Bagaimana Kesehatan Mental Pekerja Korban PHK Dampak Dari Pandemi Virus COVID-19?

unnamed

Sering menjadi perbincangan tentang apa yang sedang kita lakukan apakah akan berpengaruh bagi kesehatan mental kita. Pada umumnya kesehatan mental memiliki peran yang sama seperti kesehatan fisik, dan tugas kita adalah untuk menjaga keduanya agar tetap berjalan dengan baik. Menurut World Health Organization, salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional. Kesehatan Mental adalah keadaan kesejahteraan dimana setiap individu menyadari potensi mereka sendiri, dapat mengatasi tekanan yang normal dalam kehidupan, dapat berfungsi secara produktif dan bermanfaat, serta mampu memberikan kontribusi untuk komunitas mereka. Namun bagaimana jika keadan kesejahteraan tersebut tidak dapat tercapai karena situasi yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya?.

Seperti yang kita ketahui awal tahun 2020 ini, Negara Republik Indonesia sedang dilanda masalah yang cukup serius yakni pandemi virus COVID-19. Berbagai upaya antisipasi mulai diterapkan pemerintah guna menghentikan penyebaran virus berbahaya ini. Penyakit yang disebabkan Virus COVID-19 merupakan jenis penyakit pneumonia, namun penyakit yang satu ini benar-benar ganas dan dapat menyebabkan kematian.

Salah satu upaya antisipasi pemerintah yakni dengan menerapkan langkah “physical distancing” (pembatasan sosial atau menjaga jarak). Langkah ini adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi nonfarmasi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular. Physical distancing adalah melakukan jaga jarak fisik antar manusia, sehingga yang dihindari bukan hanya kerumunan. Dalam laman resmi Organisasi Kesehatan Manusia (WHO) tertulis: “Tindakan jaga jarak fisik (physical distancing), seperti membatalkan acara olahraga, konser dan pertemuan besar lainnya sehingga dapat membantu memperlambat penularan virus”. Hal ini memiliki arti untuk tetap di rumah kecuali untuk hal-hal penting, seperti berbelanja bahan makanan. Masyarakat diharapkan untuk menjaga jarak sekitar dua meter dengan orang lain. Selain itu, mereka yang merasakan gejala harus menghindari meninggalkan rumah mereka sama sekali. Mereka yang merasa sehat mungkin berpikir itu tidak penting bagi mereka untuk terus tinggal di dalam rumah mereka. Tapi tetap saja menurut pejabat kesehatan hal tersebut tidak dibenarkan. Karena ketika seseorang merasa sehat dan tak butuh physical distancing, belum tentu ia benar-benar sehat. Bisa jadi, ia telah menjadi host atau tuan rumah dari virus tersebut dan menginfeksi banyak orang dengan imun tubuh yang lemah.

Namun, penerapan langkah yang secara tiba-tiba ini karena suatu masalah negara yang sebelumnya tak pernah terduga, menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan di masyarakat. Pasalnya dengan diterapkan langkah physical distancing atau pembatasan jarak sosial ini mengharuskan masyarakat untuk benar-benar menjaga jarak satu sama lain dengan cara dirumah saja atau bisa dikatakan dengan menghentikan segala aktivitas diluar rumah. Lambat laun upaya pemerintah untuk memutus mata rantai virus COVID-19 ini makin gencar, langkah yang awalnya physical dintancing berkembang menjadi langkah PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Dilihat dari jumlah kasus virus COVID-19 yang tiap harinya bertambah sangat cepat, tentunya sikap pemerintah tidak akan tinggal diam guna menyelesaikan masalah negara ini.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) adalah istilah karatina sosial, yang bisa dilakukan dirumah sendiri, rumah sakit, atau posko katantinya, yang semuanya memungkinkan untuk membatasi kontak langsung dengan sesama manusia. Berdasarkan PP Nomor 21 Tahun 2020 Pasal 1, dijelaskan bahwa Pembatasan Sosial Berskala Besar merupakan pembatasan kegiatan tertentu dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Tertulis pula di dalam aturan PMK Nomor 9 Tahun 2020 pasal 2, bahwa untuk dapat ditetapkan sebagai PSBB, maka suatu wilayah provinsi/kabupaten/kota harus memenuhi dua kriteria. Pertama, yaitu jumlah kasus atau kematian akibat penyakit meningkat dan menyebar secara signifikan secara cepat ke beberapa wilayah. Dan kriteria kedua adalah bahwa wilayah yang terdapat penyakit juga memiliki kaitan epidemiologis dengan kejadian serupa yang terdapat di wilayah atau negara lain. Dari kedua kriteria itulah pada nantinya Menkes dapat menentukan apakah wilayah atau daerah tersebut layak untuk diterapkan PSBB atau tidak. Umumnya PSBB akan diberlakukan selama masa inkubasi terpanjang, yaitu 14 hari. Namun, apabila setelah 14 hari tersebut masih terlihat adanya penyebaran, seperti ditemukannya kasus baru, maka masa PSBB akan diperpanjang selama 14 hari kedepan hingga kasus terakhir ditemukan.

