Bagaimana pandanganmu terhadap fans yang punya obsesi tinggi terhadap idolanya?

image

Baru baru ini, marak sekali pemberitaan tentang sebuah grup boyband besar asal korea selatan yang bekerjasama dengan perusahaan kuliner cepat saji terbesar di Dunia.

Sebuah boyband tentunya memiliki banyak fans (penggemar). Dan grup penggemar dari boyband yang saya maksud tadi termasuk salah yang terbesar dan dikenal cukup agresif.

Mereka kerap kali memboyong semua produk2 yang diluncurkan oleh Idolanya itu, dan sering juga memancing keributan di media sosial untuk membela mati-matian idolanya.

Sontak saja, dengan adanya berita kerjasama bisnis yang tadi saya sebutkan, para penggemar ini begitu antusias dalam menyambutnya. Mereka bahkan sampai mengesampingkan peraturan (karena ini lagi pandemi jadi maksud saya adalah peraturan terkait menjaga jarak dan tidak berkerumun) demi mendapat produk tadi yang sebenarnya pun isinya hanya produk biasa dan diberi label Sang Boyband tadi saja.

Menurut saya obsesi mereka terlalu berlebihan. Jika kita melihat dari sisi ekonomi, mereka akan jadi membeli barang yang sebetulnya bukanlah kebutuhan mereka. Pengeluaran menjadi bertambah hanya untuk mengoleksi hal-hal yang berkaitan dengan sang idola tadi.

Kalau menurut kalian bagaimana? Apakah hal tersebut baik? Atau apakah saya yang merasa risih sendiri akan hal itu?

Lalu adakah teori terkait perilaku obsesi berlebihan pada idola ini?

Saya penasaran akan mengapa bisa mereka begitu sangat obsesif.

4 Likes

Wah bener banget mbak, lagi hype banget nih terkait salah satu merek yang menggandeng idol k-pop untuk dijadikan brand ambassador mereka. Ini adalah salah satu strategi marketing yang bagus, karena bagi idol yang memiliki banyak massa (fans) akan lebih mudah mempengaruhi para fans/penggemar untuk membeli produk tersebut.

Disini ada berbagai tipe orang & alasan mereka membeli produk yang bekerjasama dengan idol/selebriti.

  1. Orang yang membeli produk sebagai bentuk support kepada idolnya
    Kita tidak pernah tahu seberapa pengaruh sosok idol kepada penggemarnya. Bisa saja idol membuat para penggemarnya termotivasi untuk melakukan hal-hal positif, atau sekedar membuat para penggemar bahagia ketika tidak ada hal di sekitarnya yang membuat dia bahagia dan dia temukan dengan melihat sosok idolnya. Biasanya penggemar akan merasa berterimakasih secara tidak langsung dan senantiasa memberikan dukungan dengan mereka, seperti membeli produk-produk mereka. Secara positif, hal ini sebagai bentuk support mereka kepada sosok yang telah memberikan motivasi dan kebahagiaan bagi para penggemar.

  2. Orang yang membeli produk karena hanya mengikuti trend
    Tidak menafikkan bahwa banyak juga para orang yang membeli karena produk itu sedang hype dan akhirnya mereka membelinya untuk mengikuti trend saja. Biasanya tipe orang seperti ini hanya melakukan pembelian 1-2 kali saja karena mereka membeli bukan karena ingin mengonsumsi produk tersebut.

  3. Orang yang membeli produk karena “fans berat” idolanya
    Ini adalah salah satu tipe penggemar yang sangat mengidolakan artis/idol favoritnya dengan berlebihan. Dia tipe orang yang mudah marah ketika idolanya dihina dan selalu membela idolanya ketika melakukan apapun. Bahkan, dia rela menyimpan kemasan produk yang seharusnya dibuang, tetapi dia rela mengoleksi hal-hal yang berkaitan dengan idolanya.

Sekali lagi saya tidak bisa menjudge kenapa mereka sangat terobsesi dengan idolanya, karena saya tidak tahu kisah di baliknya. Seorang idol yang dapat menginfluence seseorang pasti memberikan banyak hikmah bagi para penggemar. Namun, menurut saya mengidolakan seseorang cukup sewajarnya saja, tidak perlu berlebihan. Atau bahkan memaksakan hal-hal yang tidak perlu.

Menurutku, akan selalu ada manusia yang mempunyai obsesi terhadap sesuatu. Selain fans-fans dari para idola ini, sebenarnya banyak contoh lain orang-orang yang terobsesi pada suatu hal. Misal saja, obsesi untuk mengoleksi bungkus mie instant, obsesi untuk memotrek gunung meletus, atau bahkan yang sering kita lihat diberita yaitu orang-orang yang terobsesi dengan harta dan kekuasaan.

