Bagaimana pemanfaatan teknologi informasi dalam bidang perikanan dan kelautan?

Indonesia memiliki kekayaan laut yang luar biasa.Namun dikarenakan kurangnya pengawasan dan terjadinya pencurian membuat Indonesia mengalami kerugian.Oleh karena itu,muncul lah solusi yaitu dengan menggunakan teknologi informasi

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki dampak besar bagi dunia keluatan di Indonesia. pemanfaatan teknologi dapat digunakan untuk mengoptimalkan penghasilan negara dari sumber daya kelautan dan juga untuk menjaga tiap titik wilayah negara dari bahaya atau pun kejahatan yang kerap terjadi di laut wilayah Indonesia.

Ancaman akan Potensi Kelautan

Indonesia memiliki banyak sekali pulau-pulau kecil yang membuat Indonesia menjadi Negara kepulauan. Dengan banyaknya pulau, membuat potensi kelautan Indonesia yang besar telah mencapai 70 persen dari wilayah NKRI secara keseluruhan. Beragamnya potensi Kelautan, dan luasnya perairan laut Indonesia mendatangkan kejahatan.

Melihat kenyataan ini, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan pengawasan dan pengendalian sumberdaya kelautan dan perikanan untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara bertanggung jawab, agar setiap potensi kelautan yang dimiliki bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan. Dikarenakan banyaknya pulau di Indonesia dan terbatasnya SDM untuk melakukan pengawasan menuntut iptek untuk semaksimal mungkin memberikan kontribusi sebagai alternatif dalam pengawasan wilayah laut.

Monitoring Control and Surveillance (MCS) merupakan sistem yang telah dipergunakan di banyak negara. Di dunia internasional MCS ini dikelola secara bersama-sama sejak tahun 2001. Organisasi MCS internasional mengkoordinasikan dan menjalin kerjasama diantara anggotanya untuk saling mencegah, menghalangi dan menghapuskan IUU fishing. Indonesia sendiri, telah merintis sistem MCS. Namun, masih bersifat parsial dalam bagian-bagian yang berdiri sendiri-sendiri serta bersifat sektoral.
Berdasarkan skenario kebijakan optimistik, pengembangan sistem MCS secara terintegrasi, dengan dukungan pemerintah pada pengembangan MCS kelautan dan perikanan menjadi wajib. MCS merupakan salah satu prasyarat pokok dalam pengelolaan sumberdaya laut.

Ada beberapa komponen dari MCS yang melibatkan teknologi informasi secara khusus yaitu Vessel Monitoring System (VMS) atau yang lebih dikenal dengan sistem pemantauan kapal perikanan berbasis satelit. VMS ini dilaksanakan untuk memantau pergerakan kapal-kapal perikanan. VMS ini berfungsi untuk mendeteksi lalu-lintas kapal yang beredar di seluruh wilayah Indonesia. Setiap kapal ini akan diberi transponder untuk dipasang di kapalnya. Sehingga, pergerakan kapal akan terpantau lewat satelit yang menangkap sinyal dari transponder. Namun, disisi lain VSM hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu saja. Ironisnya, hingga saat ini masih banyak perusahaan perikanan belum memasang transmitter pada kapal perikanan. Permasalahan itu setidaknya disebabkan oleh kesadaran yang kurang terhadap pengelolaan perikanan secara bertanggung jawab oleh pihak perusahaan, atau juga penyediaan alat VMS (biaya) yang cendrung memberatkan perusahaan
Selain penggunaan teknologi informasi dalam bentik VMS, pada MCS ada juga Computerezed Data Base (CDB). CDB merupakan alat komunikasi yang dilengkapi dengan komputer sehingga dapat mengirimkan data-data hasil penangkapan ikan di pelabuhan-pelabuhan dan informasi lainnya. CDB diprogramkan untuk ditempatkan pada pelabuhan-pelabuhan perikanan tipe pelabuhan perikanan samudra, pelabuhan perikanan nusantara, dan pelabuhan perikanan pantai secara selektif.

