© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Memelajari Kepribadian Seseorang?

kepribadian

Ada berbagai cara untuk dapat mempelajari kepribadian seseorang. Sejak dahulu, para ahli telah menggunakan bermacam cara mulai dari yang sifatnya tradisional (pendekatan non-ilmiah), maupun sifatnya modern (pendekatan ilmiah).

Usaha-usaha untuk mengerti perilaku atau menyingkap kepribadian manusia sudah lama dilakukan dimulai dengan cara yang paling sederhana, dengan pendekatan non ilmiah, cara-cara modern atau pendekatan ilmiah. Dari cara-cara yang sangat sederhana lahirlah pengetahuan-pengetahuan yang bersifat spekulatif, dalam arti kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Ada beberapa pengetahuan yang menjelaskan kepribadian secara spekulatif. Pengetahuan seperti ini disebut juga ilmu semu (pseudo science). Ilmu-ilmu semu antara lain sebagai berikut (Sumadi Suryabrata, 2005).

  1. Chirologi yaitu pengetahuan yang berusaha mempelajari kepribadian manusia berdasarkan gurat-gurat tangan.
  2. Astrologi adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar dominasi benda-benda angkasa terhadap apa yang sedang sedang terjadi di alam, termasuk waktu kelahiran seseorang.
  3. Grafologi merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar tulisan tangan.
  4. Phisiognomi adalah pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar keadaan wajah.
  5. Phrenologi merupakan pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian berdasarkan keadaan tengkorak.
  6. Onychology pengetahuan yang berusaha menjelaskan kepribadian atas dasar keadaan kuku.

Cara mempelajari kepribadian yang dipandang lebih maju (Sumadi Suryabrata, 2005) menghasilkan bermacam-macam tipologi. Sedangkan, usaha mempelajari kepribadian dengan pendekatan ilmiah menghasilkan bermacam-macam teori kepribadian.

Untuk mempelajari kepribadian seseorang dengan pendekatan ilmiah adalah dengan memahami teori kepribadian. Berikut beberapa teori kepribadian yang cukup umum dikenal, yakni :

Teori-Teori Kepribadian


  1. Psikoanalisis Klasik (Sigmund Freud 1856-1939)

Struktur Kepribadian

Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkat kesadaran, yakni sadar ( conscious ), pra sadar ( preconscious ), dan tidak sadar (unconscious). Alam sadar adalah apa yang disadari pada saat tertentu, peninderaan langsung, ingatan, persepsi, pemikiran, fantasi. Terkait erat dengan alam sadar ini adalah apa yang dinamakan Freud dengan alam pra sadar, yaitu apa yang kita sebut dengan saat ini dengan “kenangan yang sudah tersedia” ( available memory ), yaitu segala sesuatu yang dengan mudah dapat dipanggil ke alam sadar, kenangan-kenangan yang walaupun tidak anda ingat waktu berpikir, tapi dapat dengan mudah dipanggil lagi. Adapun bagian terbesar adalah alam bawah sadar ( unconsious mind ). Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting serta segala sesuatu yang masuk dan tidak dapat menjangkaunya, seperti kenangan ayau emosi-emosi yang terkait dengan trauma.

Id adalah kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari Id ini akan muncul ego dan super-ego. Saat dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls, dan drive. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious , mewakili subyektifitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari stuktur kepribadian lainnya. Ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realitas; sehingga ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan obyek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan.

Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki dua tugas utama: pertama, memilih stimulasi mana yang hendak direspons dan insitng mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal.

Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan ID sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan perkembangan mencapai kesempurnaan dari super-ego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri utntuk memperoleh energi dari Id.

Super-ego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian yang beroperasi memakai prinsip idealistik sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistuik dari ego. Super-ego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan ego, super-ego beroperasi ditiga daerah kesadaran.

Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang dijangkaunya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).

Super-ego bersifat non-rasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam pikiran. Paling tidak ada 3 fungsi dari super-ego; 1) mendorong ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan- tujuan moralistik; 2) memerintah impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif bertentangan dengan standar nilai masyarakat, dan; 3) mengejar kesempurnaan (Alwisol, 2004).

