Bagaimana penulisan sebuah artikel ilmiah yang baik agar dapat diterima di jurnal bereputasi?

Artikel Ilmiah - Jurnal

Kegiatan akhir dari sebuah penelitian ilmiah adalah membuat laporan, dimana tulisan laporan mempunyai pengaruh yang besar terkait dengan diterima atau tidaknya laporan penelitian tersebut di Jurnal yang bereputasi.

Bagaimana penulisan sebuah jurnal yang baik ? Apa saja yang harus diperhatikan untuk dapat digunakan sebagai panduan dalam menulis jurnal yang baik ?

Sebagai akademisi sekaligus peneliti, kita mempunyai 2 tugas utama, yaitu menjawab research question (pertanyaan penelitian) yang menarik dan kemudian menceritakan story (kisah) dibalik hasil penelitian yang kita gagas tersebut. Tulisan merupakan media utama yang digunakan untuk mentransfer ide-ide dan knowledge yang kita miliki ke dunia. Jika kita ingin knowledge tersebut dapat berguna bagi dunia akademis, praktisi dan masyarakat luas, kita perlu memperhatikan the craft of writing, story telling, dan clear writing. Poin penting ini berlaku baik untuk penelitian kualitatif maupun kuantitatif.

Menurut Pollock dan Bono (2013), terdapat 3 elemen utama untuk menciptakan storytelling yang baik, yaitu the human face, motion and pacing, dan titles. The human face yaitu bagaimana menggambarkan mengenai konstruk dan konteks penelitian dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca, termasuk pembaca yang awam dengan topik sekalipun. Namun hal ini tidak berarti bahwa artikel akademis harus didominasi oleh konteks penelitian atau menggunakan bahasa yang berbunga-bunga (flowery language). Tetapi, sebagai akademisi yang meneliti perilaku dan tindakan manusia (human behavior), kita harus dapat menggambarkan elemen the human face dalam berteori dan ber-storytelling tanpa mengorbankan fokus teoretis dari artikel yang sedang kita tulis.

Elemen yang kedua yaitu motion and pacing atau gerakan dan tempo. Motion merupakan alur yang mendorong cerita ke depan. Sedangkan pacing, merupakan pengungkapan fakta yang tidak tergesa-gesa sehingga pembaca memiliki cukup waktu untuk memahami dan menyerap ide utama dari artikel. Terdapat beberapa teknik untuk mengatur gerakan dan tempo dari artikel menurut beberapa ahli. Zinsser (2006) menyarankan untuk meminimalisir cluttered language dalam artikel, yaitu setiap kata yang tidak berfungsi, setiap kata panjang yang bisa menjadi kata pendek, setiap kata keterangan yang memiliki arti yang sama dengan kata kerja, dan setiap kalimat pasif yang membuat pembaca tidak yakin siapa yang melakukan apa. Sedangkan cara lain yang dapat dilakukan untuk menciptakan motion adalah dengan memvariasikan panjang kalimat dan paragraf (Flaherty, 2009; King, 1999; Sword, 2012).

Kemudian elemen yang ketiga adalah titles atau judul. Judul artikel memainkan peran penting dalam storytelling, karena judul merupakan kesempatan pertama penulis untuk menarik perhatian pembaca dan menyampaikan esensi dari artikel. Judul yang efektif membangkitkan rasa ingin tahu, menarik perhatian pembaca, dan menyampaikan informasi penting dengan kata-kata yang ekonomis. Judul yang efektif juga sering kali melekat dalam ingatan pembaca, sehingga merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan kemungkinan artikel untuk disitasi oleh peneliti-peneliti selanjutnya.

Kemudian selanjutnya bagaimana proses yang harus dilalui untuk menghasilkan artikel dengan storytelling yang baik dan menarik? Pollock dan Bono (2013) editor dari Academy of Management Journal (Jurnal Internasional Bereputasi Terindeks Scopus Quartil Q1 Top Tier) merumuskan 2 langkah sederhana yang harus dilakukan oleh peneliti, yaitu writing a first draft dan getting feedback. Langkah pertama adalah menulis draf artikel pertama kita. Bagaimanakah draf pertama yang dapat dikatakan bagus? Jawabannya adalah draf artikel yang lengkap, perlu digaris bawahi bahwa tidak mungkin langsung sempurna pada draf artikel pertama kita.

Lalu bagaimana agar draf pertama kita dapat selesai lengkap dengan “tepat waktu”? Terdapat 3 poin utama yang harus dipenuhi selama menulis draf pertama, yaitu consistency, small assignments dan no critics. Poin terpenting adalah consistency. Menulislah selama satu sampai empat jam setiap hari, di tempat yang sama, pada waktu yang sama. Sediakan waktu khusus setiap hari untuk menulis, satu atau empat jam sesuai dengan kesibukan masing-masing. Gunakan headphone untuk peredam noise. Matikan handphone dan wi-fi supaya lebih fokus.