Kelautan dan perikanan Indonesia, setahap demi setahap telah memaksimalkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui teknologi informasi dan komunikasi. Walaupun penggunaan teknologi tersebut berawal dari kurang maksimalnya pengawasan di wilayah laut Indonesia sehingga menuntut untuk penggunaan Teknologi Informasi.

Perkembangan teknologi informasi semakin hari semakin maju dengan sangat pesat,tak terkecuali di dalam bidang perikanan. Indonesia dengan lautannya yang luas dan menyimpan jutaan jenis ikan sangatlah perlu teknologi informasi dalam menjaga kelestarian lautan.

Peran teknologi informasi dalam menjaga kelestarian ikan dan lautan di indonesia sangatlah penting, ada beberapa teknologi yang digunakan indonesia dalam menjaga lautan.

  1. Vessel Monitoring System (VMS) atau yang lebih dikenal dengan sistem pemantauan kapal perikanan berbasis satelit. VMS berfungsi untuk memantau lalu lintas kapal yang beredar diseluruh wilayah lautan Indonesia. Cara kerja dari sistem ini adalah dengan melihat setiap kapal yang sudah memiliki izin penangkapan ikan dengan ukuran tertentu. Setiap kapal ini akan diberi transponder atau alat penerima dan pengirim sinyal untuk di pasang di kapalnya. Sehingga, pergerakan kapal akan terpantau lewat satelit yang menangkap sinyal dari transponder. Hasil dari sinyal satelit akan diteruskan di unit pengawasan satelit di Perancis,Kemudian dikirimkan ke Network Operation Center (NOC) di kawasan Kuningan ,Jakarta.

  2. Computerezed Data Base (CDB). CDB merupakan alat komunikasi yang dilengkapi dengan computer sehingga dapat mengirim data-data hasil penangkapan ikan di pelabuhan-pelabuhan perikanan samudra, pelabuhan perikanan nusantara, dan pelabuhan perikanan pantai secara selektif. Walaupun penggunaan teknologi tersebut berawal dari kurang maksimalnya pengawasan di wilayah laut Indonesia sehingga menuntut untuk penggunaan Teknologi Informasi.

Masih banyak lagi sumbangan TI yang bisa di gunakan untuk dunia perikanan dan kelautan di Indonesia, seperti pemaksimalan penggunaan radar pantai buat anak negeri ataupun pemaksimalan menumbuhkan semangat untuk tetap menjaga milik negeri di tiap anak-anak bangsa.

Pemanfaatan sumberdaya ikan di laut semakin intensif dan daya jangkauan operasi penangkapan ikan oleh para nelayan semakin luas dan jauh dari daerah asal nelayan tersebut. Konflik sering terjadi karena tidak jelasnya wilayah pemanfaatan yaitu dapat melibatkan nelayan dalam satu daerah yang sama ataupun antara daerah yang satu dengan dengan daerah lainnya. Salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menghindari terjadinya konflik pemanfaatan adalah dengan mengendalikan perkembangan kegiatan penangkapan ikan melalui penerapan zonasi jalur penangkapan ikan di laut, berdasarkan Kepmentan No. 392 tahun 1999 tentang jalur-jalur penangkapan ikan (Alisyahbana dan Iksal, 2012).

Pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan harus memperhatikan daya dukung dan kemampuan asimilasi wilayah laut, pesisir. Kesinambungan ketersediaansumberdaya merupakan kunci dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdayakelautan dan perikanan. Sektor kelautan dan perikanan dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi penting karena: (a) kapasitas suplai sangat besar, sementara permintaan terus meningkat; (b) pada umumnya output dapat diekspor, sedangkan input berasal darisumber daya lokal; © dapat membangkitkan industri hulu dan hilir yang besar,sehingga menyerap tenaga kerja cukup banyak; (d) umumnya berlangsung di daerah;dan (e) industri perikanan, bioteknologi dan pariwisata bahari bersifat dapat diperbarui(renewable resources), sehingga mendukung pelaksanaan pembangunan berkelanjutan (Manik, 2009).

