© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana menanamkan norma-norma tradisional dalam diri?

Tradisional (Traditional) – Termotivasi oleh struktur sosial, norma, aturan dan asas

5 Likes

Menanamkan norma-norma dalam diri bisa dilakukan dengan berbagai cara. Hal ini sangat penting terutama pada anak. beberapa contoh norma yang bisa ditanamkan untuk diri sendiri.

  • Teladan
    Teladan berarti meniru seseorang yang memiliki sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh, seperti perbuatan, tingkah laku sifat, dan sebagainya. Sifat ini dapat ditiru dari perilaku orang tua yang baik, tokoh agama dari kisah-kisah kitab suci ataupun sejarah, pahlawan dalam usahanya memperjuangkan bangsa, penemu atau peneliti dalam menjalankan tugasnya untuk kemanusiaan.
    Tidak hanya itu saja, masih banya yang bisa dijadikan teladan, sepertiguru, publik figure, para pemimpin, dan sebagainya.

  • Pembiasaan
    Sesuatu yang dibiasakan dan dilakukan berulang-ulang, lama-lama akan mendarah daging. Dengan cara pembiasaan kita dapat menerapkan nilai dan norma dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu biasakanlah melakukan kebiasaan yang baik dan tinggalkan kebiasaan yang buruk. Pembiasaan akan membentuk karakter seseorang.

  • Penyadaran
    Untuk menerapkan norma dapat dilakukan dengan cara penyadaran. Dalam hal ini, sadar berarti merasa atau mengerti norma itu penting. Agar mengerti pentingnya norma, seseorang harus memahami nilai baik dari norma tersebut apabila dipatuhi dan dijalankan. Orang yang memahami pentingnya sebuah nilai dari suatu norma maka ia akan menjalankannya tanpa ada paksaan.

  • Pengawasan
    Pelaksanaan norma dalam masyarakt memerlukan pengawasan. Pengawasan dilakukan untuk memperhatikan tingkah laku masyarakat, untuk memastikan tidak adanya penyimpangansekalipun ditemukan penyimpangan, dapat secepatnya diambil tidakan untuk mengoreksinya. Pengawasan dapat dilakukan oleh berbagai pihak dengan cara bimbingan, sindiran, teguran, atau peringatan.

  • Peghargaan Dan Hukum
    Untuk menerapkan norma dapat dilakukan dengan memberikan penghargaan. Penghargaan tersebut dapat menambah motivasi seorang untuk menaati suatu norma. Penghargaan tidak selalu berupa hadiah, biasa saja berupa pengakuan, penghormatan, pujian, perhatian, dan sebgainya. Ada penghargaan bagi yang menaati norma, ada pula hukuman bai yang melanggarnya. Hukuman dibuat untuk menimbulkan efek jera bagi yang melanggarnya.

Sumber

4 Likes

Mendidik anak ibarat menanam sebatang pohon. Akhir-akhir ini dunia pendidikan banyak tercoreng oleh perilaku-perilaku negatif anak-anak didiknya. Bahkan ada anak usia sekolah dasar yang sudah berani melakukan tindakan kriminal dengan menganiaya teman sekelasnya sampai kritis. Belum terhitung kasus-kasus lainnya yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur yang masih mengenyam pendidikan di tingkat menengah, atas, atau pun perguruan tinggi.

Perilaku anak-anak sekarang bisa dibilang sudah banyak yang jauh dari etika dan norma-norma yang berlaku di masyarakat kita. Keadaan ini tidak lepas dari beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, diantaranya adalah:

Lingkungan
Lingkungan memberi kontribusi besar dalam mempengaruhi perilaku anak. Anak yang dibesarkan di lingkungan yang buruk secara cepat atau lambat akan mewarnai kehidupan anak sehingga anak akan menjadi seperti apa yang umum dilakukan di lingkungannya.

Kurang kasih sayang dan perhatian orangtua
Rata-rata anak yang berperilaku negatif mengatakan beberapa alasan yang sebagian besar karena diabaikan oleh orangtuanya. Orangtua terlalu sibuk dengan dunianya,pekerjaannya sehingga hampir tidak ada waktu untuk bertemu anak,bersanding bersama untuk ngobrol,bertukar pikiran dan hal-hal lain yang dapat mempererat ikatan antara orangtua dan anak.

Pergaulan
Pergaulan juga menjadi biang keladi anak menjadi buruk. Anak yang awalnya baik-baik bisa dengan mudah tertular oleh kawannya yang berperilaku tidak baik. Hubungan pertemanan yang aktif inilah yang membuat anak mudah terpengaruh dengan kebiasaan,perilaku dan tabiat temannya.

Orangtua tidak care dengan kebutuhan anak
Tidak sedikit orangtua yang tidak care terhadap anak alias cuek. Tidak mengasuhnya dengan baik dan mengabaikan pendidikannya begitu saja. Anak sekedar dibesarkan fisiknya tapi tak pernah tersentuh jiwanya. Anak merasa dirinya tidak dibutuhkan dan tidak ada artinya di mata orangtuanya. Sehingga anak mencari perhatian di luar dengan melakukan aksi-aksi negatif yang merugikan oranglain.

Tidak/ kurang pendidikan agama
Agama merupakan kebutuhan batin antara manusia dengan Tuhan yang sifatnya individual. Agama juga menjadi penangkal bagi orang ketika akan melakukan perbuatan yang tidak baik. Sebab dalam ajaran agama berlaku adanya dosa dan pahala. Ketika anak tidak mendapat bekal pendidikan agama dari orangtunya dikarenakan orangtuanya yang juga dangkal pemahaman agamanya dan sebagainya, anak pun tidak memiliki pegangan sehingga berbuat semaunya yang menurutnya baik bagi dirinya.

Broken Home
Orangtua yang berpisah/bercerai atau sering terlibat pertengkaran tak sedikit membuat anak merasa limbung. Anak mengalami stres dan kesulitan dalam menempatkan dirinya. Harus berpihak ke ayah atau ibunya, disebabkan orangtua bukan lagi kesatuan yang utuh dalam keluarga. Alhasil, anak mencari kesenangan di luar dengan sengaja berbuat onar demi mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Pengaruh Media
Media sekarang lebih canggih dan beragam. Televisi pun memiliki lebih banyak chanel dengan bermacam-macam tayangan. Sebagian besar tayangan yang tidak mendidik dan memberikan infus negatif pada anak. Adanya smartphone juga memudahkan anak mengakses web-web atau video-video yang akhir-akhir ini banyak muncul di media sosial. Zaman sekarang hampir setiap anak memiliki account di media sosial. Bahkan sudah merambah ke anak-anak yang masih tingkat Sekolah Dasar.

