© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Manajemen Waktu dalam Islam?

Waktu adalah hal yang tak dapat kembali sekalipun kamu berusaha. Waktu melukis kenangan yang semakin hari semakin jauh. Waktu sangat berharga dan tak ternilai. Jika waktumu terasa sempit dan selalu merasa kurang, tandanya ada yang perlu dibenahi. Ada yang salah. Ada yang terlupakan.

Bagaimana Islam melihat waktu ?

Dalam pepatah Arab dikatakan: “hazhzhukal yauma” (keberuntunganmu adalah hari ini), dan waktu kita sesungguhnya memang saat ini dan detik ini. Hari ini adalah amal dan “ghaniimah”.

Waktu kemarin akan menjadi milik kita jika apa yg diperankan adalah yang terbaik. Hari kemarin telah berakhir (ajal) dan menjadi nasihat (mau’izhah). Dan hari esok penuh harapan akan menjadi milik kita jika niat dan dan perbuatan telah terprogram debgan baik saat ini. Hari esok adalah “angan-angan” (amal). Hal itu tergantung dari pekerjaan yang diperankan manusia dalam kehidupan, apakah perbuatan itu yang terbaik atau sebaliknya?

Hari keberuntungan adalah hari-hari yang diisi dengan penuh ketaatan kepada Allah, di mana setiap hari yang kita lalui semakin mendekatkan diri kepada Allah Apakah perbuatan kita sudah sesuai dengan ridha-Nya atau murka-Nya?

Sementara benda-benda alam lainnya di jagat raya berjalan sesuai dgn aturan ketetapan-Nya, tertib disiplin dan memberikan manfaat yang luar biasa besarnya untuk kehidupan segenap makhluq Allah; Waktu kini tak mungkin terulang kembali, juga takkan tergantikan dengan lain waktu.

Waktu adalah “kesempatan”, dan kesempatan emas takkan terulang dua kali. Waktu berlalu begitu cepat bak meteor, dan “kerugianlah” bagi mereka yang tak sempat mengerjakan amal kebaikan di dalamnya. Waktu itu secepat manusia yg sigap menangkap peluang kehidupan dan menjadikannya sebagai kunci bagi keberhasilan hidupnya.

Oleh karena itu, maka carilah “keuntungan” (ghanimah/ightanim) yang lima sebelum datang lima perkara:

  1. Masa mudamu sebelum masa tuamu;
  2. Masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu;
  3. Masa kayamu sebelum masa fakirmu;
  4. Masa sempat/luangmu sebelum tiba masa sibukmu;
  5. Masa hidupmu sebelum masa kematianmu.

Demikian sabda Rasulullooh Saw. kepada Abdullah ibn Umar ibn Khaththab r.a.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT. banyak bersumpah dgn mempergunakan momentum waktu yang di antaranya adalah:

" Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari."
" Dan bulan apabila mengiringinya."
" Dan siang apabila menampakkannya."
" Dan malam apabila menutupinya (gelap gulita)."
" Dan langit serta pembinaannya (yang menakjubkan)."
" Dan bumi serta penghamparannya." (QS.Al-Syams [91]:1-6).

" Demi malam apabila menutupi (cahaya siang)."
" Dan siang apabila terang benderang." (QS. Al-Lail [92]: 1-2).

" Demi masa [waktu asar]," (QS.Al-'Ashr [103]:1).

https://rumaysho.com/36-semangat-di-waktu-pagi-yang-penuh-berkah.html

Sebelum membahas manajemen waktu, di dalam Al’Quran terdapat kata-kata yang berhubungan dengan kata waktu, misalnya :

  • Kata ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang abadi kecuali Allah swt. sendiri.

  • Kata dahr memberi kesan bahwa segala sesuatu pernah tiada, dan bahwa keberadaannya menjadikan ia terikat oleh waktu (dahr).

  • Kata waqt digunakan dalam konteks yang berbeda-beda, dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan. Arti ini tercermin dari waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang keharusan adanya pembagian teknis mengenai masa yang dialami (seperti detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu-waktu tesebut, dan bukannya membiarkannya berlalu hampa.

  • Kata ‘asr memberi kesan bahwa saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras keringat dan pikiran.

Didalam ajaran agama Islam, kita dituntut untuk benar-benar menghargai waktu, dimana waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, karena ketika kita sudah kehilangan waktu, maka kita tidak akan pernah mendapatinya kembali.

Seperti yang disampaikan oleh imam Al-Ghazali, bahwa sesuatu yang paling jauh di dunia ini adalah masa lalu, karena kita tidak akan pernah kembali ke masa lalu kita. Permaslahan ini juga sudah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, dalam hadist berikut,

Diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmizi, dan Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda :

…Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalam keduanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.”

Dari peringatan nabi Muhammad saw diatas sangat jelas bahwa banyak manusia yang menyia-nyiakan waktunya dengan hal-hal yang tidak produktif.

Salah satu cara untukdapat melakukan manajemen waktu yang baik adalah dengan mengingat firman Allah swt sebagai berikut,

Terjemahnya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. QS al-Insyirah/94: 7

Dari ayat diatas jelas terlihat bahwa gunakan waktumu dengan hati-hati, dengan cara mengerjakan segala urusanmu dengan sungguh-sungguh. Segala urusan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan bernilai positif dan produktif.

Selanjutnya, ketika kita telah menyelesaikan satu urusan, maka selesaikanlah urusan berikutnya, dalam artian, manfaatkan waktu yang ada dengan melakukan segala urusan yang telah kamu rencanakan sebelumnya.

Selain itu, Allah swt juga telah memberikan ciri-ciri orang yang beriman, dimana salah satunya adalah tidak membuang-buang waktu, berdasarkan firman Allah swt sebagai berikut,

dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna QS. Al-Mu’minun Ayat 3

Sebagai penutup, berikut adalah nasihat nabi Muhammad saw, yang berkaitan dengan lima perkara yang harus dipergunakan sebelum lima perkara, yaitu:

Al Hasan bin Halim Al Marwazi mengabarkan kepadaku, Abu Al Muwajah memberitakan, Abdan memberitakan, Abdullah bin Abi Hindun mengabarkan, dari ayahnya, Ibnu Abbas ra, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda kepada seorang laki-laki dan beliau menasehatinya,

“Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum matimu.”

Referensi :

  • M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an; Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat