© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana pendapat Anda mengenai bullying di sosial media?

Tak hanya di kehidupan nyata, di dunia maya pun seseorang bisa dibully karna ungggahannya di media sosial. Lalu bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut?

Bullying di media sosial juga memiliki dampak yang besar bagi si korban, walau di bully tidak secara langsung, efek yang dihasilkan juga sama saja. Bully tetaplah bully walau dilakukan di media sosial. Keadaan psikis si korban juga akan terguncang yang dapat mengakibatkan depresi dalam hidupnya.

Bullying dapat didefinisikan sebagai sebuah kegiatan atau perilaku agresif yang sengaja dilakukan oleh sekelompok orang atau seorang secara berulang-ulang dan dari waktu ke waktu terhadap seorang korban yang tidak dapat mempertahankan dirinya dengan mudah atau sebuah penyalahgunaan kekuasaan/kekuatan secara sistematik (Gerald, 2012). Kriteria pengulangan, niat dan ketidakseimbangan kekuatan sistematik menjadikan bullying bentuk agresi yang sangat tidak diharapkan. Ini dapat terjadi di banyak konteks termasuk di tempat kerja, tetapi yang paling banyak diteliti adalah di remaja (Gerald, 2012).

Cyberbullying


Cyberbullying merupakan istilah yang ditambahkan ke dalam kamus OED pada tahun 2010. Istilah ini merujuk kepada penggunaan teknologi informasi untuk menggertak orang dengan mengirim atau posting teks yang bersifat mengintimidasi atau mengancam. OED menunjukkan penggunaan pertama dari istilah ini pertama kali di Canberra pada tahun 1998, tetapi istilah ini sudah ada sebelumnya di Artikel New Yorks Time 1995 di mana banyak sarjana dan penulis Besley seorang Kanada yang meluncurkan website cyberbullying tahun 2013 dengan istilah coining (Bauman dkk, 2013)

Pengertian cyberbullying adalah teknologi internet untuk menyakiti orang lain dengan cara sengaja dan diulang-ulang.” (Prabawati, 2015). Cyberbullying adalah bentuk intimidasi yang pelaku lakukan untuk melecehkan korbannya melalui perangkat teknologi. Pelaku ingin melihat seseorang terluka, ada banyak cara yang mereka lakukan untuk menyerang korban dengan pesan kejam dan gambar yang mengganggu dan disebarkan untuk mempermalukan korban bagi orang lain yang melihatnya (Brequet, 2010)

Bullying telah berkembang menjadi masalah yang saat ini dikenal sebagai cyberbullying. Tidak seperti bullying, cyberbullying memungkinkan pelaku untuk menutupi identitasnya melalui komputer. Anonimitas ini membuat lebih mudah bagi pelaku untuk menyerang korban tanpa harus melihat respons fisik korban. Pengaruh perangkat teknologi terhadap pemuda hari ini sering menyebabkan mereka untuk mengatakan dan melakukan hal-hal kejam dibandingkan dengan apa yang didapati dalam tatap muka pelaku bullying (Donegan, 2012).

Karena sifat dari komunikasi mediasi komputer, cyberbullying cocok untuk agresi relasional. Sekarang, baik pria maupun wanita dapat melampaui batas-batas gender tradisional. Akibatnya, anak-anak lebih banyak terlibat dalam relasional agresi. Bahkan pria dan wanita mampu menggunakan strategi yang terkait, baik maskulinitas maupun feminitas. Ada penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan lebih terlibat dalam cyberbullying dibandingkan dengan laki-laki. Adapula sebaliknya, laki-laki lebih terlibat dalam cyberbullying karena budaya maskulinitas, yang dalam teori “Male Phonemenon” percaya bahwa anak laki-laki lebih nakal daripada anak perempuan. Alasannya karena kenakalan adalah memang sifat laki-laki atau karena budaya maskulinitas menyatakan bahwa wajar kalau laki-laki nakal (Sarwono, 2013).