Tugas kita sebagai orangtua bisa dikatakan semakin berat dibanding dengan orangtua jaman dahulu. Namun hal ini jika dilihat dari beberapa sisi saja. Sebenarnya dari segi mendidik, tanggung jawab orangtua jaman dulu dan jaman sekarang adalah sama. Kalau orang jaman dahulu lebih mendidik anak dengan gaya mengalir sebagaimana yang turun temurun diterapkan dari orangtua ke orangtua. Sedangkan jaman sekarang yang segalanya serba modern dan mudah dijangkau memberi efek perubahan dalam pola mendidik anak.

Orangtua yang memiliki respek besar terhadap tumbuh kembang anak akan merawat, mengasuh, mendidik, dan membesarkan anak dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang tiada batas. Di samping itu juga memprioritaskan bekal keagamaan dengan rutin menyiraminya dengan nilai-nilai moral dan agama. Sehingga anak akan tumbuh menjadi anak yang membawa kebaikan dan manfaat bagi semua terutama kedua orangtuanya.

Perumpamaan mendidik anak itu seperti ketika kita sedang menanam bibit pohon. Kok bisa? Saat kita menanam pohon, sebelum bibit pohon ditanam kita harus terlebih dahulu mencari tanah atau lahan strategis yang hendak ditanami. Tanah yang gembur, subur, dan mengandung pupuk.

Tentunya yang jauh dari kemungkinan terkena banjir. Jika kita menanam pohon tanpa memperhatikan kesuburan tanahnya atau kita menanam di lahan yang tandus atau gersang, untuk pohon bisa bertahan hidup pun kecil. Jika tidak, pohon juga akan layu, tidak bisa tumbuh apalagi berbuah.

Begitu pun setelah bibit pohon sudah ditanam, tidak serta merta kita abaikan begitu saja biar pohon tumbuh sendiri. Tidak. Kita harus telaten merawatnya dengan menyiraminya setiap hari agar tanaman tetap segar dan tidak layu. Selain itu kita juga harus rajin memberi pupuk dan menyiangi rumput-rumput liar yang barangkali ikut tumbuh di sekitar tanaman / pohon. Kita juga harus sering-sering memantau perkembangannya, kalau-kalau ada tangkai atau batangnya yang patah atau tersayat.

Jika tanaman itu masih kecil kita perlu melindunginya dengan memasang pagar mengeliling, sebab kalau tidak, dikhawatirkan ada binatang yang merusak atau terinjak oleh kaki-kaki manusia. Kita perlu berkenan meluangkan waktu untuk fokus pada pertumbuhan pohon, agar pohon tersebut tumbuh subur dan berbuah lebat. Pohon yang terawat dengan baik tentunya akan menghasilkan buah yang bagus pula.

Dimakan enak dan jika dijual harganya pun akan mahal. Meskipun pohon sudah kuat, tangkai-tangkainya banyak, daunnya rimbun, akarnya telah menyatu erat dengan bumi, kita sebagai pemilik pohon pasti akan tetap dan bersungguh-sungguh menjaganya dari tangan-tangan jahil yang hendak memetik buah-buahnya dengan tanpa ijin pemiliknya alias ilegal. Kita musti selalu berdoa agar pohon yang kita tanam akan banyak memberi manfaat bagi semua, baik dari akarnya, batangnya, rantingnya,daun dan juga buahnya.

Anak ibarat bibit tanaman ( pohon) dan orangtua sebagai penanamnya ( pemilik pohon). Sebuah gambaran yang teramat jelas dan riil. Pendidikan anak tidak berfaktor hanya dari lingkup rumah saja, akan tetapi lingkungan juga memiliki andil besar dalam pembentukan karakter anak. Kita sebagai orangtua mengajarkan anak tentang perilaku yang baik-baik saja ketika di rumah, akan tetapi anak tidak melulu hidup di lingkup rumah saja.

Jika lingkungan di luar rumah tidak baik, misalnya : keluarga tinggal di kawasan hiburan malam atau kompleks anak-anak pemakai narkoba. Kemungkinan lingkungan yang buruk tersebut pelan-pelan akan dapat mempengaruhi otak anak. Selain di rumah anak juga dididik dari lingkungan. Baik buruknya lingkungan tempat tinggal akan berkontribusi besar dalam proses pendidikan anak. Jika anak hidup di lingkungan yang tingkat kriminalnya tinggi, secara berangsur-angsur, secara tidak sadar perilaku buruk lingkungan akan mewarnai kehidupan anak.

Oleh karena itu, kita sebagai orangtua memiliki tanggung jawab penuh dan sudah sepatutnya untuk mencari lingkungan yang baik, beragama, jauh dari zona tidak nyaman/ buruk yang akan menjadi ancaman buruk bagi perkembangan anak. Jika anak sudah berada di lingkungan keluarga yang baik, lingkungan luar rumah juga baik, bukan berarti bisa melepas anak sebebas- bebasnya tanpa pemantauan intens dari orangtua.

Lingkungan sebagai media anak dalam berperilaku dan belajar. Orangtua tetap sebagai controller terhadap perilaku anak. Orangtua juga berperan sebagai guide anak dengan memberi teladan yang baik ,banyak-banyak mengajarkan kepada anak ilmu agama serta rutin memberinya vitamin rohani untuk kebutuhan spiritualnya supaya anak memiliki jiwa yang kokoh. Pendidikan anak tidak sekedar ketika anak telah beranjak dewasa, melainkan sejak anak masih dalam kandungan ibunya. Pada saat anak masih dalam kandungan orangtua bisa merangsangnya dengan berbagai ragam ilmu atau stimulasi, diantaranya

  1. Sering-sering membacakan kitab suci Alquran bagi yang beragama Islam,dan kitab suci lain sesuai dengan agama masing-masing.

  2. Sering mengajak komunikasi baik oleh ibu mau pun ayahnya. Bayi dalam kandungan sangat peka dengan suara-suara yang diperdengarkan kepadanya. Jadi,ayah ibu perdengarkan yang baik-baik saja.

  3. Membacakan buku juga baik untuk stumulasi bayi dalam kandungan. Bayi secara spontan akan menyimpan bacaan-bacaan tersebut dalam memori kepalanya. Ini bisa terus diterapkan sampai anak sudah terlahir ke dunia.

  4. Banyak-banyak membelai, meskipun masih dalam kandungan namun anak peka atas belaian yang ditujukan kepadanya. Lebih bagus lagi sambil dibisikkan kata-kata positif sehingga kelak ketika anak lahir sudah terbiasa dengan kosa kata. Ini berpengaruh pada proses belajar bicaranya.

** Apabila anak sudah lahir, tanggung jawab orangtua akan lebih besar dan lebih serius lagi. Anak kecil merupakan makhluk yang paling rentan mencontoh apa yang dia lihat. Baik di dalam atau pun di luar rumah. Dengan begitu mudah anak menyerap apa yang dilihat, kita sebagai orangtua perlu melindunginya dari berbagai hal yang buruk sehingga tidak ditiru oleh anak.

