Bagaimana pengendalian penyakit Paratuberkulosis?

Paratuberkulosis dikenal pula dengan nama Johne’s Disease, adalah penyakit hewan menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium paratuberculosis. Disebut sebagai Johne’s Disease karena penyakit ini ditemukan pertama kali oleh Johne dan Frothingham pada sapi di Jerman pada tahun 1895. Ruminansia besar dan kecil, baik yang jinak maupun yang liar, mudah terjangkit oleh penyakit ini.

image

PENGENDALIAN
1. Pengobatan
Terhadap agen-agen kemoterapik tertentu (invitro), diketahui bahwa M.paratuberculosis lebih resisten daripada M.tuberculosis, oleh karena itu prospek pengobatan bagi penderita paratuberculosis sesungguhnya sangat kecil.
Beberapa jenis obat telah dicoba dengan hasil yang bervariasi, di antaranya Isoniazid misalnya, ternyata gagal untuk menyembuhkan kasuskasus klinis paratuberculosis.
Pada sapi, clofazimine memberi efek perbaikan klinis yang bersifat sementara saja. Pada kambing, kombinasi antara 500 mg dihidrostreptomisin yang disuntikan intramuskuler dan 300 mg rifampin dengan 300 mg isoniazid yang diberikan per oral 2x sehari, mendatangkan efek perbaikan klinis.

2. Pencegahan Pengendalian dan Pemberantasan
Mengingat kekurangtelitian uji-uji diagnostik yang tersedia, ditambah pula dengan rendahnya kasus-kasus klinis yang ditemui di peternakan, maka tidaklah mungkin untuk melaksanakan pemberantasan paratuberkulosis secara tuntas. Oleh karena itu, tindakan yang mungkin diambil berupa pembersihan menyeluruh peternakan tertular dan kemudian mengisinya kembali dengan ternak baru yang bersih dari agen penyakit. Selanjutnya, tindakan penting lainnya adalah mencegah masuknya hewan-hewan yang tertular ke dalam peternakan yang bersangkutan.

Dalam hal pengendalian paratuberkulosis pada suatu peternakan, masalah utama yang dihadapi adalah sulitnya pendeteksian sapi-sapi terinfeksi secara subklinis.

Pemberantasan penyakit cara lama mendasarkan pada ditemukan nya hewan-hewan pembawa dengan menggunakan berbagai uji seperti disebutkan di atas (diagnosa) yang kemudian dilanjutkan dengan pemotongan hewan -hewan yang bereaksi positif di Rumah Potong Hewan (RPH). Sesudah itu, peternakan tertular dikarantina dan ternak yang tersisa diuji ulang pada selang waktu 6 bulan hingga dicapai hasil negatif untuk 2x uji berturut-turut.

Namun cara tersebut jarang mendatangkan sukses untuk pemberantasan paratuberkulosis.
Alternatif pengendalian yang lain adalah cara ‘culture and cull’’ Setiap 6 bulan sekali, dari semua sapi dewasa dalam peternakan dilakukan pemeriksaan feses secara kultural. Sapi, yang hasil pemeriksaan fesesnya positif, bersama anak-anaknya dipotong. Dengan cara ini, derajat pencemaran pada sekitar (termasuk padang gembalaan) menurun cepat karena hewan penebar agen penyakit sudah tersingkirkan.
Apapun cara pengendalian penyakit yang diterapkan, maka semua itu menuntut waktu pelaksanaan yang lama dan pengorganisasian yang baik serta dana yang besar, itupun dengan hasil yang belum tentu memuaskan.

Vaksinasi merupakan upaya untuk mengurangi tingkat penyebaran infeksi dan melindungi hewan ybs dari gejala klinis penyakit. Terdapat 2 jenis vaksin, yakni vaksin yang mengandung M.paratuberculosis hidup yang dilemahkan (Vallee’s vaccine) dan vaksin yang mengandung agen penyebab yang dimatikan (Sigrudsson’s vaccine).

Pada sapi, vaksinasi dilakukan pada umur 1 bulan. Vaksinasi ulang tidak dianjurkan, karena efek vaksinasi kadang-kadang menimbulkan benjolan (nodules) yang tak terlihat. Selain itu, sapi-sapi yang sudah divaksinasi, sampai 5 minggu pasca vaksinasi dan yang terakhir pada 18 minggu pasca vaksinasi, akan memberikan reaksi positif terhadap uji johnin dan atau uji tuberkulin yang dipelakukan. Dengan kata lain, vaksinasi hanya dianjurkan bagi daerah-daerah yang tertular berat paratuberkulosis dan pada kelompok ternak yang bebas-tuberkulosis, tetapi bukan pada daerah yang sedang menerapkan proyek pemberantasan tuberkulosis.

Pada domba, penggunaan vaksin mati Sigrudsson memberikan hasil baik. Terdapat 2 pendekatan yang sifatnya umum untuk mengendalikan permasalahan paratuberkulosis pada sapi, yaitu
a. Bila tingkat kejadian penyakit cukup rendah, maka program ”test and slaughter” pada suatu peternakkan tertular diberlakukan dengan catatan semua sapi harus dikeluarkan dari peternakan dan peternakan ybs dikosongkan bagi semua jenis ruminansia selama sekurang-kurangnya 1 tahun.
b. Bila tingkat kejadian penyakit tinggi dan proyek pemberantasan tuberkulosis telah diselesaikan atau sama sekali tidak pernah diadakan, maka program vaksinasi dianjurkan.
Sekelompok sapi berstatus bebas-paratuberkulosis, bila memenuhi usulan kriteria sbb.:
a. Bebas dari penyakit (paratuberkulosis) selama 3 tahun terakhir,
b. Negatif uji johnin (intradermal) 2x berturut-turut pada semua sapi-sapi umur 6 bulan ke atas pada selang 6 bulan.
c. Negatif hasil pemeriksaan feses (kultural) pada semua sapi umur 2 tahun, diulang setiap 6 bulan sekali.
Tingkat kejadian paratuberkulosis di banyak negara dimana penyakit ini biasa ditemukam pada dewasa ini tidak cukup tinggi dan anggapan bahwa tingkat ketelitian uji-uji diagnostik yang ada belum cukup tinggi, sehingga program pemberantasan paratuberkulosis tidak mereka lakukan.

Referensi:
http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf