Bagaimana penggunaan identifikasi simbol dalam memahami makna tradisi?

Manusia adalah spesies, sebagaimana hewan, yang memiliki dorongan-dorongan untuk memuaskan kebutuhannya. Akan tetapi, dalam memuaskan kebutuhannya itu manusia dan hewan menempuh cara yang berbeda. Hewan hanya menggunakan insting saja dalam bertindak guna memenuhi kebutuhannya, sedangkan manusia menggunakan insting serta menata ulang dorongan instingnya tersebut dalam memenuhi kebutuhannya.

Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia tidak selamanya dapat melakukannya sendiri (individu) akan tetapi ada kalanya bekerjasama dengan individu lainnya. Akibat dari usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhannya, maka dalam masyarakat manusia memiliki kebudayaan. Kebudayaan bagi Malinowsky merupakan respon dari manusia dalam memenuhi kebutuhannya (Soehadha, 2009)

Kebudayaan dalam suatu masyarakat merupakan sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman hidup oleh warga yang mendukung kebudayaan tersebut. Kebudayaan cenderung menjadi tradisi dalam suatu masyarakat dikarenakan kebudayaan dijadikan kerangka acuan dalam bertindak dan bertingkah laku. Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat. Tradisi-tradisi yang berkembang dalam masyarakat diyakini akan membawa kebaikan bagi masyarakat yang mendukungnya. Tradisi tersebut menjadi alat untuk sampai pada tujuan tertentu. Hal itu tergantung pada tradisi apa yang dilakukan dan dalam rangka apa. Masyarakat meyakini bahwa setiap tradisi yang mereka lakukan mempunyai makna yang luhur/baik bagi kelangsungan hidup mereka

Salah satu cara untuk memahami makna sebuah tradisi dapat dilakukan dengan cara melakukan identifikasi atas simbol yang digunakan dalam tradisi tersebut serta melakukan interpretasi terhadapnya. Dengan melihat simbol apa yang ada dalam suatu tradisi akan dapat diketahui makna di dalamnya. Salah satu teori yang dapat digunakan untuk mencari makna di balik suatu tradisi adalah teori simbolik dari Victor Turner.

Istilah simbol berasal dari bahasa Yunani symbollein yang berarti menghubungkan, menggabungkan. Simbol dapat diartikan sebagai sesuatu yang menurut persetujuan bersama, secara natural dianggap menggambarkan dan merepresentasikan hal lain yang memiliki kualitas analog atau yang terkait dengan pikiran atau fakta (Morris, 2007). Simbol menjadi sarana ekspresi diri yang terwujud dalam tindakan-tindakan manusia yang penuh dengan makna tentang tujuan tindakan simbolik tersebut. Menurut Victor Turner, simbol merupakan unit terkecil dari ritual yang menyimpan perangkat-perangkat yang spesifik dari perlakuan-perlakuan dalam suatu ritual, simbol merupakan unit yang penting dan fundamental dari suatu struktur yang khas yang ada dalam ritual

Dalam melakukan penelitian dengan menggunakan antropologi simbol, dengan berbagai kompleksitas yang menyertainya, menurut Turner struktur dan perangkat simbol ritual harus ditarik kesimpulannya dengan mendasarkan pada tiga kelas data sebagai berikut:

  • Bentuk-bentuk luaran (eksternal) dari simbol ritual dan karakteristik yang dapat diobservasi. Bentuk-bentuk luaran ini meliputi peralatan atau benda- benda yang digunakan sebagai simbol dalam ritual.

  • Interpretasi atau penafsiran yang dilakukan oleh ahli dan orang awam ( specialist and layment ).

  • Signifikasi dalam konteks yang lebih besar yang dikerjakan oleh peneliti atau antropolog, atau analisis penafsiran dari peneliti

Adapun dalam upaya memahami makna simbol, Victor Turner mengklasifikasikannya menjadi tiga cara dalam menganalisis simbol ritual, yaitu:

  • Dimensi eksegetik , yaitu makna yang diperoleh dari informan warga setempat tentang perilaku ritual yang diamati. Dengan kata lain, kajian yang dilakukan dengan cara pengamatan dan interview untuk mengetahui tiga aspek, yaitu aspek nominal dari simbol berupa nama simbol, aspek subtansial dari simbol yang dihasilkan dalam pengamatan dengan melihat ciri alamiah simbol, dan aspek faktual berupa objek simbol.

  • Dimensi operasional , kajian ini dilakukan dengan melakukan kajian atas kegunaan simbol-simbol ritual (simbol-simbol yang dilakukan dalam rangka apa).

  • Dimensi posisional , yaitu mencari arti simbol itu dengan cara melihat relasi dari simbol tertentu dengan simbol-simbol yang lain.

Sedangkan dalam analisis menuju kepada pemaknaan atas simbol ritual dilakukan dengan cara mengklasifikasikan data deskriptif melalui tiga cara, yaitu:

  • Kondensasi ( condensation )
    Proses yang dilakukan dengan meringkas ekspresi simbol yang memiliki banyak makna atau bersifat multivokal.

  • Penyatuan ( unification )
    Penyatuan atas makna-makna yang saling terpisah dalam satu formasi simbol dengan kata lain menyatukan arti-arti yang terpisah dalam sebuah ritual.

  • Polarisasi Makna ( polarization of meaning )
    Polarisasi makna dimaksudkan sebagai pemaknaan yang meluas karena sebuah simbol acapkali memiliki banyak arti, dan kadangkala simbol itu memiliki makna yang bertentangan satu sama lainnya.

Salah satu makna dari ragam tradisi yang paling umum adalah tradisi sebagai instrumen pembangunan solidaritas sosial. Aafke Komter berpendapar bahwa gift giving atau pemberian dan kedermawanan memiliki dua fungsi psikologis yaitu membuat ikatan moral antara pemberi dan penerima dan memelihara hubungan sosial yang telah terjalin (Komter, 2005). Dalam kajian tentang gift dan solidarity, Aafke Komter mengambil pendekatan Alan Page Fiske bahwa ada empat model dasar dari pembentukan relasi sosial dalam masyarakat yaitu Community Sharing, Authority Ranking, Equality Matching dan Market Pricing .

  • Community Sharing (Berbagi Dalam Komunitas)
    Hubungan ini adalah hubungan setara yang menyertai keanggotaan dari sebuah komunitas yang di dalamnya berusaha menegaskan keberadaan identitas individualistik. Biasanya berwujud identifikasi kelompok, kepedulian, pertemanan dan solidaritas. Hal ini lahir dari pengalaman panjang mereka yang merasakan menjadi bagian kelompok tersebut, identifikasi nilai serta rasa primordialitas kolektif. Motif berbagi dalam community sharing adalah upaya untuk menjaga kualitas hubungan dalam kelompoknya.

  • Authority Ranking atau Peringkat Otoritas
    Hubungan ini mencerminkan relasi yang asimetris dan tidak setara. Terbentuknya relasi ini ditujukan untuk membentuk klasifikasi kelas dan status sosial . Mereka yang berada di peringkat paling atas memiliki akses untuk memegang otoritas dan selalu memiliki hak perogratif untuk berinisiatif dan menentukan dalam tindakan sosial. Hal ini menjadikan mereka memiliki kuasa untuk membuat keputusan dan menyuarakan pilihannya. Motif pertukaran dalam authority rangking adalah upaya untuk menunjukan kepemilikan status sosial atau posisinya dalam kekuasaan. Beberapa hal yang dijadikan alat seleksi sosial adalah power (kekuasaan), fame (popularitas), prestige (kewibawaan), dan merit (prestasi).

  • Equality matching atau Pertemuan Setara
    Biasanya hubungan ini merujuk pada relasi kawan sebaya “ peer ”. Di dalamnya terjadi interaksi saling berbagi dan saling mempengaruhi secara setara/seimbang. Relasi yang terbentuk adalah relasi dua arah “ reprocity ”. Yang demikian akan menghasilkan kesetaraan antara hak, kewajiban dan aksi dalam hubungan tersebut.

  • Market pricing atau “Harga Pasar”
    Hubungan ini merujuk pada dominasi nilai pasar. Transaksi di dalam didasarkan pada pilihan rasional dan kebutuhan. Orang menjalin hubungan karena merasa akan mendapatkan keuntungan. Di dalamnya terkandung instrumentasi untuk melakukan competition (persaingan) dan struggle (perjuangan).

source :

Brian Morris, Antropologi Agama Kritik Teori-teori Agama Kontemporer, terj. Imam Khoiri
(Yogyakarta: Haikhi Grafika, 2007), hlm. 300

Aafke Komter, Social Solidarity and The Gift (New York: Cambridge University Press,
2005), hlm. 7

Moh. Soehadha, Perspektif Antropologi untuk Studi Agama, (Yogyakarta: Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, 2009), hlm. 45