Bagaimana Pendapatmu Tentang "Childfree"?

Childfree adalah pilihan hidup seseorang untuk tidak memiliki anak, baik anak kandung, tiri, dan angkat. Terdapat beberapa ahli yang mengeluarkan pembahasan tentang childfree, menurut dr. Hasto “pasangan yang memutuskan memilih childfree, mungkin akan cenderung lebih rentan dengan perceraian. Hal ini disebabkan karena tidak adanya kehadiran anak, mungkin dapat membuat konflik antara suami dan istri lebih besar walaupun persoalannya mungkin sepele”.

Terdapat sumber yg mengatakan bahwa Amerika memiliki lebih sedikit bayi, hal tersebut menduduki rekor rendah dalam tingkat kesuburan: pada tahun 2017, dari 1.000 wanita dalam usia subur, hanya 602 menjadi ibu.

Lalu, bagaimana pendapatmu tentang childfree?

Sumber:
  1. Isu Childfree jadi Pembahasan Hangat, BKKBN: Ini Terkait dengan Pentingnya Edukasi Reproduksi
  2. Voluntary childlessness - Wikipedia
  3. https://www.google.co.id/amp/s/amp.theguardian.com/lifeandstyle/2020/jul/06/more-women-like-me-are-choosing-to-be-childfree-is-this-the-age-of-opting-out

Berbicara mengenai fenomena childfree yang saat ini sedang ramai diperbincangkan di media sosial, saya rasa hal tersebut merupakan hak setiap pasangan atas pilihannya masing-masing. Namun, keputusan tidak memiliki anak dalam sebuah institusi keluarga dinilai oleh masyarakat sebagai hal yang kurang lazim dan kurang menambah suatu keharmonisan atau kebahagiaan bagi pasangan suami istri. Wacana mengenai kelaziman bahwa pasangan suami istri harus memiliki anak yaitu dapat dibongkar menurut beberapa perspektif. Saya akan menggunakan analisis sosiologis untuk menganalisa fenomena ini.
Dari sudut pandang Max Weber, ialah struktur objektif di mana anak-anak yang lahir nanti ketika dewasa akan diarahkan menjadi tenaga industri kapitalisme, sedangkan dari sudut pandang Michel Foucault ialah suatu bentuk struktur pendisiplinan terhadap tubuh secara sosial dan seksual yang berfungsi dalam mengontrol pertumbuhan populasi berkaitan dengan kebijakan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, menurut Emile Durkheim, khususnya dari sudut pandang sosiologi agama dan dari sudut pandang fungsionalisme secara umum, mempunyai anak berarti meneruskan keturunan untuk mempertahankan nasab khususnya dalam kaitan dengan pembagian hak waris dan struktur demografi di suatu wilayah tertentu.
Struktur-struktur objektif tersebut tumbuh dalam struktur masyarakat yang diinternalisasikan melalui lembaga sekolah, keluarga, keagamaan, serta lingkungan sosial terdekat. Dengan demikian, pasangan suami istri yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak atau keturunan memiliki pertimbangan subjektif karena merasa terbebani dengan tuntutan struktur objektif industrialisasi kapitalisme, struktur masyarakat agama, pendisiplinan tubuh, dan tuntutan nasab serta struktur demografi wilayah. Di mana dalam hal ini, mempunyai anak berarti melaksanakan tanggung jawab moral yang besar terhadap struktur objektif tersebut, di samping itu keputusan subjektif dapat diperkuat oleh pengaruh pengalaman sosial di masa lalu seperti adanya efek traumatis melalui keluarga broken home yang teraktualisasi pada keputusan untuk childfree.
Hampir kebanyakan pasangan yang mempunyai anak cenderung kepada pemenuhan struktur objektif daripada sisi subjektif. maka, ketika mengetahui ada pasangan suami istri yang memilih untuk tidak memiliki anak, rentan terjadi stigmatisasi kepada pasangan tersebut karena tidak merealisasikan sesuatu yang lazim dalam masyarakat. Untuk itu, perlu mengubah cara berpikir bahwa memiliki anak tidak sekedar tuntutan struktur objektif, tapi juga pemenuhan sisi subjektivitas pasangan. Sehingga dapat menciptakan intersubjektivitas berupa sikap menghargai kepada pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak.

