Bagaimana Model Mundell-Flemming?

Model Mundell-Flemming

Bagaimana Model Mundell-Flemming ?

3 Likes

Menurut Mankiw (2000), hubungan antara nilai tukar dan harga dapat melalui pasar uang dan pasar barang. Dalam ekonomi makro, model yang digunakan untuk memahami hubungan tersebut adalah model Mundell-Flemming (M-F). Model M-F mengasumsikan perekonomian terbuka kecil dengan mobilitas modal sempurna, sehingga perekonomian bisa meminjam atau memberi pinjaman sebanyak yang ia inginkan di pasar keuangan dunia dan akibatnya, tingkat bunga perekonomian ditentukan oleh tingkat bunga dunia. Asumsi tersebut, secara matematis, dapat ditulis sebagai berikut:

r = r*

Model M-F adalah versi perekonomian terbuka untuk model IS-LM. Model ini menuliskannya dalam persamaan berikut (Mankiw, 2000).
image

Persamaan pertama menjelaskan keseimbangan di pasar barang dan persamaan kedua menjelaskan keseimbangan di pasar uang. Variabel eksogen adalah kebijakan fiskal G dan T, kebijakan moneter M, tingkat harga P, dan tingkat bunga dunia r*. Variabel endogen adalah pendapatan Y dan nilai tukar e.

Gambar 2.3. Model M-F dibawah ini menunjukkan kondisi keseimbangan pasar barang IS* dan kondisi keseimbangan pasar uang LM*. Kedua kurva mempertahankan tingkat bunga konstan pada tingkat bunga dunia. Perpotongan kedua kurva ini menunjukkan tingkat pendapatan dan nilai tukar yang memenuhi keseimbangan baik di pasar barang maupun pasar uang. Titik e* merupakan nilai tukar keseimbangan, dan Y* adalah pendapatan dalam keseimbangan.
image

Dalam perekonomian terbuka kecil, tingkat bunga ditentukan oleh tingkat bunga dunia. Begitu kenaikan dalam penawaran uang menekan tingkat bunga domestik, modal mengalir keluar dari perekonomian, karena investor mencatat peluang yang lebih menguntungkan di mana saja. Aliran modal keluar ini melindungi tingkat bunga domestik agar tidak turun. Selain itu, karena aliran modal keluar meningkatkan penawaran mata uang domestik di pasar nilai tukar mata uang asing, nilai tukar mengalami depresiasi. Penurunan dalam nilai tukar membuat barang-barang domestik menjadi relatif mahal terhadap barang-barang luar negeri dan meningkatkan ekspor bersih. Oleh karena itu, dalam perekonomian terbuka kecil, kebijakan moneter mempengaruhi pendapatan melalui nilai tukar, bukan tingkat bunga (Mankiw, 2000). Implikasi bagi kebijakan moneter dari model ini adalah bahwa semakin sempurna mobilitas kapital, kebijakan moneter akan semakin efektif. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut (Santoso dan Iskandar, 1999):

  1. Kebijakan moneter yang kontraktif akan mendorong suku bunga dalam negeri meningkat dan nilai tukar akan cenderung apresiatif. Nilai tukar yang apresiatif akan mendorong impor dan menurunkan ekspor sehingga neraca transaksi berjalan akan memburuk. Suku bunga yang tinggi akan mendorong aliran model masuk sehingga transaksi modal membaik. BOP akan mencapai keseimbangan baru dengan tingkat output yang lebih tinggi dan nilai tukar yang menguat.
    image

  2. Transmisi ke harga domestik dapat dijelaskan melalui dua saluran sebagai berikut:
    • Apresiasi nilai tukar rupiah pada saat yang sama akan menurunkan biaya produksi perusahaan sehingga akan menggeser kurva penawaran agregat ke kanan bawah sehingga harga dalam negeri turun.
    • Kenaikan suku bunga akan mengurangi permintaan uang dari masyarakat sehingga kurva permintaan agregat bergeser ke kiri atas dan menyebabkan harga-harga dalam negeri semakin menurun.

  3. Kebijakan moneter yang ekspansif akan mendorong menurunnya suku bunga dan nilai tukar akan cenderung depresiatif sehingga akan menurunkan impor dan menaikkan ekspor, dan memperbaiki neraca transaksi berjalan. Suku bunga yang rendah akan menghambat aliran modal masuk sehingga neraca transaksi modal akan memburuk. BOP akan mencapai keseimbangan baru dengan tingkat output yang lebih tinggi dan nilai tukar yang melemah.

