Bagaimana kisah Fatimah Az-Zahra sebagai seorang istri ?

Fatimah az-Zahra

Fatimah az-Zahra, yang mempunyai arti, Fatimah yang selalu berseri, merupakan putri bungsu Nabi Muhammad saw dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah.

Bagaimana kisah Fatimah Az-Zahra sebagai seorang istri ?

Fatimah Az-Zahra adalah seorang wanita yang sedemikian tinggi kemuliaan, agama dan kedudukannya di kalangan keluarga Nubuwwah. Jadi tidak mengherankan kalau tidak sedikit tokoh orang terkemuka yang mengemukakan keinginannya hendak mempersunting putri beliau. Dimulai oleh Abu Bakar Ash Shidiq ra. Kemudian Umar bin Khatab, menyusul lainya lagi dari kalangan Quraisy terkemuka. Semua mengajukan lamaran untuk memperistri Fatimah Az-Zahra akan tetapi Rasulullah tidak mengabulkan keinginan mereka. Beliau hanya menjawab: “Belum tiba suratan takdirnya.” Akhirnya Abu Bakar menyarankan Ali bin Abi Thalib untuk meminang Fatimah.

Mendengar saran Abu Bakar, Imam Ali tidak segera memberi tanggapan. Baru beberapa saat kemudian ia berkata, “Hai Abu Bakar, sesungguhnya engkau telah mengingatkanku pada sesutu yang sudah lama aku lupakan. Demi Allah memang minatku sangat besar kepada Fatimah, dan tidak ada yang menjadi penghalang bagiku kecuali kemiskinanku” Setelah mendengarkan saran Abu Bakar akhirnya Imam Ali memberanikan diri dan bertekad menghadap Rasulullah.

Berikut ini riwayat yang menceritakan kedatangan Ali untuk melamar Fatimah Az-Zahra:

Ali pun berbicara, “Engkau mengetahui bahwa engkau mengambilku dari pamanmu Abu Thalib dan dari Fatimah binti Asad ketika aku masih kecil. Engkau memberiku makan dengan makananmu dan mendidikku dengan didikanmu. Demi Allah engkau adalah kekayaanku dan modalku di dunia dan akhirat. Wahai Rasulullah, di samping menjadi penolongmu seperti yang telah Allah kuatkan, aku ingin mempunyai rumah tangga dan mempunyai istri agar aku tenang dengannya.Aku datang kepadamu untuk melamar putrimu Fatimah. Maukah engkau menikahkanku, wahai Rasulullah?”

Berseri-serilah wajah Rasulullah SAW karena senang dan gembira. Beliau mendatangi Fatimah dan berkata, “Sesungguhnya Ali telah menyebut-nyebutmu. Ia adalah orang yang telah kamu kenal.” Fatimah terdiam. Kemudian Rasulullah mengatakan, “Allahu Akbar.” Diamnya menunjukkan persetujuannya.” Beliau kemudian keluar dan menikahkannya.”

Rumah tangga Ali dan Fatimah merupakan contoh yang mengagumkan dalam hal kemurnian, ketulusan dan kasih sayang. Mereka saling menolong dengan serasi dan tulus dalam mengatur urusan rumah tangga dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaannya. Di awal kehidupan rumah tangganya, mereka meminta keputusan Rasulullah dalam hal pengurusan rumah. Beliau memutuskan bahwa Fatimah mengurus apa-apa yang ada di dalam rumah dan Ali mengurus yang ada di luarnya.

Fatimah dalam kehidupan rumah tangganya bersikap sebagai ibu rumah tangga yang baik. Ia memperhatikan urusan rumah tangga sampai yang sekecil-kecilnya. Ia mengurus semua kebutuhan dengan jerih payahnya sendiri. Ia tidak mempunyai pembantu ataupun hamba sahaya. Ia tidak mengupah orang lain. Seluruh hidupnya penuh dengan kerja keras dan perjuangan. Ia menepung gandum, dan memutar gilingan dengan tangannya sendiri. Ia membuat roti dan menyapu lantai dan mengatur semua pekerjaan rumah tangganya dengan tenaganya sendiri.

Salah satu riwayat tentang hal itu mengemukakan:

“Pada suatu hari Rasulullah datang ke rumah Fatimah. Saat itu puterinya sedang menggiling tepung sambil menangis, sedangkan pakaian yang dikenakannya sangat buruk dan kasar. Melihat itu Rasulullah ikut menangis dan kemudian berkata: “Hai Fatimah, terimalah kepahitan dunia sekarang ini untuk memperoleh kenikmatan di akhirat kelak.”

Ali berkata kepada seorang laki-laki dari bani Sa’ad:

“Maukah kamu saya ceritakan tentang saya dan Fatimah? Ia tinggal bersama saya dan ia adalah keluarga Rasulullah yang paling dicintai oleh beliau. Namun, ia mengambil air dengan qirbah (tempat air), sehingga menimbulkan bekas di dadanya, ia menggiling dengan gilingan sehingga tangannya bengkak, ia membersihkan rumah sehingga pakaiannya kotor, ia menyalakan api di bawah periuk. Ia betul-betul capai dengan semua pekerjaan itu.”

Putri Rasulullah ini tidak menganggap rendah pekerjaan di dalam rumah. Ia tidak pula menolak melaksanakannya walaupun ia anak manusia paling agung dalam Islam, bahkan di seluruh alam sampai Ali merasa kasihan kepadanya dan memuji perbuatannya.

Fatimah hidup di rumah Ali dalam suasana yang sensitif dan sangat mengkhawatirkan, ketika pasukan Islam senantiasa dalam keadaan siaga dan terlibat dalam peperangan-peperangan yang membinasakan setiap tahun, di mana suaminya ikut pada sebagian besarnya.

