Bagaimana kronologi Gugatan hukum di balik 'Benyamin Biang Kerok'?

hukum 2
Selang beberapa hari setelah penayangan Benyamin Biang Kerok (2018) pada 1 Maret silam, rumah produksi Falcon Pictures, Max Pictures, Produser Nirmal Hiroo Bharwani atau HB Naveen, serta Ody Mulya digugat penulis cerita Syamsul Fuad.

Pada 5 Maret 2018, Syamsul mengajukan gugatan atas tuduhan pelanggaran hak cipta terhadap film yang diproduksi Max Pictures dan Falcon Pictures. Namun belum juga perkara itu usai di pengadilan, kini giliran Max Pictures selaku tergugat yang mengajukan gugatan balik. Falcon menyebut Syamsul merugikan mereka secara materi.

“Awalnya ajukan gugatan ke pengadilan niaga Jakarta Pusat terkait hak cipta. Setelah sidang berjalan hingga ketiga, ada kabar Syamsul digugat balik. Kami baru dapat dokumennya Selasa (17/4) kemarin,” kata Bakhtiar Yusuf, kuasa hukum Syamsul saat dihubungi CNN Indonesia, Jumat (20/4).

Berdasarkan dokumen yang diterima Syamsul, Max Pictures menyatakan bahwa gugatan terhadap mereka salah alamat atau ada pihak yang kurang. Seharusnya, PT. LAYARCIPTA KARYAMAS FILM sebagai pemilik hak sepenuhnya atas film Benyamin Biang Kerok juga dilibatkan.

Max Pictures dan Falcon Pictures mengklaim hanya menjadi penerima pengalihan dan penyerahan hak kepemilikannya. Mereka sudah membereskan urusan hak cipta dari perusahaan itu sebelum membuat Benyamin Biang Kerok.

“Mereka bersikeras pegang perjanjian beli Benyamin Biang Kerok dan Benyamin Biang Kerok Beruntung. Padahal, perjanjian itu tidak boleh mengambil alih hak cipta penciptanya. Jangan merasa beli film bisa kuasai semua, termasuk otak-atik cerita awal,” kata Bakhtiar.

Selain itu, Max Pictures dan Falcon Pictures juga menggugat Syamsul atas tuduhan menggiring opini negatif hingga film mereka rugi secara material dan immaterial.

Sumber: cnnindonesia.com