Tidak mudah. Orangtua butuh ketelatenan, kelembutan, dan keseriusan, tapi bukan dengan mencengkeram anak, yang membuat anak tidak bisa berfikir mandiri. Seiring berjalannya waktu anak juga akan mengalami pertumbuhan dan berkembang dari semasa bayi menjadi balita, balita menjadi anak-anak, anak-anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa.

Orangtua yang sangat care dengan pendidikan anak (meliputi: pendidikan agama, pendidikan moral, pendidikan sosial dan pendidikan-pendidikan alam yang barangkali belum pernah diresmikan di materi pendidikan kita) dari anak masih dalam kandungan hingga anak beranjak dewasa, rangkaian kepedulian itu akan menghasilkan anak yang cerdas secara intelegensi dan cerdas pula secara emosi.

Orangtua, lingkungan dan masyarakat sangat membutuhkan generasi hebat dan tangguh seperti ini. Seperti pohon tadi, ketika pemiliknya betul-betul merawatnya dengan baik dan intensif maka pohon pun akan tumbuh subur, berbunga-bunga mekar dan menghasilkan buah yang bagus dan lebat pula.

3 Likes

Berdasarkan tulisan yang dibuat oleh Stanley Knick, Ph.D dalam beberapa hal budaya tradisional dan modern memiliki beberapa persamaan yaitu memiliki makna mengajarkan dan berbagi. Berbagi dan belajar adalah tujuan yang dimiliki oleh setiap generasi, budaya tradisional dan budaya modern memiliki fungsi yang sama dikarenakan keduanya adalah cara berpikir, serta keduanya yang menghubungkan akan manusia dengan alam semesta.

Awal dari semua budaya adalah bahasa. kata awal adalah budaya, seseorang yang melihat sesuatu pasti akan mengucapkannya dan ucapan itu adalah awal dari semua budaya, yang dapat ditiru atau diganti itulah arti dari berbagi kepada sesama.

Mungkin kata-kata seperti makanan, cinta atau tuhan dahulu bukan kata-kata yang umum namun sekarang kata-kata tersebut sudah memiliki arti yang besar sehingga pada jaman sekarang setiap kata memiliki makna.

Budaya tradisional dan modern sebenarnya serupa namun dalam kajian yang berbeda keduanya dikembangkan untuk mengakomodasi sekitarnya, sehingga baik budaya tradisional dan modern dapat melekat pada seseorang dikarenakan lingkungan maupun kondisi disekitar orang tersebut.
Contohnya : budaya bertani tidak cocok apabila dilakukan di antartika dan budaya rumah eskimo tidak cocok apabila ada di sahara.

Sedangkan budaya modern mulai dikembangkan pada jaman sekarang dikarenakan meningkatnya populasi manusia didunia. Pada awalnya perubahan yang dilakukan adalah pada militer seperti pembuatan pasukan , kemudian masuklah era mekanisasi untuk produksi yang mana kedua hal tersebut dapat merubah budaya tradisional.

1 Like

THE NINE CORE VALUES

Sewaktu saya duduk dibangku SMA sekolah saya mengajarkan tentang Nine core values atau Sembilan Nilai penting yang harus ditanamkan dalam kehidupan kita. Tentunya hal-hal ini akan berdampak sangat baik untuk kehidupan sosial apabila diterapkan.

1. HONESTY

Dalam hal apapun kejujuran sangatlah penting, jujur kepada teman,orang tua,dan rekan kerja. Karena dengan anda tidak menipu maka apa yang anda lakukan tidak akan menimbulkan masalah dan setiap orang akan senang berinteraksi dengan anda tanpa khawatir akan dibohongi atau merasa tertipu.

2. INTEGRITY

kepatuhan yang ketat untuk standar nilai atau perilaku; kejujuran pribadi dan kemandirian

3. SPORTMANSHIP

memiliki sikap sportif yang berarti anda harus dapat menerima dengan lapang dada baik disaat anda menang atau kalah. Mengamati aturan bermain dan menang atau kalah dengan fair.

4. RESPECT

menghormati siapa saja tanpa harus memandang kedudukan. Hormati yang lebih tua dan mengayomi yang lebih muda.

5. CONFIDENCE

yakin akan terhadap team dan diri sendiri. Yakin akan sesuatu yang positif akan menjadi dampak yang baik dalam kehidupan

6. RESPONSIBILITY

Tanggung jawab untuk semua resiko yang akan terjadi dari apa yang telah kita lakukan.

7. PERSEREVANCE
untuk bertahan dalam ide, tujuan atau tugas meskipun rintangan

8. COURTESY
Sopan-santun merupakan salah satu budaya yang sangat kental di Indonesia. Menjaga tutur kata lisan dan perbuatan merupakan norma yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

9. JUDGMENT
kemampuan untuk membuat keputusan atau membentuk opini; keputusan dicapai setelah pertimbangan

artikel ini bersumber dari http://www.thefirstteenorthwestarkansas.org/about/the-nine-core-values/

1 Like

A post was merged into an existing topic: Nilai-nilai apa yang seharusnya dipelajari pada anak kecil?

Pentingnya Nilai Tradisional dalam Organisasi
Source : The Importance of Culture in Organizations

Setiap organisasi memiliki budaya sendiri. Karena banyak karyawan menghabiskan 40 jam atau lebih di tempat kerja mereka, budaya organisasi mereka jelas mempengaruhi baik kehidupan pekerjaan mereka serta kehidupan pribadi mereka. budaya organisasi mengacu pada keyakinan, ideologi, prinsip-prinsip dan nilai-nilai bahwa individu-individu dari pangsa organisasi. Budaya ini merupakan faktor penentu dalam keberhasilan organisasi.

1. Kesatuan
Sebuah budaya organisasi bersama membantu menyatukan karyawan demografis yang berbeda. Banyak karyawan dalam sebuah organisasi berasal dari latar belakang yang berbeda, keluarga dan tradisi dan memiliki budaya mereka sendiri. Memiliki budaya bersama di tempat kerja memberi mereka rasa persatuan dan pemahaman terhadap satu sama lain, mempromosikan komunikasi yang lebih baik dan lebih sedikit konflik. Selain itu, budaya organisasi bersama mempromosikan kesetaraan dengan memastikan tidak ada karyawan yang diabaikan di tempat kerja dan bahwa masing-masing diperlakukan sama.

2. Loyalitas
budaya organisasi membantu untuk menjaga karyawan termotivasi dan setia kepada manajemen organisasi. Jika karyawan melihat diri mereka sebagai bagian dari budaya organisasi mereka, mereka lebih bersemangat untuk ingin berkontribusi pada kesuksesan entitas. Mereka merasa rasa tinggi prestasi untuk menjadi bagian dari organisasi mereka peduli dan bekerja lebih keras tanpa harus dipaksa.

3. Kompetisi
persaingan yang sehat antar karyawan merupakan salah satu hasil dari budaya organisasi bersama. Karyawan akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari atasan mereka. Hal ini pada gilirannya akan meningkatkan kualitas kerja mereka, yang membantu organisasi makmur dan berkembang.

