Bagaimana morfologis reversible dan ireversibel?

Degenerasi yaitu keadaan penurunan perubahan biokimia intraselular disertai perubahan morfologis akibat jejas nonfatal pada sel, atau sebagai “Reaksi sel terhadap jejas yang masih reversible”

MORFOLOGIS REVERSIBLE DAN IREVERSIBEL
Degenerasi yaitu keadaan penurunan perubahan biokimia intraselular disertai perubahan morfologis akibat jejas nonfatal pada sel, atau sebagai “Reaksi sel terhadap jejas yang masih reversible” terjadi proses penimbunan (storage) atau akumulasi cairan atau zat lain dalam organel sel.

Secara mikroskopis sel akan tampak: pembengkakan sel, jika sel tidak mampu mempertahankan homeostatis ion dan cairan, akan terjadi perubahan morfologi dan timbunan lemak (terutama pada sel-sel yang terlibat dan tergantung pada metabolisme lemak seperti hepatosit. Pada degenerasi terjadi proses: penimbunan (storage) atau akumulasi cairan atau zat dalam organel sel. Bentuk perubahan degeneratif sel adalah: Pembengkakan sel, penimbunan lipid intrasel dan partikel yang lain. Perubahan degeneratif cenderung melibatkan sitoplasma sel, sedangkan nucleus mempertahankan integritas sel selama sel tidak mengalami cedera letal.

Pembengkakan sel adalah manifestasi yang pertama terjadi dari hampir semua bentuk jejas sel, muncul pada setiap sel yang tidak mampu mempertahankan homeostasis ionik dan cairan, disebut perubahan hidropik atau degenerasi vakuolar.

Gambaran morfologi secara makroskopis pada lesi reversibel: organ menjadi pucat, bengkak, lebih ringan, bidang sayatan menggelembung. Secara mikroskopis, banyaknya cairan yang masuk, terbentuk gambaran vacuola, sel membesar (swelling cell). Pada sel tubulus ginjal, menyebabkan penyempitan lumen tubulus, pada hepatosit, terpaksa mengurangi volume kapiler (sinusoid).

Referensi:
Buku Ajar Patologi Umum Veteriner