Teknologi penginderaan jauh, baik system optis maupun non optis merupakan perpaduan teknologi yang sangat canggih (Hi- tech). Dimulai dari teknologi untuk mendapatkan data dan peta dalam rangka eksplorasi sumberdaya kelautan dan pesisir menggunakan satelit dan Echo-sounder, kemudian sistem basis data dan pengolahan citra satelit tersebut, dan di akhiri dengan analisis dan interpretasi citra. Kesemua proses tersebut diatas yang melibatkan kecanggihan teknologi tentunya tidak akan berarti jika sumberdaya manusia yang terlibat didalamnya kurang kompeten. Oleh karena itu kemampuan sumberdaya manusia dalam mengolah dan menginterpretasi data dan citra merupakan salah satu faktor yang sangat berperan dalam menentukan keberhasilan (Human touch). Tenaga ahli yang dimiliki oleh Lab. Inderaja dan SIG memiliki keahlian dan pengalaman yang akan menghasilkan suatu analisis dan kesimpulan yang berkualitas tinggi (Fuad, 2013).

Dengan teknologi inderaja faktor-faktor lingkungan laut yang mempengaruhi distribusi, migrasi dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan dengan cakupan area yang luas. Faktor lingkungan tersebut antara lain suhu permukaan (SST), tingkat konsentrasi klorofil-a, perbedaan tinggi permukaan laut, arah dan kecepatan arus dan tingkat prosuktivitas primer.ikan dengan mobilitas yang tinggi akan lebih muda dilacak disuatu area melalui teknologi ini karena ikan cenderung berkumpul pada kondisi lingkungan tertentu seperti adanya upwelling (Zainuddin, 2006).

Penggunaan sistem sistem digital da aplikasi sudah sangat di butuhkan dalam menunjang kegiatan dalam bidang kelautan.Kemajuan teknologi dalam bidang elektronika sangat berkembang pesat.dahulu rangkaian elektronika dibuat dengan menngunakan komponen-komponen tabung hampa,komponen dikstrit,seperti dioda dan transistor tapi saat ini sudah berkembang menjadi sistem digital yang telah di pasang untuk berbagai komponen.

Dalam pealatan digital penyajian data dan informasi merupaka susunan angka-angka yang dinyatakn dalam bentuk digital atai rangkain logika.Rangkain logika tersebut logika digital,yaitu gerbang AND,gerbang OR,gerbang XOR,dan gerbang XNOR,tapi dari gerbang logika tersebut dapat di rangkau kembali dalam sebuah IC,dalm sebuah IC terdapat beberapa gerbang logika digital.

Sistem analog memproses sinyal-sinyal bervariasi dengan waktu yang memiliki nilai-nilai kontinyu,teknologi analog meruapakan proses pengiriman sinyal dalam bentuk gelombag sedangkan sistem digital memproses sinyal-sinyal yang memiliki nilai-nilai dikstrit.Kelebihan dari teknoogi digitan kemampuanya untuk memproses pengiriman data dalam lalu lintas komunikasi yang padat dibandingkan dengan analog lalu lintas komunikasinya dapat di bilang rendah.sedangkan sinyal dalam bentuk digital proses pengiriman data atau lalu lintas dapat dengan sanagat cepat dan kelebihanya lagi memiliki tingakat error yang sangat kecil,dapat menguntungkan bagi penggunanya,sehinnga proses pengiriman digital ini dapat menyimpan data sinyal digital dengan cepat dan lebih mudah.

Bahwasanya sinyal digital berarti berasal atau berbasis pada komputer. Artinya adalah digital merupakan deskripsi sistem apapun yang berdatabase atau kejadian diskontinu jika dapat di terapkan pada komputer,kata digital menunjukan pada sinyal komunikasi atau informasi yang dapat di representasikan dalam dua keadaan yaitu 0 dan 1.Pada tradisional,transmisi elektronik pada sinyal telepon radio dan televisi kabel bersifat analog contohnya sinyal listrik pada telepon memliki data representasi pada suara asli pembicara yang di transmisikan dalam bentuk gelombang.