Fatimah juga sangat mengerti tentang tanggung jawabnya yang berat dan peranan serta pengaruhnya terhadap suaminya. Sesungguhnya seorang wanita mempunyai pengaruh yang besar terhadap suaminya. Ia dapat mengarahkan si suami ke mana saja ia sukai. Kebahagiaan dan kesusahan seorang suami, kemajuan dan kemundurannya, ketenangan dan kesedihannya, serta keberhasilan dan kegagalannya mempunyai kaitan yang kuat dengan istrinya dan perlakuan istri terhadapnya di dalam rumah.

Rumah merupakan benteng tempat seorang suami berlindung dari keletihan-keletihan kehidupan, kesulitan-kesulitan dunia, dan bencana- bencana masyarakat dan umat. Di dalamnya ia beristirahat, mengembalikan kekuatannya, dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi episode berikut kehidupan. Dan istrilah orang pertama yang bertanggung jawab terhadap tempat berlindung dan beristirahat itu. Karenanya orang-orang mengatakan-sebagaimana keterangan dari Imam Musa bin Ja’far bahwa jihad seorang istri adalah berlaku baik terhadap suami.

Fatimah Az-Zahra hidup di samping suaminya dengan perasaan bangga dan penuh ketentraman. Ia selalu riang. Tidak ada perselisihan yang tak dapat diselesaikannya dengan baik. Ia menyadari dirinya sebagai istri seorang pejuang Islam yang senantiasa sanggup berkorban. Seorang yang selalu mengibarkan panji-panji perjuangan. Fatimah sadar bahwa dirinya harus dapat menjadi istri yang sepadan dengan kedudukan suaminya sebagai pejuang Islam.

Terhadap suaminya ia bersikap seperti ibunya (Siti Khadijah r.a.) kepada Rasulullah. Ia selalu menyertai beliau dalam perjuangan menegakkan kebenaran Allah SWT. Ia menginsyafi bahwa dirinya harus sanggup memperteguh kesabaran menghadapi kekerasan hidup dan berbagai macam kesulitan, seperti yang dilakukan suaminya dalam menghadapi rintangan kaum musyrikin yang selalu menghancurkan agama Islam. Kenyataan menunjukkan bahwa Fatimah sanggup menjadi istri yang demikian itu. Ia dapat menyesuaikan hidupnya dengan tugas besar dan penting yang dipikulkan Allah ke atas pundaknya.

Fatimah mengetahui bahwa panglima pasukan yang pemberani ini (Ali) akan masuk ke medan perang dan mengalahkan musuh bila ia tenteram dan tenang dengan istrinya serta bahagia di dalam rumah. Imam Ali, pemimpin orang-orang yang berperang dan berkorban untuk agama tentu kembali ke rumah dengan tubuh yang letih dan lelah. Ia mendambakan kehangatan, kasih sayang, dan cinta kasih dari istrinya yang mulia ketika si istri membalut lukanya, membersihkan darah dari tubuh dan pakaiannya, dan menanyakan berita-berita peperangan.

Fatimah senantiasa memberikan semangat kepada suaminya, memuji keberanian dan pengorbanannya, dan membantunya untuk menyiapkan diri untuk menghadapi peperangan berikutnya.

Tidak pernah Fatimah keluar rumah tanpa izin suaminya. Tidak pernah ia membuat suaminya marah. Ia sadar betul bahwa Allah tidak akan menerima perbuatan seorang istri yang membuat marah suaminya sampai si suami ridha terhadapnya. Sebaliknya, Fatimah juga tidak pernah marah terhadap suaminya. Ia tidak pernah berdusta di rumahnya, tidak pernah berkhianat terhadapnya dan tidak pernah melawannya dalam urusan apapun.

“Demi Allah,” kata Imam Ali, “aku tidak pernah marah kepadanya dan tidak pernah menyusahkannya sampai ia wafat. Ia juga tidak pernah membuatku marah dan tidak pernah menentangku dalam urusan apapun.

Sesungguhnya Fatimah dan Ali dapat hidup dalam kehidupan yang paling menyenangkan, akan tetapi riwayat telah menunjukkan bahwa kehidupan Fatimah dan Ali sederhana sekali dan sering mengalami kesulitan. Semua itu untuk memberikan contoh kepada kaum muslim tentang kehidupan sebuah masyarakat Islam berdasarkan prinsip ajaran akhlak.

Seorang pemimpin harus menjadi tauladan, sebagai orang yang menolak kemewahan hidup duniawi. Rasulullah selalu mengajarkan agar setiap orang yang bekerja untuk perbaikan masyarakat, setiap pendidik, setiap penguasa agar terlebih dahulu memperbaiki, mengajar, dan memimpin dirinya sendiri dan keluarganya sebelum mengajak orang lain dengan ucapan dan peringatan. Tingkah laku akan lebih besar pengaruhnya daripada sekedar mengajak orang lain.

Untuk menciptakan keluarga yang baik sangat diperlukan pengatur yang mampu mengelola rumah tangga dengan baik. Dalam hal ini, Fatimah telah dengan ikhlas melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri. Terbentuknya masyarakat bermoral sangat tergantung pada kondisi keluarga yang ada di dalamnya. Apabila keluarga itu baik, maka akan tebentuk masyarakat yang baik pula. Dengan sifat taqwa yang dimilikinya, Fatimah Az-Zahra telah memberikan teladan kepada masyarakat untuk membentuk sebuah keluarga yang sakinah demi terwujudnya masyarakat yang bermoral. Di sinilah letak peran Fatimah Az-Zahra sebagai seorang istri yang menjadi teladan untuk menciptakan masyarakat yang bermoral.