Bagaimana Masuknya Islam ke Australia dan Terbentuknya Komunitas Muslim?

muslim australia
Bagaimana Masuknya Islam ke Australia dan Terbentuknya Komunitas Muslim?

Australia merupakan benua yang terletak di Selatan dunia. Penduduknya terdiri dari penduduk asli Australia atau Aborigin dan penduduk imigran. Penduduk asli Australia atau Aborigin dan penduduk Kepulauan Selat Torres adalah penduduk yang telah berdiam di Australia selama lebih dari 40.000 tahun dan mungkin hingga 60.000 tahun. Sedangkan penduduk imigran adalah penduduk yang berasal dari gelombang migrasi atau keturunan imigran yang tiba di Australia dari sekitar 200 negara sejak Inggris mendirikan pemukiman Eropa yang pertama di Sydney Cove pada 1788 M.

Kontak secara fisik antara Muslim dan Aborigin dimulai dengan datangnya nelayan Makasar yang mencari teripang di pesisir pantai Northen Teritory, Australia, pada abad 17 M. Kontak ini terjadi lantaran para nelayan ini membangun industri teripang di sana. C. C. Macknight menyebutkan bahwa industri teripang ini dimulai sekitar tahun 1700 M dan tetap bertahan di Australia hingga tahun-tahun pertama abad ke 20 M. Bukti-bukti tertulis langsung dari kepulauan Asia Tenggara mempertegas periode abad 17 sebagai masa perkembangan industri teripang di wilayah tersebut. Bagi para pengamat seperti Dalrymple atau Forrest pada abad tersebut, teripang merupakan jenis barang dagangan utama yang umum diperjualbelikan.

Meski demikian kontak muslim non fisik sudah terjadi jauh sebelum itu. Menurut pemaparan M. Ali Kettani dalam bukunya Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa ini menyebutkan bahwa wilayah-wilayah Pasifik Barat benar-benar dilintasi oleh para pedagang Arab dalam perjalanannya dari Arab ke China sebelum abad 10 M. Namun orang-orang Arab tidak pernah menetap di pulau-pulau Pasifik seperti yang mereka lakukan di Jawa dan Sumatra.

Pada periode setelahnya, muslim datang dari para imigran yang datang dari berbagai negara dengan latar belakang alasan dan tujuan. Di antaranya:

  • Migrasi Muslim dari Afghanistan, ini terjadi dalam dua gelombang; gelombang pertama datang dari para pengendara unta, dan gelombang kedua datang setelah terjadi invasi 1979 ke Afghanistan oleh Uni Soviet. Muslim Afghanistan yang dibawa oleh Inggris ke Australia dengan unta mereka pada 1862 sampai 1930 ini sebenarnya berasal dari beberapa daerah seperti India, Iran dan Afghanistan, namun karena mayoritas dari mereka berbahasa Pusthu, maka oleh masyarakat setempat mereka disebut sebagai orang-orang ‘Afghan’ atau bahkan dengan sebutan ‘Ghan’ saja. Orang-orang Afghanistan ini cukup banyak membantu pembangunan ekonomi daerah padang pasir Australia

    Meski mereka memiliki peran yang cukup banyak dalam pembangunan Australia, namun mereka diperlakukan layaknya budak oleh orang-orang Inggris. Ketika mereka datang ke Australia, mereka tidak diizinkan membawa kaum wanita, suatu upaya untuk mencegah komunitas Muslim hidup terus di Australia. Dengan tidak adanya kaum wanita yang ikut ke Australia, maka para imigran Afghanistan ini mengalami kesulitan dalam hal perkawinan. Akhirnya ada sebagian orang yang berusaha mengubah agama wanita kulit putih untuk bisa dinikahi, ada juga yang menikahi sembarang wanita tanpa banyak menghiraukan tentang masa depan keturunan mereka.