4. Arah
Pedoman berkontribusi budaya organisasi. Mereka menyediakan karyawan dengan rasa arah dan harapan yang menjaga karyawan pada tugas. Setiap karyawan memahami apa peran dan tanggung jawabnya dan bagaimana untuk menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu yang ditetapkan.

5. Identitas
budaya organisasi mendefinisikan identitasnya. Cara entitas melakukan bisnis dirasakan oleh kedua individu yang terdiri dari organisasi serta klien dan pelanggan, dan itu ditentukan oleh budayanya. Nilai-nilai dan keyakinan dari suatu organisasi berkontribusi terhadap citra merek dengan yang menjadi dikenal dan dihormati.

1 Like

####Ajarkan anak anak anda tentang nilai nilai keluarga

Ingin anak anda menjadi tumbuh dengan solid, jiwa mengerti mana yang salah dan benar. Tapi bagaimana menyampaikan nilai-nilai keluarga kepada anak?

Mengajarkan nilai-nilai keluarga adalah pekerjaan orang tua. Tidak seperti mengerjakan matematika atau membaca. Mengerjakan nilai nilai keluarga bukanlah suatu hal yang diajarkan dengan kartu cepat atau dengan buku kerja. Sebaliknya , nilai nilai merupakan sesuatu hal yang mempresentasikan orang tua, kata Elizabet Berger., M.D

Apa yang anda sampaikan?

Setiap orang tua ingin membesarkan anaknya untuk mempunyai nilai moral yang bagus . tapi bagaimana anda tahu apa yang harus anda lakukan untuk anak anda?

Nilai nilai keluarga tersampaikan melalui apa informasi yang dilihat seorang anak : sikap orang tua, etika kerja dan hubungan. “anak anak ingin tumbuh besar seperti orang yang menyayanginya. Mereka ingin memakaikan kacamata ibunya dan sepatunya ayahnya, mereka akan meniru kulaitas karakter orang tua setiap peristwa selama hidupnya- keberanian ,disiplin diri , empati dan suka cita “kata berger

Apakah nilai-nilai keluarga perlu di jelaskan?

Nilai-nilai keluarga tidak begitu perlu untuk dijelaskan , berger berkata “ sikap dan tindakan mereka sendiri tegas dan jelas. ini merupakan apa yang anak amati pada seseorang yang penting yang berada disekitarnya dan apa yang mereka inginkan ketika mereka dewasa “kata berger

Kapan anda mengajarkan nilai-nilai keluarga?

Nilai-nilai keluarga diajarkan tiap hari “ setiap hal yang terjadi setiap hari bagian sarana kasih orang tua dan pengabdian hati pada anak… Unsur komitmen hidup yang terpenting adalah dalam memberikan anak rasa harga diri. Cinta orang tua pada anak adalah hal utama, dan nilai yang terpenting adalah nilai keluarga” kata berger

Kehadiran

Yang paling penting, untuk mengajarkan anak-anak nilai-nilai keluarga , Anda harus selalu ada bersama mereka.

“Jika Anda ingin memastikan nilai-nilai keluarga pada anak-anak Anda, ciptakan lingkungan yang hangat dan rutinitas yang padat. adakan makan malam bersama sebanyak mungkin bahkan jika perlu berarti selalu menata ulang jadwal makan malam keluarga Anda setiap malam,” kata Laura J. Wellington, CEO The Giddy Gander Perusahaan.

Mungkin sulit untuk dilakukan tetapi akan memungkinkan anak-anak Anda untuk menghabiskan waktu dengan Anda mendiskusikan hari mereka yang akan memberikan Anda kesempatan langsung untuk merespon dan meninjau nilai-nilai keluarga yang ada pada keluarga anda.

referensi : http://www.sheknows.com/parenting/articles/819573/Teaching-your-kids-about-family-values

1 Like

Cara menanamkan nilai-nilai yang baik
Menanamkan nilai baik tidak bisa seperti guru yang memberikan pelajaran matematika kepada murid kemudian sang murid lagsung mengerti. Proses penanaman nilai yang baik haruslah dimulai dari kita masih kanak-kanak. Karena sebenarnya anak-anak sudah mengerti dan merespon ajaran yang diberikan kepada mereka meskipun tindakannya belum sempurna.

Peran orang tusa sangatlah besar dalam tingkah laku dari seseorang karena lingkunganlah yang mebentuk pribasi setiap individu. Setiap orang tua pasti senang mendengar kalau anak mereka sopan dan santun kepada semua orang. Orng tua yang anaknya sopan dalam menjawab telepon akan lebih tidak khawatir dibanding anak yang tidak sopan ketika mereka iin keluar rumah. Lalu bagaiman orang tua dapat membesarkan anak mereka degan etika yang baik?

  1. Jadilah Contoh yang baik
    Dirumah, kamu harus menjadi contoh yang baik. ini mungkin terdengar biasa, tapi kamu tidak boleh meremehkan seberapa besar anak memperhatikan orang tuanya. Mulailah dengan hal dasar. Seperti biasakanlah kata Tolong dan Terima kasih. Pastikan merekan menggunakannya ketika meminta bantuan atau setelah mendapatkan yang mereka iginkan. Ingatkan mereka jika mereka tidak menggunakannya mereka tidak dapat mendapatkan yang mereka inginkan.

  2. Bersabar
    Pelajaran etika dan kebiasaan baik tidak bisa langsung berubah dalam semalam. Belajarlah lemah lembut ketika membenarkan perkataan yang salah dan berikan sedikit hadiah jika mereka melakukannya dengan baik. Dalam hal ini kedua orang tua harus bekerja sama untuk mensupport anak yang sedang belajar.

  3. Ajarkan rasa syukur
    Selain mengajarkan etika dengan kata-kata, bersyukur dan sopan santun adalah hal yang ada dalam nilai-nilai budaya kita. Ketika anak mengekspresiakan atas apa yang diberikan kepada mereka mereka akan merasa sebagai orang yang patut bersyukur. Perlihatkan orang-orang yang kurang beruntung dan ajak anak lebih bersyukur, karena ini dapat mengurangi keegoisan dari anak.

  4. Mulai lebih dini
    Mengajari anak sebaiknya mulai dini, ini karena muai 18 bulan anak dapat belajar tentang asas dari nilai yang diajarkan pada mereka. Anak lebih mudah menyerap ilmu-ilmu yang diterapkan khususnya dirumah yang merupakan lingkungannya. Kebiasaan dapat muncul karena sering terulang, maka sebaiknya mulai dari awal kebiasaan baik itanamkan.

  5. Lanjutkan sampai anak dewasa
    Setlah anak beranjak dewasa mereka akan mengingat ajaran-ajaran yang diberikan dan akan mengurangi pengawasan orang tua. Meskipun begitu, sesekali nyatakan kepada anak bahwa mereka melakukan hal yang baik karena mereka akan bahagia ketika merasa ada yang memperhatikan perbuatan meraka.