Orang-orang yang terobsesi ini cenderung punya sifat yang sama yaitu bisa merelakan apa saja demi sesuatu yang menjadi obsesinya tersebut dan mereka bangga akan hal itu.

Mengapa ada orang yang obsesif terhadap sesuatu?

1. Aku pikir, mungkin orang menjadi terobsesi karena ada ikatan batin yang kuat antara orang tersebut dengan hal yang ia obsesikan.

Misal orang yang terobsesi untuk kaya mungkin disebabkan karena masa kecilnya ia tidak berkecukupan sehingga muncul dendam dan dibalas dengan ingin menjadi orang yang sangat kaya.

Begitu pula dengan para fans idol ini, bisa jadi mereka merasa punya ikatan yang kuat dengan pada idolanya karena suatu kejadian tertentu.

2. Selain itu, menurutku mereka bisa sampai saling berebut untuk mendapatkan produk yang diluncurkan idolanya untuk memperkuat identitas mereka sebagai ‘fans’. Juga bersaing dengan fans-fans yang lain. Ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri yang mereka rasakan saat mempunyai produk itu.

Untuk hal ini, menuruku kita tidak bisa melihat jelek hanya dari sisi fansnya. Dari sisi penjual, pengaturannya juga kurang direncanakan dengan baik. Mereka tau dengan pasti bahwa produk mereka memiliki pasar yang besar dan sangat diminati, sehingga seharusnya dari awal mereka sudah bisa mengantisipasi kejadian ini dan membuat peraturan yang jelas terkait keamanan saat masa pandemi.

Orang yang terobsesi sudah pasti akan berlebihan. Kalau tidak berlebihan maka tidak disebut obsesi. Dalam KBBI saja obsesi diartikan sebagai ganguan jiwa atau pikiran, lalu apakah orang-orang yang seperti itu masih bisa mengingat sisi ekonomi dan lain-lain saat sedang terobsesi? Pasti susah sih.

Fans yang tidak terobsesi pasti masih mampu menyesuaikan dengan kondisi ekonominya kok

Lalu apakah itu hal yang baik atau buruk?

Obsesi menurutku adalah hal yang buruk. Tapi tentu aku tidak langsung membenci atau tidak menyukai orang-orang yang terobsesi terhadap sesuatu. Karena kadang obsesi itu membawa kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Menurutku yang penting bagi orang yang punya obsesi pada suatu hal adalah jangan sampai merugikan orang lain karena obsesimu.

Menurut saya mayoritas penggemar grup idol tersebut adalah anak-anak praremaja hingga pertengahan 20-an. Yang mana pemikiran mereka belum begitu dewasa dalam membedakan mana keinginan dan mana kebutuhan. Mereka juga saling bersaing untuk mendapat penilaianlebih dari sesama remaja lain. maka tak heran jika anak-anak ini ada yang memaksakan diri untuk membeli segala perintilan K-pop.

Untuk produk yang sedang ngetrend sekarang menurut saya masih agak mendingan sih, setidaknya masih bisa dimakan. Walaupun harganya jauh lebih mahal (mungkin). karena masih banyak bentuk kemubaziran lain yang kerap dilakukan fans grup idol, misalnya memberi kado saat idolanya ulang tahun. Padahal idolanya juga kagak kenal sama mereka.

Tapi jika kita lihat dari sisi baiknya menurut saya setidaknya anak-anak ini tidak melakukan tindakan-tindakan yang negatif (ditengah marak dan mudahnya anak-anak terpapar bahaya pornografi misalnya).

Pada dasarnya menggemari artis idola adalah bagian dari menghibur diri, bisa mendapat banyak teman, tapi tetap harus ingat batasan. Jika tidak mampu jangan memaksakan. Sama saja halnya dengan Game, yang awalnya bermain untuk menghibur diri tetapi jika terlalu loyalpun bisa menguras penghasilan.

1 Like

Tidak ada yang salah mengenai support yang mereka lakukan terhadap idolanya. Namun, tentu saja obsesi berlebih yang anda maksud itu sangat buruk. Saya dalam medsos juga sering melihat beberapa dari fans yang toxic dan overproud, akan boyband mereka (anda pasti juga pernah melihatnya). Dan tentu saja itu sangat menggangu, secara tidak langsung. Dan sebagai orang yang menghadapi situasi ini kita lebih baik menanggapinya dengan kepala dingin, perasaan risih itu sebenarnya menurut saya tidak perlu. Adapun cara untuk mengubah rasa obsesi berlebih mereka itu bisa dari pendidikan yang baik tentang tata krama yang perlu ditanamkan, sebagai seorang pelajar: mungkin hanya perlu mengingatkan, kalau sebagai orang tua: perlu tindakan kepada anak masing-masing yang punya obsesi berlebih.