Perkembangan Kepribadian

Freud adalah teoritis pertama yang memusatkan perhatiannya kepada kepribadian, dan menekankan pentingnya peran masa bayi dan awal-awal dalam pembentukan karakter seseorang. Freud yakin dasar kepribadian sudah terbentuk pada usia 5 tahun, dan perkembangan kepribadian sesudah usia 5 tahun sebagian besar hanya merupakan elaborasi dari struktur dasar tadi. Tehnik psikoanalisis mengekplorasi jiwa pasien antara lain dengan mengembalikan mereka ke pengalaman masa kanak-kanak.

Freud membagi perkembangan kepribadian menjadi tiga tahap tahapan, yakni tahap infantile (0-5 tahun), tahap laten (5-12 tahun), dan tahap genital (> 12 tahun). Tahap infantile yang paling menentukan dalam pembentukan kepribadian, terbagi dalam tiga fase, yakni fase oral, fase anal, fase falis. Perkembangan kepribadian ditentukan terutama oleh perkembangan seks, yang terkait dengan perkembangan biologis menyiapkan bagian tubuh untuk dipilih menjadi pusat kepuasan seksual. Pemberian nama fase-fase perkmbangan infantile sesuai dengan bagian tubuh yang menjadi kateksis sesuak pada fase itu. Tahap perkembangan psikoseksual itu adalah:

  • Fase oral berlangsung dari usia 0 sampai 18 bulan. Titik kenikmatan terletak pada mulut, dimana aktifitas yang paling utama adalah menghisap dan menggigit.

  • Tahap anal yang berlangsung dari usia 18 bulan sampai 3-4 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah anus. Memegang dan melepaskan sesuatu adalah aktifitas yang paling dinikmatinya.

  • Tahap phallic berlangsung antara usia 3 sampai 5, 6, atau 7 tahun. Titik kenikmatan di tahap ini adalah alat kelamin, sementara aktifitas paling nikamtanya adalah masturbasi.

  • Tahap laten berlangsung dari usia 5, 6, atau 7 sampai usia pubertas (sekitar 12 tahun). Dalam tahap ini, Freud yakin bahwa rangsangan- rangsangan seksual ditekan sedemikian rupa demi proses belajar.

  • Tahap genital dimulai pada saat usia pubertas, ketika dorongan seksual sangat jelas terlihat pada diri remaja, khususnya tertuju pada kenikmatan hubungan seksual . masturbasi, seks, oral, homo seksual dan kecendrungan-kecenderungan seksual yang dianggap biasa saat ini, tidak dianggap Freud sebagai seksualitas yang normal (Alwisol. 2004: 23).

  1. Behavioristik (Burrhus Frederic Skinner 1904-1990)

Struktur Kepribadian

Menurut Skinner, penyelidikan mengenai kepribadian hanya sah jika memenuhi beberapa kriteria ilmiah. Umpamanya, ia tidak akan menerima gagasan bahwa kepribadian ( personality ) atau diri ( self ) yang membimbing atau mengarahkan perilaku.

Bagi Skinner, studi mengenai kepribadian itu ditujukan pada penemuan pola yang khas dari kaitan antara tingkah organisme dan berbagai konsekuensi yang diperkuatnya.

Selanjutnya, Skinner menguraikan sejumlah tehnik yang digunakan untuk mengontrol perilaku. Kemudian banyak diantaranya dipelajari oleh social-learning theoritis yang tertarik dalam modelling dan modifikasi perilaku. Tehnik tersebut adalah sebagai berikut (Alex Sobur: 2003):

  • Pengekangan fisik ( physical restraints );

  • Bantuan fisik ( physical aids );

  • Mengubah kondisi stimulus ( changing the stimulus conditions );

  • Manipulasi kondisi emosional (manipulating emotional conditions)

  • Melakukan respons-respons lain (performing alternative responses)

  • Menguatkan diri secara positif (positive self-reinforcement)

  • Menghukum diri sendiri (self punishment)

Selanjutnya Skinner membedakan perilaku atas beberapa komponen perilaku, yaitu:

  1. Perilaku yang alami ( innate behavor ), atau yang biasa disebut respondent behavior. Yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas.

  2. Perilaku operan ( operant behavior ), yaitu perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang tidak jelas atau tidak diketahui, tetapi semata- mata ditimbulkan organisme itu sendiri.