Keunggulan sistem digital dibandingkan sistem analog adalah

  • kemampuan memproduksi sinyal yang lebih baik dan akurat
  • mempunyai reliabitas yang lebih baik
  • Mudah di desain.tidak memerlukan kemampuan matematika khusus untuk memvisualisasikan sifat-sifat rangkaian digital ang sederhana.
  • Kemampuan program yang lebih mudah
  • Ekonomis jika dilihat dari segi biaya IC yang akan menjadi rendah akibatpengulanangan dan produksi massala dari integrasi jutaan elemen logika digital.

Logika digital dapat di representasikan dengan beberapa cara yaitu:

  • Tabel kebenaran menyediakan suatau daftar stiap kombinasi yang mungkin dari masukan_masukan biner -pada sebuah rangkaian digitalm dan keluaran-keluaran yang terkait.
  • Ekpresi-ekspresi boolen mengekpresikan logika pada sebuah format fungsional.
  • Diagram gerbang logika(logic gate diagrams.
  • High level description language(HDL)

Perkembangan teknologi dibidang komputer yang begitu cepat berdampak pada bidang kartografi pembuatan peta baik itu peta darat maupun peta laut Indonesia.Selain itu perubahan penanganan pada pekerjaan kartografi pembuiatan peta juga bersifat multi dispiplin yaitu dengan cara pendekatan kelompok,karena untuk proses pembuatan peta tidak mungkin lagi bekerja tanpa dio dampingi oleh operator sistem komputer,pemograman,dan menagement sistem.
Berbagai gerbang sistem logika digital di aplikasikan dalam sebuah IC yang berukuran kecil. Dalam sebuah IC atau multiplexer terdapat beberapa kumpulan gerbang sistem.Dari aplikasi sistem digital mpada komputer sehinnga dapat digunakan untuk aplikasi lain di berbagai bidang, termasuk pada instrument perikan dan kelautan Indonesia.


SISTEM INFORMASI GEOGRAFI PERIKANAN

Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah system yang berbasis komputer yang digunakan untuk memetakan kondisi dan peristiwa yang terjadi di muka bumi dan dapat juga dipakai untuk menyimpan, memanipulasi, dan menganalisis informasi geografi. Teknologi ini berkembang pesat sejalan dengan perkembangan teknologi informatika atau teknologi komputer. Informasi permukaan bumi telah berabad-abad disajikan dalam bentuk peta. Peta-peta umum (general purpose) menggambarkan suatu topografi suatu daerah ataupun batas-batas (administrative) suatu wilayah atau Negara. Sedangkan peta tematik (thematic) secara khusus menampilkan distribusi keruangan (sepatial distribution) kenampakan-kenampakan seperti geologi, geomorfologi, tanah, vegetasi, atau sumber daya alam lainnya.
Teknologi SIG ini dapat mengintegrasikan system operasi database seperti query dan analysis statistik dengan berbagai keuntungan analisis geografis yang ditawarkan dalam bentuk peta. Dengan kemampuan pada system informasi pemetaan (informasi spasial) yang membedakannya dengan system informasi lain seperti database, maka SIG banyak digunakan oleh masyarakat, pengusaha dan instansi untuk menjelaskan berbagai peristiwa, memprediksi hasil dan perencanaan strategis (Environmental systems Research Institute, ESRI).SIG memiliki kapabilitas menghubungkan berbagai lapisan data di suatu titik yang sama pada tempat tertentu, mengkombinasikan, menganilysis data tersebut dan memetakan hasilnya. Teknologi ini juga dapat mendeskripsikan karakteristik objek pada peta dan menentukan posisi koordinatnya, melakukan query dan analysis spasial serta mampu menyimpan, mengelola, mengupdate data secara terorganisir dan efisien.

