Bagaimana Mengelola Gangguan Psikologi Agar Tidak Menyerang, Saat #DiRumahAja?

Kondisi pandemi covid-19 adalah kondisi atau keadaan yang tidak wajar, karena kita tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Kondisi dimana kesemuanya serba tidak pasti. Ketidakpastian karena belum ada obat untuk virus covid, masyarakat jadi mengkhawatirkan kesehatan dirinya, kerabat, keluarganya serta orang yang dicintai. Ketidakpastian, apakah orang yang sudah terdiagnosa positif virus covid-19 akan sembuh atau tidak. Kemudian, ketidakpastian dalam hal kondisi keuangan. Penghasilan yang menurun, bahkan tidak ada penghasilan sama sekali. Ketidakpastian dalam hal perkuliahan, tugas-tugas kuliah, praktikum yang seharusnya dilaksanakan disemester ini apakah diganti dengan bentuk lain atau ditunda setelah pandemi ini berakhir. Juga, pekerjaan serta hal-hal yang terkait dengan mengumpulkan orang banyak, ternyata tidak bisa dilakukan dan dibatalkan karena adanya pandemi covid-19.

Dari ketidakpastian saat ini, muncul reaksi dari tiap individu. Yang mana reaksi tiap orang pasti berbeda. Misalnya karena ketidakpastian penyakit ini yang tidak ada obatnya, sehingga menimbulkan panick buying. Menimbun masker, handsanitizer, bahkan APD yang dikhususkan untuk petugas medis, dibeli oleh masyarakat umum. Juga panick buying dalam hal makanan, seperti membeli stock makanan untuk berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Juga kini masyarakat menjadi over higenis, terlalu sering mencuci tangan atau mengelap semua barang yang berbahan logam atau besi. Masyarakat kini merasa harus memprotect diri agar tidak tertular virus covid-19.

Adanya reaksi bingung, stress, khawatir penghasilan menurun, merupakan reaksi yang wajar dari keadaan yang tidak wajar. Justru kalau memunculkan reaksi bahagia tanpa ada sedikitpun rasa cemas harus dipertanyakan. Namun, jika reaksi yang ditampilkan tersebut frekuensi dan intensitasnya meningkat dan tidak ada penurunan dari hari ke hari. Hal tersebut dapat berkembang menjadi gangguan psikologis; seperti gangguan kecemasan, psikosomatik, depresi atau jenis gangguan lain. Sehingga membuat aktivitas harian menjadi terganggu.

Dua bentuk gangguan psikologis yang mungkin terjadi di saat pandemi saat ini adalah kecemasan dan psikosomatik. Ciri umum kecemasan menurut Scully (dalam Andrianto, 2009) yaitu : Kecemasan pada masa depan, ketakutan akan kemalangan, perasaan panik, cenderung bereaksi berlebihan, hingga kesulitan tidur. Masih menurut Scully (dalam Andrianto, 2009) frekuensi kecemasan yang semakin meningkat dapat memperparah psikologi sehingga munculah psikosomatik yang memiliki ciri : sakit kepala, pusing, jantung berdebar dan sakit, serta gangguan pada perut (diare). Akibat informasi yang terus-meneurs diberitakan terkait penambahan jumlah positi covid, otak memaknai sebagai suatu hal yang menakutkan. Sehingga muncul reaksi fisik seperti pusing, dan sebagainya. Terdapat 3 point yang dapat dilakukan mengurangi gejala tersebut yaitu mengelola pikiran, mengelola perasaan, serta mendapat dukungan sosial.

Mengelola pikiran menjadi hal terpenting dalam kondisi saat ini. Apabila pikiran terkelola dengan baik, maka akan dapat mencegah terjadinya gangguan kecemasan. Lalu, untuk menghindari kecemasan berlebih, pilih informasi dengan sangat selektif dan utamakan untuk mengkonsumsi berita yang positif. Seperti peningkatan sembuhnya pasien covid atau temuan terkait penyembuhan covid yang sudah ada titik terang. Jika melihat berita yang judulnya tidak mengenakkan lebih baik dihindari guna mencegah terjadinya kecemasan. Bila melihat dengan kacamata agama, carilah hikmah dari sebuah kejadian. Bahwa kondisi saat ini merupakan ujian untuk senantiasa mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Namun, jika kita penasaran dengan informasi jumlah positif covid-19 tentu tidak masalah, terpenting tetap dibatasi agar tidak memicu kecemasan berlebih. Kemudian, menyadari dan menghargai setiap pengalaman yang terjadi selama masa pandemi saat ini. Dalam istilah psikologi ada yang disebut mindfull atau menyadari setiap pengalaman yang dialami, baik menyenangkan atau sebaliknya. Untuk selalu disyukuri walau tetap di Rumah saja. Juga, senantiasa berkhusnudzon kepada sang pencipta, selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian. Hanya saja seringkali hikmah itu kita temukan diakhir. Itulah hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengelola pikiran.