SUMBER : http://centerforparentingeducation.org/library-of-articles/baby-through-preschool-articles/teaching-children-manners/

1 Like

Jika anda ingin untuk serius dalam membangun budaya yang hidup nilainya, di bawah ini adalah lima alasan mengapa fokus pada keutamaan akan mempercepat jalan anda ke depan:

1. VIRTUES ARE A WORKPLACE GAME CHANGER

Sebagai penelitian dari London Business School menemukan, karyawan yang diterima untuk mengekspresikan diri di tempat kerja mereka, lebih tinggi komitmen organisasi, kinerja individu, dan kecenderungan untuk membantu orang lain.

2. VIRTUES LEAD TO GROWTH OF THE WHOLE PERSON

Perusahaan yang ideal membuat karyawan terbaik menjadi lebih baik dan yanglebih baik dari mereka adalah mereka yang berpikir mereka bisa. Karyawan tidak hanya mencari tempat terbaik untuk bekerja. Mereka ingin bergabung ditempat terbaik untuk tumbuh. posting blog Harvard Business Review baru-baru ini "Does your company make you a better person?" menunjukkan nilai tempat kerja di mana Anda tahu bahwa selain mengerjakan proyek, masalah, dan produk, anda terus memperkerjakan diri anda sendiri.

3. VIRTUES LEAD TO GREATER ONBOARDING SUCCESS

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Dan Kabel, Francesca Gino, dan Bradley Staats menemukan bahwa ketika perusahaan menekankan pada pendatang baru yang otentik dan terbaik, versus identitas organisasi, memberikan kontribusi untuk lebih besar kepuasan pelanggan dan retensi karyawan setelah enam bulan.

4. VIRTUES IMPROVE ENGAGEMENT

Menurut Gallup, dua prediktor yang paling penting dari retensi dan kepuasan karyawan menggunakan kelebihan utama Anda di tempat kerja dan memeberitahu bahwa manajer anda mengenali kelebihan utama anda. Namun, studi menunjukkan bahwa hanya sekitar sepertiga dari orang dapat mengidentifikasi kekuatan mereka sendiri. Bahkan lebih menyedihkan, hanya 17% orang dilaporkan menggunakan kekuatan mereka sebagian besar waktu setiap hari.

5. VIRTUES INCREASE SELF-AWARENESS

Sebagian besar organisasi memiliki mekanisme untuk membantu meningkatkan tingkat karyawan mereka. kesadaran diri dan memberi tau posisi mereka. Tetapi fokus biasanya pada kelemahan. Penelitian menunjukkan titik buta sekitar kelebihan anda juga sama masuk akal. Menurut Robert Biswas-Diener, pelatih eksekutif dan direktur pengelola Positif Acorn, anda juga dapat mengalami kekuatan kebutaan: Anda buta terhadap kekuatan pribadi karena apa yang orang lain lihat sebagai yang luar biasa anda hidup setiap hari, dan karena itu melihat hanya seperti biasa.

Organisasi yang menyadari potensi ini ampuh untuk keunggulan manusia akan melampaui budaya mereka saat ini dan menciptakan efek rumah kaca: bersinar terang pada apa yang terbaik tentang orang-orang mereka sementara budidaya kondisi untuk setiap sistem nilai organisasi untuk hidup, bernapas, dan berkembang.

Sumber :
https://www.fastcompany.com/3028201/leadership-now/5-reasons-you-need-to-instill-values-in-your-organization

1 Like

Nilai - nilai sosial sangatlah penting bagi kita dalam melakukan segala aktivitas yaitu sebagai pedoman dalam menentukan hal - hal baik dan buruk, dalam pengambilan keputusan dan dalam bersikap. Sebagai makhluk sosial tentu kita harus mempunyai kesadaran akan nilai - nilai yang sudah tertanam dilingkungan masyarakat kita, jangan sampai kita melanggar nilai - nilai tersebut karena akan mengakibatkan kesenjangan satu sama lain. Hendaklah kita saling menghargai dan menghormati agar kita hidup rukun.

Berikut adalah langkah awal menerapkan nilai - nilai tradisional dalam kehidupan sosial :

  • Memiliki sasaran, setiap individu memiliki tujuan yang mana akan direalisasikan menjadi kerja nyata.

  • Menghindari pikiran negatif, dalam kehidupan sosial tentulah sesama kita akan memberikan kritik dan saran, cobalah untuk menyikapinya dengan positif untuk perubahan yang lebih baik.

  • Memiliki waktu untuk diri sendiri, hal ini penting untuk kita merefleksikan diri sendiri tentang apa yang sudah kita kerjakan dan yang akan kita kerjakan dan sebagai wadah intropeksi diri.

  • Memiliki waktu untuk sesama, sebagai makhluk sosial kita harus bersosialisasi dengan sesama dan lingkungan agar terjalin hubungan yang baik dan menciptakan harmonisasi yang seimbang.

  • Cobalah untuk melihat segala sesuatu dengan hal baik, setiap hal yang terjadi bisa menjadi positif jika kita menyikapinya secara positif.

Mengembangkan nilai - nilai tradisional dalam diri :

  • Bersikap dengan baik terhadap lingkungan sosial dan orang lain, dalam lingkungan sosial kita menemui banyak orang dari berbeda suku , ras dan tradisi sebagai makhluk sosial sudah seharusnya kita saling menghargai dan menhormati perbedaan yang ada jangan sampai ada perselisihan yang dapat merusak keharmonisan bermasyarakat.

  • Menjadi pribadi yang proaktif, menuntut kita untuk menjadi aktif tentang sekitar dan memiliki inisiatif yang tinggi.

  • Temukan inspirasi, dalam masyarakat sosial tentulah kita menemui banyak orang yang hebat yang dapat kita jadikan inspirasi yang menuntun kita menjadi pribadi yang lebih baik.

  • Membantu orang lain, sudah sewajarnya kita sebagai makhluk sosial hidup saling membantu dan memperhatikan satu sama lain.

  • Memiliki pergaulan yang benar, lingkungan sosial juga terbagi menjadi dua, lingkungan baik dan lingkungan buruk oleh karena itu kita harus dapat menyikapi kedua hal ini secara bijaksana agar kita tidak merasa rugi dan tidak merugikan orang lain.

Dengan menerapkan semua hal baik dalam kehidupan sosial, kita dapat diterima oleh lingkungan sosial secara terbuka.

Sumber :

Attitude of Gratitude

Salah satu norma traditional yang terdapat dalam hidup adalah Rasa Syukur. Sikap rasa syukur kita dapat membuat kita bahagia dalam menjalani hidup. Berikut adalah empat cara di mana saya bekerja untuk mempertahankan sikap syukur dalam hidup kita.