Secara prinsip tujuan pemrosesan data pada teknologi SIG yaitu mempresentasikan : Input, Manipulasi, Pengelolaan, Query, Analysis, dan Visualisasi)

Apa yang tersaji pada sebuah peta, tidak lain adalah data atau informasi tentang permukaan bumi. Namun demikian, suatu peta juga dapat menggambarkan distribusi sosial ekonomi suatu masyarakat, Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa peta memuat atau mengandung data yang mengacu bumi. Yang diacu tidak lain adalah posisinya yaitu system koordinat bumi, baik yang menggunakan system bujur/lintang atau system UTM (Universal Tranver Mercator). Teknologi computer yang mampu menangani basis data dan menampilkan suatu gambar (grafik), merupakan salah satu alternative yang dipilih untuk menyajikan suatu peta. Sistem Informasi Geografi (SIG) tidak hanya dipandang sebagai pemindahan peta konvensional kebentuk peta digital, sebab dengan kemampuannya memanipulasi data, computer dengan SIG dapat menghasilkan suatu informasi berharga yang lain yang diperoleh dari hasil analisis yang diprogramkan padanya.

Secara global, insan budidaya perikanan cukup bisa berbangga hati dengan adanya peningkatan produksi yang cukup signifikan. Hal ini mengimbangi trend penurunan jumlah produksi hasil tangkapan laut akibat dampak dari over eksploitasi sumber daya ikan. Pada tahun 2010, berdasarkan laporan FAO, jumlah tangkapan ikan dunia berkisar 88,6 juta ton, jumlah ini mengalami penurunan sekitar 1,4 juta ton jika dibandingkan dengan tahun 2006. Sementara produksi budidaya perikanan di tahun 2010 meningkat hingga mencapai 60 ton dan memiliki peningkatan produksi tahunan sekitar 7,5 persen jika dibandingkan dengan 55,7 juta ton hasil produksi di tahun 2009. Apakah cukup dengan mengandalkan sistem teknologi yang ada saat ini untuk melanjutkan produksi budidaya perikanan? Dan apakah dengan adanya peningkatan sekitar 7 persen setiap tahunnya sudah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi (nutrisi) ikan terutama di Indonesia?. Ini menjadi menarik karena berdasarkan fakta yang ada, dengan teknologi yang dikuasai saat ini saja, jumlah produksi perikanan selalu meningkat. Di tengah euforia produksi budidaya ikan yang meningkat, tanpa disadari beberapa dampak negatif dari kegiatan budidaya mulai bermunculan. Dan umumnya didominasi oleh dampak penggunaan pakan yang berlebihan, eksploitasi lahan untuk perluasan tambak tanpa disertai dengan kajian lingkungan secara komprehensif, hingga meningkatnya akumulasi residu obat (antibiotika) dan hormon dalam tubuh ikan. Namun, kendala yang dihadapi budidaya juga berasal dari kegiatan industri dan pertambangan yang tidak ramah lingkungan sehingga mengganggu kualitas air perairan dan persepsi negatif masyarakat tentang produk budidaya yang dapat mempengaruhi genetik seseorang dengan isu Genetic modified organisms (GMOs) yang banyak diaplikasikan di beberapa spesies ikan budidaya, seperti ikan nila. Semua dampak dan ancaman ini membutuhkan sebuah solusi yang terintegrasi dengan peningkatan hasil produksi, dan itu hanya bisa dilakukan dengan penguasaan dan penerapan teknologi budidaya.