2 Likes

Betul saya rasa seperti itu juga, karena beberapa teman-teman saya yang mengidolakan boyband K-Pop yang mereka umurnya 20an keatas rata-rata tetap bisa tetap sewajarnya dalam mengidolakan. Yaa meskipun terkadang umur tidak selalu mempengaruhi kedewasaan seseorang, tapi pada umumnya memang seperti itu yang lebih tua biasanya lebih bisa mengendalikan.

Saya sendiri bukan salah satu penggila idol, ya meskipun ada beberapa idol yang saya idolakan tapi selama ini saya tidak pernah sampai yang terobsesi tinggi. Jadi saya rasa fans yang terobsesi tinggi terhadap idolanya adalah hal yang wajar. Karena tingkat fans dalam mengidolakan idolanya berbeda-beda. Nah kasus yang ini adalah fans yang obsesi tinggi terhadap idolanya bagaimana ya kira-kira?

Menurut pandangan saya terhadap fenomena ini adalah :

  1. Terlalu menghalu bahwa idolanya adalah segalanya
  2. Hal ini saya rasa wajar tapi kurang baik, karena banyak sekali dampak negatifnya. Misalnya bisa menjadikan idola terganggu privasinya, mengganggu ketenangan orang lain dll
  3. Bisa memicu rasa benci terhadap seseorang yang mungkin nantinya akan tersandung problem dengan idola
  4. Mengganggu aktivitas utama misalnya belajar, bekerja
  5. Hanya bisa melihat suatu hanya dalam satu titik saja

Saya pernah baca mengenai Celebrity Worship Syndrom. Pada intinya rasa suka kita pada selebritas atau idol itu sangat luas spektrumnya. Ada yang hanya suka saja, ada yang sampai terobsesi. Tapi bagaimanapun, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Perasaan suka itu harus dimoderasi dalam batas wajar agar tidak mengganggu aspek kehidupan kita yang lainnya.

Saya pikir, segala hal yang berlebihan itu tidak baik. Jadi, tidak masalah punya obsesi terhadap sesuatu, asal tidak berlebihan. Untuk fans yang punya obsesi terhadap idolanya juga tidak masalah bagi saya. Yang penting dia tidak menimbulkan masalah hanya karena sikap mengidolakannya itu, tidak merugikan orang lain, dan juga harusnya tidak merugikan diri sendiri. Mungkin banyak orang berpikir “terserah mau apa asal tidak merugikan orang lain”, padahal menurut saya, dirinya sendiri juga perlu dipertimbangkan. Seperti misalnya, demi menabung untuk beli album, seorang fan rela hanya makan mi instan setiap hari di indekosnya sebab uang makannya dialokasikan ke tabungan album tersebut. Hal ini tidak merugikan orang lain, tetapi jelas merugikan dirinya sendiri (kesehatannya). Jadi jika mengetahui hal tersebut, saya pikir kita berhak untuk menegurnya.

Untuk kasus BTS Meal kemarin (langsung sebut merek wkak), saya rasa sudah jelas bisa menimbulkan masalah: tingginya kemungkinan muncul klaster baru penularan Covid-19, serta merugikan orang lain: antrian panjang menyebabkan macet dan menganggu orang yang sebenarnya ingin membeli makanan seperti biasa di sana (bukan edisi spesial). Namun, saya yakin tidak semua fans-nya juga senang dengan perilaku kurang sadar diri tersebut, karena saya kenal beberapa teman yang—juga merupakan fan—malah memilih untuk tidak jadi beli karena kerumunan yang ada, atau menunggu hari berikutnya sampai keadaan sudah aman terkendali.

Mengidolakan seseorang merupakan hal yang wajar karena kita sebagai manusia dianugerahi perasaan untuk mengagumi sesuatu entah itu objek atau subjek. Namun perasaan seperti itu harus senantiasa di control agar tidak berlebihan dan mengakibatkan obsesi yang tinggi dan berdampak buruk bgi diri sendiri dan sekitar. Daripada mencurahkan obsesimu ke satu subjek saja, mending diarahkan kepada hal-hal yang lebih positif seperti obsesi belajar atau haus akan ilmu. Bukan berarti mengidolakan seseorang adalah hal yang buruk, namun menurut saya harus ada batasnya.

Sepakat. Belilah produk yang dipromosikan oleh idola kita sebagai dukungan kepadanya. Namun sekali lagi, jangan berlebihan. Uang yang kamu punya tetap harus dianggarkan pada hal-hal kebutuhanmu.