Bagaimana pandanganmu tentang "merasa bodoh" pada diri sendiri?

image

Di suatu kondisi tertentu, pasti kita pernah merasa seolah-olah kita merasa paling bodoh atau tidak tahu apa-apa, ketika melihat orang lain bisa melakukan semua hal dengan baik. Karena ini. kita bahkan suka mengutuki diri dengan mengucap kata-kata yang merendahkan diri sendiri. Tetapi pernakah kita menelisik sebentar mengenai kemampuan kita? Pantaskah untuk merasa bodoh dan merendahkan diri sendiri?

5 Likes

Tidak ada salahnya jika kita merasa bodoh, sebagai introspeksi diri. Yang penting kita menjadi tau dimana kelemahan kita dan bagaimana mau meningkatkannya, begitulah memang seharusnya. Dan jangan lupa kenali diri, ya gak? hehe

memang, kadang saya juga merasa seperti itu. tetapi kembali lagi, kalau saya terus-terusan menganggap diri saya sebodoh itu. kapan aku bisa mensyukuri apa yang saya punya. intinya, kita harus paham sama kelebihan kita masing-masing. kalau kita tidak pintar matematika, pasti kita pintar di mata pelajaran lain. setiap orang pasti lemah di salah satu mata pelajaran. tidak mungkin semuanya perfect, kalau ada pun berarti memang dia orang yang istimewa di sisi tuhan.

so, jangan minder dengan kelebihan orang lain. dan jangan lupa kenali diri kalian, keep fight! :wink:

Menurut pernyataan kakak," merasa bodoh di sekolah,apakah pandangan kita salah ".

100% saya akan menjawab salah jika berpikiran kita bodoh disekolah.

Gini ya,cerita ny aku punya teman laki laki. Dia itu gk terlalu pintar sekali,dan dia sering minta jawaban dan minta contekan ketika ujian. Dia malas belajar. Dia juga jarang bawa buku disekolah. Tapi, walau begitu dia itu jago dalam pelajaran olaraga dan seni budaya.

Dia pandai bermain bola kaki,basket,voli,bulu tangkis,renang,bela diri,badminton,atletik,catur,dan semua olaraga dia ahli.

Sedangkan. di bidang seni,dia jago menggambar tokoh anime,dan bisa bermain gintar dan piano.

Itu adalah kelebihannya,walau dia bodo pelajaran seperti, bhs indonesia,bhs ing,matematika,pkn,sosiologi,geografi,akutansi,sejarah.

Tapi dia itu ahli di bidang olaraga sekaligus seni. Oh iya tambahannya. Dia jago juga dalam pelajaran komputer (tik).

Ini membuktikan semua org memiliki kebisaaan dan kepintaran yg beda beda.

Memang sih bisa dikatakan sebagai intropeksi diri tetapi ada beberapa orang yang sampai tingkat akut sehingga kan bisa bahaya

Setuju, karena pada dasarnya tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing secara adil. “Tuhan tidak menciptakan manusia dengan sia sia tanpa maksud dan tujuan utama:)”

Menurut saya, salah satu fenomena di bangsa ini adalah ketika semisalnya seorang anak yang tidak pintar matematika, tidak pintar fisika, tidak pintar kimia, dan pelajaran formal lainnya maka anak itu dianggap bodoh, sehingga cenderung menjadi tekanan emosional bagi si-anak, padahal bisa saja keahlian si-anak ada di bidang seni, olahraga, dan keilmuan lainnya. Hal-hal inilah yang menjadi faktor kenapa banyak orang yang inscure terhadap diri sendiri, mendengar opini orang lain sehingga berpotensi tidak mengenali kelebihan diri.

Merasa bodoh itu wajib hukumnya sehingga kita memiliki kemauan untuk terus belajar dan mencari tau, namun apabila merasa bodoh dan terus-terusan berdiam diri itu fatal namanya.

Ayo kita berangkat dari perasaan bodoh itu, kita cari tau, kita kenali diri kita, "Saya bisanya apa,ya? Potensi diri saya apa,ya? Oh,iya, saya bisa melakukan ini, sayabisa berprestasi dengan ini", begitu seterusnya.

Mohon sangahannya untuk opini saya,ya teman-teman :relaxed: agar saya juga bisa pelan-pelan memperbaiki sudut pandang saya yang salah. Terima kasih.

Nah iya, disitu dia salahnya
Yang bisa kita lakukan ya memotivasi atau membantunya, karena musuh paling kejam itu ‘diri kita sendiri’

benar sekali pendapatmu kak,
mungkin kalau kita tidak pintar di bidang matematika, kita pintar di bahasa inggrisnya
karena setiap kemampuan pribadi itu berbeda-beda . dan kalau kita minder sama teman kita

kapan kita bisa bersyukur sama diri kita sendiri?
tuhan menciptakan manusia, pasti memiliki sisi kelebihan dan kelemahan tersendiri kok. semangat buat semuanyaaa :hugs:

1 Like

Aku jadi inget kemarin nonton video singkat dari Simon Sinek (Penulis buku Satrt with Why). Beliau cerita kalau salah satu kegiatan rutinnya adalah mengecek berapa rangking buku yg ia tulis di situ Amazon. Pernah suatu hari, dia melihat penulis lain yg juga memiliki rangking yg tinggi. Beliau pun semakin mencari tau tentang penulis itu dan semakin lama penulis itu membuatnya insecure. Beliau merasa, penulis itu memiliki semua hal yg beliau inginkan.

Suatu hari, dua penulis ini bertemu dalam acara interview. Simon Sinek langsung berkata pada penulis itu,

“Tau ngga? Kamu buat aku insecure loh!”

Dan ternyata, penulis itu membalas dengan berkata seperti ini,

“Hahaha, aku juga insecure gara-gara kamu!”

Jadi apa yang bisa didapat dari cerita ini?

Simon sinek menyimpulkan bahwa dia merasa insecure, tidak lebih baik, atau mungkin merasa bodoh dibandingkan penulis ini karena beliau melihat kelebihan-kelebihan dari si penulis itu yang ternyata itu menjadi kekurangan Simon. Begitu juga yg terjadi pada penulis satunya. Bagi dia, kelebihan-kelebihan Simon sangat hebat karena itu adalah kekurangan yg ada pada dirinya.

Akhir cerita, mereka berdua berteman dekat. Mereka saling mengembangkan kelebihan masing-masing dan berusaha saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Jadi, terkadang kita merasa bodoh atau tidak sepintar orang lain karena itu adalah kekurangan kita dan itu kelebihan orang lain. Saat seperti itu, ada satu hal yg kita lupakan yaitu kelebihan diri kita sendiri.

Merasa bodoh sebenarnya bagus untuk menyadarkan diri kita bahwa kita masih perlu banyak belajar. Tapi jika merasa bodoh lalu terpuruk dan tidak mau berusaha, itu hal yang buruk. Jika kondisi itu terjadi, kita bisa mengingat bahwa kita juga masih punya kelebihan-kelebihan lainnya yang bisa kita kembangkan. Tidak harus terus terpuruk pada hal yg kita tidak bisa kembangkan.

1 Like

Kalau yang dimaksud dengan “merasa bodoh” itu memang ia bodoh dan tahu dengan kebodohannya, saya kira itu perlu dan ia harus mengevaluasi diri untuk belajar kembali. Tapi, kalau di sini yang dimaksud adalah merasa bodoh ketika ia tahu sesuatu dan mencoba merendah, saya kira ada dua perihal yang tercipta di sini. Sebuah rendah diri atau ironi.

Rendah diri adalah sebuah kesalahan. Ketika dalam suatu diskusi atau simposium kita cenderung untuk diam karena rendah diri padahal kita tahu pembahasannya, kita sedang melakukan kesalahan fatal. Itu menyebabkan jatuhnya respek terhadap keilmuan dan diri pribadi yang mampu untuk melakukan sesuatu.

Ironi? Pernahkan membaca karya Plato yang menggambarkan sebuah “Ironi Socrates”? Beliau mencoba untuk menjadi tidak tahu apa-apa agar diskusi yang ia lahirkan atau tenggelami menjadi mengalir dan melahirkan sebuah gagasan pertanyaan yang beraneka ragam. Dalam beberapa kasus tertentu, ironi adalah syarat penting untuk melahirkan murid-murid atau kolega yang berkualitas dengan rasa kritis yang gila. Ironi tersebut mencoba menggali-gali kejanggalan dalam pengetahuan yang sedang dibicarakan. Maka, tentu “merasa bodoh” untuk ironi tidak salah dan baiknya diterapkan dalam diskusi.

2 Likes

Merasa bodoh bisa menjadi perasaan yang konstruktif sekaligus destruktif. Konstruktif apabila kesadaran akan kelemahan diri, atau dalam hal ini berupa kebodohan, mendorong seseorang untuk tidak berhenti belajar dan mengembangkan diri demi memperbaiki aspek tersebut. Orang yang memiliki kesadaran ini, biasanya lebih termotivasi untuk melakukan tindakan “perbaikan” dibandingkan dengan orang yang tidak menyadari kelemahan dirinya. Makanya ada pepatah yang mengatakan “kosongkan gelasmu saat menimba ilmu”. Artinya jangan sampai perasaan pintar membuat seseorang mencukupkan diri dan berhenti menambah pengetahuan maupun keterampilannya. Saya ingat dengan sebuah quotes Steven Jobs mengenai hal ini :

Di sisi lain, perasaan bodoh yang ditujukan untuk self criticism seringkali mengarah pada hal yang destruktif. Apabila seseorang menyerang dirinya sendiri dengan perasaan bodoh hingga ia merasa tidak berpotensi dan tidak kapabel, maka hal itu justru menghambat proses belajar dan pengembangan dirinya. Ia dapat mengalami demotivasi atau bahkan keputusasaan.

Oleh karena itu, kesadaran akan kelemahan diri harus dikelola dengan baik dan diarahkan ke hal yang konstruktif. Jangan sampai potensi yang dimiliki malah tidak disadari dan terbengkalai akibat terlalu fokus pada kelemahan.