Bagaimana Kesehatan Mental Mahasiswa di Tengah Virus Covid-19

Sejak mewabahnya virus corona di seluruh dunia, kita harus pandai-pandai dalam menjaga kesehatan fisik maupun kesehatan psikologi agar terhindar dari virus corona yang memiliki nama lain Covid-19. Apabila kita dapat menjaga kesehatan fisik dengan baik, makan-makanan yang bergizi, minum vitamin, istirahat yang cukup dan cuci tangan setelah melakukan kegiatan, kita dapat menjaga imun tubuh sehingga tidak terjangkit virus corona. Terlepas dari menjaga kesehatan fisik, kita juga perlu untuk menjaga kesehatan psikologi. Seperti contoh apabila kita terlalu stress, tentu akan berdampak negatif bagi kesehatan fisik maupun psikologi kita.

Virus corona sudah menyebar dari tahun 2019 akhir, mulai dari Wuhan, Cina. Virus ini terus menyebar hingga tahun 2020 dan sudah menginfeksi beberapa negara lainnya, tak terkecuali Indonesia. Anjuran untuk di rumah saja sudah diterapkan pemerintah indonesia untuk mengurangi penyebaran virus corona ini. Beberapa kantor, perusahaan, hotel, tempat wisata, sekolahan (mulai dari TK hingga SMA), dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia juga sudah mulai mematuhi anjuran ini. Lalu bagaimana dengan mereka yang masih mengenyam pendidikan di sekolah ataupun di perguruan tinggi? Pemerintah sudah memutuskan untuk melakukan pembelajaran online, yang dimana siswa dan mahasiswa akan dianjurkan untuk belajar melalui media online, seperti google hangout, zoom, google meet, google clasroom dan lainnya. Tetapi apakah dengan adanya pembelajaran online akan ada dampak yang ditimbulkan? Pasti anjuran dari suatu hal akan memiliki dampak tersendiri, dan pembelajaran online juga memiliki dampak bagi siswa dan mahasiswa di Indonesia. Lalu bagaimana dengan keadaan mental siswa dan mahasiswa di Indonesia dengan adanya pembelajaran online ini?

Saya adalah seorang mahasiswa di Universitas Negeri Semarang. Kota Semarang sekarang sudah dinyatakan zona merah untuk penyebaran virus corona di Indonesia. Sehingga perguruan tinggi di Semarang mulai dialihkan untuk kuliah online mulai akhir maret hingga waktu yang belum ditentukan. Tentu saja dengan kebijakan ini banyak mahasiswa yang mulai pulang kampung dan berdiam diri di rumah sambil melaksanakan kuliah online. Bukannya dianggap efektif malah kuliah online dianggap kurang efektif, karena dosen hanya memberikan tugas tetapi tidak memberikan penjelasan tentang materi yang akan diajarkan. Selain itu ada juga beberapa alasan kenapa kuliah online ini tidak efektif, yaitu ketika sedang melakukan perkuliahan online menggunakan aplikasi zoom, google hangout atau google meet dibutuhkan sinyal koneksi yang kuat, dan juga perkuliahan online ini banyak menghabiskan kuota internet sehingga menjadi boros.

Dari perkuliahan online yang dilaksanakan dosen kebanyakan hanya memberi tugas dengan deadline yang bersamaan sehingga dapat mempengaruhi mental dari mahasiswa. Hal ini dapat menyebabkan stress yang berlebihan, apalagi ditambah dengan kebosanan dan tekanan ketika hanya berada di rumah saja. Menurut laman The Health Site yang menjelaskan tentang akibat stress yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan sistem pencernaan, merusak komponen otak, mempengaruhi metabolisme tubuh.

Penelitian berjudul β€œEffect of Coffe and Stress with Incidence of Gastristis” dilakukan oleh Berta Yolanda Selviana menemukan bahwa asam lambung menjadi keluar berlebihan dipicu oleh stress berlebihan, aktivitas lambung menjadi terganggu dan dapat memicu kebocoran lambung. Selain itu stress yang berlebihan merangsang keluarnya hormon kortisol dalam tubuh yang berpotensi merusak sel otak di hipokampus. Hal ini diperkuat dengan studi yang dilakukan oleh University of California menunjukan bahwa stress yang berlebihan dapat melahirkan gangguan kecemasan dan mood dikemudian hari. Hormon kortisol juga dapat melemahkan imun tubuh yang mengakibatkan tubuh rentan terhadap penyakit.

Pada saat dirumah aja seperti ini sudah seharusnya kita dapat memanfaatkan moment untuk berkumpul dengan keluarga dan juga menikmati waktu dirumah agar kita dapat terhindar dari virus corona, bukan malah stress karena tugas yang menumpuk dengan deadline yang hampir bersamaan. Agar kita tidak terlalu stress, kita dapat melakukan beberapa olahraga ringan seperti meregangkan dada dengan cara menarik nafas selama 4 detik, setelah itu menahan nafas selama 5 detik dan menghembuskan selama 7 detik, ataupun kita dapat melakukan lompat-lompat kecil. Menghirup udara pagi juga merupakan salah satu cara agar kita terhindar dari stress yang berlebihan. Jangan terlalu memaksa untuk mengerjakan semua tugas yang diberikan, buat prioritas, pilih mana tugas yang dapat dikerjakan terlebih dahulu, tugas yang tidak memakan banyak waktu dan lakukan satu-satu agar dapat memenejemen waktu dan tidak terbawa stress yang berlebihan. Berusahalah untuk tidak terlalu fokus hanya ketugas-tugas yang ada, tetapi juga lakukan sesuatu yang bisa menghibur sebelum mengerjakan tugas. Setelah menyelesaikan tugas yang ada, berikan diri sendiri sebuah penghargaan, apapun penghargaannya pasti akan membuat kita lebih bangga karena sudah menyelesaikan tugas yang diberikan. Berceritalah atau minta bantuan keluarga untuk menyelesaikan tugas yang diberikan juga dapat mengurangi stress.

β€œHal yang paling menyenangkan di tengah masa sulit adalah kesehatan yang baik dan tidur yang cukup.” Knute Nelson.

Oleh karena itu, disaat pandemi corona masih berlangsung kita harus menjaga tubuh agar tetap sehat, kita perlu menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan psikologi. Kesehatan fisik memang penting, tetapi tanpa kesehatan psikologi juga dapat mempengaruhi tubuh. Jadi jangan buat tubuh terlalu stress dengan tugas-tugas yang ada. Stay healthy, stay safe.

Source :