Bagi Skinner, faktor motivational dalam tingkah laku bukan bagian elemen struktural. Dalam situasi yang sama tingkah laku seseorang bisa berbeda-beda kekuatan dan keseringan munculnya. Konsep motivasi yang menjelaskan variabilitas tingkah laku dalam situasi yang konstan bukan fungsi dari keadaan energi, tujuan, dan jenis penyebab sebagainya. Konsep itu secara sederhana dijelaskan melalui hubungan sekelompok respon dengan sekelompok kejadian. Penjelasan mengenai motivasi ini juga berlaku untuk emosi (Bimo Walgito: 2003).

Dinamika Kepribadian

Hakikat teori Skinner adalah teori belajar, bagaimana individu menjadi memiliki tingkah laku baru, menjadi lebih terampil, menjadi lebih tahu. Dia yakin bahwa kepribadian dapat dipahami dengan mempertimbangkan tingkah laku dalam hubungannya yang terus menerus dengan lingkungannya. Cara yang paling efektif untuk mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan penguatan ( reinforment ), suatu strategi kegiatan yang membuat tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau sebaliknya (berpeluang tidak terjadi) pada masa yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana yakni semua tingkah laku dapat dikontrol.

Prinsip dasar pendekatan Skinner adalah: tingkah laku disebabkan dan dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada dalam diri manusia, tidak ada bentuk kegiatan eksternal, yang mempengaruhi tingkah laku. Pengertian kontrol diri ini bukan mengontrol kekuatan di dalam “ self, tetapi bagaimana self mengontrol variabel-varibel luar yang menentukan tingkah laku.

B. F. Skinner dengan pandangannya yang radikal, banyak salah dimengerti dan mendapat kritik yang tidak proporsional. Betapapun orang harus diakui bahwa teori Behaviorisme paling berhasil dalam mendorong penelitian dibidang psikologi dengan pendekatan teoritik lainnya. Berikut lima kritik terpenting terhadap B. F. Skinner.

Teori Skinner tidak menghargai harkat manusia. Manusia bukan robot, tetapi organisme yang memiliki kesadaran untuk bertingkah laku dengan bebas dan spontan.

Gabungan pendekatan nomoterik dan idiografik dalam penelitian dan pengembangan teori banyak menimbulkan masalah metodelogis.

Pendekatan Skinner dalam terapi tingkah laku secara umum dikrtitik hanya mengobati symptom dan mengabaikan penyebab internal mental dawn fisiologik.

Generalisasi dari tingkah laku merpati mematok makanan menjadi tingkah laku manusia yang sangat kompleks, terlalu luas (Alwisol, 2004).

Pandangan Behavioristik Tentang Manusia

Jika psikoanalisis memfokuskan manusia hanya pada totalitas kepribadian (yang hanya tingkah laku yang tidak nampak) tetapi teori ini memfokuskan perhatiannya lebih menekan pada perilaku yang nampak, yakni perilaku yang dapat diukur, diramalkan dan digambarkan.

Dalam teori Behavioristik, manusia disebut sebagai Homo Mechanicus, yang artinya manusia mesin. Mesin adalah suatu benda yang bekerja tanpa ada motif dibelakangnya, mesin berjalan tidak karena adanya dorongan alam bawah sadar tertentu. Mesin berjalan semata-mata karena lingkungan sistemnya. Jika mobil kehabisan bensin pasti mesin itu mati, jika businya kotor, mesinnya juga mati. Jika unsur- unsur lingkungannya lengkap pasti berjalan lancar. Tingkah laku mesin dapat diukur, diramalkan dan digambarkan.

Menurut teori Behavioristik, selain insting, seluruh tingkah lakunya merupakan hasil belajar. Belajar ialah perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Orang Batak yang di pinggir laut bicaranya selalu keras karena lingkungan menuntut keras, yakni bersaing dengan suara ombak. Sedangkan orang Jawa yang hidupnya di perkampungan yang lengang bicaranya seperti berbisik-bisik karena lingkungan tidak menuntut berbicara keras.

Behavioristik tidak mempersoalkan apakah manusia itu baik atau buruk, rasionil atau emosionil. Behavioristik hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh lingkungan. Manusia dalam pandangan teori Behavioristik makhluk yang sangat elastis, yang perilakunya sangat dipengaruhi oleh pengalamannya. Manusia menurut teori ini dapat dibentuk dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Seorang anak misalnya dapat dibentuk perilaku dan kepribadiannya menjadi seorang penakut jika sistematis dia ditakut-takuti.