Berkaitan dengan teknologi, mungkin kita dapat belajar dari sebuah negara di Eropa dengan luas hampir sama dengan provinsi Jawa Barat : Belgia. Negara yang memegang rekor dunia tanpa pemerintahan ini berhasil memegang peranan penting dalam memajukan budidaya karena perhatian besar dari pemerintah untuk pengembangan Artemia, yang merupakan pakan hidup penting untuk kelangsungan hidup larva ikan dan udang. Ekspansi produk komersil Artemia hasil pengembangan teknologi di Belgia ini sudah merambah ke semua benua dan kita (Indonesia) termasuk negara dengan permintaan impor terbesar. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah: Kok bisa?. Secara teori Artemia hanya hidup di lingkungan dengan salinitas tinggi atau di lingkungan tanpa ada predator sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang di lingkungan tersebut. Sumber alami Artemia ini pun salah satunya berada di Great Salt Lake, Utah, USA dan Belgia tidak punya lingkungan yang mendukung untuk pengembangan Artemia secara massal. Namun semua ini bukan menjadi alasan untuk tidak berperan aktif dalam pengembangan komoditas ini dan akhirnya terbukti bahwa dengan ketekunan yang tinggi, negara kecil ini berhasil menjadi pusat pengembangan komoditas Artemia.

Sangat miris jika kita bandingkan hal ini dengan realita yang ada di negeri tercinta. Kita dianugerahi sumber daya alam namun sangat sedikit dari kita yang berpikir untuk mengoptimalkan sumber daya tersebut menjadi sumberdaya yang dapat bermanfaat untuk kemaslahatan orang banyak. Dan ini diperparah dengan sistem birokrasi yang pada akhirnya mengendurkan semangat pengembangan teknologi. Hal-hal seperti ini harus segera diantisipasi kalau kita tidak ingin jumlah produksi perikanan budidaya semakin berkurang dan tertinggal dari negara lain.

Beberapa teknologi budidaya perikanan saat ini yang sedang digunakan kalangan perikanan dan kelautan adalah:

1. Sistem resirkulasi (Recirculation Aquaculture System)
Sistem resirkulasi (Recirculation Aquaculture System) dan pengendalian mikroba dalam usaha pencegahan penyakit ikan. Kedua sistem ini sudah sangat umum kita dengar, Kita patut berbangga bahwa kita memiliki beberapa pakar yang mendalami kedua bidang ini, namun dukungan yang tidak optimal membuat pengembangan teknologi ini terkesan berjalan di tempat, dan akhirnya, kembali kita hanya puas sebagai pengguna.

Teknologi sistem resirkulasi sangat penting untuk terus dikembangkan dan diaplikasikan, mengingat kondisi kualitas perairan kita yang semakin terdegradasi. Seperti yang kita lihat di Kepulauan Riau, aktivitas industri dan pertambangan yang sudah melewati daya dukung lingkungan mengakibatkan banyaknya kematian ikan di beberapa sentra produksi budidaya. Beberapa daerah sudah menginstall teknologi ini, namun perlu dilakukan sistem pelatihan secara berkala dan riset yang lebih mengarah kepada optimalisasi kualitas air yang dihasilkan dan efisiensi nilai ekonomi untuk aplikasi teknologi ini.

Untuk pengendalian mikroba dalam lingkungan budidaya, pemahaman komunikasi antar bakteri (Quorum sensing) menjadi dasar untuk produksi beberapa bahan alami yang dapat menghambat komunikasi bakteri ini, yang biasa disebut dengan quorum quenching. Beberapa bahan alami seperti : Halogenated furanones yang diekstrak dari makro alga D.pulchra atau bahan alami seperti Cinnamaldehyde. Kedua bahan ini memiliki kemampuan untuk menghambat komunikasi antar bakteri. Teknologi ini dapat diterapkan untuk mengurangi pemggunaan antibiotika dalam sistem budidaya kita, karna seperti yang kita ketahui bersama bahwa penggunaan massal antibiotika yang tidak bertanggungjawab dapat mengakibatkan resistensi pada bakteri yang pada akhirnya tidakan pengobatan menjadi tidak efektif.