Poin yang kedua, small assignments. Berkomitmen untuk membuat progress setiap harinya pada tulisan kita meskipun sangat sedikit karena pada hari itu misalnya hanya punya waktu 30 menit. Yang penting tetap harus ada poin yang diselesaikan setiap harinya. Misalnya merevisi poin-poin minor revision dari promotor atau peer reviewer atau bahkan hanya melengkapi referensi sesuai dengan style jurnal tujuan. Poinnya adalah selalu berprogresslah setiap harinya, walaupun hanya sedikit progress.

Kemudian aturan ketiga untuk draf pertama adalah no critics, jangan terlalu banyak mengkritisi tulisan sendiri di awal, sehingga akhirnya draf artikel justru tidak kunjung selesai, karena stuck pada satu bagian saja. Sehingga yang terpenting pada draf pertama adalah menulis, menulis dan menulis sampai draf lengkap dan selesai.

Setelah draf pertama selesai, selanjutnya adalah getting feedback untuk tulisan kita. Clark (2006) menganjurkan pengembangan kelompok yang membantu memberikan feedback. Jadi terdapat 3 macam feedback yang kita butuhkan, yaitu supportive friend yang membuat kita terus maju, dengan mengatakan :

“Keep going. Keep writing.”

Experts on your topic and on publishing yang memberikan komentar terkait konten artikel dan cenderung harsh seperti :

“If you submit junk like this, you’ll never publish in reputable journal.”

dan yang ketiga adalah the one with little expertise in your area, yaitu mereka yang memiliki sedikit keahlian di bidang yang sedang kita teliti, mungkin keluarga, pasangan, atau mahasiswa tahun pertama. Pertanyaan dan reaksi mereka akan mencerminkan apakah narasi yang kita bangun menarik dan jelas, bagi mereka yang mungkin awam dengan topik yang kita tulis.

Tips menarik lainnya adalah invest in your writing. Skill menulis kita akan menjadi lebih baik dengan membaca bacaan tentang “menulis”. Tulisan yang buruk jarang menjadi alasan eksplisit penolakan pada jurnal internasional bereputasi, tetapi tulisan yang padat dan kompleks sering kali menjadi alasan reviewer tidak melihat kontribusi dari artikel yang ditulis.

Selain storytelling, salah satu teknik menulis artikel akademis yang perlu dipahami oleh para peneliti untuk dapat menembus jurnal internasional bereputasi adalah “clear writing”. Clear writing? Mungkin terdengar abstrak, namun clear writing merupakan salah satu aspek penting yang dipertimbangkan oleh para editor dan reviewer jurnal-jurnal internasional bereputasi. Tidak ada formula atau template untuk clear writing. Secara sederhana, clear writing didefinisikan sebagai kemampuan penulis untuk mentransfer dengan jelas esensi dari artikel yang ingin disampaikan kepada pembaca. Jadi fokus dari clear writing, bukanlah pada penulis namun pada “pembaca”. Saat menggunakan pendekatan clear writing, penulis meneliti setiap kata dan kalimat yang sesuai untuk makna dan tujuan yang akan disampaikan kepada pembaca. Perlu dipahami bahwa dalam menulis clear writing, tujuan dari menulis artikel bukanlah untuk menunjukkan kepada pembaca seberapa pintar kita sebagai penulis, tetapi untuk membawa pembaca bersama dalam alur cerita yang jelas dan logis.

Ragins (2012) mengelompokkan 3 jenis kesalahan yang seringkali dilakukan oleh para penulis dalam menulis “clear writing”, yaitu Pet Peeve 1: Foggy Writing, Pet Peeve 2: Read My Mind, dan Pet Peeve 3: Story, Story, What’s the Story?. Kesalahan pertama yang sering dilakukan oleh penulis yaitu Foggy Writing. Foggy Writing yaitu penggunaan bahasa kompleks yang tidak perlu yang mengaburkan makna dan membuat pembaca berada dalam kabut (istilah pada artikel ini yang merepresentasikan bahwa makna tidak tersampaikan karena tertutup kabut atau bahasa yang kompleks dari artikel).

Foggy Writing terjadi karena penulis menulis dengan tujuan untuk “mengesankan” daripada mengungkapkan hasil dari penelitian. Selain itu, insecurity penulis untuk mencoba terlihat “ilmiah”, sehingga menggunakan bahasa yang kompleks yang bahkan peneliti sendiri tidak paham. Penulis juga seringkali menganggap konten adalah yang terpenting dalam menulis dan lupa bahwa jika artikel tidak jelas dan ringkas, konten justru tidak akan tersampaikan. Selain itu, foggy writing juga disebabkan oleh kurangnya kejelasan tentang apa yang ingin disampaikan, mengapa mereka ingin menyampaikannya, dan siapa pembacanya.

Cara utama untuk mengatasi foggy writing adalah meluangkan waktu untuk benar-benar memikirkan ide-ide yang ingin disampaikan sebelum mulai menulis. Pastikan bahwa artikel kita telah direview oleh peer sebelum submit ke jurnal tujuan.

“Jangan pernah submit artikel yang belum direview oleh peer yang memberikan umpan balik yang jujur dan terang-terangan, tidak hanya tentang kontribusi teoretis tetapi juga kejelasan tulisan.” (Ragins, 2012)

. Langkah penting selanjutnya adalah mempertimbangkan masukan dan saran dari peer review. Mengabaikan komentar peer justru tidak akan meningkatkan kualitas dari artikel.

“Read My Mind” merupakan kesalahan kedua yang seringkali dilakukan oleh para penulis artikel akademis. Read My Mind merupakan kesalahan ketika pembaca disajikan dengan konsep, jargon, dan akronim yang tidak didefinisikan atau digunakan secara tidak konsisten dalam artikel. Read My Mind terjadi karena penulis memahami topik penelitiannya dengan sangat baik sehingga menganggap orang lain juga sudah mengetahui apa yang dimaksud dalam artikel.

Tips yang dapat dilakukan untuk menghindari read my mind antara lain, penggunaan jargon lebih baik hanya digunakan untuk 2-5 variabel dan sisanya menggunakan kata-kata sehari-hari dan baca kembali artikel bersama dengan co-author untuk menyamakan persepsi dan menemukan kesalahan yang perlu direvisi. Pada clear writing, kalimat dan paragraf mengalir secara alami dari satu ke yang berikutnya tanpa pembaca harus berhenti sejenak untuk memahami bagaimana hubungan antar kalimat dan paragraf tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan peer review seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Permasalahan ketiga terkait dengan alur cerita. Story, Story, What’s the Story?. Cerita yang bagus dimulai dengan introduction yang bagus. Menulis introduction yang kuat memang merupakan tantangan dalam menulis artikel yang efektif. Introduction yang baik menceritakan secara singkat, membawa konteks penelitiannya, menjelaskan kontribusinya (jawaban untuk ‘pertanyaan so what’) dan menarik pembaca ke dalam cerita. Introduction merupakan halaman pertama tempat penulis "grab the reader attention or kill them off”. Buatlah pembaca ingin membaca artikel yang kita tulis.

Story, Story, What’s the Story?, dapat diatasi dengan penulis harus menarik pembaca ke dalam cerita dengan introduction yang kuat, hooks atau kaitan yang menarik, dan alasan yang jelas. Berikan roadmap yang jelas untuk menunjukkan kepada pembaca langkah demi langkah bagaimana proses sampai pada temuan yang dihasilkan. Cerita yang jelas membutuhkan struktur yang jelas.

Menulis adalah sebuah craft (kerajinan), tetapi jika dikerjakan dengan baik, akan menjadi sebuah art (seni). Dapat disimpulkan beberapa poin dari clear writing, yaitu bahwa clear writing membutuhkan banyak waktu dan tenaga, clear writing akan menyederhanakan pikiran kita yang kompleks, clear writing adalah tentang menulis ulang (rewriting), have fun atau bersenang-senanglah dengan menulis artikel. Jadilah sekreatif mungkin dengan tulisan kita, tetapi selalu tempatkan diri sebagai reader. Jadilah diri sendiri saat menulis. Jangan mengatakan apa pun secara tertulis yang tidak nyaman bagi diri kita sendiri.

Kesimpulannya, tujuan akhirnya bukan hanya untuk menerbitkan artikel di jurnal internasional bereputasi tetapi juga untuk menulis artikel yang akan dibaca, digunakan, dan dikutip oleh banyak pembaca. Untuk melakukan ini, kita perlu melihat diri kita tidak hanya sebagai akademisi tetapi juga sebagai penulis. Penulis yang sukses adalah yang memiliki suatu ide yang kompleks untuk disampaikan, namun mampu menyampaikannya dengan sederhana. Tidak ada penulis yang memiliki banyak pembaca dengan membuat gayanya lebih rumit daripada pemikirannya.

Sumber :
Pollock and Bono, (2013). Being Scheherazade: The Importance of Storytelling in Academic Writing, Academy of Management Journal, Vol 56 No 3, 629-634.
Ragins, Belle. (2012). Reflections on The Craft of Clear Writing, Academy of Management Review, Vol. 37 No. 4, 493-501.

3 Likes