Bagaimana kepribadian Fatimah Az-Zahra ?

Fatimah az-Zahra

Fatimah az-Zahra, yang mempunyai arti, Fatimah yang selalu berseri, merupakan putri bungsu Nabi Muhammad saw dari perkawinannya dengan istri pertamanya, Khadijah.

Bagaimana kepribadian Fatimah Az-Zahra ?

Kepribadian Fatimah Az-Zahra melebihi wanita-wanita di masanya dalam hal kemuliaaan dan keturunan karena ia anak dari Muhammad Rasulullah SAW dan Khadijah, pewaris keutamaan, ilmu, dan perangai yang baik. Fisik dan akhlaknya sangat elok, sangat sempurna menurut ukuran manusia. Disamping keistimewaan-keistimewaan pribadinya, ia juga putri dari Muhammad SAW, penentang kekufuran dan kemusyrikan, yang kokoh kekuasaannya dan nyata kekuatannya.

Fatimah tumbuh di dalam rumah Nabi SAW. Dia belajar memperoleh pendidikan dari ayahnya Muhammad SAW. Dia adalah contoh teladan yang paling sempurna dalam akhlak dan sifat. Nabi telah memberinya perhatian yang amat tinggi dan memberinya pendidikan agama yang luhur. Lebih dari itu, Nabi juga telah melatih ruhaninya sedemikian sempurna sehingga putrinya ini tidak akan pernah menyimpang dari kebenaran atau jalan yang lurus. Sebagaimana pernyataan Aisyah bahwa ia belum pernah melihat seorang pun yang lebih benar bicaranya dibanding Fatimah kecuali ayahnya.

Ketika Fatimah tumbuh, ia menjadi panutan dan contoh teladan dalam sifat-sifatnya yang agung. Dia menyandang secara sempurna sifat-sifat seperti rasa kemanusiaan, tanggung jawab, harga diri, kesucian, kepedulian sosial, kecerdasan dan berilmu pengetahuan yang luas. Hal ini sangatlah wajar karena ia adalah seorang yang lahir dari lingkungan keluarga Nabi, tumbuh di sekitar madrasah kenabian, dan langsung mendapat pendidikan dari ayahnya. Dari berbagai riwayat yang berkenaan dengan Fatimah, kita bisa melihat betapa beliau senantiasa sibuk dengan kegiatan-kegiatan ruhaniahnya dan tidak pernah melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan dirinya.

Fatimah Az-Zahra memiliki karakter yang terpuji berkat bimbingan yang sempurna oleh ayah dan ibunya. Akhlak yang dimilikinya antara lain:

Ketekunan Beribadah

Ketekunan dalam beribadah adalah sifat yang khas bagi para anggota ahlulbait Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Ketekunan beribadah bagi mereka merupakan tingkat tertinggi kebahagiaan dan hubungan yang sejernih-jernihnya dengan Allah dan menjadi tujuan hidup yang utama.

Fatimah Az-Zahra sebagai seorang wanita yang penuh bakti, beliau banyak melakukan ibadah kepada Allah sebagai bukti pengabdian dan penyerahannya yang begitu tulus kepada Allah. Wajar saja Fatimah demikian karena dia tumbuh di sebuah rumah dimana Al Qur’an diturunkan. Ia diasuh oleh wahyu dan pemimpin semua Rasul yang beribadah kepada Allah sampai bengkak kedua kakinya.

Hasan bin Ali mengatakan

“Aku melihat ibuku bangun di mihrabnya pada malam jum’at, dan ia terus ruku’ dan sujud sampai terbit fajar subuh.” Aku mendengarkan ia mendoakan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Ia banyak berdoa untuk mereka, dan tidak berdoa sesuatu pun untuk dirinya. Maka aku bertanya kepadanya, ”Ibu, mengapa engkau tidak berdoa untuk dirimu sendiri sebagaimana engkau mendoakan orang lain?” Ia pun menjawab, ”Anakku, tetangga dulu baru kemudian rumah sendiri.”

