© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana mekanisme mencerahkan kulit menggunakan jeruk nipis?

jeruk nipis

Jeruk nipis ( Citrus aurantifolia ) memiliki banyak nama. Tanaman ini juga dikenal dengan sinonim Limonia aurantifolia , Citrus javanica , Citrus notissima . Jeruk nipis juga dikenal dengan nama lokal jeruk pecel (Jawa), jeruk durga (Madura), limau asam atau limau nipis (Malaysia), somma nao atau manao (Thailand). Di Eropa dan Amerika, jeruk nipis disebut lim , sour lime , common lime (Sarwono, 2001).

Bagaimana mekanisme mencerahkan kulit menggunakan jeruk nipis?

Vitamin C yang terkandung dalam jeruk nipis memiliki sifat mudah teroksidasi sehingga berperan sebagai antioksidan atau reduktor pada sintesis melanin yang membutuhkan banyak oksigen. Vitamin C juga bisa mengubah bentuk melanin oksidasi yang berwarna gelap (eumelanin) menjadi melanin tereduksi yang berwarna lebih pucat (pheomelanin). Perubahan dopa menjadi dopakuinon juga dapat dihambat oleh vitamin C, sehingga mencegah pembentukan melanin.

Vitamin C dan flavonoid yang ada di dalam jeruk nipis dapat mencerahkan kulit dengan cara memperbarui sel dan mempercepat proses pergantian sel (Anggun dkk, 2015).

Jeruk Nipis sebagai Inhibitor Tirosinase


Sejumlah inhibitor tirosinase dari sumber alami dan sintetik telah diidentifikasi. Namun, definisi inhibitor tirosinase terkadang masih membingungkan, banyak penulis menggunakan terminologi yang mengacu pada inhibitor melanogenesis, yang tindakan utamanya adalah pada gangguan dalam pembentukan melanin, terlepas dari interaksi inhibitor atau enzim langsung. Banyak inhibitor kemungkinan diidentifiksasi dalam tirosin atau dopa sebagai substrat enzimnya, dan aktivitasnya dinilai dalam hal pembentukan dopachrome .

Pengamatan eksperimental dari penghambatan aktivitas tirosinase dapat dicapai dengan salah satu cara dibawah ini :

  1. Agen reduksi menyebabkan pengurangan kimia dopaquinone seperti asam askorbat, yang digunakan sebagai inhibitor melanogenesis karena kapasitasnya untuk mengurangi kembali o- dopaquinone ke dopa, sehingga menghindari dopachrome dan pembentukan melanin.

  2. Substrat enzim alternatif seperti beberapa senyawa fenolik, yang reaksi quinoid produknya menyerap dalam berbagai spektrum berbeda dari dopachrome . Ketika fenolat ini menunjukkan afinitas yang baik untuk enzim, pembentukan dopachrome dicegah, dan mereka bisa salah diklasifikasikan sebagai inhibitor.

  3. Nonspecific enzyme inactivators seperti asam atau basa, yang mendenaturasi enzim secara non-spesifik, sehingga menghambat aktivitasnya.

  4. Specific tyrosinase inactivators seperti inhibitor yang berbasis mekanisme, yang juga dikenal sebagai substrat „bunuh diri‟. Inhibitor tersebut dapat di katalisasi oleh tirosinase dan membentuk ikatan kovalen dengan enzim, lalu secara irreversibel menonaktifkan enzim selama reaksi katalisasi berlangsung.

  5. Specific tyrosinase inhibitors , senyawa ini mengikat tirosinase dan mengurangi kapasitas katalisisnya secara reversibel.

  6. Hanya specific tyrosinase inactivators dan spesific tyrosinase inhibitors yang dikatakan sebagai inhibitor yang sebenarnya, yang benar-benar berikatan dengan enzim tirosinase dan menghambat aktivitasnya (Chan, 2009).

