Bagaimana Komunikasi Memberi Pengaruh dalam Menentukan Keberhasilan Proses Manajemen Risiko?

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan manajemen risiko adalah komunikasi. Bagaimana komunikasi memberi pengaruh dalam menentukan keberhasilan proses manajemen risiko?

Makhluk hidup secara alamiah akan mengantisipasi dan mengelola risiko. Bagaimana dengan organisasi? Karena organisasi tidak mempunyai kemampuan mengelola risiko seperti halnya manusia, maka organisasi wajib membuat manajemen risiko agar organisasi dapat mengantisipasi dan mengelola risiko sebagaimana manusia dan makhluk hidup lainnya.

Jika organisasi tidak bisa mengelola risiko tersebut dengan baik, maka organisasi bisa menghadapi konsekuensi negatif yang cukup substansial. Banyak contoh kejadian semacam itu: Bank Baring mengalamai kebangkrutan karena gagal mengantisipasi perdagangan ceroboh yang dilakukan salah seorang trader-nya, Enron mengalami kebangkrutan karena tidak bisa mengantisipasi mis-manajemen, dan masih banyak yang lainnya.

Kasus Enron yang bangkrut pada tahun 2001 menunjukkan bahwa organisasi tersebut gagal membangun komunikasi dan transparansi yang baik. Manajemen risiko yang baik harus menjamin terjadinya good corporate governance, diantaranya terjaminnya disclosure dan transparansi yang baik.

Kegagalan Enron merupakan salah satu bukti bahwa komunikasi memberikan pengaruh pada manajemen risiko. Tidak adanya transparansi merupakan salah satu faktor buruknya komunikasi yang menyebabkan Enron gagal mengantisipasi risiko mis-manajemen. Tidak adanya transparansi menyebabkan tim manajemen risiko tidak dapat memperkirakan risiko yang akan dihadapi, organisasi gagal menghadapi risiko yang akhirnya menyebabkan organisasi tersebut bangkrut.

Komunikasi juga memiliki pengaruh dalam manajemen risiko yaitu untuk memberikan informasi. Contohnya, unit bisnis berkomunikasi dengan unit manajemen risiko untuk melaporkan masalah-masalah yang pernah dihadapi oleh organisasi. Komunikasi semacam itu penting agar unit manajemen risiko bisa memperoleh gambaran yang lengkap mengenai risiko yang dihadapi oleh organisasi. Tanpa adanya informasi dari unit terkait mengenai risiko yang akan dihadapi, organisasi hanya bisa menganalisis risiko dari data historis yang belum tentu lengkap dan mungkin tidak semua organisasi menyimpan data historis mengenai permasalahan yang pernah dialami oleh organisasi.

Hal Itulah yang menyebabkan komunikasi menjadi sangat penting dan dapat memberikan pengaruh bagi manajemen risiko, juga terhadap organisasi. Organisasi yang baik tentu akan menjaga komunikasi untuk keberlangsungan hidup organisasinya.

Referensi

  • Tugiman, H., 2009. “Manajemen Risiko Organisasi”.
  • Hadisaputra, S., Kusumah, L.H., 2017. “Implementasi Manajemen Risiko Berbasis ISO 9001:2015 dan ISO 31010:2009 Pada Usaha Jasa Konsultasi dan Pelatihan di PT BSU Penerapan Fault Tree Analysis (FTA) dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA)”.
  • Hanafi, M.M., 2014. “Risiko, Proses Manajemen Risiko, dan Enterprise Risk Management”

Pada proses manajemen risiko terdapat dua proses pendukung yaitu komunikasi dan konsultasi untuk menjamin terjadinya dukungan yang memadai dari setiap kegiatan manajemen risiko dan menjadikan setiap kegiatan mencapai sasarannya dengan tepat.

Komunikasi dan konsultasi dengan pemangku kepentingan internal maupun eksternal harus di laksanakan se-ekstensif mungkin dengan sesuai kebutuhan dan setiap tahapan manajemen risiko. Seperti Standar ISO 31000 membutuhkan komunikasi dan konsultasi, baik dengan stakeholder internal maupun eksternal, dimana di perlukan pada setiap tahap proses manajemen risiko secara keseluruhan.

