Bagaimana pendapatmu tentang statement "kebahagiaan orang lain bukan tanggungjawabmu"?

Rasanya sekarang di mana-mana orang suka sekali mengutip kalimat ini. Biasanya sih konteksnya kalau ada salah satu teman yang ngambek lalu membuat yang lain merasa bersalah atau nggak enak hati, selalu ada saja yang mengatakan “Udaah nggak masalah. Lagian kan kebahagiaan dia bukan tanggungjawab kita”. Hmm… saya pribadi merasa lama-lama statement ini jadi overused. Kalau menurut kalian bagaimana?

2 Likes

Pada awalnya saya setuju dengan statement ini, karena kita sebenarnya tidak perlu berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan orang lain bahkan sampai berkorban pada kebahagiaan diri sendiri. Namun ternyata statement ini digunakan oleh sebagian orang yang tidak peduli dengan orang lain. Mengatakan seolah-olah ketika orang lain tidak bahagia, itu bukanlah tanggung jawab kita.

Pdahal menurut saya, bisa saja kebahagiaan orang lain adalah salah satu dari kebahagiaan kita. selama kita bisa membuat orag lain bahagia, kenapa nggak? toh kita manusia sosial yang bergantung sama lain… kita pun seharusnya bertanggung jawb dengan kebahagiaan orang lain, dengan porsi yang sesuai.

2 Likes

Memang benar kebahagiaan orang lain itu bukan tanggung jawab kita, tetapi kita juga turut andil dalam membuat orang lain bahagia entah disengaja atau tidak. Sama halnya juga dengan kita bisa membuat orang lain marah atau kesal walaupun tujuan kita mungkin saja baik. Dalam kasus teman yang ngambek misalnya, seandainya kita tanpa sengaja yang menjadi penyebabnya tentu merasa bersalah adalah hal yang wajar. Dan membuat teman itu bahagia kembali atau setidaknya memaafkan kita adalah bagian dari tanggungjawab atas kesalahan yang tidak sengaja kita buat tadi.

Jangan lupakan juga bahwa permasalahan yang sama bisa saja menimpa kita, kira-kira bagaimana perasaan kita jika ada orang atau teman membuat kesal tetapi ia tidak menunjukkan sikap menyesal.

Yang berlebihan itu apabila, kita berusaha membuat level kebahagiaan orang lain yang sesuai dengan level kita atau kita berusaha mati-matian dan terkesan memaksa agar orang lain bahagia dengan cara yang sama seperti membuat diri sendiri bahagia.

2 Likes

Memang benar, kebahagiaan orang lain bukan tanggungjawab kita. Ada sangat banyak variabel yang dapat mempengaruhi bahagia dan tidak bahagianya seseorang. Kalau untuk diri kita sendiri saja kita tidak punya kuasa penuh atas variabel-variabel tersebut, apalagi untuk variabel yang bekerja dalam hidup orang lain.

Buat saya bahagia dan tidak bahagia adalah pilihan masing-masing individu. Namun tentu saja, bukan berarti kita bisa mengenyahkan kepedulian dengan dalih kita tidak punya urusan dengan kebahagiaan orang lain. Apalagi kalau dibawa dalam konteks hubungan interpersonal di mana pihak-pihak yang terlibat mau tidak mau mempengaruhi satu sama lain. Tentu saja sedikit banyak apa yang dilakukan satu pihak akan berdampak pada pihak lain.

Yang salah menurut saya adalah ketika statement tadi digunakan oleh orang-orang sebagai alasan untuk berhenti berempati dan peduli terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain. Padahal tidak bisa dipungkiri keberadaan kita dalam hubungan interpersonal dengan orang lain adalah salah satu variabel yang bisa jadi mempengaruhi bahagia tidak bahagia orang tersebut.

Menurut saya meskipun kebahagiaan orang lain ada di luar kendali kita, bukan berarti kita berhenti mengusahakan kebahagiaan untuk orang lain.

Saya pribadi merasa, sebagai makhluk sosial, besar ataupun kecil, kita punya kemungkinan menjadi salah satu sumber kebahagiaan orang lain, maka tentu besar atau kecil pula kita punya tanggung jawab terhadap kebahagian orang lain—apalagi seseorang yang ada di sekitar kita. Karena begitu juga sebaliknya, sangat mungkin bahwa salah satu kebahagian kita ternyata bersumber dari orang lain. Jadi, tanpa perlu memandang itu sebuah keharusan atau tidak, bahagiakanlah orang lain selama kita mampu—tentu dengan tidak mengesampingkan kebahagiaan kita sendiri juga.

Terlebih jika dalam kondisi di mana seseorang ternyata menderita (dirugikan) dan kita adalah penyebabnya, tentu saja kita punya tanggung jawab untuk mengusir penderitaannya—membuatnya bahagia. Contoh lain juga seperti yang sering orang katakan—setidaknya saya sering mendengar nasihat ini dari orang tua: di dalam rezeki yang kamu dapat, sebagiannya adalah hak orang lain (orang-orang yang kurang mampu, anak yatim, dll.). Jadi, saya pribadi menganggap orang lain juga berhak untuk mendapat bahagia dari kita, atau dari orang-orang yang memang sanggup memberikan kebahagian pada mereka.

1 Like

Tambahan, sepertinya pernyataan ini viral setelah booming-nya film NKCTHI yak? Wkwk. Kalau menurut saya, si tokoh yg mengeluarkan statement ini memang tidak mampu membuat orang lain (tokoh yg menjadi lawan mainnya) bahagia karena ternyata dia sendiri juga belum bahagia.

1 Like