibrin Dalam keadaan lanjut. peri perikard kadang mencapai 1 cm. Karena penebalan tersebut kard kehilangan sifat elastisnya, menjadi kenyal, hingga hal tersebut akan mengurangi keleluasaan kontraksi dan relaksasi jantung Radang akan menghasilkan cairan perikard, atau hidroperikard yang kemudian digunakan oleh kuman-kuman untuk makin berkembang biak. Cairan yang semula jernih akan berubah menjadi mukopurulen yang biasa tercampur dengan darah, hingga warna menjadi kecoklatan. Dalam cairan radang dapat terlihat adanya reruntuhan sel, fibrin dan sel-sel darah. Oleh kerjaan kuman jaringan dan cairan radang jadi berbau amis, sedang gas yang terbebas kan akan berbau busuk. Adanya gas di atas cairan di dalam perikard akan menyebabkan menggembungnya perikard. hingga jantung dengan perikard akan menempati sebagian besar rongga dada. Kompresi cairan perikard ke arah luar akan mengakibatkan kesusahan pernafasan, dispnoea, sedang tekanan ke arah dalam akan makin membatasi kebebasan jantung dalam relaksasi otot-ototnya.

Oleh tercelupnya jantung di dalam cairan kental untuk jangka waktu yang lama akan mengakibatkan degenerasi miokard, hingga kekuatan jantung pun makin menurun. Oleh gangguan sirkulasi (kelemahan jantung) yang disertai dengan kurangnya unsur-unsur makanan yang dapat diserap akan terjadi hipoproteinemia, yang kemudian akan mengakibatkan terjadinya busung (oedem) jaringan. Bagian yang sering mengalami busung adalah kulit di bawah kepala, leher (gelambir), perut bagian bawah, kelenjar susu, dan pada hewan jantan juga pada skrotumnya. Tidak jarang kejadian perikarditis traumatika juga disertai dengan hidrotoraks, hidrops ascites, dan atau hidrops anasarka oleh adanya rasa sakit di daerah dada penderita akan mere- gangkan kaki depannya (sikap abduks). rena rasa sakit pada saat bergerak, penderita menjadi kelihatan malas bergerak. Penderita lebih banyak berdiri, karena bila dipakai untuk tiduran akan mengakibatkan tekanan pada rongga dada.

Referensi: Subronto. 1989. Ilmu Penyakit Ternak I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.