2. Aplikasi Poly-β-hydroxy butirate (PHB)

Teknologi lain yang dapat diaplikasikan dalam kegiatan pengendalian mikroba adalah aplikasi Poly-β-hydroxy butirate (PHB) yang dapat mengendalikan akumulasi jumlah bakteri di lingkungan budidaya. Poly-β-hydroxy butirate (PHB) yang saat ini sangat diharapkan untuk menjadi solusi pengendalian mikroba juga sedang dikembangkan oleh sebuah perusahaan komersil, yang sangat disayangkan bukan berada di Indonesia. Beberapa teknologi pencegahan juga dapat dilakukan, diantaranya adalah dengan penerapan probiotik dan immunostimulan. Dua tindakan prophylaxis terakhir ini bukanlah hal aneh lagi bagi pembudidaya dalam penerapan. Namun, pengembangan teknologi yang tepat untuk komoditas yang dikembangkan masih sangat diharapkan sehingga tidak terkesan seperti tumpang tindih aplikasi sebuah produk untuk banyak komoditas dan sistem budidaya.

3. Penggunaan GPS untuk Navigasi di Laut
Global Positioning System (GPS) merupakan sistem koordinat global yang dapat menentukan koordinat posisi benda dimana saja di bumi baik koordinat lintang, bujur, maupun ketinggiannya. Teknologi ini sudah menjadi standar untuk digunakan pada dunia pelayaran dan penerbangan di dunia. Kita pun dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan kita sendiri.
Sistem GPS dapat memberikan data koordinat global karena didukung oleh informasi dari 24 satelit yang ada pada ketinggian orbit sekitar 11.000 mil di atas bumi. Satelit-satelit tersebut terbagi atas 6 bidang orbit yang berbeda dengan masing-masing bidang orbit diisi oleh 4 satelit. Dengan konfigurasi seperti ini, maka setiap titik di bumi selalu akan dapat ditentukan koordinatnya oleh GPS setiap saat selama 24 jam penuh perhari.

4. SIG untuk eksplorasi kelautan

Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah system yang berbasis komputer yang digunakan untuk memetakan kondisi dan peristiwa yang terjadi di muka bumi dan dapat juga dipakai untuk menyimpan, memanipulasi, dan menganalisis informasi geografi. Teknologi ini berkembang pesat sejalan dengan perkembangan teknologi informatika atau teknologi komputer. Informasi permukaan bumi telah berabad-abad disajikan dalam bentuk peta. Peta-peta umum (general purpose) menggambarkan suatu topografi suatu daerah ataupun batas-batas (administrative) suatu wilayah atau Negara. Sedangkan peta tematik (thematic) secara khusus menampilkan distribusi keruangan (sepatial distribution) kenampakan-kenampakan seperti geologi, geomorfologi, tanah, vegetasi, atau sumber daya alam lainnya.

5. Instrumentasi Kelautan

Instrumentasi kelautan menggunakan altimetry, Altimetri adalah Radar (Radio Detection and Ranging) gelombang mikro yang dapat digunakan untuk mengukur jarak vertikal antara permukaan bumi dengan wahana antariksa (satelit atau pesawat terbang). Pengukuran ini dapat menghasilkan topografi permukaan laut sehingga dapat menduga geoid laut, arus permukaan dan ketinggian gelombang. Inderaja altimetri untuk topografi permukaan laut pertama kali dikembangkan sejak peluncuran SKYLAB dengan sensor atau radiometer yang disebut S-193. Satelit altimetri yaitu: GEOS-3, SEASAT, ERS-1, dan TOPEX/POSEIDON. Satelit terakhir ini adalah satelit misi bersama antara Amerika Serikat (NASA) dengan Perancis (Susilo, 2000).

