Bagaimana manajemen risiko dapat mengatasi ketidakpastian dan kerugian?

Berikut gambar yang mewakili pertanyaan diatas

Mungkin bagi sebagian besar dari kebanyakan orang memiliki keengganan reflektif terhadap risiko dan ketidakpastian. Hal ini dapat dimengerti karena risiko memerlukan kemungkinan kerugian, yang menyebabkan kita ingin menurunkan potensi kerugian lebih besar daripada keuntungan potensial serta ketidakpastian membuat kita tidak nyaman. Semakin kita tahu tentang hasil sebuah situasi, semakin aman dan nyaman yang kita rasakan. Akibatnya, banyak orang yang bekerja keras untuk meminimalkan risiko dan ketidakpastian, karena kualitas ini memicu emosi yang tidak menyenangkan didalam diri kita.

Kecepatan dan kekuatan emosi memungkinkan mereka memainkan peran yang berguna dalam pengambilan keputusan. Dengan memproses sejumlah besar data secara lebih efisien daripada hanya melakukannya melalui logika saja. Tapi karakteristik yang sama juga memungkinkan emosi untuk dengan mudah menyalip proses penalaran logis yang relatif lambat dan intensif sumber daya, dan berpotensi membimbing kita secara tidak akurat.

Jadi apa yang bisa kita lakukan?
Daripada meminimalkan risiko dan menghindari ketidakpastian (dan menimbulkan biaya kesempatan yang tak terelakkan), lebih baik kita mengelola emosi secara lebih efektif agar mampu berfikir jernih dalam pengambilan keputusan, dengan cara :

1. Kesadaran

Emosi adalah peristiwa fisiologis, ketika kita lebih mampu mengelola perhatian kita yang berhubungan erat dengan tubuh kita. Lebih mudah untuk memahami dan mengidentifikasi keadaan emosional kita. Tujuannya ialah untuk meningkatkan kesadaran kita akan tanda-tanda awal kecemasan dan emosi lain yang kita rasakan dengan adanya risiko dan ketidakpastian. Ini melibatkan batin kita (kognitif, emosional, fisiologis), tapi juga perilaku eksternal kita (ekspresi wajah dan nada suara, gerak tubuh atau sikap dan bahasa tubuh.

2. Pemahaman

Pemahaman sangatlah penting dilakukan, disamping memikirkan cara yang strategis. Kita juga harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap permasalahan atau risiko yang akan terjadi. Tidak hanya mengelola emosi saja namun memahami emosi juga harus dilakukan. Dalam beberapa kasus, kita membesar-besarkan perasaan kepada orang lain dan mengabaikannya. Karena kita tidak memiliki bahasa yang cukup bernuansa untuk menangkap esensi pemahamannya.

3. Reframing atau pengkajian ulang

Dalam situasi yang melibatkan risiko dan ketidakpastian, hal ini mencakup penekanan pada potensi keuntungan yang akan dimenangkan. Doug Sundheim dalam bukunya Taking Smart Risk telah mempengaruhi pemikiran penulis tentang risiko dimana dalam buku tersebut mendorong orang untuk “menemukan sesuatu yang layak diperjuangkan” untuk memahami “Mengapa risiko mengambil peranan penting bagi Anda”. Yang pada artinya perhitungan risiko dan ketidakpastian kita sering kali tidak dapat diandalkan.

Mengelola emosi membutuhkan banyak usaha yang keras, dan tidak ada suatu pekerjaan yang tidak menimbulkan risiko. Yang kita lakukan hanyalah berusaha meminimalisirnya dengan cara yang strategis dan pengendalian emosi dimana hal itu dapat membantu kita untuk berfikir jernih dalam menyelesaikan masalah atau bahkan menurunkan risiko yang ada.

REFERENSI

Pertumbuhan bisnis mengharuskan para pemimpin untuk mengidentifikasi peluang, mengevaluasi potensi dan risikonya, memutuskan antara yang paling menjanjikan, dan melaksanakan hasilnya.

Pandangan menarik tentang bagaimana tumbuh dalam mengatasi ketidakpastian berasal dari Max McKeown yang menulis “Adaptability: The Art of Winning in an Age of Uncertainty”. Dalam buku ini, penulis mengidentifikasi sejumlah aturan untuk menang dalam mengatasi ketidakpastian. Seperti hal nya di Canada, bahwa stabilitas adalah ilusi yang berbahaya. Dia mendefinisikan kegagalan sebagai kegagalan untuk beradaptasi dan sukses karena adaptasi yang berhasil untuk mengatasi atau menentukan tingkat hasil adaptasi menjadi runtuh, bertahan hidup, berkembang, dan transendensi.

Aturan yang tepat dalam menghadapi dan mengatasi ketidakpastian yang diorganisir yang disarankan oleh penulis terdapat tiga tahap:

  1. Recognize The Need to Adapt
    Rangkullah kebijaksanaan yang tidak dapat diterima, berbicara berlawanan dengan kebijaksanaan yang berlaku menciptakan peluang. Kita perlu tau kapan harus melanggar peraturan. Aturan mengandung pengetahuan & pengalaman, peraturan juga mengandung prasangka atau kepercayaan salah, peraturan mungkin tidak berlaku lagi.

  2. Understand Necessary Adaption
    Membuat plan B adalah sebuah keharusan. Kemampuan beradaptasi tidak menendang secara otomatis.

  3. Adapt as Necessary
    Ambisi. Ambisi adalah cara untuk melihat masa depan. Masa depan memberi arahan dan energi tak terbatas untuk berubah.

