Bagaimana Konversi Agama Pada Masyarakat Cina Benteng?

Cina Benteng
Bagaimana Konversi Agama Pada Masyarakat Cina Benteng?

Konversi agama pada masyarakat Cina Benteng terjadi dalam beberapa fase, dari masa awal terbentuknya masyarakat Cina Benteng, masa kolonial, masa orde baru hingga sekarang . Konversi agama disini maksudnya adalah konversi yang bersifat massif.

Pertama, yaitu pada masa awal. Sebagaimana dijelaskan di depan bahwa masyararakat awal Cina Benteng adalah mereka yang mendarat di Teluk Naga yang dipimpin oleh Chen Tji Lung. Sebagai pengikut Laksamana Cheng Ho, tentu banyak dari mereka yang menganut Islam karena Laksamana Cheng Ho sendiri adalah seorang Muslim yang juga mempunyai nama yaitu Ma He. Ma adalah singkatan bagi Muhammad, jadi artinya adalah Muhammad He.

Ternyata banyak dari pengikut Cheng Ho adalah orang-orang taklukan. Mereka adalah para perampok yang dikalahkan Cheng Ho di Malaka, Bintan dan Palembang. Sebagai orang-orang taklukan mereka mengikuti Cheng Ho dan akhirnya menganut Islam sebagaimana agama yang dianut Laksamana Cheng Ho. Setelah mereka menetap di Tangerang dan misi muhibah Laksamana Cheng Ho kembali ke Tiongkok, orang-orang taklukan ini mulai banyak yang kembali kepada agama leluhur. Seperti yang terjadi di Semarang, masjid yang dibangun berubah menjadi kelenteng Sam Po Kong

Kedua, pasca peristiwa 1740 di Batavia. Banyak orang-orang Tionghoa Batavia yang mengungsi ke wilayah Tangerang dan menemukan saudara satu leluhur mereka. Para pendatang dari Batavia itu sering kali melakukan ritual-ritual upacara yang menghidupkan kembali budaya dan tradisi Tionghoa. Orang-orang Cina Benteng yang banyak memeluk Islam karena menikah dengan perempuan pribumi (Islam) kembali kepada agama leluhur mereka yaitu Konfusianisme, Taoisme dan Budhisme.

Ketiga, pada masa kolonial banyak orang-orang Tionghoa yang mengubah keyakinan agamanya kepada Kristen. Hal tersebut terjadi lebih disebabkan faktor sosial dan ekonomi. Seperti telah dijelaskan di muka bahwa pada masa kolonial, Belanda menggolongkan masyarakat menjadi tiga strata, yang teratas adalah golongan Eropa. Bagian ini diisi oleh orang-orang Belanda baik sebagai aparat pemerintahan kolonial maupun para pengusaha. Selain orang Belanda ada juga pengusaha dari Inggris. Sebagaimana diketahui bahwa Inggris juga sempat menguasai atau menjajah di Nusantara. Demikian pula dengan orang-orang dari Perancis. Golongan dibawahnya adalah golongan Asia dan Timur Asing, yaitu orang-orang Tionghoa, Jepang, India dan Timur Tengah. Biasanya mereka adalah para saudagar. Pada strata masyarakat yang paling rendah diisi oleh pribumi yang mempunyai konotasi tak berpendidikan dan miskin. Tentunya banyak orang Tionghoa yang ingin naik kelas, setidaknya bisa dekat dan akrab dengan orang-orang Eropa yang berkonotasi lebih berpendidikan dan seabagai penguasa kolonial. Jika mereka masuk ke dalam Kristen mereka dapat beribadah bersama-sama dengan orang Eropa, bergaul dengan mereka dan berpenampilan seperti orang Eropa serta berpeluang mendapatkan fasilitas untuk digunakan mengambil keuntungan ekonomi.

Seperti yang diungkapkan Karl Marx, bahwa agama sama saja dengan negara, seni, tatanan moral,dan hasil karya intelektual lain. Semua itu merupakan superstruktur masyarakat yang sangat tergantung pada pondasi ekonomi. Maka, seandainya terjadi perubahan ekonomi, agamapun akan ikut berubah.

Keempat adalah pada masa orde baru. Pemerintahan orde baru hanya mengakui empat agama yaitu Islam, Kristen dimana Protestan dan Katolik ada di dalamnya, Hindu dan Budha. Pada masa pemerintahan orde baru, orang orang Tionghoa mengalami diskriminasi dimana agama mereka, yaitu Konghucu dan Taoisme tidak diakui oleh negara. Agar mendapat pengakuan secara administratif dari negara, kebanyakan dari mereka mengubah keyakinan mereka menjadi Budha. Budha adalah ajaran agama yang paling dekat dengan kosmologi orang Cina Benteng. Banyak juga dari mereka menganut Budha sejak nenek moyang mereka. Kelenteng-kelenteng mereka diubah namanya menjadi vihara agar dari luar mereka dianggap Budha walaupun setelah masuk ke dalam kelenteng, mereka beribadat menurut ajaran Konfusius. Di Desa Tanjung burung ditemukan sebuah vihara yaitu Vihara Atta Naga Vimutti. Dari namanya, terkesan bahwa vihara ini adalah tempat ibadah bagi umat Budha. Pada kenyataannya di dalam Vihara ini memang terdapat altar Budha tetapi di sebelahnya juga terdapat altar pemujaan Dewi Kwan Im yaitu Dewi Welas Asih yang banyak dipuja oleh umat Konghucu.

Budha adalah agama yang merupakan paling banyak dipilih oleh kalangan masyarakat Cina Benteng. Pilihan terhadap Budha tentunya di latarbelakangi oleh sejarah agama Budha di Tiongkok yang juga mendapatkan sambutan yang luas. Pada urutan berikutnya adalah masuk Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Pilihan ini juga didasarkan pada alasan-alasan sosial ekonomi, sama seperti yang terjadi pada masa kolonial. Pilihan masuk Islam adalah urutan berikutnya. Biasanya motivasinya adalah kedekatan hubungan personal dengan guru-guru spiritual. Motivasi yang terbanyak adalah perkawinan dengan perempuan pribumi.

Sumber:

https://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/tamaddun/article/view/4498/2204