  1. Learn to live in the present.
    Belajar untuk hidup di masa sekarang.
    Kita tidak bisa mengubah masa lalu kita, dan kita tidak tahu apa yang ada di masa depan.
    Saat ini adalah semua yang kita miliki. Jangan mengingat masa lalu yang mungkin tidak sesuai harapan kita. Ataupun jangan tergesa tegesa untuk apa yang ada dimasa depan.Tetapi nikmatilah hidup yang ada sekarang. Praktek ini juga membantu kita untuk menikmati hidup dan tidak terburu-buru mengerjakan berbagai hal dan dapat mengurangi stres.

  2. Be grateful for the little things
    Bersyukurlah untuk hal-hal kecil. Ini mengalir secara alami dari belajar untuk hidup di masa sekarang. Seringkali kita membandingkan diri kita dengan orang lain, mencari apa yang orang lain miliki yang tidak kita miliki. Bersyukur atau puas dengan hidup kita dapat dicapai dengan memperhatikan hal-hal kecil yang biasanya kita abaikan seperti matahari terbenam, roti buatan sendiri, secangkir teh, pekerjaan kita yang mungkin membosankan dan banyak hal lainnya.

  3. Keep a gratefulness journal.
    Salah satu cara untuk meningkatkan rasa syukur kita adalah dengan membuat jurnal yang berisi hal-hal yang kita syukuri. Praktek ini membantu kita untuk fokus pada saat ini, menjadi waspada dan penuh perhatian untuk hal yang berharga ini karena mereka muncul. Menuliskannya tidak hanya membantu kita untuk mengingat mereka, tetapi memberikan catatan nyata dari berkat yang kita dapat kembaliketika kita membutuhkan dorongan seperti saat gagal ataupun kecewa.

  4. Accept that hardships are a part of life.
    Menerima bahwa kesulitan adalah bagian dari kehidupan dapat membuat kita bersyukur saat kita bahagia. Sama seperti setiap kue yang baik perlu kepahitan untuk merasakan bahwa kue itu enak, sehingga kehidupan yang baik itu hidup yang tidak tanpa kesulitan. Kita harus berharap kesulitan, menerima mereka dengan rahmat, dan belajar untuk bangkit dari kegagalan atau kekecewaan. Hidup tidak selalu mudah, tetapi kita selalu dapat memilih untuk bersyukur, tidak peduli apa keadaan kita.

A post was merged into an existing topic: Bagaimana mengelola stress dalam diri?

Culture Norms

Sumber : https://www.cliffsnotes.com/study-guides/sociology/culture-and-societies/cultural-norms

Norma-norma yang telah disepakati adalah aturan yang budayanya memandu perilaku anggotanya dalam situasi tertentu. Tentu saja, norma-norma dapat bervariasi di seluruh kelompok budaya. Kita mengambil saja contohnya seperti di Negara Amerika, mempertahankan kontak mata secara langsung saat bercakap-cakap dengan orang lain. Asia, di sisi lain, mencegah kontak mata secara langsung sebagai tanda kesopanan dan hormat.

Dalam sosiologi setidaknya ada empat jenis norma yaitu: folkways, adat-istiadat, tabu, dan hukum. Folkways, terkadang dikenal sebagai “konvensi” atau “kebiasaan,” adalah standar perilaku yang secara sosial disetujui tetapi tidak signifikan secara moral. Misalnya, bersendawa keras setelah makan malam di rumah orang lain melanggar suatu folkway di Negara Amerika. Selain itu, Melanggar adat istiadat, seperti memakai pakaian yang terbuka atau tidak pantas saat berada di gereja, akan menyinggung sebagian orang dari sudut pandang budaya. Perilaku tertentu dianggap tabu, yang berarti budaya benar-benar melarang mereka, seperti incest dalam budaya AS. Akhirnya, hukum adalah badan resmi aturan yang diberlakukan oleh negara dan didukung oleh kekuasaan negara. Hampir semua dianggap tabu, seperti pelecehan anak, yang ditetapkan menjadi undang-undang, meskipun tidak semua adat istiadat menganggap seperti itu. Misalnya, mengenakan bikini ke gereja mungkin menyinggung, tetapi tidak melawan hukum.

Anggota budaya harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku beserta fungsinya. Oleh karena itu, dalam menanamkan norma tradisional anggota budaya harus mau menyesuaikan diri dan mematuhi aturan. Langkah pertama yang dilakukan yaitu harus internalisasi norma-norma sosial dan nilai-nilai yang menentukan apa yang “normal” untuk suatu budaya, dalam hal itu mereka harus bersosialisasi dengan baik, atau mengajarkan norma dan nilai-nilai untuk anak-anak mereka agar kelak dapat menjaga norma tradisional yang telah diajarkan. Jika internalisasi dan sosialisasi gagal untuk menghasilkan kesesuaian, beberapa bentuk “kontrol sosial” sangat dibutuhkan. kontrol sosial tersebut dapat berupa pengucilan, denda, hukuman, atau bahkan penjara.

Dalam kehidupan sebuah attitude sangatlah mempengaruhi tingkat keberhasilan seseorang. Attitude penting karena berarti sikap hidup seseorang dan juga hal yang dapat dinilai oleh orang lain.

Menurut Shawn Achor dalam mengembangkan positive attitude terdapat 6 cara, yaitu:

  • Katakan pada diri sendiri bahwasanya dapat berubah
    Meluangkan waktu sejenak untuk melihat hubungan antara perubahan dan pertumbuhan pribadi. Seperti halnya menuliskan momen terbesar pada perubahan hidup kita sehingga menjadi pribadi yang kita harapkan.

  • Pergi ke tempat lain
    Menurut penelitian,lingkungan baru dapat meningkatkan perspektif menjadi lebih baik. cara ini bertujuan untuk melatih otak melihat poin lebih menguntungkan sehingga dapat belajar untuk mendekati masalah dengan perspektif yang lebih luas dan lebih dalam,"

  • Mengisi
    Semua orang mengetahui bahwa rasa lelah ditambah dengan rasa lapar menghasilkan ketidakbahagiaan. Otak menafsirkan kurang tidur sebagai ancaman terhadap sistem saraf pusat. Cukup tidur adalah sebuah hal sederhana namun sangat penting untuk diri kita sendiri.

  • Mengidentifikasi hal positif dan negatif
    Kesadaran akan hal negatif dapat memotivasi kita untuk mengambil tindakan, dan tindakan mencari mereka dapat membuat otak kita lebih fleksibel dan gesit

  • Memiliki orang yang tepat untuk mensupport diri kita
    Terus berbicara dengan orang yang berpikiran sama dengan diri kita berarti hanya mendengar perspektif yang sama secara berulang. Namun untuk mendapatkan positive attitude, mencari sudut pandang yang berbeda untuk mengenali semua aspek masalah.

  • Menyalurkan stress
    Stres membuat setiap situasi menjadi lebih buruk. Dengan mengajarkan diri untuk berpikir tentang hal positif dari stres dapat meningkatkan kinerja serta kesehatan mental ataupun fisik. .

