© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Kerajaan Majapahit Pada Masa Kepemimpinan Hayam Wuruk?


Bagaimana kondisi kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk?

Raja Hayam Wuruk dinobatkan sebagai raja Majapahit ketika masih berusia 17 tahun. Tepatnya, Hayam Wuruk menjadi raja setelah Tribhuana Wijayatunggadewi turun tahta untuk kembali menjabat sebagai Bhre Kahuripan yang tergabung ke dalam Saptaprabhu pada tahun 1351 M. Pada tahun tersebut, Gayatri berpulang ke alam kelanggengan. Semasa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami puncak kejayaan berkat peran Patih Amangkubhumi Gajah Mada. Puncak kejayaan Majapahit yang ditandai dengan terwujudnya gagasan penyatuan wilayah-wilayah Nusantara. Suatu gagasan yang pernah direalisasikan oleh Kertanegara dan Tribhuwana Wijayatunggadewi (Achmad, Sri Wintala, 2016).

Zaman keemasan Majapahit melekat erat dengan masa pemerintahan Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit. Bersama orang yang mengasuhnya sejak kecil, Gajah Mada, Hayam Wuruk membangun Majapahit ke puncak kejayaan berdasarkan falsafah kenegaraan Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa. Hayam Wuruk lahir tahun 1334, beberapa bulan sebelum Gajah Mada dikukuhkan sebagai Mahapatih Amangkubumi. Pada saat Gajah Mada mengucapkan sumpah sakral Amukti Palapa bayi Hayam Wuruk baru saja menikmati udara Majapahit. Di tangannyalah kemudian seluruh perairan nusantara bersatu menentang penjajahan bangsa asing, terutama Tiongkok (Masmada, Renny, 2003).

Kebesaran Majapahit sebagai negara pemersatu bangsa, nusantara raya, dikenal hampir di seluruh mancanegara pada zamannya dari tahun 1293 sampai 1478. Kemajuan di bidang ekonomi, sosial, budaya dan politik menarik perhatian beberapa negara sahabat, pada zamannya maupun abad-abad belakangan ini. Kebesaran Majapahit, berarti kebesaran Gajah Mada, Patih yang telah mengabdi kepada tiga pimpinan pemerintahan selama lebih dari tiga puluh tahun.

Pada tahun 1343, Majapahit menyerang Bali. Pasukan Majapahit dipimpin oleh bangsawan bernama Usana-Jawa, mengalahkan pasukan Dalem Bedahulu, Raja Pejeng. Usana- Jawa ditemani enam komandan, salah satunya Arya Damar. Majapahit menang, dan keluarga bangsawan Bali ditawan. Arya Damar disebut juga Adityawarman. Nama Adityawarman pertama kali disebut dalam patung yang berasal dari tahun 1343 terletak di Candi Jago, Jawa Timur, sebagai perwujudan Bodhisatwa Manjusri. Menurut Pararaton, Adityawarman adalah anak laki-laki dari seorang putri Melayu bernama Dara Jingga yang menikah dengan pangeran Jawa bernama Adwayarman.

Tentara inti Jawa dalam upaya menaklukan wilayah lain disesuaikan dengan medan yang dihadapi. Setiap pengiriman pasukan, baik dalam jumlah besar maupun jumlah kecil, selalu diperhitungkan dengan matang. Dalam banyak peperangan, tentara Jawa memperoleh kemenangan karena dibantu oleh negara lain. Ketika Majapahit mengalahkan Singapura, bantuan Radjuna Tapa begitu besar. Begitu pula ketika mengalahkan Negara Dipa, pangeran dan rakyat Negara Dipa memberikan bantuan kepada tentara Jawa. Karena itu, pengiriman pasukan tidak selalu dalam kekuatan maksimal. Dalam membantu menaklukan Negara Dipa, tentara Jawa yang dikirim tidak lebih dari 1.000 orang (Nugroho, Irawan Djoko, 2010).

Pelaksanaan politik luar negeri dalam rangka penyatuan Nusantara mencapai kemantapannya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Daerah- daerah yang belum bernaung di bawah kekuasaan Majapahit berhasil disatukan. Pemberitaan Prapanca dalam kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa wilayah kekuasaan Majapahit sangat luas. Daerah tersebut meliputi hampir seluas wilayah Republik Indonesia sekarang, yakni Sumatera di bagian Barat, sampai Maluku dan Irian di bagian Timur. Hayam Wuruk sering melakukan perjalanan ke daerah- daerah dalam rangka konsilidasi. Wilayah yang luas, pembinaan perhadap setiap wilayah harus dilakukan agar tetap memiliki kesetiaan terhadap pemerintahan pusat di Majapahit. Adanya kunjungan tersebut, wilayah-wilayah di setiap daerah akan merasa diperhatikan oleh Raja Hayam Wuruk (Pinuluh, Esa Damar, 2010).

Berkat jasa Patih Gajah Mada, Raja Rajasanagara berhasil membawa Kerajaan
Majapahit ke puncak kebesarannya. Gagasan politik luar negeri mengenai perluasan cakrawala mandala, dilakukannya dengan baik. Gagasan penyatuan Nusantara oleh Gajah Mada satu demi satu ditundukkan. Dari pemberitaan Negarakretagama pupuh XIII – XV diketahui bahwa pengaruh kekuasaan Majapahit sangat luas. Daerah-daerah itu hampir seluas wilayah Indonesia sekarang (Suwardono, 2013).

Masyarakat Majapahit umumnya merupakan masyarakat yang majemuk. Wilayah Kerajaan Majapahit yang sangat luas, dengan segala karakteristik wilayahnya, menjadikan Majapahit memiliki keragaman yang ditentukan oleh banyak hal, wilayah di pedalaman yang bersendikan agraris, akan memiliki pola kebudayaan yang berbeda dengan daerah pantai yang bersendikan perdagangan. Masyarakat pedalaman lebih bersifat tertutup dengan kebudayaan siklus (berputar tetap). Sementara masyarakat pantai yang secara geografis sering berhubungan dengan bangsa asing, lebih bersifat terbuka terhadap hal-hal baru. Kehidupan keagamaan Majapahit menunjukkan pula hubungan dengan sendi-sendi toleransi yang kuat. Majapahit mengakui dan menghormati dua agama besar saat itu, yakni Hindu dan Buddha, dalam bentuk pengangkatan pejabat keagamaan dalam struktur pemerintahannya (Pinuluh, Esa Damar, 2010).

Semasa menjabat menjadi raja, Hayam Wuruk tidak hanya menerapkan kebijakan untuk meningkatkan bidang pertahanan dan keamanan di dalam negeri. Meningkatkan bidang pertahanan dan keamanan, Majapahit di masa pemerintahan Hayam Wuruk terbebas dari ancaman baik dalam maupun luar negeri. Tidak ada pemberontakan yang digenncarkan dari dalam negeri, maupun dari luar negeri Majapahit. Hubungan kerja sama di bidang ekonomi dengan negara-negara tetangga sangatlah penting bagi Majapahit. Hal ini karena Majapahit merupakan sumber barang dagangan yang sangat laku di pasaran. Barang dagangan seperti beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkih, pala, kapas, dan kayu cendana. Bidang perdagangan, Majapahit memiliki peranan ganda yang sangat penting, yakni sebagai produsen dan perantara (Achmad, Sri Wintala, 2016).