Bagaimana mengembangkan sebuah business metric dalam proyek Teknologi Informasi?

Business metric adalah cara mengukur apakah proyek yang dikerjakan sukses atau tidak. Business metric menjadi tolak ukurnya. Tolong jelaskan secara rinci cara mengembangkannya serta hal pendukung lainnya

Pada pengembangannya, business metrics harus berdasarkan pada 5 faktor yaitu Specific (spesifik), Measureable (dapat diukur), Actionable (dapat ditindaklanjuti), Relevant (relevan), Timely (tepat waktu), Cost-Effective (efektivitas biaya).

Untuk mengembangkan business metric dibutuhkan peraturan mendasar terlebih dahulu yaitu :

  1. fokus pada hasil yang diinginkan
    dalam mengembangkan business metric sebaiknya fokus pada tujuan utama sehingga pada masa pengerjaan tidak membuang-buang waktu mengerjakan yang tidak sesuai dengan tujuan.

  2. buat sesederhana mungkin
    jangan melakukan pengembangan business metric secara kompleks. Hanya cukup membuatnya dengan sederhana agar informasi yang disampaikan tepat sasaran

  3. libatkan semua anggota yang berpartisipasi tanpa kecuali
    merupakan salah satu hal yang penting dalam pengembangan business metric agar dalam pengembangan tidak menyia nyiakan sumber daya manusia

  4. mendasarkan metric pada tujuan organisasi dan prosesnya
    jangan hanya diliat pada fokus yang dicapai saja, melainkan harus melihat dari sisi tujuan organisasi dan proses tersebut

  5. menggerakan pegawai untuk bertindak secepatnya.

REFERENSI
https://www.slideshare.net/victorholman/developing-metrics-that-drive-performance-success

12 metric penting untuk kesuksesan IT

Metric adalah alat untuk tindakan pendukung yang mengijinkan program untuk berkembang menuju hasil yang sukses, mendorong perbaikan terus menerus dan memungkinkan pengambilan keputusan strategi.

Komite menawarkan sekumpulan prinsip umum untuk memandu mengembangkan dan menggunakan metric. Metric berperan penting dalam mencapai kesempurnaan yang mana metric memaksa organisasi untuk lebih perhatian pada performansi dan manajemen dalam melakukan penyesuaian ketika tujuan tidak tercapai.

Metric operasional

  • Performansi aplikasi online. Waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk merender sebuah tampilan atau halaman.
  • Ketersediaan aplikasi online. Persentase waktu aplikasi untuk berfungsi dengan sebaik-baiknya.
  • Sejumlah SLA terpenuhi. Persentase sejumlah pekerjaan utama yang selesai tepat waktu
  • Insiden produksi. Jumlah masalah produksi dilihat dari tingkat keparahannya
  • Tambahan metric operasional. Metric lain yang mungkin digunakan untuk menambah efektifitas operasional termasuk jumlah perubahan yang tidak terjadwal untuk sistem produksi.

Metric penyajian

  • Kepuasan proyek. Nilai rata-rata dari survei proyek yang dilakukan oleh rekan bisnis
  • Penyajian proyek. Persentase dari proyek yang diselesaikan dan disajikan tepat waktu
  • Biaya proyek. Persentase proyek yang diselesaikan sesuai dengan estimasi biaya
  • Penahanan cacat. Persentase cacat yang dibetulkan selama proses pengembangan dan membandingkannya dengan cacat yang ditemukan di 30 hari pertama proses produksi
  • Tambahan metric penyajian. Contohnya seberapa banyak perubahan yang dibuat selama freeze antara penyelesaian proyek dan install produk, dan seberapa baik estimasi biaya proyek pertama dibandingkan proyek terakhir.

Metric organisasional

  • Erosi. Persentase karyawan yang pindah pekerjaan
  • Ulasan performansi. Menyediakan timbal balik konstruktif untuk karyawan untuk meningkatkan produktifitas
  • Tambahan metric organisasional. Contohnya memastikan karyawan telah menuliskan ekspektasi performansi dan tujuan di awal tahun.

Metric keuangan

  • Varians anggaran. Biaya yang sebenarnya dibandingkan dengan anggaran
  • Biaya sumber daya. Rata-rata biaya dari sumber daya teknologi
  • Tambahan metric keuangan. Bisa dengan melacak biaya dari aktivitas, contohnya mengembangkan versus pemeliharaan versus menjalankan sistem versus biaya lainnya, bisa melihat area untuk perkembangan lebih mudah.