Bagaimana Menanamkan Norma-Norma Tradisional Dalam Keluarga

  • Temukan Tujuan dan Membuatnya Secara Personal
    Meg Cox menyarankan menggunakan cara ini ketika menyusun tradisi keluarga. Ketika mempertimbangkan sebuah tradisi baru, pertama tanyakan pada dirimu sendiri, "Apa tujuannya?Apa yang saya harapkan dari keluarga saya terhadap itu? Apa Anda ingin menanamkan nilai keluarga dengan sebuah tradisi? Sebagai contoh, katakanlah Anda ingin membuat tradisi Thanksgiving untuk mendorong keluarga atas pentingnya rasa syukur.

  • Menggabungkan tradisi dari masa kecil Anda, tetapi fokus pada menciptakan tradisi Anda sendiri dengan keluarga baru Anda
    Mencoba untuk menggabungkan tradisi dari sisi masing-masing pasangan dalam pernikahan baru. Misalnya, keluarga Anda selalu membuka satu hadiah natal pada malam Natal, tetapi Istri Anda merasa bahwa hadiah Natal harus dibuka pada hari spesial yaitu saat Natal. Cobalah untuk kompromi dan menemukan cara untuk menggabungkan tradisi kalian.

  • Membuat dan Menghilangkan Tradisi bila diperlukan
    _Families hae seasons._Tradisi yang dilakukan ketika anak-anak Anda masih balita mungkin tidak memiliki banyak resonansi ketika mereka remaja. Mungkin juga ada beberapa tradisi yang ingin Anda mulai dari sekarang, tapi akan lebih baik jika Anda menunggu sampai anak-anak menjadi sedikit lebih tua. Meskipun Anda harus menciptakan dan memelihara tradisi menjadi tahan lama untuk keluarga Anda, jangan mencoba untuk memaksakan kehendak Anda. You should feel free to create or eliminate traditions as your family changes.

  • Don’t go overbroad and take it slow
    Ada godaan ketika Anda memulai sebuah keluarga baru atau menyambut anak baru ke rumah Anda, jangan jatuh ke dalam perangkat itu. Start slow and pick a few. Tradisi keluarga adalah salah satu area dimana kualitas setiap kali mengalahkan kuantitas.

Sumber : creating a positive family culture the importance of establishing family traditions

PENGARUH KULTUR BUDAYA KELUARGA DI KEHIDUPAN SETIAP INDIVIDU

http://www.cof.org/content/effects-family-culture-family-foundations


Keluarga adalah salah satu awal dari pembelajaran kehidupan. Awal langkah dari bagaimana kita menjalani kehidupan di luar. Kebanyakan orang tidak berpikir bahwa keluarga mereka memiliki sebuah “budaya.” Mereka mengaitkan budaya dengan negara-negara dan kelompok etnis. Tapi keluarga? Bagi kebanyakan dari kita, itu hanya sekelompok orang yang akrab melakukan apa yang selalu mereka lakukan.

Itulah yang dinamakan sebuah kultur, karakteristik dari sebuah jalan pemikiran, feeling, judging, dan acting. Dalam cara langsung dan halus, anak-anak dibentuk oleh budaya keluarga di mana mereka dilahirkan. Tumbuh, asumsi mereka tentang apa yang benar dan salah, baik dan buruk, keyakinan, nilai-nilai dan tradisi budaya keluarga. Kebanyakan tercermin dari tindakan-tindakan di lingkup keluarga, dan hal itu terbawa hingga dewasa, sikap dan perilaku yang diperoleh di masa kecil.

Nilai-nilai keluarga mengatur hal-hal dasar untuk pondasi keluarga. Mereka menginspirasi pilihan hidup serta kebijakan dan praktik kehidupan. Biasanya, nilai-nilai sebuah keluarga tercermin dari individu yang membuat sebuah keluarga berkecukupan keluarga, contoh sering adalah Ayah. Terlebih, jika individu tersebut adalah seorang pengusaha yang sering memiliki kepribadian kuat dan menarik.

Norma adalah aturan lisan atau tak terucapkan dari sebuah kultur. Diperkuat dari waktu ke waktu, norma berjalan secara tidak terlihat di perilaku dari sebuah keluarga. Norma menjadi tolok ukur standar bagaimana anggota keluarga berpakaian, berbicara dan bertindak. Mereka juga menetapkan batas pada perilaku apa saja yang diperbolehkan atau diizinkan dalam keadaan dan kondisi yang berbeda. Lebih dari sekedar aturan etiket, norma memberikan anggota keluarga panduan untuk hidup baik di dalam rumah maupun diluar.

Semua keluarga memiliki tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di masa lalu, ketika semua keluarga tinggal di satu tempat, tradisi yang dibangun dalam rutinitas kehidupan sehari-hari dan bercermin pada tindak tanduk orang tua. Seiring berjalan nya waktu, ketika sebuah keluarga berkembang dan para orang tua telah tiada, tradisi mereka juga ikut tenggelam, berganti dengan tradisi baru keluarga tersebut.

Kultur di sebuah keluarga sangat beragam terhadap tolerensi keberagaman. Beberapa menuntut total setia kepada nilai-nilai budaya dan menganggap setiap penyimpangan dari norma mengancam kesejahteraan keluarga. Beberapa bahkan pergi jauh dan memutus kontak dengan anggota keluarga yang menganut filosofi atau gaya hidup yang berbeda. Namun semua hal itu adalah fondasi utama dalam pembentukan sifat dan perilaku individu di keluarga tersebut.

Bagaimana menanamkan norma-norma tradisional

1.kesadaran diri
Dalam hal ini kita dilatih untuk sadar bahwa norma" tradisional itu mempunyai makna yang luas,disini kita diajarkan tentang bagaimana menghormati budaya tradisional di dalam mau pun budaya tradisional negara lain, dan ini penting agar ada norma-norma tradisional di dalam diri kita.

belajar
Disini yang dimaksud dengan belajar adalah kita belajar dan memahami tradisi apa yang kita ketahui dan yang belum kita ketahui,Dari belajar kita akan mengetahui bahwa norma-norma tradisional itu luas dan maka dari itu kita sudah seharusnya belajar tentang tradisi tradisi yang ada terutama tradisi di negara kita.

belajar tentang tradisi agama
Seperti yang kita tahu bahwa didunia ini terdapat berbagai agama dan kepercayaan masing-masing,maka dari itu kita belajar tentang agama agar dapat mengetahui apa saja keanekaragaman yang ada di dalam tradisi agama masing-masing berbeda orang,berbeda tempat dan berbeda budaya,agar supaya kita dapat menghormati setiap tradisi agama yang ada

reference : wikihow

hidup kita adalah bentuk dari sikap kita. Tanpa menyadarinya, dapat mudah untuk Menjadi negatif dan sinis terhadap dunia seperti yang kita terus terkena tragedi dan Ketidakadilan di media dan saat kita mengalami sakit hati dan kesusahan kita sendiri.