Namun, hal itu tidak sepenuhnya benar karena baik anak laki-laki dan perempuan sama-sama berpartisipasi dalam cyberbullying, meskipun berbeda alasan. Mereka juga menggunakan metode yang berbeda. Anak perempuan cenderung lebih menggunakan pendekatan pasif, seperti menyebarkan rumor dan gosip kerusakan reputasi dan hubungan. Anak laki-laki cenderung menggunakan ancaman langsung dan cyber sebagai sarana balas dendam. Selain itu, pandangan lain mengatakan bahwa dalam menjalankan aksinya wanita lebih sering menjadi sasaran cyberbullying sedangkan laki-laki cenderung menjadi pelaku utama dalam kekerasan berkomunikasi di dunia maya. Fakta lain mengungkapkan bahwa dalam iklim demokratisasi di segala bidang kehidupan pada era modern sekarang ini, orang cenderung mempersamakan hak-hak anak laki-laki dengan anak perempuan. Sehubungan dengan hal tersebut pada masa sekarang jumlah kejahatan yang dilakukan oleh anak perempuan tampak meningkat secara drastis (Kartono, 2013)

Bullying merupakan suatu tindakan agresif yang mengganggu kenyamanan dan menyakiti
orang lain dengan adanya perbedaan kekuatan maupun psikis dari korban dan pelaku yang dilakukan secara berulang. (Kowalski & Limber, 2013). Berdasarkan medianya bullying dibedakan menjadi dua, yakni traditional bullying dan cyber bullying. Traditional bullying terjadi dengan kontak secara langsung antara korban dan pelaku. Sedangkan, cyber bullying terjadi melalui perantaraan media sosial dan korban dilecehkan atau dianiaya melalui media sosial (Mordecki et. al., 2014).

Cyber bullying terjadi dikarenakan maraknya penggunaan teknologi digital. Menurut Fisher (2013), penyalahgunaan teknologi mobile dan jaringan media sosial menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Cyber bullying bukan merupakan hal yang sering terdengar beberapa tahun yang lalu. Teknologi mobile memungkinkan manusia berkomunikasi kapan pun dan di mana pun. Teknologi mobile memungkinkan untuk mengirimkan foto dan video kepada teman atau keluarga dengan sangat mudah (cukup mengklik sebuah tombol). Revolusi ini mengubah hidup manusia secara luar biasa. Hal major yang paling terasa pada anak-anak dan remaja yang memiliki telepon seluler dan komputer pribadi adalah tersedianya akses informasi yang tidak terbatas dan memungkinan mereka untuk bertukar informasi lintas dunia. Orang dewasa mungkin sudah memiliki pandangan untuk tidak mempercayai dan menggunakan teknologi sepenuhnya namun pada remaja, mereka belum memiliki pandangan yang seimbang dan bijaksana terhadap teknologi yang ada.

Teknologi membutuhkan tanggung jawab agar tidak merugikan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun pada kenyataanya, penyalahgunaan teknologi meningkat sehingga menyebabkan banyak insiden seperti aksi dan tindakan mengancam, melecehkan, mempermalukan serta menghina. Insinden-insiden ini disebut sebagai cyber bullying. Penyalahgunaan teknologi mobile telah menarik perhatian orang tua, psikolog sosial, dan lembaga-lembaga seperti sekolah dan universitas. Berikut ini merupakan proses mitigasi yang menolong remaja-remaja untuk berpindah dari cyber bullying menuju cyber coping.

Alasan utama pelaku cyber bullying menggunakan media sosial adalah adanya fitur yang dapat
menyembunyikan bahkan memalsukan identitas pelaku. Jika seseorang melakukan cyber bullying, maka pelaku telah melanggar standar yang ada. Standar-standar yang dilanggar adalah nilai-nilai moral, kode etik bidang jurnalis, periklanan dan public relation, dan dunia hiburan. Beberapa bentuk pencegahan yang dapat dilakukan pada kasus cyber bullying adalah:

  1. Sebelum menyebarkan informasi, sebaiknya dilakukan pengecekan dan verifikasi terlebih dahulu.
  2. Tata bahasa dalam menggunakan media perlu diperhatikan oleh pengguna.
  3. Proses edukasi serta penerapan disiplin diri terhadap pengguna.
  4. Bimbingan orang tua, sekolah, universitas, serta lingkungan masyarakat terhadap pengguna remaja.
  5. Media sosial melakukan kampanye anti cyber bullying secara berkala.
  6. Korban harus bersikap aktif dan melaporkan kepada pihak media sosial jika cyber bullying terjadi.