Setelah pikiran sudah dikelola, penting juga untuk mengelola emosi. Pertama, kenali perasaan yang muncul. Seperti saat kita diharuskan untuk stay at home yang sudah berlangsung selama satu bulan lebih, dan yang dirasakan adalah kebosanan. Maka namailah perasaan itu dengan ‘bosan’. Setelah dikenali dan mengetahui nama perasaan tersebut, maka kita dapat mengelola dan coba menerima perasaan itu. Sehingga, jika kita telah bisa mengidentifikasi perasaan tersebut, maka kita akan lebih mudah mencari solusi. Pikiran pun menuntun kita untuk menemukan solusi tersebut. Misalnya jika bosan, maka hal apa yang harus dilakukan untuk menetralisir kebosanan tersebut. Penting untuk mengenali dan menerima emosi tersebut, sebab terkadang kita kenal namun tidak bisa menerima emosi yang hadir. Sehingga memudahkan untuk mencari solusi dan membangkitkan harapan. Dalam agama pun kita diajarkan untuk senantiasa qonaah, yaitu berpikir positif, agar memiliki energi untuk mencari solusi. Berpikirlah bahwa nanti, suatu hari, pandemi ini akan berakhir, sehingga kita dapat kembali berkumpul bersama keluarga dan berkumpul bersama teman lagi. Hal itu membuat kita lebih semangat menjalani hidup di masa pandemi ini. Sehingga kita tetap sehat fisik, sehat mental dan sehat jiwa. Penting juga untuk senantiasa menanamkan perasaan sabar dan syukur. Apabila kita tidak sabar dengan keadaan saat ini, yang mana berapa lama pandemi akan berakhir, dapat dipastikan bahwa akan terjadi gangguan psikologis yang lebih lagi. Bersyukur akan memberikan perasaan yang menentramkan. Bersyukur juga dapat meningkatkan emosi positif seperti bahagia, nyaman, tenang selama menghadapi masa pandemi. Selain itu, menurut para pakar psikologi, bahwa emosi juga dipengaruhi dengan gaya hidup sehat. Seperti makan makanan yang bergizi seimbang ditambah dengan vitamin, tidur yang cukup serta berolahraga.

Dukungan sosial menjadi sangat penting untuk membuat manusia tetap sehat mental. Terkoneksi secara sosial menjadikan kita tetap ‘waras’ atau sehat secara mental. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah senantiasa menjaga komunikasi dengan teman maupun keluarga. Walaupun tidak bisa bertemu secara fisik, kita masih bisa melakukan pertemuan melalui media sosial berbasis video teleconference atau sekedar chat. Saling menanyakan kabar, kondisi, juga saling memberikan dukungan, dan mungkin membagikan cerita lucu. Hal tersebut dapat meningkatkan kesehatan mental kita, serta mencegah kita dari pikiran negatif. Hal kedua, isilah waktu bersama keluarga. Misalnya melakukan hobi bersama Ibu, sehingga dapat melekatkan hubungan dengan keluarga. Bisa juga melakukan sharing terkait kekhawatiran masing-masing anggota keluarga. Bukankah orang pertama yang seharusnya tau tentang kekhawatiran yang kita alami adalah keluarga ? Keluargalah yang menjadi relasi terdekat saat #diRumahaja kini. Jangan lupa bahwa kita tidak sendiri, ternyata ada anggota keluarga yang memiliki kekhawatiran yang sama. Bila saling sharing, kita dapat mengurangi beban batin masing-masing. Selain itu juga, kita dapat menawarkan bantuan kepada orang tua untuk mengerjakan sesuatu, sebagai pengalih rasa bosan.

Bila saling sharing, kita dapat mengurangi beban batin masing-masing.

Apabila upaya-upaya tersebut ternyata masih belum cukup memberikan pengaruh. Dan gejalanya belum berkurang. Seperti masih saja melamun, tidak bisa tidur, pikiran masih ruwet. Ada baiknya mencoba bantuan professional. Yakinlah bahwa semua dari kita pasti bisa melalui masa-masa sulit ini. Menjadikan kita pribadi yang tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Seperti kepompong yang sedang bermetamorfosis untuk menjadi kupu-kupu baik. Sehingga nanti ketika waktunya keluar, kita memiliki sayap yang indah, dan dapat memberi manfaat kepada lebih banyak orang.

Seperti kepompong yang sedang bermetamorfosis untuk menjadi kupu-kupu baik. Sehingga nanti ketika waktunya keluar, kita memiliki sayap yang indah, dan dapat memberi manfaat kepada lebih banyak orang.

5 Likes