Kezuhudan

Fatimah Az-Zahra mengenal dan menghayati nilai-nilai kehidupan yang sebenar-benarnya. Ia juga mengenal dengan baik bagaimana seharusnya menghadapi kehidupan duniawi ini. Ia bisa dikatakan sama sekali tidak tergiur oleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dan kesenangan-kesenangan hidup lainnya. Dengan rumah tangga yang sangat sederhana dan kehidupan sehari-hari yang serba berat maka terbentuklah sifatnya yang rendah hati, tahan uji dan penyabar.

Salah satu sikap yang menunjukkan kezuhudan Fatimah adalah seperti yang diriwayatkan oleh Asma binti Umais:

Asma binti Umais sedang bercerita bahwa ia sedang berada di tempat Fatimah ketika tiba-tiba Rasulullah masuk sedang di leher Fatimah terdapat kalung emas yang diberikan oleh Ali dari bagian yang diperolehnya. Maka Rasulullah berkata kepada Fatimah, “Anakku, janganlah engkau membuat orang-orang berkata, ‘Fatimah binti Muhammad memakai pakaian kesombongan.”’

Fatimah pun melepaskannya saat itu juga dan menjualnya hari itu juga. Dengan uang hasil penjualan kalung itu, ia kemudian membeli seorang budak wanita mukmin kemudian memerdekakannya. Berita itu sampai kepada Rasulullah, dan beliau pun gembira.

Ketabahan Menghadapi Penderitaan

Imran bin Husain mengatakan, “Aku pernah bersama Rasulullah yang sedang duduk. Tiba-tiba Fatimah datang. Beliau memandangnya. Wajah Fatimah tampak kekuning-kuningan dan pucat karena sangat lapar. Lalu beliau berkata,

‘Mendekatlah Fatimah!’

Fatimah pun mendekat. Beliau berkata lagi,

‘Mendekatlah Fatimah!’

Fatimah mendekat sampai berdiri di hadapannya. Kemudian beliau meletakkan tangannya di atas dada Fatimah di tempat kalung sambil merenggangkan jari-jarinya. Setelah itu beliau berdo’a,

"Ya Allah yang mengenyangkan orang yang lapar dan mengangkat orang yang jatuh, janganlah Engkau laparkan Fatimah binti Muhammad” Imran mengatakan, “

Lalu aku memandangnya. Darahnya tampak kembali di wajahnya, dan hilanglah kekuning-kuninganya.

Dalam menghadapi kesulitan hidup, Fatimah Az-Zahra mempunyai sikap mental setangguh ayahnya. Ayahnya memang selalu mengajarkan kepada Fatimah untuk senantiasa bersabar dari kepahitan-kepahitan hidup di dunia. Ayahnya pernah berkata,

“Wahai Fatimah, bersabarlah atas pahitnya dunia agar engkau memperoleh kenikmatan abadi di akhirat.”

Fatimah sangat bersabar dalam menjalani kehidupannya yang susah. Ia menghadapinya dengan sifat Qanaah. Ia selalu memuji Allah atas kehidupannya itu. Ia senang dengan keadaannya dan rela pada kehidupannya.

Rasulullah membacakan wahyu Allah yang ditujukan kepadanya di hadapan Fatimah:

Dan janganlah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia. (Q. S. Thaha: 131)

Fatimah sangat rela atas realitas hidupnya yang sederhana itu. Ia bersabar atas kesulitan hidup dan puas terhadap barang halal yang dimilikinya walaupun sedikit. Itulah kenapa ia menjadi manusia yang ridha kepada Allah dan diridhai oleh Allah.

Dermawan

Fatimah Az-Zahra adalah orang yang mengutamakan (orang lain) atas dirinya sendiri karena meneladani sunnah dan perilaku ayahnya dan juga ia memelihara sifat yang mulia itu. Ia adalah salah seorang ahlulbait yang dikenal dengan kewibawaannya yang tinggi.

Ibnu al Jauzi meriwayatkan,

“Nabi pernah membuatkan sehelai baju untuk Fatimah pada malam pernikahannya karena yang dimilikinya pada saat itu hanya sehelai baju yang bertambal. Tiba-tiba seorang berdiri di pintu rumahnya dan meminta darinya sehelai baju yang layak dipakai. Mula-mula Fatimah hendak memberikan bajunya yang bertambal itu. Namun ia ingat akan firman Allah:

Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai (Q. S. Ali Imran: 92).

Fatimah kemudian memberikan kepada orang tersebut bajunya yang baru. Menjelang hari pernikahan, malaikat Jibril datang dan memberinya sebuah baju yang terbuat dari sutera hijau. Malam itu juga banyak wanita Yahudi yang menyatakan diri memeluk agama Islam. Tindakan-tindakan wanita Yahudi ini kemudian diikuti oleh suami mereka.

Pada suatu hari Fatimah dan Ali didatangi seseorang yang sudah tua. Fatimah bertanya, “Siapa Anda?” Lalu dia menjawab, ”Aku seorang tua dari Arab, aku telah menemui ayahmu, penghulu umat manusia. Aku datang dari negeri yang jauh. Tubuhku tidak berbaju dan perutku lapar. Tolonglah aku. Semoga Allah SWT merahmatimu.”

Pada waktu itu Fatimah dan Ali dan Nabi sudah tiga hari tidak makan dan Nabi juga mengetahui keadaan itu. Fatimah mengambil kulit domba yang disamak yang biasa dipakai Hasan dan Husain sebagai alas tidur. Fatimah berkata: Ambillah ini wahai tamuku. Mudah-mudahan Allah menyediakan yang lebih baik bagimu.” Tetapi orang Badui itu berkata, “Wahai putri Muhammad, telah aku katakan aku sangat lapar. Tetapi engkau memberiku kulit domba. Apa yang dapat aku lakukan dengan kulit domba itu?”

Lalu Fatimah mengambil kalung yang ada di lehernya. Kalung itu hadiah dari putri pamannya, Hamzah bin Abi Thalib. Lalu ia memberikan kalung itu dan berkata, “Ambillah ini dan juallah. Mudah-mudahan Allah memberimu sesuatu yang lebih baik.” Orang Badui itu mengambil kalung itu lalu menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, Fatimah telah memberiku kalung ini. Ia memintaku untuk menjualnya dengan harapan semoga aku bisa mendapatkan sesuatu yang lebih baik darinya.” Melihat itu Rasulullah meneteskan air mata.

Menjaga Kesucian diri

Di antara ajaran Islam yang mendapatkan perhatian khusus dari Fatimah adalah melindungi kehormatan dan kecantikan kaum perempuan lewat menaati aturan berbusana islami. Fatimah menyadari bahwa kejahatan, bencana kemasyarakatan, dan pelecehan karena pelepasan hijab dan kelonggaran pergaulan.

Ibnu al Maghazili menyebutkan dalam kitabnya, Al Manaqib, bahwa Ali bin Al Hasan berkata,

“Sekali waktu seorang laki-laki buta meminta izin memasuki rumah Fatimah, namun Fatimah tetap membentangkan hijab (batas penutup) di antara mereka berdua. Rasulullah melihat tindakannya itu dan bertanya, ‘Mengapa engkau tetap membentangkan hijab di antara kalian padahal ia tidak dapat melihatmu?’ Fatimah menjawab, ‘Rasulullah, benar ia tak dapat melihatku, namun aku dapat melihatnya dan ia dapat mencium wangiku.’ Mendengar hal ini Nabi SAW berkata, ‘Aku bersaksi bahwa engkau adalah bagian dari diriku.’”

Apabila ada orang laki-laki yang ingin berbicara dengannya, maka ia akan melayaninya dari balik tirai atau hijab yang memisahkannya dengan orang tersebut agar dengan cara itu ia bisa terpelihara dari pandangan laki-laki lain yang bukan muhrimnya. Sedemikian sucinya dirinya sehingga ia juga berpesan bahwa kelak ketika ia wafat dirinya harus ditutup rapat-rapat dari pandangan non muhrimnya. Fatimah menganggap bahwa tradisi saat itu yang menutup wajah mayit perempuan, namun membiarkan bagian tengahnya terbuka dari kain yang menyelimutinya adalah suatu aib besar. Ketika Asma’ binti Umais memberitahukan bahwa seluruh tubuh jenazah wanita penduduk Habsyah tertutup rapat, Fatimah memuji cara mengurus jenazah wanita seperti itu. Dia berpesan agar dirinya kelak juga ditutup seperti itu, agar terhindar dari pandangan laki-laki yang non muhrim.