Manajemen risiko ditingkatkan melalui komunikasi dan konsultasi yang efektif ketika semua pihak saling memahami perspektif masing-masing dan jika perlu secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan. Proses pendukung lainnya dalam penerapan manajemen risiko adalah komunikasi kepada manajemen dan unit-unit kerja perusahaan sehingga setiap individu dalam perusahaan memahami atas kesadaran risiko, kematangan risiko, budaya risiko. Komunikasi ini dilaksanakan sebagai upaya untuk mengukur kesiapan organisasi dalam mengatasi risiko dan untuk mengevaluasi penerapan manajamen risiko.

referensi

. https://www.adelaide.edu.au/legalandrisk/docs/resources/Risk_Management_Handbook.pdf
. https://swa.co.id/swa/my-article/proses-manajemen-risiko
. https://books.google.co.id/books?id=QkBm4nO27r0C&printsec=frontcover&hl=id&source=gbs_ge_summary_r&cad=0#v=onepage&q&f=false

Model Manajemen Risiko Sektor Publik Menurut AS/NZS 4360:2004

manrisk

Risiko ada di mana-mana, bisa datang kapan saja, dan sulit untuk dihindari. Jika risiko tersebut menimpa suatu organisasi, maka organisasi tersebut bisa mengalami kerugian yang signifikan. Dalam beberapa situasi, risiko bisa mengakibatkan kehancuran organisasi. Oleh karena itu risiko penting untuk dikelola. Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko tersebut sehingga kita bisa memperoleh hasil yang paling optimal. Di dalam organisasi juga akan menghadapi banyak risiko. Jika organisasi tersebut tidak bisa mengelola risiko dengan baik, maka organisasi tersebut bisa mengalami kerugian yang signifikan.

Contoh nya saja pada peristiwa Kegagalan Teknis pada tabung gas elpiji 3kg yang Berisiko pada Keselamatan Manusia, kebijakan energi untuk mengurangi ketergantungan pada BBM dengan mendorong pemakaian gas merupakan kebijakan yang tepat. Selain itu gas lebih ramah lingkungan, lebih praktis dan ketersediaannya lebih terjamin. Namun, ledakan demi ledakan, tercatat +/- 90 kasus, terjadi di berbagai kota yang telah menjalankan program konversi. Tak hanya menghancurkan bangunan, ledakan juga merenggut nyawa manusia. Hal tersebut membuat PT Pertamina mengalami kerugian finansial, PT Pertamina mengali kerugian dikarenak harus memberi santunan bagi korban pemakaian gas elpiji yang meninggal dunia. Hal ini bisa terjadi karena pihak PT Pertamina tidak mengkomunikasikan dengan para konsumen.

Dapat kita lihat bahwa Berdasarkan Model Manajemen Risiko Sektor Publik Menurut AS/NZS 4360:2004 terdapat langkah untuk mengkomunikasikan dan mengkonsultasikan. Di dalam sebuah organisasi atau perusaahan komunikasi merupakan bagian penting. Sebuah organisasi akan bubar karena ketiadaan komunikasi. Di dalam sebuah perusahaan jika tidak ada komunikasi maka para karyawan tidak akan tahu apa yang harus dikakukan dan apa yang harus dikerjakan oleh rekan kerja nya. Hal tersebut bisa menyebabkan tidak adanya koordinasi, kerja sama, dan masing-masing orang tidak dapat mengkomunikasikan perasaannya, kebutuhannya, masalah yang dihadapinya dalam pekerjaan.

Referensi :

Komunikasi merupakan hal penting pada setiap langkah proses manajemen risiko yang melibatkan stakeholder dan pengambil keputusan. Stakeholder mungkin berpendapat tentang risiko yang berdasar pada persepsi mereka dan bervariasi karena perbedaan dalam nilai, kebutuhan, asumsi, konsep dan kepedulian terhadap risiko atau masalah-masalah pokok. Selama persepsi stakeholder bisa berdampak signifikan dalam pembuatan keputusan, maka risiko tersebut harus diidentifikasi dan dicatat untuk proses pembuatan keputusan.

Lalu sebenarnya apa tujuan utama dari penerapan manajemen risiko? Tentunya adalah adanya sinergi dalam setiap unsur organisasi dalam melakukan tanggung jawab untuk mengelola risiko. Divisi/unit manajemen risiko dalam sebuah organisasi memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinasi agar hal tersebut berjalan dengan baik dan sistematis. Dari sisi koordinasi inilah bagaimana komunikasi sangat memberikan perngaruhnya untuk menentukan keberhasilan suatu proses manajemen risiko. Kita tidak bisa melakukan koordinasi baik dengan divisi/unit dalam tim kita tanpa adanya komunikasi didalamnya.