    Imigran dari Afghan ini meninggalkan banyak keturunan yang kini masih hidup di Australia terutama di Alice Spring. Namun kebanyakan keturunan Afghan ini tidak lagi mempraktikan Islam. Nama, bahasa, makanan dan gaya hidup mereka sudah terasimilasikan. Keadaan ini berbalik dari para awal imigran Afghan itu sendiri, mereka para imigran awal memiliki kebiasaan shalat, memakai gamis dan sorban di kepala, menghindari minuman keras, memisahkan diri dari wanita. Selain shalat, mereka juga taat berpuasa meski mereka harus tetap bekerja.

  • Gelombang migrasi selanjutnya datang dari orang-orang Melayu yang mulai pada tahun 1850 M dan berlanjut sampai 1930 M. Gelombang migrasi ini membawa orang-orang Melayu Muslim ke Timur-laut, utara dan barat-laut pantai Australia. Orang- orang Melayu ini datang sebagai penyelam mutiara dan sebagai buruh-kontrak di perkebunan tebu di Australia Barat. Menurut sensus koloni pada tahun 1871 mencatat bahwa ada sekitar 149 orang Melayu yang bekerja di Australia sebagai penyelam mutiara di Australia.

    Imigran dari Malaysia ini selain bekerja sebagai penyelam mutiara di pedalaman laut, ada juga yang bekerja di pertambangan Australia Selatan, pertanian dan berkebun di ladang tebu di Queensland. Meskipun permintaan tinggi untuk pekerja Melayu di Australia, namun pengenalan Undang-undang Pembatasan Imigrasi pada tahun 1901 sangat membatasi pertumbuhan komunitas ini. Tahun 1901 ada 932 penyelam mutiara Malaysia di Australia.

    Setelah Undang-undang Pembatasan Imigrasi secara resmi berakhir pada 1973, Australia menjadi tujuan yang lebih menguntungkan bagi imigran Malaysia. Jumlah siswa terus meningkat, dan beberapa memilih untuk tinggal di Australia setelah menyelesaikan studi mereka. Jumlah terbesar imigran kelahiran Malaysia tiba di Australia setelah tahun 1981, di bawah Program Family Reunion Program or as skilled or business migrants. Pada tahun 2011 ada 39.778 imigran dari Malaysia di Victoria, yang mayoritas tinggal di sekitar Glen Waverley, Balwyn, Doncaster dan Melbourne bagian dalam.

  • Pada sekitar tahun 1960 M dan sekitar tahun 1970 M dalam jumlah yang cukup besar terjadi migrasi Muslim dari Lebanon ke Australia. Migrasi pertama bangsa Lebanon ke Australia terjadi pada sekitar tahun 1880-an. Gelombang kedua migrasi Bangsa Lebanon ke Australia terjadi antara tahun 1947 M sampai dengan 1975 M, terutama setelah terjadi perang antara bangsa Arab dan Israel pada tahun 1967 M. Gelombang ketiga terjadi pada tahun 1976 M setelah terjadi perang sipil di Lebanon. Para imigran awal tersebut mayoritas bekerja sebagai pedagang asongan, mereka membeli barang-barang di Melbourne dan menjualnya di daerah pedesaan. Beberapa di antaranya kemudian mendirikan bisnis di bidang ritel, pergudangan, dan manufaktur. Pada awal abad ke-20, generasi kedua Lebanon berkontribusi terhadap kehidupan publik di Victoria. Imigran yang datang kemudian ini mayoritas berpendidikan dan bekerja pada pekerjaan profesional. Sebagian lainnya menjadi makmur secara ekonomi melalui usaha bisnis.

    Saat ini lebih dari 15.869 orang Australia kelahiran Lebanon, sebagian besar masih tinggal di daerah metropolitan Melbourne, dan sebagian bermukim di Victoria. Orangorang Victoria keturunan Lebanon memberi kontribusi besar pada kehidupan di Victoria, mereka aktif di bidang-bidang seperti politik, hukum dan perhotelan. Premier Victoria dari 1999-2007, Steve Bracks, adalah keturunan Lebanon. Dari seluruh imigran Lebanon yang tinggal di Australia sebagiannya adalah orang Kristen dan 47% adalah Muslim.