Referensi :

Dalam mengembangkan sebuah business metrics ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Yang perlu dilakukan yaitu mengenali data yang sangat penting, mempelajari matriks vanity, menyadari data yang baik merupakan investasi.

Dalam mengenali data yang sangat penting, data bisnis tersebut harus spesifik. Misalnya dengan menjalankan bisnis e-commerce, kesuksesan bergantung pada penjualan produk. Matriks top-line merupakan tempat memulai strategi data dengan memeriksa kira-kira apa saja yang mempengaruhi keuntungan sehubungan dengan biaya dan pendapatan. Setelah memeriksa kemudian dilanjutkan dengan mengkontekstualkan biaya dengan pendapatan dan penjualan. Rasio pendapatan biaya yang sederhana dapat menjadi ukuran dasar strategi apakah efisiensi atau tidak.

Selanjutnya yaitu mempelajari matriks vanity. Matriks vanity mengacu pada bilangan superfisial, data yang gagal diterjemahkan menjadi nilai bisnis yang bisa ditindaklanjuti. Matriks vanity dapat menggagalkan sebuah bisnis yang akan dilanjutkan, oleh karena itu kita perlu menjauhi matriks ini. Sebaiknya semua matriks harus dapat ditindaklanjuti, dapat diakses, serta dapat diaudit.

Kemudian yang perlu dilakukan yaitu menyadari sebuah data yang baik merupakan sebuah investasi. Setiap matriks yang harus dimonitor harus mempunyai potensi untuk mempengaruhi keuntungan yang didapatkan. Misalnya membandingkan tingkat pembelian antara deskripsi produk berbasis video dan teks. Dalam bisnis waktu itu sama dengan uang jadi setiap saat yang kita habiskan untuk melihat data harus diterjemahkan ke dalam mata uang yang disimpan atau diterima. Data adalah investasi dalam kesuksesan bisnis dengan strategi arah yang jelas.

Selain itu, dalam meningkatkan atau mengembangkan matriks bisnis yaitu dengan memanfaatkan teknologi dan otomasi. Misalnya menginstal sebuah aplikasi yang dimana akan membantu proses bisnis yang ada. Kemudian menggunakan forum untuk saling berhubungan antara anggota satu dengan yang lain.

REFERENSI

https://www.americanexpress.com/us/small-business/openforum/articles/is-your-data-strategy-measuring-true-marketing-success/


Dalam mengembangkan sebuah business metric dalam proyek TI perlu untuk melihat kondisi organisasi yang berkaitan.

Dalam startup, ada 9 metric penting.

  1. Customer Acquisition Cost (CAC)
    CAC adalah metrik yang paling penting ketika membangun starup karena sebuah organisasi memerlukan pengguna. Dan akuisisi pengguna membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
    Biaya yang dibutuhkan untuk mengakuisisi pengguna dapat dihitung dengan menambahkan seluruh biaya sales dan marketing.

  2. Retention
    Organisasi harus memperhatikan kepuasan customer, baik current customer maupun inactive customer.

  3. Churn
    Churn mengukur berapa banyak customer yang berhenti menjalin relasi dengan organisasi anda. Churn membantu organisasi untuk mengetahui alasan customer berhenti menjalin relasi dengan organisasi.

  4. Life Time Value (LTV)
    LTV mengukur besarnya perkiraan pendapatan yang dihasilkan setiap customer selama customer menjalin relasi dengan organisasi.

  5. Metabolisme Produk
    Maksudnya adalah mengukur kecepatan organisasi dalam membuat keputusan. Harus stabil untuk mempertahankan keseimbangan organisasi.

  6. Viral Coefficient
    Metric yang berguna untuk mengukur pertumbuhan organisasi, khususnya untuk organisasi yang berbasis website.

  7. Revenue
    Revenue adalah pendapatan organisasi yang dibawa. Berarti hasil pembelian produk dari customer atau bisa juga dari ketertarikan.

  8. Aktivasi
    Aktivasi adalah pengukuran nilai konversi visitor maupun pengguna aktif. Aktivasi diperlukan untuk mengetahui pengalaman pengguna.

  9. Referral
    Referral Rate dihitung dengan persentase customer baru yang berasal dari customer yang ada sekarang.

Semakin tinggi nilai referral, maka semakin rendah nilai CAC yang harus dikeluarkan sehingga membuat keuntungan organisasi semakin besar.


Referensi
https://blog.midtrans.com/9-metric-penting-untuk-start-up-anda/