Teori Behavioristik memandang manusia sangat rapuh tak berdaya menghadapi lingkungan ia dibentuk begitu saja oleh lingkungan tanpa mampu melakukan perlawanan. Aristoteles, yang dianggap sebagai cikal bakal teori Behavioristik memperkenalkan teori Tabularasa. Yakni manusia itu tak ubahnya meja lilin yang siap di lukis dengan tulisan apa saja (Alwisol, 2004).

  1. Humanistik (Abraham Maslow 1908-1970)

Aliran Humanisme mulai muncul sebagai sebuah gerakan besar psikologi dalam tahun 1950-an dan 1960-an. Aliran Humanisme merupakan kontribusi dari psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Walaupun psikolog Humanisme dipengaruhi oleh Psikoanalis dan Behaviorisme, namun aliran ini mempunyai ketidaksesuaian yang sangat berarti dengan psikoanalisis dan behaviorisme.

Tekanan utama yang oleh Behaviorisme dikarenakan pada stimulus dan tingkah laku yang teramati, dipandang psikologi Humanisme sebagai penyederhanaan yang keterlaluan yang melalaikan diri manusia sendiri dan pengalaman-pengalaman batinnya, tingkah lakunya yang kompleks seperti cinta, nilai-nilai dan kepercayaan, begitu pula potensinya untuk mengarahkan diri dan mengaktualisasikan diri.

Maka psikologi Humanisme sangat mementingkan diri manusia sebagai pemersatu yang menerangkan pengalaman-pengalaman subjektif individual, yang banyak menentukan tingkah lakunya yang dapat diamati.

Psikolog-psikolog Humanisme pun tidak menyetujui pandangan pesimis terhadap hakekat manusia dan dicerminkan oleh Psikoanalisis Freud maupun pandangan netral kaum Behaviorisme. Menurut aliran Humanisme, kedua aliran itu memandang tingkah laku manusia secara salah yaitu sebagai tingkah laku yang seluruhnya ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar kekuasannya; apakah kekuatan-kekuatan itu beruoa motif-motif yang tak disadari atau conditioning dari masa kanak- kanak dan pengaruh lingkungan. Bertentangan dengan kedua pandangan aliran tadi, aliran Humanisme menyetujui konsep yang jauh lebih positif mengenai hakekat manusia, yakni memandnag hakekat manusia itu pada dasarnya baik.

Perbuatan manusia yang kejam dan mementingkan diri sendiri dipandang sebagai tingkah laku patologik yang disebabkan oleh penolakan dan frustasi dari sifat yang pada dasarnya baik itu. Seornag manusia tidak dipandang sebagai mesin otomat yang pasif, tetapi sebagai peserta yang aktif yang mempunyai kemerdekaan memilih untuk menentukan nasibnya sendiri dan nasib orang lain.

Psikolog Humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka cenderung untuk berpegang pada prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan Humanisme, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

Psikologi Humanisme adalah suatu gerakan perlawanan terhadap psikologi yang dominan mekanistik, reduksionistik, atau “psikologi robot” yang mereduksi manusia. Psikologi Humanisme juga menentang metodelogi yang restriktif yang menyisihkan pengalaman batin. Psikologi Humanisme menghimpun para ahli psikologi yang merepresentasikan pandangan-pandangan dan kecenderungan yang berbeda, juga para ahli psikologi yang hanya menyetujui penolakan terhadap psikologi yang mekanomorfik (Helen Graham, 2014).

Kemudian, jika mempelajari kepribadian dengan cara memahami tipologi dalam psikologi.

Pengertian Tipologi


Tipologi berasal dari Tipo yang berarti pengelompokan dan Logos yang berati ilmu. Jadi Tipologi adalah pengetahuan yang berusaha menggolongkan atau mengelompokkan manusia menjadi tipe-tipe tertentu atas dasar faktor-faktor tertentu, misalnya karakteristik fisik, psikis, pengaruh dominan, nilai-nilai budaya, dan seterusnya.