Satelit altimetri memiliki prinsip penggambaran bentuk paras laut dimana bentuk tersebut menyerupai bentuk dasar laut dengan pertimbangan gravitasi yang mempengaruhi paras laut dan hubungan antara gravitasi dan topografi dasar laut yang bervariasi sesuai dengan wilayah. Satelit altimetri juga memberikan bentuk gambaran paras muka laut. Satelit ini mengukur tinggi paras muka laut relatif terhadap pusat massa bumi. Sistem satelit ini memiliki radar yang dapat mengukur ketinggian satelit di atas permukaan laut dan sistem tracking untuk menentukan tinggi satelit pada koordinat geosentris. Satelit Altimetri diperlengkapi dengan pemancar pulsa radar (transmiter), penerima pulsa radar yang sensitif (receiver), serta jam berakurasi tinggi. Pada sistem ini, altimeter radar yang dibawa oleh satelit memancarkan pulsa-pulsa gelombang elektromagnetik (radar) kepermukaan laut. Pulsa-pulsa tersebut dipantulkan balik oleh permukaan laut dan diterima kembali oleh satelit. Informasi utama yang ingin ditentukan dengan satelit altimetri adalah topografi dari muka laut. Hal ini dilakukan dengan mengukur ketinggian satelit di atas permukaan laut dengan menggunakan waktu tempuh dari pulsa radar yang dikirimkan kepermukaan laut, dan dipantulkan kembali ke satelit. (Heri Andreas dalam Hasanuddin Z A)
Intrumentasi kelautan dalam bentuk digital kini telah diterapkan pada alat-alat pengukur parameter fisika kimia laut seperti pada alat salinometer yang dipakai untuk mengukur tingkat salinitas air laut, conductivity meter yang dipakai untuk mengukur tingkat daya hantar listrik air laut dan lain sebagainya.

6. Akustik kelautan

Metode akustik merupakan proses-proses pendeteksian target di laut dengan mempertimbangkan proses-proses perambatan suara; karakteristik suara (frekuensi, pulsa, intensitas); faktor lingkungan / medium; kondisi target dan lainnya. Aplikasi metode ini dibagi menjadi 2, yaitu sistem akustik pasif dan sistem akustik aktif. Salah satu aplikasi dari sistem aplikasi aktif yaitu Sonar yang digunakan untuk penentuan batimetri.Sonar (Sound Navigation And Ranging): Berupa sinyal akustik yang diemisikan dan refleksi yang diterima dari objek dalam air (seperti ikan atau kapal selam) atau dari dasar laut. Bila gelombang akustik bergerak vertikal ke dasar laut dan kembali, waktu yang diperlukan digunakan untuk mengukur kedalaman air, jika c juga diketahui (dari pengukuran langsung atau dari data temperatur, salinitas dan tekanan).Ini adalah prinsip echo-sounder yang sekarang umum digunakan oleh kapal-kapal sebagai bantuan navigasi. Echo-sounder komersil mempunyai lebar sinar 30-450 vertikal tetapi untuk aplikasi khusus (seperti pelacakan ikan atau kapal selam atau studi lanjut dasar laut) lebar sinar yang digunakan kurang 50 dan arahnya dapat divariasikan.

Beberapa teknologi yang dikemukakan diatas merupakan bagian kecil dari pengembangan teknologi budidaya perikanan dan sangat disayangkan untuk sebahagian besar kita masih tertinggal. Hal ini terasa sangat kontradiktif dengan tersedianya pusat pendidikan dan riset perikanan budidaya baik milik pemerintah ataupun swasta. Kuncinya adalah perhatian dan dukungan dari pemerintah terutama untuk dana pengembangan riset dan teknologi. Kita dapat membayangkan kalau Indonesia menjadi satu dari pemain kunci dalam riset budidaya tentu hal ini akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi. Angka statistik yang dikemukakan di awal tulisan memberikan gambaran betapa jika pengembangan sektor perikanan budidaya ini dilakukan secara komprehensif tentu akan berdampak kepada peningkatan devisa negara dan peningkatan penyerapan angka tenaga kerja.

Sektor perikanan di Indonesia ibarat dewa yang sedang tertidur dan menunggu sentuhan teknologi untuk membangunkannya. Penguasaan teknologi dari hilir hingga ke hulu harus dapat dimantapkan terutama tentang kepastian ketersediaan benih ikan untuk budidaya yang sehat dan berkelanjutan. Tekonologi yang telah ada saat ini harus terus ditingkatkan untuk dapat mengoptimalkan keuntungan dari pengembangan teknologi tersebut.

Referensi: