Bagaimana Pengaruh Hubungan Bilateral Kerajaan Balanipa Dengan Kerajaan Lain?

Pengaruh Hubungan Bilateral Kerajaan Balanipa Dengan Kerajaan Lain

Bagaimana Pengaruh Hubungan Bilateral Kerajaan Balanipa Dengan Kerajaan Lain ?

Pengaruh Hubungan Bilateral Kerajaan Balanipa Dengan Kerajaan Lain


Pada Abad XVI-XVII Kesuksesan yang diraih oleh Kerajaan Balanipa tidak bisa dipisahkan dari hubungan baik dengan Kerajaan besar lainnya.Hal ini dibuktikan pada saat Kerajaan Balanpa masih dipimpin oleh tomakaka, Kerajaan Balanipa terus mendapat serangan dari tomakaka-tomakaka lain yang ingin berkuasa.Maka dari pada itu kerajaan Balanipa mengirim utusan untuk menjemput I Manyumbungi yang pada saat itu berada di Kerajaan Gowa.

Dalam silsilah Kerajaan Balanipa dijelaskan bahwa antara Kerajaan Balanipa dengan Kerajaan Gowa memiliki hubungan kekerabatan. Hubungan itu sudah ada sebelum Kerajaan Balanipa berdiri. Hubungan ini berawal ketika Raja Gowa ke 7, Batara Guru atau I Pakkeretau menikah dengan I Rerasi yang berasal dari keturunan bangsawan Mandar.

Di Kerajaan Gowa I Manyubungi terus menimba ilmu dan dididik juga menjadi juak (anggota militer).Ia juga diangkat menjadi anggota pasukan Kerajaan dan sekaligus menjadi orang kepercayaan Raja Gowa. Keberhasilan demi keberhasilan diraihnya di Kerajaan Gowa seperti menaklukkan Kerajaan Lohe, Kerajaan Pariaman, dan Kerajaan Tambora untuk Kerajaan Gowa.

Ketika I Manyumbungi ingin kembali ke tanah kelahirannya untuk membantu negeri Napo melawan pengacau yang sering menyerang negrinya maka saat itu juga otoritas Kerajaan Gowa (Raja Gowa) memberikan benda-benda pusaka sebagai tanda keakraban antara kedua belah pihak sepertiyang diungkapkan pada bab dua diatas.

Ikrar kesepakatan tersebut bukan hanya ikrar perjanjian tetapi itu juga menandakan betapa eratnya hubungan yang terjalin antara Kerajaan Balanipa dengan Kerajaan Gowa. Tidak hanya sebatas itu, hubungan itu tambah dipekuat dengan adanya jalinan kekerabatan yang dilanjutkan oleh I Manyummbungi, dalam hal ini I Manyumbungi menikah dengan salah satu putri dari bangsawan Kerajaan Gowa (anak dari Karaeng Suriah) yang diberitakan dalam lontarak Mandar dan luaor seperti berikut:

“…Todilaling da’mi di Ma’asar, mmappadiammi ana’ mesa tommuane tatallu Towaine, mesa memmuane naung di Todang-todang, mesa memmuane tama Di Allu, mesa memmuane naung di Banggae iyamo naman to Tande. …O… Tommuane, iamo Tomepayung.”

Artinya : 

Pergi ke Makassar, melahirkan anak seorang laki-laki dan tiga orang permpuan.Seorang bersuami ke Todang-todang, seorang bersuami ke Ali, seorang bersuami ke Banggae sebagai cikal bakal orang Tande, yang laki-laki bernama Tomepayung.

Hubungan ini terus terjalin dengan baik sampai pada pemerintahan berikutnya seperti yang diungkapkan dalam beberapa sumber bahwa pada abad ke 17 Kerajaan Balanipa juga ikut mewarnai perang Makassar.Kerajaan Gowa mendapat bala bantuan dari Kerajaan Balanipa untuk melawan Arung Palakka dan Belanda. Dalam catatan Spelman, diungkapkan bahwa ia memperoleh informasi pada tanggal 20 Juli tentang Laskar Mandar Yang ingin menyerang pertahana VOC di Makassar. Laskar Mandar itu berada dalam pimpinan Karaeng Bontomarannu telah berada di ujung Lero dengan membawa pasukan 1.000 orang.

Selain dari itu Kerajaan Balanipa juga menjalin hubungan dengan Kerajaankerajaan yang ada di Mandar. Hal ini dibukikan dengan diadakannya beberapa perjanjian kerja sama antara Kerajaan Balanipa dengan Kerajaan-kerajaan yang ada di Mandar. Diantaranya:

  1. Perjanjian Assitalliang Tammajarra yang dilaksanakan di Tammajarra (Napo) yang menjadi awal terbentuknya persekutuan pitu ba’bana binanga. Perjanjian pertama melibatkan enam Kerajaan yang berada di muara sungai. Dilanjutkan perjanjian Tammajarra ke dua, barulah Kerajaan Binuang hadir dalam pertemuan itu. Dilaksanakannya perjanjian tersebut bukan hanya karna ketujuh Kerajaan berasal dari nenek yang sama sehingga bersaudara, tetapi juga bertujuan untuk saling membantu dan bekerja sama dalam rangka memajukan kesejahteraan dan keamanan rakyan masing-masing Kerajaan.

  2. Perjanjian Allamungan Batu di Luyo. Perjanjian ini dilaksanakan di Luyo yang dihadiri oleh empat belas Kerajaan di Mandar. Masing-masing di wakili oleh pemimpin dari persekutuan. Persekutuan pitu ba’bana binaga diwakili oleh Kerajaan Balanipa dan persekutuan pitu ulunna salu diwakili Londong Dahata atau Tomampu. Perjanjian inilah yang mempersatukan Kerajaan-kerajaan di hulu sungai dan di muara sungai. Berdasarkan isiperjanjian yang dijelaskan di bab dua tampak bahwa isi pokok dalam perjanjian tersebut merupakan kesepakatan bersama dalam menjamin ketentraman dalam ke dua persekutuan itu. Hal ini dapat dilihat dari tugas yang diemban oleh masing-masing persekutuan.