Inhibitor tirosinase dapat diklasifikasikan sebagai kompetitif, non-kompetitif, tipe campuran (Chan, 2009). Inhibitor kompetitif adalah zat yang bergabung dengan enzim bebas dengan cara mencegah pengikatan substrat. Artinya, inhibitor dan substrat saling eksklusif, sering kali karena benar-benar berkompetisi pada tempat yang sama. Inhibitor kompetitif misalnya tembaga, analog non-metabolis, atau turunan dari substrat aslinya. Sebaliknya, inhibitor non-kompetitif hanya dapat mengikat ke kompleks enzim-substrat. Inhibitor campuran (kompetitif dan non- kompetitif) adalah tipe inhibitor yang dapat berikatan tidak hanya dengan enzim bebas tapi bisa juga dengan kompleks enzim- substrat (Chan, 2009).

Sifat inhibisi tirosinase dapat diungkapkan dengan mengukur kinetika penghambatan enzim menggunakan Lineweaver-Burk plot dengan berbagai konsentrasi L-DOPA sebagai substrat (Smit dkk, 2009).

Salah satu target selular yang paling jelas untuk agen depigmentasi adalah enzim tirosinase. Literatur ilmiah pada inhibitor tirosinase menunjukkan bahwa sebagian besar dari penelitian telah dilakukan sejak tahun 2000 dan sebagian besar telah dikhususkan untuk mencari agen depigmentasi baru. Khususnya, banyak dari studi ini berurusan dengan inhibitor tirosinase dari sumber-sumber alam dan sebagian besar berasal dari Asia (Smit dkk, 2009). Penelitian tersebut menyatakan bahwa bahan mentah yang bersifat sebagai inhibitor tirosinase antara lain Glycyrrhiza glabra, Morus alba, Syzygium aromaticum, Citrus aurantifolia, Cypreae moneta, Punica granatum dan Citrus aurantium .

Pengurangan jumlah pigmen melanin dapat terjadi akibat adanya jeruk nipis ( Citrus aurantifolia ) yang berperan sebagai inhibitor tirosinase. Tirosinase adalah monooksigenase yang mengandung Cu. Tirosinase merupakan enzim yang berperan sebagai katalisator pada reaksi o-hidroksilasi monofenol menjadi bentuk difenol (monofenolase) dan oksidase difenol menjadi o- kuinon (difenolase).

Tirosinase memegang peranan penting dalam pembentukan melanin selama proses melanogenesis karena tirosinase dapat menghidroksilasi L-tirosin (monofenol) menjadi L-DOPA (difenol) dan mengoksidasi L-DOPA menjadi dopakuinon (senyawa kuinon). Dopakuinon yang terbentuk akan berekasi secara spontan membentuk dopakrom yang kemudian akan menjadi melanin. Adanya jeruk nipis ( Citrus aurantifolia ), dapat menghambat semua proses ini. Jeruk nipis juga menghambat produksi melanin dengan menurunkan o-kuinon (Anggun dkk, 2015).

Cara Pemakaian Jeruk Nipis sebagai Pencerah Kulit


Awalnya dokter dan para pekerja di salon kecantikan memutihkan kulit pasien dengan cara mengelupaskan sel-sel kulit mati oleh produk dengan bahan-bahan aktif. Namun, belakangan diketahui bahwa hanya dengan mengkonsumsi dan membalur tubuh (bagian-bagian tertentu pada tubuh) dengan jeruk nipis, kulit dapat menjadi lebih putih. Untuk mendapatkan kulit wajah yang putih dan halus, ada dua cara yang dapat dilakukan.

Pertama, dengan cara mengkonsumsi jeruk nipis yang kaya vitamin C. Kedua, dengan mengusapkan potongan jeruk nipis (biasanya dipotong menjadi 2 bagian) dari luar pada wajah dan kulit atau bagian tubuh lain yang diinginkan secara rutin setiap hari. Dengan menggosokkan potongan jeruk nipis tersebut, maka kulit akan menjadi putih halus dan tangan bisa menjadi lebih lembut. Selain itu dapat mengecilkan ukuran pori-pori kulit dan menghilangkan lemak pada kulit berminyak (Agoes, 2010).

1 Like