Tidak hanya sikap negatif mencegah Anda dari sepenuhnya menikmati hidup Anda, itu dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap lingkungan Anda. Salah satu hal terbaik yang dapat Anda tawarkan keluarga Anda, organisasi atau komunitas adalah sikap positif Anda.

Dalam kata-kata bijak dari Michael Jackson, “Jika Anda ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, lihatlah diri sendiri dan membuat perubahan.” Sebagai makhluk dengan kebiasaan membuat penyesuaian kecil untuk kehidupan sehari-hari dan pola pikir Anda, kebiasaan positif dapat dibentuk untuk membuat diri Anda dan semua orang lain dapat berinteraksi dengan baik. Berikut adalah daftar 10 kebiasaan yang dapat mengubah pandangan jelek menjadi sikap yang lebih baik.

  1. Selalu Bersyukur
    Sisihkan beberapa saat dari hari Anda untuk menuliskan 5 hal yang Anda syukuri dalam sebuah jurnal yang murni untuk rasa syukur. Hal ini dapat berkisar dari hanya bersyukur untuk bangun pagi ini atau bahwa Anda harus bekerja pada waktu. Rasakan bagaimana sangat diberkati Anda dan membiarkan itu mendorong Anda menuju kebahagiaan untuk sisa hari.

  2. Cari Hal Postif Dari Kejadian Yang Negatif
    Sebelum Anda marah tentang apa yang tampaknya tidak pernah berakhir lalu lintas, luangkan waktu untuk menggeser bahwa pikiran negatif menjadi sesuatu yang positif. Pikirkan tentang lalu lintas sebagai kesempatan untuk bermeditasi atau masuk ke keadaan tenang sebelum pulang dan menempatkan hari senilai energi ke makan malam.

  3. Jangan Mengeluh
    Menetapkan pola baru dengan pergi satu hari tanpa mengucapkan satu keluhan. Menemukan satu hal yang baik di antara selusin hal-hal negatif dan biarkan diri Anda merasa berubah dengan sikap baru Anda

  4. Beri Orang Lain Pujian Dengan Tulus
    Berbagi kebaikan dan pujian otentik dengan teman atau orang asing. Hal ini tidak hanya menyebar cinta kepada orang lain, akan mendorong Anda untuk fokus pada yang baik tentang orang lain dan bahkan membangun hubungan yang kuat dan berharga.

sumber : 5 Ways to Cultivate an Attitude of Gratitude

Untuk menanamkan norma dalam diri seseorang dapat dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut.

a. Pembiasaan

Kita dapat menerapkan semua nilai dan norma dengan cara melakukan pembiasaan dalam kehidupan seharihari. Norma agama mengajarkan kita untuk beribadah. Lakukanlah kebiasaan beribadah sejak kecil. Jika kita sudah terbiasa beribadah sejak kecil, ibadah tersebut menjadi kewajiban kita kepada Tuhan Yang Maha Esa bukan lagi menjadi suatu beban. Biasakanlah berbuat jujur. Jika seseorang melakukan kebohongan, ia akan terus melakukan kebohongan berikutnya. Hal ini disebabkan ia akan menutupi kebohongan sebelumnya dengan kebohongan yang lain. Orang yang suka berbohong ia tidak akan pernah dipercayai orang lain.

b. Teladan

Keteladanan seseorang sejatinya menjadi cambuk bagi semua orang untuk dapat menjadi tokoh teladan.
Sebaliknya kita tentu tidak meneladani seseorang atau tokoh yang dalam kehidupannya masih banyak melakukan hal-hal yang ber tentangan dengan norma. Contohnya, sekelompok remaja yang mengonsumsi minuman keras karena ia melihat artis yang dia puja juga melakukannya. Mencari seseorang yang dapat dijadikan teladan dan menjadi teladan bukanlah sesuatu yang terlalu sulit. Oleh karena itu, semua orang dapat menjadi teladan, paling tidak untuk dirinya sendiri dan keluarga. Seseorang harus memupuk keyakinan bahwa masyarakat dan negara dapat berubah jika banyak teladan dan contoh yang baik dari lingkungan.

c. Penyadaran

Segala bentuk perilaku dan ketaatan seseorang terhadap norma akan timbul jika dilandasi oleh sebuah kesadaran. Kesadaran seseorang terhadap kewajibannya melaksanakan norma akan lebih baik jika didasari oleh keinginan dan kemauan yang tulus dalam dirinya sendiri.

Kesadaran seseorang akan pentingnya menaati norma dapat dipupuk dengan memahami nilai baik norma tersebut. Seluruh norma akan mengantarkan pada kebaikan dan kesadaran. Kesadaran untuk melaksanakan norma tidak muncul begitu saja, tetapi harus dilatih dengan pembiasaan. Seseorang yang telah terbiasa menghormati orang tua ia melakukannya dengan tulus tanpa didasari maksud tertentu.

d. Pengawasan

Pengawasan atau pengendalian dapat dilakukan dengan berbagai cara dan oleh berbagai pihak, misalnya oleh orang tua, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat lainnya. Caranya bisa dilakukan dengan teguran, peringatan, atau sindiran. Tegaknya pelaksanaan norma tidak mungkin didapat dengan sendirinya, tetapi harus dibimbing dan diawasi oleh pihak yang memang berwenang untuk mengawasinya. Misalnya, untuk tegaknya peraturan di sekolah tidak mungkin sekolah membiarkan peraturan tersebut berjalan tanpa ada pihak yang menegakkan dan meng awasinya. Bentuk pengawasan dalam semua segi kehidupan perlu di lakukan. Hal ini dimaksudkan agar norma atau kaidah-kaidah dalam kehidupan dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pengawasan dapat di lakukan secara ketat atau lebih longgar, bergantung pada kondisi di sekitar nya.

e. Penghargaan dan Hukuman

Pada saat masih kecil atau bahkan sampai sekarang, kamu tentu pernah dijanjikan mendapatkan sesuatu apabila telah melaksanakan atau telah mampu menyelesaikan suatu permasalahan. Janji dari seseorang untuk memberikan sesuatu jika telah selesai atau berhasil dalam suatu pekerjaan merupakan salah satu bentuk penghargaan. Penghargaan bagi seseorang sangatlah diperlukan. Dengan adanya penghargaan, seseorang terdorong untuk bekerja dan berusaha lebih baik. Dalam norma sosial atau kesopanan seseorang akan dihargai jika ia mampu berlaku sopan terhadap orang lain.

Sementara itu, hukuman diadakan sebagai bentuk peringatan bagi seseorang apabila ia melanggar suatu norma. Hukuman di luar norma hukum sifatnya memang tidak secara langsung dapat dipaksakan. Namun, dalam kehidupan sehari-hari bagi pelanggar norma susila ia dapat dicap sebagai orang yang asusila. Bagi pelanggar norma adat ia dapat di kenakan hukum an berupa pengucilan. Bentuk sederhana pengucilan masyarakat terhadap seseorang, misalnya tidak diikut sertakan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Sumber : cara untuk menanamkan norma dalam diri seseorang