  • Setelah Perang Dunia II, imigrasi Turki ke Australia tidak meningkat secara signifikan seperti imigran dari Lebanon. Pada tahun 1966 ada kurang dari 1.000 orang kelahiran Turki di Australia. Hal ini terjadi karena dampak persoalan White Australia Policy. Namun, saat migrasi dari Eropa mengalami penurunan, maka pertimbangan untuk menerima kembali imigran dari Turki tersebut dipertimbangkan oleh pemerintah. Pada saat yang sama, Pemerintah Turki mendorong emigrasi untuk mengatasi pengangguran dan kepadatan penduduk yang berlebihan.

  • Populasi Muslim yang berimigrasi ke Australia dari wilayah yang sekarang diakui sebagai Bosnia-Herzegovina tergolong sedikit sampai setelah Perang Dunia II. Pada tahun 1960-an dan 1970-an meningkatnya pengangguran di Republik Federal Sosialis Yugoslavia kemudian menyebabkan pemerintah untuk meringankan pembatasan emigrasi, yang memungkinkan peningkatan jumlah yang bermigrasi ke Australia. Para imigran ini kemudian banyak yang menetap di Victoria.

    Australia menerima beberapa ribu imigran dari Bosnia-Herzegovina yang dilanda perang, sebagian besar di antaranya tiba di bawah Program Pengungsi dan Kemanusiaan. Pada tahun 1996, setahun setelah perang saudara berakhir, hampir 14.000 migran dari Bosnia-Herzegovina tinggal di Australia. Sebagian besar pendatang baru menetap di Victoria - Bosnia-Herzegovina adalah sumber imigran terbesar kelima ke Australia pada 1995-1996.

    Pada 2011, Victoria adalah rumah bagi 9.163 orang dari Bosnia-Herzegovina. Sebagian besar hidup di daerah Dandenong, sebagian besar anggota komunitas ini adalah Muslim, diikuti oleh Ortodoks Timur dan Katolik. Bahasa Bosnia adalah bahasa dominan yang digunakan di rumah, diikuti oleh bahasa Serbia dan Kroasia. Saat ini sebagian besar penduduk Victoria dari Bosnia-Herzegovina dipekerjakan sebagai pedagang dan pekerja transportasi dan produksi. Meskipun banyak memiliki kualifikasi profesional, kehidupan komunitas mereka didukung oleh berbagai organisasi budaya, baik yang religius maupun yang sekuler.

  • Hingga tahun 1947 M, Pakistan adalah negara bagian dari India yang diperintah oleh penjajah Inggris. Imigran dari wilayah ini mulai berdatangan di Australia selama pertengahan abad kesembilan belas, sebagian besar datang sebagai kamuflase disewa untuk kontrak jangka pendek. Namun banyak juga yang akhirnya menetap secara permanen di Australia. Seperti para penunggang unta ‘Afghan’, mereka memainkan peran penting dalam eksplorasi dan pengembangan area yang luas di Australia bagian dalam.

    Pada tahun 1901, ketika Undang-undang Pembatasan Imigrasi (dikenal sebagai White Australia POlicy) diterapkan, populasi imigran dari Pakistan menjadi berkurang, karena banyak dari mereka yang memutuskan meninggalkan Australia dan kembali ke negara asal mereka.

    Orang-orang Australia kelahiran Pakistan telah memainkan peran penting dalam pengembangan organisasi-organisasi Muslim lokal yang ada di Australia, dan telah berkontribusi pada pengembangan sekolah-sekolah Muslim independen dan program- program bahasa di seluruh Australia. Sejumlah asosiasi Pakistan juga mendukung komunitas ini, yang tertua adalah Association Australia Pakistan yang dibentuk pada tahun 1959.

Sumber:
https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/tamaddun/article/view/4507/2210