Sebenarnya maksud dari pemerintah dengan segala upayanya sangatlah baik, mereka hanya ingin memutus mata rantai penyebaran virus COVID-19 yang semakin hari semakin parah. Namun, seiring penambahan waktu PSBB karena kasus virus COVID-19 yang semakin banyak, menimbul dampak yang tidak baik bagi para pekerja di Indonesia. Banyak sekali para pekerja yang mendapatkan dampak negatif dari terus berlangsungnya pandemi virus COVID-19 ini. Salah satu contoh dampak dari pandemi virus COVID-19 ini adalah banyak pekerja yang di- PHK dan dirumahkan. Saat ini Jumlah pekerja yang telah dirumahkan dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat terdampak COVID-19 sudah menembus 2 juta orang. Datangnya pandemi COVID-19 berpengaruh ke banyak sektor, termasuk sektor bisnis dan ekonomi. Banyak usaha memilih menutup operasional mereka untuk sementara. Hal tersebut membuat bisnis mereka merugi dan akhirnya terpaksa merumahkan para karyawan tanpa digaji atau bahkan sampai melakukan PHK. Hal tersebut tentunya sangat merugikan bagi pekerja, dan dapat menimbulakn stres yang cukup berat karena memikirkan bagaimana mereka akan melangsungkan kehidupan di tengah pandemi virus ini, pasalnya mereka sama sekali tidak mendapatkan penghasilan perharinya untuk dapat melangsungkan kehidupan atau sekedar untuk membeli kebutuhan pangan mereka.

Hal ini tentunya akan sangat berpengaruh bagi kesehatan mental para pekerja korban PHK. Secara realistis, jika otak dan jiwa raga kita dipaksa untuk memikirkan suatu masalah yakni kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba ini bisa membuat mental terganggu dan berpotensi menimbulkan masalah pada kesehatan mental para pekerja. Menurut studi dan riset di berbagai negara, menunjukkan bahwa orang yang menderita kesulitan keuangan, kehilangan rumah, atau kehilangan pekerjaan lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental dan kesehatan fisik. Di antaranya, meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, penggunaan obat anti-depresi, peningkatan gejala somatik seperti kelelahan atau sakit kepala. Kena PHK secara tiba-tiba terutama karena COVID-19 melibatkan banyak perubahan sekaligus. Selain itu pekerja korban PHK akan mengalami masalah emosional, karena selain kehilangan penghasilan, kehilangan pekerjaan juga disertai dengan kerugian besar lainnya. Menurut para Psikologi, hal ini sama persis seperti kesedihan seseorang yang sedang patah hati. Hal ini tak lepas dari lintasan emosional kesehatan mental ketika kehilangan pekerjaan yang mencakup tahapan kesedihan. Dimulai dari rasa kaget berujung penolakan, kemarahan yang muncul tiba-tiba, lalu penerimaan dan harapan. Menurut Psikolog Dawn Norris menyebut kehilangan pekerjaan bagi karyawan kena PHK bisa disebut sebagai seseorang yang kehilangan jati diri. Dengan timbulnya masalah ini tentunya kesehatan mental para pekerja korban PHK di tengah pandemi virus COVID-19 harus sangat dijaga oleh orang disekitar mereka dan terutama oleh diri sendiri.

Bagi keluarga dan kerabat terdekat pekerja korban PHK, anda dapat membantu menjaga kesehatan mental para korban dengan cara selalu memberikan mereka semangat dan energi-energi positif dalam keseharian hidup korban setelah di-PHK serta memberikan banyak motivasi kehidupan. Meskipun terkesan simpel, namun hal ini tentunya harus dilakukan dengan cukup. Karena menurut Psikoterapis, Hipnoterapis, Trainer SDM, Trainer Hipnoterapi, Ir. Henrikus, SPsi, CHT, mengatakan, setiap orang, apapun status dan bidang pekerjaanya, memerlukan motivasi dari orang lain maupun dari dalam dirinya sendiri. Motivasi juga untuk merubah belief seseorang sehingga dapat menghilangkan mental blok yang menjadi penghambat kesuksesannya. Dengan demikian memudahkan individu untuk merubah diri menjadi selalu positif. Seseorang yang di-PHK tentunya akan bepikiran banyak hal negatif, seakan-akan dunia nya benar-benar hancur. Maka dari itu diperlukan sesuatu yang dapat mengubah pemikiran negatif tersebut menjadi suatu pemikiran yang positif.

Selanjutnya cara menjaga kesehatan mental oleh diri sendiri. Cara terbaik yang dapat dilakukan diri sendiri adalah dengan segera mengendalikan situasi, mempertahankan semangat, dan menemukan tujuan baru. Menurut psikolog asal New York Adam Benson mengatakan setiap orang harus mengenali faktor-faktor dari situasi mereka yang dapat dan tidak dapat mereka kendalikan. Setelah kita dapat melakukannya dengan segera, maka selanjutnya fokuslah pada hal yang bisa dikendalikan yaitu mengidentifikasi masalah, seperti mengurangi pengeluaran rumah tangga pada satu periode tertentu. Kita harus segera menanamkan pemikiran bahwa situasi COVID-19 saat ini hanya dan akan segera membaik. Anda sebagai korban PHK ditengah pandemi ini tidak boleh memaksakan otak anda untuk terus memikirkan masalah yang sedang dihadapi, dengan terus memikirkan bagaimana kita akan mendapatkan pemasukan yang sama seperti saat kita sebelum di-PHK. Tentunya hal tersebut sangatlah salah, bagaimana pun kita tidak akan bisa mencukupi kehidupan yang sama seperti sebelum di-PHK, maka dari itu korban harus lebih fokus pada penyelesaian masalah atau solusi dari masalah tersebut, dengan begitu kesehatan mental kita akan sedikit lebih membaik.

Selain itu tantangan terberat korban PHK yakni mengembalikan jati diri atau identitas mereka. Psikolog Dawn Norris menjelaskan dalam penelitannya, bahwa dua pertiga dari pekerja akan mengalami masalah psikologis terkait identitas. Cara yang ampuh untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menyusun strategi, memang akan sangat wajar, jika korban PHK merasa sedih dan kecewa di hari-hari pertama setelah mendengar berita mengenai PHK. Namun hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, segeralah menyusun strategi dalam menghadapi PHK tersebut. Buatlah strategi agar keuangan keluarga tetap hemat ditengah situasi krisis saat ini. Pengalaman buruk yang telah terjadi, usahakan untuk tidak disesali terlalu lama karena masa depan serta perjalanan ke depan masih sangat panjang. Pikirkanlah strategi bijak ke depan, tanpa terlalu menyesali karena telah menjadi korban PHK. Percayalah anda bukan lah pengangguran yang baru saja kehilangan pekerjaan karena kesalahan anda sendiri. Namun anda adalah korban dari pandemi ini yang mampu terus melanjutkan kehidupan ditengah pandemi, dengan berbagai cara yang bisa anda lakukan.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa, seseorang korban PHK dampak pandemi virus COVID-19 sangat perlu menjaga kesehatan mereka yang pastinya terguncang karena masalah yang datang secara tiba-tiba. Hal tersebut dapat dilakuakan oleh orang disekitar mereka dan diri anda sendiri. Percayalah bahwa pandemi ini akan segera berakhir dan kehidupan kita akan kembali seperti semula.

Referensi :

18 Likes