Bagaimana menyikapi tingkah laku COVIDIOT?

Covidiot menurut urban dictionary adalah seseorang yang mengabaikan peringatan tentang kesehatan atau keselamatan publik ditengah pandemi covid-19. Tingkah laku covidiot ditengah wabah ini benar benar membuat jengkel bagi sebagian orang, seperti halnya tidak memakai masker saat keluar dari tempat tinggal, keluar dengan alasan yang tidak telalu urgent, atau mungkin memborong stok masker atau handsanitizer untuk ditimbun atau bahkan dijual lagi dengan harga yang jauh lebih tinggi. Miris rasanya jika melihat situasi yang sudah parah malah diperparah lagi dengan tingkah laku covidiot yang seolah olah tidak terjadi apa apa bahkan sebagian ada yang memanfaatkan situasi seperti ini untuk menambang cuan. Covidiot bertingkah seoalah olah tidak terjadi apa apa karena mungkin daerahnya belum ada kasus positif. Begitu setelah ada lonjakan jumlah kasus positif, mereka baru menyesal dan saling menyalahkan satu sama lain dan bahkan ada yang menyalahkan pemerintah atas kegagalannya mencegah penyebaran wabah ini disertai berbagai alasan dan tak lupa disertai juga sumpah serapah covidiot yang tambah memperkeruh situasi dan kondisi.

Gambar 1 Grafik perkembangan covid-19

Menurut data dari kompas.com (25/4) jumlah kasus positif corona di indonesia 8.607,sembuh 1.042, meninggal 720. Peningkatan jumlah kasus terjadi secara eksponensial sejak kasus pertama kali masuk ke indonesia (2/3). Hal seperti ini pasti membuat siapapun merasa resah dan cemas akan penyebaran wabah ini seolah olah tidak ada yang bisa menekan laju peningkatan jumlah kasus positif. Padahal yang membuat kasus ini semakin menyebar keseluruh daerah adalah masyarakatnya sendiri yang susah diatur. Seandainya masyarakat lebih patuh dan disiplin akan himbauan dari pemerintah mungkin penyebaran wabah tidak akan semasif seperti saat ini.

Disatu sisi covidiot merasa kebijakan yang diberikan pemerintah membatasi ruang gerak aktifitas mereka. Covidiot seolah olah merasa jikalau mereka seorang ekstrovert paling akut yang tidak bisa diperlakukan seperti ini. Covidiot mempunyai aktifitas tak terlalu urgent yang tak bisa ditinggalkan. Covidiot mengkritik apapun yang bertentangan dengan pandangan mereka, sedangkan mereka sendiri kolot untuk hanya sekedar menerima himbauan “ social distancing” ataupun “ stay at home” . Mereka bertingkah egois seenak jidat mereka tanpa memikirkan dampak dari kecerobohannya. Orang orang yang dekat dengan covidiot pun menjadi sangat rentan tertular virus ini padahal mereka sudah disiplin mematuhi himbauan dari pemerintah.

Disisi lain covidiot merasa cemas bagaimana nasib mereka jikalau virus yang populer disebut corona ini diam diam sudah menggerogoti kesehatan mereka. Bagaimana reaksi oranglain mengetahui kalau mereka terjangkit corona. Atau mungkin mereka sudah pasrah dengan kondisi seperti ini, ibarat kata jikalau mereka mendengar himbauan pemerintah maka pasti matilah mereka karena kelaparan jikalau tidak mendengarkan pasti matilah mereka karena corona. Sebenarnya hal seperti ini menjadi dilema sendiri bagi yang mengalami. Mati itu sudah ada yang mengurus jika sudah tiba waktunya maka kita tidak bisa menghindarinya sebaliknya jika belum tiba waktunya mau kita jungker balik mengelilingi alun alun 1000 kali pun juga gak akan mati. Paling tidak kalau kita memilih stay at home peluang kita meninggal itu lebih kecil, soalnya pemerintah pasti gabakal menutup mata dengan dampak kebijakan yang mereka buat. Jikalau sekiranya ada kebijakan yang kurang berkenan maka suarakanlah pikiranmu dengan cara yang baik dan benar bukannya dengan cara membangkang merugikan banyak orang. Ada banyak cara untuk menyuarakan pikiran kita salah satunya dengan menulis, jikalau tidak pandai menulis bisa dengan cara membuat podcast atau paling tidak kita bisa sesimpel menyuarakan pikiran kita lewat media sosial dengan etika yang baik dan benar juga tentunya.

Disituasi seperti ini wajarlah bagi semua orang panik karena banyak hal yang harus mereka korbankan atau bahkan hilang begitu saja karena wabah corona ini. Tapi sadarkah kalian wabah ini sudah resmi dinyatakan oleh WHO sebagai “PANDEMI” pada 11 Februari lalu. Itu artinya corona ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia, semua orang merasakan dampaknya bukan hanya kita saja yang mengalami hal tersebut. Pilihan yang ada hanyalah kita ingin mencegah diawal atau menyembuhkan diakhir. Menurut pepatah leluhur kita “Mencegah lebih baik daripada mengobati” sepertinya sudah kita lupakan, asing, abai seolah olah kita sudah seperti seorang kacang yang lupa pada kulitnya. Tetapi untuk saat ini pilihan mengobati adalah pilihan yang terbaik daripada tidak sama sekali. Mari kita berusaha patuh dengan himbauan pemerintah meskipun dirumah saja itu sangat membosankan, tetapi jika kita tidak patuh maka kebosanan kita akan bertahan semakin lama. Manfaatkan momen ini sebagai momen khusus untuk keluarga karena jarang juga anggota keluarga bisa berkumpul seperti ini.

Menurut saya covidiot sudah tidak bisa dibiarkan, disatu sisi mereka terkesan ingin mempercepat penyebaran wabah ini tetapi disisi lain mereka merupakan kerabat kita sendiri,teman dekat atau mungkin tetangga kita sendiri atau paling tidak mereka dan kita itu satu yaitu Indonesia. Maka sudah sepantasnya sebagai seorang saudara setanah air kita saling mengingatkan bahwa tingkah mereka itu kurang tepat. Saya yakin jikalau hanya seorang dua orang yang mengingatkan itu kurang mengena, maka dari itu pula saya mengajak semua orang yang merasa dirinya sudah bosan dengan himbauan dirumah saja mari kita ingatkan bersama sama para covidiot yang tidak menghargai usaha kita menekan laju pertumbuhan kasus positif corona dengan cara dirumah saja. Mari kita sadarkan mereka bahwa yang bosan tidak hanya mereka, yang terpaksa diPHK bukan hanya mereka, yang terancam kelaparan bukan hanya mereka. Kita semua tentunya ingin wabah ini cepat usai, mari kita bersatu saling meningkatkan solidaritas terhadap sesama. Saling mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan karena bantuan yang kita berikan tentunya akan mempengaruhi cara mereka bersikap menghadapi wabah ini.

Demikian essay ini saya tutup dengan kutipan dari Martin Luther King, Jr.

“The greatest tragedy of this period of social transition was not the strident clamor of the bad people, but the appalling silence of the good people.”