Bagi kaum muda dewasa ini, memiliki anak bukanlah masalah beban biaya yang akan dikeluarkan, tetapi perlu kesiapan mental. Memiliki anak membutuhkan persiapan yang matang. Tidak hanya soal biaya, tetapi bagaimana menanamkan karakter pada anak. Hal ini lah yang menjadi alasan mengapa pasangan suami istri saat ini memilih untuk childfree. Menurutku, Childfree sendiri tergantung pada individu masing-masing, apakah mereka ingin memiliki anak atau tidak.

Aku sebagai perempuan yang belum menikah memandang chidfree ini sebuah hal yang menyalahkan fitrah dalam membangun rumah tangga. ya memang dalam rumah tangga bukan hanya membahas tentang produksi anak, tapi anak merupakan sosok yang akan memberikan ketenangan ketika kita dalam kegundahan tak jarang juga anak menjadi alasan orang tua untuk melanjutkan kehidupan. memang anak tidak memilih untuk dilahirkan, tapi orang tualah yang meminta kehadiran mereka dan merawat, mengajari, serta menjaga anak agar berada di jalur yang benar. anak yang mendapatkan hak mereka secara baik dan benar akan memberikan hal baik kepada orang tua. contoh sederhana, anak yang sholeh akan memberikan doa untuk keselamatan orang tuanya. contoh inilah yang membuat kehadiran anak itu berharga dalam sebuah keluarga, doa anak yang sholeh akan selalu mengalir dan tidak pernah putus bahkan ketika orangtuanya meninggal. tapi, semua itu kembali kepada prinsip yang dianut dalam sebuah keluarga.

Bagi saya sendiri Childfree atau tidak merupakan suatu prinsip yang perlu dihargai dari masing-masing pasangan. Tentu setiap pasangan yang memutuskan Childfree telah berdiskusi secara matang dan memiliki alasan yang kuat, entah karena faktor sosial, ekonomi, kesehatan maupun yang lainnya.

Menurut perspektif saya tidak ada yang salah dan benar, memiliki anak adalah sebuah anugrah dalam kehidupan suami istri, namun bagi sebagian yang lainnya mungkin hal tersebut akan menjadi masalah baru. Jadi sikap kita sebagai masyarakat awam adalah lebih baik tetap menghargai segala prinsip yang ada, baik itu berbeda atau tidak, terutama prinsip yang berkaitan dengan ranah pribadi setiap orang.

Bagiku sah-sah saja jika seseorang memilih untuk Childfree, karena hidup itu pilihan, apapun yang dipilih berarti seseorang sudah siap dengan konsekwensinya dan apa yang dia dapat nanti entah itu hal yang baik ataupun hal buruk.

Pilihan hidup, pastinya beberapa orang juga tidak memilih Childfree sebagai pilihan ketika menikah atau menjalani kehidupannya, karena mereka menginginkan anak atau keturunan. Mempunyai dan menginginkan anak bukanlah hal yang sederhana, dibalik itu pasti dibutuhkan mental, finance, dan kondisi kesehatan yang baik, beberapa orang mungkin akan mampu dan siap menghadapinya, namun bagi penganut Childfree ini pastinya dia dan pasangannya sudah mempertimbangkan banyak hal yang kemungkinan dia sendiri merasa tidak sanggup untuk memiliki anak. Hargai saja.

Saya rasa childfree itu pilihan yang tentunya sudah dipikirkan dengan matang dan melalui banyak pertimbangan. Ketika pasangan memutuskan untuk memiliki anak, maka bukan hanya ‘bayi lucu’ yang akan menjadi makanan mereka setiap hari. Namun a huge responsibility yang harus ditanggung selama bertahun-tahun ke depan hingga anak dewasa dan siap menjalani kehidupannya sendiri. Merawat anak tidak hanya diberi makan dan minum, harus ada kesiapan yang cukup agar anak bisa optimal dalam tumbuh kembangnya. Orang tua harus sepenuhnya sadar dan paham bagaimana cara membentuk karakter anak dan berapa modal untuk merawat anak hingga dewasa. Jadi, saya pribadi menghargai bila ada pasangan yang memilih untuk childfree. Pilihan untuk tidak membebankan anak dengan tuntutan orang lain. Masih ada banyak cara untuk bisa bahagia.