Menurut KBBI (kamus besar bahasa indonesia) Tipologi adalah ilmu watak tentang bagian manusia dalam golongan-golongan menurut sifat masing-masing. Dan juga Tipologi menurut (dalam Arsitektur dan Perancangan Kota) adalah klasifikasi (biasanya berupa klasikasi fisik suatu bangunan) karakteristik umum ditemukan pada bangunan dan tempat-tempat perkotaan, menurut hubungan mereka dengan kategori yang berbeda, seperti intensitas pembangunan (dari alam atau pedesaan ke perkotaan) derajat, formalita dan sekolah pemikiran (misalnya, modernis atau tradisional). Karakteristik individu tersebut membentuk suatu pola. Kemudian pola tersebut berhubungan dengan elemen-elemen secara hirarkis di skala fisik (dari detail kecil untuk sistem yang besar).

  1. Tipologi Hippocrates (Gelenus)

Terpengaruh oleh Kosmologi Empedokles, yang menganggap bahwa alam semesta beserta isinya ini tersusun atas empat unsur pokok, yaitu tanah, air, udara, dan api, yang masing-masing mendukung sifat tertentu, yaitu tanah mendukung sifat kering, air mendukung sifat basah, udara mendukung sifat dingin dan api mendukung sifat panas, maka Hippocrates berpendapat, bahwa juga di dalam tubuh manusia terdapat sifat-sifat tersebut yang didukung oleh cairan-cairan yang ada di dalam tubuh, yaitu:

  • Sifat kering didukung oleh Chole mewakili unsur tanah (Chloric). Cirinya: hidup, semangat besar, keras, hatinya mudah terbakar, daya juang besar, optimistis.

  • Sifat basah didukung oleh Melanchole mewakili unsur air (Melancholis). Cirinya: Mudah kecewa, daya juang kecil, muram, pesimistis.

  • Sifat dingin didukung oleh Phlegma mewakili unsur udara (Phlegmatis). Cirinya: Tak suka terburu-buru, tenang, kalam, tak mudah dipengaruhi, setia**

  • Sifat panas didukung oleh Sanguis mewakili unsur api (Sanguinis). Cirinya: Hidup, mudah berganti haluan, ramah.

Hippocrates Galenus berpendapat, bahwa di dalam tubuh manusia terdapat empat unsur yaitu; chloric, melancholis, phlegmatis, dan sanguinis. Sifat kejiwaan ini tergantung pada empat dominasi unsur cairan dalam tubuh tersebut, yang disebut galenus dengan temperamental.

Menurut Hippocates keempat cairan tersebut ada dalam tubuh dan dalam proporsi tertentu. Apabila cairan-cairan tersebut adanya dalam tubuh dan dalam proporsi selaras (normal), maka orangnya dalam keadaan normal/sehat, sebaliknya apabila keselarasan proporsi tersebut terganggu maka orangnya menyimpang dari keadaan normal/sakit.

  1. Tipologi Mazhab Perancis

Mazhab Perancis yang dipimpin oleh Sigaud berpendapat, bahwa keadaan serta bentuk tubuh manusia serta kelainan-kelainannya itu pada pokoknya ditentukan oleh sekitar atau lingkungan. Dalam menggolongkan manusia yang beradasar pada jasmaniah kategori yang digunakan sebagai dasar adalah dominasi sesuatu fungsi fisiologi di dalam pertumbuhan organisme. Yaitu motorik, pernafasan, pencernaan dan susunan saraf sentral.

Fungsi-fungsi yang manakah yang terkuat pada seseorang, disitulah orang itu digolongkan, karena itu Sigaud menggolongkan manusia atas empat golongan, yaitu:

  • Orang yang kuat fungsi motoriknya (berwujud keadaan alam), termasuk tipe maskuler, dengan ciri-cirinya yaitu anggota badannya serba panjang, bersipir, serba bersudut dan lain sebagainya.

  • Orang yang kuat pernafasannya (berwujud udara), termasuk tipe respiratoris, dengan ciri-cirinya, yaitu bentuk dadanya membusung, wajahnya lebar dan lain sebagainya.

  • Orang yang kuat percernaannya (berwujud makan-makanan), termasuk tipe digestif, dengan ciri-cirinya, yaitu perutnya besar, pinggangnya lebar dan lain sebagainya.

  • Orang yang kuat susunan saraf sentralnya (berwujud keadan sosial), termasuk tipe serebral, dengan ciri-cirinya, yaitu langsing, tulang tengkoraknya bagian atas besar sekali dan lain sebagainya.