Bagaimana pendapatmu mengenai "daddy issues"?


Daddy issues adalah dampak dari maskulinitas yang tidak sehat. Lelaki yang merasa bahwa ia tak perlu terlibat dalam tumbuh kembang anak dan menjadikan itu semata-mata tanggung jawab perempuan adalah penyebab mengapa banyak perempuan memiliki masalah kepercayaan dengan orang-orang tertentu, terutama pada lelaki.

References: https://voxpop.id/daddy-issues-salah-siapa/

Orang yang memberikan stigma daddy issues adalah orang yang seksis dan misoginis. Ia tidak menyadari bahwa kesalahannya bukan pada anak perempuan, melainkan pada lelaki sebagai ayah yang melakukan kekerasan terhadap anak perempuannya dan bagaimana sistem diciptakan untuk melanggengkan kekerasan itu. Bisa jadi ketika kelak ia memiliki anak, ia tidak mau mengurus anaknya dan melimpahkan tanggung jawab membesarkan dan mengurus anaknya itu kepada perempuan.

Semestinya masalah stigma daddy issues ini juga menyadarkan kita mengenai bahayanya trauma masa kecil, atau dalam bahasa medisnya disebut dengan adverse childhood experience . Hal ini juga seharusnya menjadi dorongan kepada lelaki agar kelak tidak melakukan kekerasan kepada anaknya, terutama pada anak perempuan.

Sebab efek dari trauma dan kekerasan terhadap perempuan ini merupakan masalah serius, bukan malah menjadikannya sebagai candaan.

Fenonema daddy issues ini sendiri menurut saya merupakan topik yang sangat menarik untuk dibahas mengingat fenomena ini tengah ramai diperbincangkan. sebelum melangkah lebih jauh, kita harus tahu pasti terlebih dahulu mengenai konsep dari daddy issues ini sendiri dan siapa - siapa saja yang dapat mengalaminya. Daddy issues ini menurut para psikolog mengacu kepada ketidakmampuan seseorang untuk menjalin sebuah hubungan yang disebabkan oleh trauma masa kecil terutama yang disebabkan oleh hilangnya sosok ayah dalam keluarga atau sosok ayah yang melakukan KDRT atau perlakuan buruk lainnya kepada seseorang. seringkali, daddy issues ini dikaitkan dengan kemunculan apa yang disebut sebagai Oedipus Complex.

Oedipus Complex merupakan istilah yang diciptakan oleh bapak Psikoanalisis, Sigmund Freud untuk menggambarkan perasaan suka terhadap orang tua dengan lawan jenis (biasanya anak laki - laki terhadap ibunya). Oedipus complex sendiri diambil dari nama Oedipus, tokoh raja dalam cerita drama Yunani Kuno karangan Sophocles yang berjudul Oedipus Rex yang dimana si Oedipus ini secara tidak sengaja menikahi ibu kandungnya sendiri dan membunuh ayah kandungnya sendiri.

Daddy Issues ini sendiri sebenarnya tidak hanya terjadi kepada kaum perempuan saja. Laki - laki pun bisa mengalaminya juga karena menurut Keller (2020), semua orang bisa saja mengalami trauma dan pengalaman buruk yang disebabkan oleh hubungan mereka dan ayah mereka. Menurut Keller, istilah yang lebih tepat untuk menggambarkan daddy issues sendiri adalah orang - orang dewasa yang memiliki kesulitan untuk menjalin sebuah hubungan dengan orang lain karena trauma dengan pola asuh pengasuh mereka terdahulu.

Jika ditinjau dari sisi perempuan, fenomena daddy issues seolah menunjukan jika budaya patriarki masih mengakar kuat dalam masyarakat yang dimana pembagian peran parenting terkadang tidak seimbang dengan anggapan, mengasuh anak sepenuhnya merupakan tanggung jawab perempuan saja. Padahal sebetulnya baik laki- laki maupun perempuan sama - sama memilik tanggung jawab dalam pengasuhan anak. Hal ini juga memberikan kesan yang buruk kepada laki - laki yang ibaratnya " hanya tau membuat " tetapi tidak mempertanggung jawabkan tugasnya sebagai ayah dengan baik. Selain itu pelampiasan stress kepada anak tentu juga menjadi faktor utama munculnya daddy issues kepada anak di kemudian hari dan tentu saja itu merupakan masalah yang serius.

referensi : Keller, S. (2020). 6 Signs You May Have “Daddy Issues” (aka Attachment Issues). mbgrelationship Retrieved from https://www.mindbodygreen.com/0-13968/if-daddy-issues-are-affecting-your-relationships-read-this.html

Seperti yang telah dikatakan oleh teman-teman sebelumnya, bahwa daddy issue ini menggambarkan suatu keadaan seseorang yang trauma secara emosional akibat ketidakhadiran sosok ayah. Namun, semakin kesini, daddy issues dianggap untuk menstigma perempuan yang memiliki masalah relasi dengan lawan jenis.

Secara psikologis tentunya hal ini akan mempengaruhi cara berhubungan atau interaksi kita dengan orang lain. Biasanya yang memiliki daddy issues ini cenderung mencari sosok ayah dalam diri pasangannya, misalnya figur yang lebih tua dari dirinya. Namun, sekali lagi itu tidak bisa digeneralisasi. Mereka yang memiliki daddy isuue pasti punya cara tersendiri untuk berdamai dengan dirinya.

Mengutip dari Sundari dan Herdajani (2013) bahwa ketiadaan peran-peran penting ayah akan berdampak pada rendahnya harga diri (self-esteem) ketika ia dewasa, adanya perasaan marah (anger), rasa malu (shame) karena berbeda dengan anak-anak lain dan tidak dapat mengalami pengalaman kebersamaan dengan seorang ayah yang dirasakan anak-anak lainnya. Kehilangan peran ayah juga menyebabkan seorang anak akan merasakan kesepian (loneliness), kecemburuan (envy), dan kedukaan (grief), dan kehilangan (lost) yang amat sangat, yang disertai pula oleh rendahnya kontrol diri (self-control), inisiatif, keberanian mengambil resiko (risk-taking), dan psychology well being, serta kecenderungan memiliki neurotik, terutama pada anak perempuan. Akibat-akibat psikologis yang dirasakan oleh anak tersebut berdampak pada penyimpangan perilaku dan ketidakbermaknaan hidupnya. Sehingga tidak heran bahwa daddy issues ini akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa.

Lalu bagaimana mengatasinya? saya rasa perlu bantuan tenaga profesional dalam hal ini. Namun jika kita orang terdekatnya, bisa dimulai dengan mendapatkan kepercayaan darinya juga menyadarkan untuk segera bangkit dari rasa terpuruknya itu.

Referensi

Sundari dan Herdajani. (2013). Dampak FatherlessTerhadap Perkembangan Psikologis Anak. Prosiding Seminar Nasional Parenting. 256-271.
Basfiansa, A. D. (2018). Bagaimana cara mengatasi delusi akibat trauma masa kecil?. Diakses pada 14 September 2021 dari Bagaimana Cara Mengatasi Delusi Akibat Trauma Masa Kecil? - Tanya Alodokter