Komunikasi dalam manajemen risiko juga memerlukan keahlian dalam menyampaikan informasi yang mudah dipahami dan mudah digunakan kepada semua pihak yang berkepentingan. Komunikasi yang efektif harus dapat mengenali persoalan dan isu yang mutakhir, bersifat terbuka dalam hal isi serta pendekatannya dan waktunya tepat. Ketepatan waktu dalam penyampaian suatu informasi merupakan hal yang paling penting karena banyak kontroversi lebih terfokus pada pertanyaan “Mengapa anda tidak memberitahukannya lebih awal?” ketimbang pada risiko itu sendiri. Informasi yang lupa disampaikan, informasi yang menyimpang, dan informasi demi kepentingan sendiri akan merusak kredibilitas dalam jangka-panjang.

Referensi

Kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari komunikasi karena komunikasi merupakan bagian integral dari sistem dan tatanan kehidupan sosial termasuk dalam menyebarkan informasi dan pemahaman tentang keputusan manajemen risiko. Tahapan dalam identifikasi dan mitigasi risiko adalah identifikasi risiko, analisa risiko, evaluasi risiko, perlakuan terhadap risiko, pengendalian perlakuan risiko, komunikasi dan konsultasi.

risk_web_graphic3

Komunikasi dan konsultasi merupakan hal penting saat melibatkan stakeholder dan pengambilan keputusan dalam proses manajemen risiko. Stakeholder akan berpendapat tentang risiko berdasarkan asumsi, konsep, persepsi, kepedulian terhadap risiko yang bervariasi karena adanya perbedaan nilai yang dianut.

Komunikasi risiko mengacu pada pertukaran informasi real-time, saran dan pendapat antara ahli dan orang-orang yang menghadapi ancaman. Tujuan utamanya adalah memungkinkan orang-orang yang memiliki risiko untuk berpartisipasi dalam mengambil keputusan tentang bagaimana risiko harus dikelola. Alat komunikasi bisa tertulis, lisan atau pernyataan visual yang berisi informasi mengenai risiko.

Komunikasi risiko berguna dalam situasi berikut :

  • Menjelaskan dampak risiko (probabilitas) dan prediktabilitas dampak risiko (stochastic)
  • Menggambarkan perbedaan antara risiko (tergantung pada skenario) dan bahaya (ditemukan di wilayah tertentu)
  • Menghadapi ketakutan dan ketidakpastian
  • Berurusan dengan efek jangka panjang dari risiko dan manajemen risiko
  • Meningkatkan pemahaman mengenai risiko yang didasarkan pada terminologi dan konsep
  • Menyampaikan pemahaman bagaimana manajemen risiko akan mempengaruhi gaya hidup
  • Menciptakan tempat dimana ketidakpastian dapat diatasi dan pertanyaan dapat terjawab
  • Meningkatkan transparasi dan kredibilitas dalam penerapan manajemen risiko
  • Minat dan budaya mengalami pertentangan dari pihak yang tertarik dan terkena dampak

Referensi :

Dalam memanajemen risiko proses komunikasi menjadi salah satu faktor yang kritis. Contoh yang sangat sederhana adalah dalam sebuah perusahaan, antar karyawan sangat mungkin terjadi perbedaan paham dan cara pandang dalam menghadapi suatu masalah. Karyawan yang bekerja dalam sebuah perusahaan bisa saja tidak memahami tujuan, visi dan misi dari perusahaan. Bahkan yang sering terjadi manajemen senior tidak sepaham dengan staf yang ia pimpin. Disinilah proses komunikasi tersebut diperlukan untuk menyatukan pendapat. Melalui komunikasi yang baik antar individu tentunya akan mengurangi resiko salah paham yang mungkin saja dapat terjadi.

Komunikasi yang efektif dapat menetapkan harapan, sasaran dan tujuan yang jelas sehingga memberikan pengaruh yang besar dalam mencapai tujuan dan mengurangi resiko yang terjadi. Selain itu komunikasi dalam manajemen risiko tidak hanya proses diskusi terhada tujuan, lebih dari itu komunikasi juga memastikan bahwa antar individu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dengan memastikan individu mendapatkan apa yang mereka inginkan tentunya dapat mengurangi risiko-risiko lain yang mungkin saja dapat terjadi. Dengan komunikasi semacam itu individu akan lebih mendukung tercapainya tujuan.

Referensi
Ranong, Prapawadee Na dan Wariya Phuenngam. 2009. Critical Success Factors for Effective Risk Management Procedures in Financial Industries. Umea University.