  4. Transmisi ke tingkat harga domestik dapat dijelaskan melalui tiga saluran berikut:
    • Depresasi nilai tukar rupiah pada saat yang sama akan menaikkan biaya produksi perusahaan sehingga akan menggeser kurva penawaran agregat ke kiri atas sehingga harga dalam negeri meningkat.
    • Penurunan suku bunga akan menambah permintaan uang dari masyarakat sehingga kurva permintaan agregat bergeser ke kanan bawah dan menyebabkan harga-harga dalam negeri semakin meningkat.
    • Kenaikan harga-harga dalam negeri akan memacu para buruh untuk menaikkan upah nominalnya sehingga akan menaikkan biaya produksi dan semakin meningkatkan harga-harga.

  5. Namun demikian, model ini tidak memasukkan unsur ekspektasi. Ekspektasi yang bersifat regresif akan memberikan efek yang berbeda dari kebijakan moneter maupun kebijakan fiskal yang diambil. Selain itu, model ini menggaris bawahi beberapa asumsi sebagai berikut:
    • Perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri merupakan faktor penting dalam mempengaruhi aliran modal masuk dan keluar.
    • Suku bunga dan nilai tukar memiliki hubungan yang negatif dan erat.
    • Kondisi Marshall-Lerner terpenuhi, yaitu elastisitas harga dari penawaran ekspor dan permintaan impor harus lebih dari satu.

Model Mundel-Fleming merupakan model yang banyak digunakan dalam teori penentuan nilai tukar. Model Mundel-Fleming dapat dikatakan sebagai perpanjangan dari model IS-LM dan kedua model tersebut menekankan interaksi antara pasar barang dan pasar uang. Perbedaan keduanya adalah model IS-LM digunakan pada sistem ekonomi tertutup, sementara model Mundell-Fleming digunakan pada sistem ekonomi terbuka. Model MundellFleming pada dasarnya mengasumsikan bahwa harga bersifat tetap dan perfect foresight. Model Mundell-Flemming menerapkan tiga persamaan yaitu: persamaan kurs, permintaan uang, dan pendapatan nasional.

Tiga persamaan dasar dalam model Mundell-Fleming adalah sebagai berikut:
image

Keterangan: (semua variabel dalam bentuk logaritma, kecuali variabel suku bunga).

image

Model Mundel-Fleming memiliki sejumlah implikasi penting terkait dengan keefektifan kebijakan fiskal dan moneter dalam menciptakan keseimbangan ekonomi, baik internal maupun eksternal.

Model Mundell Fleming tidak jauh berbeda dengan model IS-LM. Kedua model ini menekankan interaksi antara pasar barang dan pasar uang. Keduanya juga mengasumsikan bahwa tingkat harga adalah tetap dan menunjukkan apa yang menyebabkan fluktuasi jangka pendek dalam pendapatan agregat (atau, sama dengan pergeseran dalam kurva permintaan agregat). Perbedaaan pentingnya adalah bahwa model IS-LM mengasumsikan perekonomian tertutup, sedangkan model Mundell Fleming mengasumsikan perekonomian terbuka (IS*-LM*). Model Mundell Fleming membuat suatu asumsi penting dan ekstrem yaitu : model ini mengasumsikan bahwa perekonomian yang sedang dipelajari adalah perekonomian terbuka kecil dengan mobilitas modal sempurna. Artinya, perekonomian bisa meminjam atau memberi pinjaman sebanyak yang ia inginkan di pasar keuangan dunia dan, sebagai akibatnya tingkat bunga perekonomian ( r ) ditentukan oleh tingkat bunga dunia (r*). Secara matematis, kita bisa menulis asumsi ini sebagai :

r = r*

Tingkat bunga dunia ini diasumsikan tetap secara eksogen karena perekonomian tersebut relatif kecil dibandingkan perekonomian dunia sehingga bisa meminjam atau memberi pinjaman sebanyak yang ia inginkan di pasar keuangan dunia tanpa memengaruhi tingkat bunga dunia. Tanda asterik pada IS*- LM* menunjukkan bahwa pada model ini menggunakan asumsi tingkat bunga konstan pada tingkat bunga dunia r*.

Referensi
  1. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/131527-T%2027578-Bauran%20kebijakan-Tinjauan%20literatur.pdf
  2. https://www.bi.go.id/id/publikasi/seri-kebanksentralan/Documents/BSK-24-Nilai-Tukar-Ferry.pdf