Sumber:

Kita sering menggunakan kata “ketidakpastian” untuk merujuk pada pemikiran yang meragukan karena ada kekurangan informasi tentang apa yang akan atau tidak akan terjadi di masa depan, jadi kita sering menggunakan ketidakpastian dan risiko bersama. Misalnya, ketika seseorang mengatakan “Saya tidak yakin dengan nilai apa yang akan saya dapatkan dalam ujian”, itu berarti kurangnya pengetahuan mengenai hasilnya.

Dimana ada resiko, ada ketidakpastian. Ada kemungkinan seseorang merasa tidak yakin dalam situasi di mana ada kemungkinan kehilangan.

Memperkirakan besarnya risiko tidak dapat diukur secara langsung, biasanya membutuhkan asumsi yang tidak dapat diuji secara empiris. Pengakuan akan ketidakpastian terkadang mengarah pada pandangan bahwa penilaian risiko adalah usaha yang meragukan dan tidak dapat diandalkan untuk membuat keputusan. Ketidakpastian ini lebih terlihat dalam beberapa pendekatan terhadap manajemen risiko sosial daripada yang lainnya. Mengingat ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh ketidakpastian, mungkin akan terarahkan untuk melebih-lebihkan penilaian risiko.

Penilai risiko menggunakan asumsi untuk menjembatani kesenjangan dalam pengetahuan. Seringkali ada beberapa asumsi alternatif. Salah satu cara untuk mengatasi ketidakpastian adalah dengan mengkategorikan risiko terkecil (risiko yang paling sering tidak pasti) karena minimnya risiko. Minimnya risiko dinilai terlalu kecil untuk menjadi perhatian sosial, atau terlalu kecil untuk membenarkan penggunaan sumber manajemen risiko kontrol. Risiko dan ketidakpastian terkait karena keduanya mengabaikan pengetahuan tentang keadaan masa depan dan keduanya dapat digambarkan oleh probabilitas.

Sumber:


Jika dilihat dari pengertiannya, manajemen risiko adalah proses identifikasi, penilaian dan pengendalian ancaman terhadap modal dan pendapatan organisasi. Ancaman atau risiko ini bisa berasal dari berbagai sumber, termasuk ketidakpastian keuangan, kewajiban hukum, kesalahan manajemen strategis, kecelakaan dan bencana alam. Ancaman keamanan TI dan risiko terkait data dan strategi manajemen risiko untuk meringankannya, menjadi prioritas utama bagi sebuah perusahaan. Akibatnya, rencana manajemen risiko semakin mencakup proses perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengendalikan ancaman terhadap aset-asetnya, termasuk data perusahaan, informasi pribadi dan kekayaan intelektual pelanggan. Maka, kemungkinan terjadinya sebuah risiko itu akan selalu ada.

Sedangkan risiko didefinisikan sebagai ketidakmampuan potensial suatu perusahaan untuk mencapai tujuannya. Seringnya, perusahaan tidak menelusuri segala hal yang dapat memengaruhi perkembangan bisnis mereka, tetapi hanya melihat pada area yang memang terlihat jelas akan menimbulkan risiko. Itu merupakan kesalahan yang besar. Risiko muncul tidak selalu pada area yang memang sangat berrisiko. Selain itu, biasanya suatu perusahaan selalu menganggap risiko memiliki makna yang negatif, meskipun pada kenyataannya tidak demikian. Pada realitanya, risiko merupakan suatu jembatan yang menyediakan keberhasilan gemilang bagi perusahaan.

Sebagai contoh, jika suatu perusahaan memutuskan untuk meningkatkan lini produk mereka pada pelayanan pelanggan yang berbeda, akan muncul risiko positif meningkatnya pendapatan saat perusahaan tumbuh secara menyeluruh. Namun sebaliknya, jika perusahaan tidak mengambil risiko tersebut, maka perusahaan akan tetap mengalami tingkat pendapatan yang relatif stagnan. Bahkan, perusahaan kemungkinan akan mengalami pertumbuhan pendapatan yang negatif karena kurangnya inovasi dan retensi pelanggan. Pada akhirnya, dengan melakukan manajemen risiko yang tepat akan mengatasi suatu ketidakpastian dan kerugian.

Referensi:


Manajemen resiko adalah suatu fungsional manajemen yang berfungsi untuk mengidentifikasi, menilai dan menunjukan penyebab serta dampak yang timbul dari ketidakpastian dan risiko pada suatu organisasi atau perusahaan. Seperti yang diketahui secara umum, perusahaan tidak terlepas dari apa yang dinamakan dengan manajemen. Manajemen itu sendiri merupakan suatu kegiatan perusahaan berawal dari input sumberdaya yang dimiliki, kemudian diproses sehingga menghasilkan output yang efektif dan efisien.

Dampak kerugian akibat ketidakpastian selalu menjadi ancaman setiap organisasi dan perusahaan, apapun bentuk perusahaannya. Kerugian bisnis bisa berasal dari operasi normal perusahaan atau kegiatan tidak teratur yang mengirimkan aktivitas perusahaan ke dalam tailspin.

Terdapat 6 aktifitas manajemen risiko yang umum dilakukan untuk menanggulangi atau setidaknya mengurangi kemungkinan peluang terjadinya risiko kerugian:

  1. Membantu organisasi / perusahaan dalam mengidentifikasi risiko

  2. Mengimplementasikan program-program pengendalian dan pencegahan kerugian. Pada perusahaan umum sering anda dengar tentang program SMK3 (Sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja)

  3. Menyelenggarakan program pendidikan dan pelatihan penanganan risiko

  4. Menjamin pemenuhan standar-standar keamanan

  5. Mengatur kerjasama penjaminan risiko dan klain, misal dengan jamsostek dan BPJS

  6. Merancang dan mengkoordinasikan program kesejahteraan karyawan. Kesejahteraan karyawan disini bukan berbentuk uang, namun FRINE BENEFIT (kesejahteraan, kesehatan, pariwisata dll)

Sumber: