Bagaimana pendapat anda tentang film Di Timur Matahari?

Di Timur Matahari

Di Timur Matahari adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tanggal 14 Juni 2012. Film ini disutradarai oleh Ari Sihasale. Film ini dibintangi oleh Laura Basuki dan Lukman Sardi.

Film ini mengkritisi tentang jomplangnya jumlah guru yang ada di wilayah lain terutama di pulau Jawa dengan yang terjadi di Papua. Kalau di pulau Jawa kita sama-sama maklum kalau di pulau kecil nan padat ini sarjana-sarjana nganggur bertebaran di mana-mana. Mereka tidak punya pekerjaan karena saking banyaknya calon-calon guru yang tidak tertampung. Sementara di Papua sana justru kekurangan guru. Hal ini digambarkan secara apik di film ini dengan gambaran satu sekolah punya satu orang guru yang tidak datang-datang karena alasan tertentu, sehingga yang dilakukan anak-anak adalah bermain bola di dalam kelas.

Di film ini tergambar kesenjangan ekonomi yang sangat jauh kalau dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain. Di satu sisi penghasilan harian mereka begitu kecil, sementara harga-harga lebih mahal dibandingkan dengan harga barang di daerah lainnya.

Mereka yang pendidikannya rendah di Papua sana dijadikan alat pemerasan dan dibohongi oleh mereka yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan lebih banyak.

Pesan perdamaian tergambar jelas ketika Sang Pendeta (Lukman Sardi) berpesan: Pakai baju (lengkap) atau tidak (pakai koteka dll.) itu belum menggambarkan kita primitif atau tidak primitif. Tapi kalau kita saling berperang dan bertikai itu jelas cara-cara primitif.

Film ini juga berpesan bahwa memaafkan itu lebih baik daripada bertikai yang tidak akan menguntungkan baik bagi pihak yang “menang” ataupun “kalah”. Seperti pribahasa “Menang jadi arang, kalah jadi abu”.

Pada tayangan terakhir sebelum film ini selesai ada tanyangn yang membawa pesan kuat. Digambarkan ada seorang anak kecil tak berbaju denga ingus di hidungnya yang mengambil bendera merah putih kecil sambil dikibas-kibaskan. Tentu pesannya adalah: Siapapun kita, mari saling bermaafan, lupakan konflik-konflik yang ada dan tetaplah saling bergandengan tangan dan bersatu di bawah panji Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).