© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Kehidupan Politik Kerajaan Kutai Kartanegara?


Bagaimana sejarah dan kehidupan politik pada masa kerajaan Kutai Kartanegara?

Kerajaan Kutai Kartanegara


Kerajaan Kutai Kartanegara, untuk pertama kali disebut-sebut dalam kesusasteraan kuno kitab Negara Kertagama. Yakni sebuah kakawin untuk Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit yang disusun oleh Empu Prapanca pada tahun 1365. Dalam pasal 13 dan 14 tercantum daftar beberapa wilayah yang dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Salah satu diantaranya disebut Kerajaan Kutai yang dalam kitab tersebut ditulis dengan istilah “Tunjung Kute”. Sedangkan kitab lain yang menyebutkan Kerajaan Kutai Kartanegara adalah terdapat pada Hikayat Raja-Raja Pasir dan kitab Pararaton.

Sebuah cerita lain yang berkembang dalam masyarakat menegenai berdirinya Kerajaan kutai Kartanegara juga terdaoat dalam buku Salasilah Kutai. Yakni sebuah kitab yang ditulis dalam bentuk bahasa Arab Melayu yang mengisahkan kehidupan Raja-Raja Kutai Kartanegara. Meskipun dalam kitab tersebut masih berisi kisah-kisah dalam bentuk mitologi, namun jika disimak secara mendalam pastilah di balik cerita yang kadang hanya bersifat dongeng itu mengandung fakta historis yang sahih.

Berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara


Ceritanya dimulai dari seorang kepala Desa Jahitan Layar, yang sudah sekian lama berumah tangga tidak memperoleh keturunan. Kemuadian secara ajaib ia mendapat anak yang diturunkan dari langit dalam sebuah bola emas. Oleh ayah angkatnya, anak ajaib itu diberi nama Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Pada waktu yang hampir bersamaan, Kepala Desa Hulu Dusun juga memperoleh anak perempuan dengan cara yang sama menakjubkan. Anak perempuan itu ditemukan di atas buih air sungai Mahakam didekat Melanti. Suatu tempat yang sekarang terletak di Muara sungai Mahakam, termasuk wilayah Kutai Lama. Oleh orang tuanya, anak perempuan itu diberi nama Putri Karang Melenu atau bisa disebut juga putri Junjung Buih.

Setelah keduanya dewasa, Aji Batara Agung Dewa Sakti mendirikan kerajaan di hilir sungai Mahakam yang bernama “Kutai Kartanegara”. dan menjadi raja di kerajaan tersebut, setelah itu dia menikah dengan Putri Karang Melenu. Perkawinannya membuahkan seoarang keturunan laki-laki bernama Aji Paduka Nira. Sesudah kelahiran anak pertamanya, Aji Batara Agung Dewa Sakti melakukan perjalanan ke Pulau Jawa, mengunjungi kerajaan Majapahit. Atas kepergian suaminya itu, sang Permaisuri Putri Karang Melenu tidak tahan hidup sendirian. Lalu ia memutuskan untuk meninggalkan dunia ini dengan cara menceburkan diri ke sungai Mahakam dimana ia dilahirkan.

Aji Batara Agung Dewa Sakti sepulang dari Majapahit merasa sedih menerima kanyataan bahwa isterinya telah meninggal dunia. Kemudian ia memutuskan menceburkan diri masuk ke sungai Mahakam sama seperti istrinya. Sepeninggal kedua orang tuanya, Aji Batara Agung Nira menjadi yatim piatu. Selanjutnya, seorang penduduk terkemuka dari desa Muara Bengalon dengan cara ajaib memperoleh anak perempuan dari rumpun bambu. Anak angkatnya itu diberi nama Putri Paduka Suri. Setelah dewasa, ia diperistri oleh Aji Paduka Nira yang menjadi Raja kedua dari kerajaan Kutai Kartanegara. Dari perkawinannya ini kemudian lahir tujuh orang anak. Lima diantaranya laki-laki dan dua lainnya perempuan.

Teori Asal Usul Kerajaan Kutai Kartanegara


Cerita mitologi mengenai asal usul berdirinya Kerajaan Kutai Kartanegara dari berbagai aspek sangat menarik untuk dicermati. Meskipun cerita itu terkesan hanya hasil ciptaan dari pujangga saat itu, namun dalam cerita itu memuat alur kronologi sejarah yang luar biasa.

Sumber sejarah dari sebuah manuskrip kerabat Keraton Kutai Kartanegara. Aji Batara Agung Sakti itu sebenarnya adalah merupakan salah satu keturunan dari dinasti Kerajaan Singasari Malang. Berdasar pada sumber sejarah itu disebut-sebut bahwa:

Aji Batara Agung Dewa Sakti sebenarnya seorang pelarian pembesar Kerajaan Singasari yang bernama “Raden Kusuma”. Ia melarikan diri bersama tentara Khubilai Khan yang dipimpin Jendral Cheng Ho. Setelah tentara Singasari dibawah Raja Kartanegara berhasil dikalahkan oleh tentara Raden Wijaya (pendiri Majapahit) dalam perang Paregreg di Desa Dander Kabupaten Kediri. Raden Kusuma melarikan diri dari kejaran tentara Raden Wijaya kearah Utara dengan menggunakan kapal layar.

Dalam pelariannya rombongan sisa armada pasukan Raden Kusuma bersama Jendran Cheng Ho memasuki sungai Mahakam untuk memperbaiki layar yang sobek. Tempat mereka bersandar kini terkenal dengan istilah “ Jahitan Layar ”. Yakni sebuah Desa yang kini berada di Kutai Lama.

Raden Kusuma yang memiliki darah keturunan yang berasal dari keluarga bangsawan itu kemudian mendirikan Kerajaan baru di hilir sungai Mahakam yang bernama “ Kutai Kartanegara ”. Nama Kerajaan baru ini diambil dari nama raja dinasti Kerajaan Singasari, Raden Kartanegara yang telah ditaklukan oleh pendiri Majapahit, Raden Wijaya.

Raden Kusuma berkeinginan melestarikan kejayaan dinasti Kartanegara di Kalimantan Timur dengan menggunakan nama dari Raja Singasari yaitu Raden Kartanegara. Guna menghindar dari ancaman Raja Majapahit, maka diciptakanlah sebuah mitos, agar rahasianya tertutupi yaitu dengan cerita mitologi bahwa dirinya lahir dari bola emas yang jatuh dari langit. Cerita mitologi yang penuh keajaiban ini selain untuk menyembunyikan identitas bahwa dirinya merupakan salah satu keturunan Raja Singasari, juga untuk menegaskan bahwa adanya kewibawaan sebagai keturunan Dewa yang sakti.

Kalau kita buka lagi lembaran sejarah Majapahit, Gajah Mada menjadi Pati pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1331 M. Di bawah kebesarannya, Kerajaan Majapahit meluaskan wilayah kekuasaannya ke berbagai penjuru Nusantara. Termasuk ke Kalimantan Timur, Sabah dan Filipina Selatan. Juga masih kuran jelas apakah pada saat itu Kerajaan Kutai Karanegara juga tunduk terhadap kekuasaan Majapahit. Ataukah kerajaan itu hanya merupakan Kerajaan kecil yang hanya mempumya otonomi terbatas yang membuat mereka berdiri sendiri. Hal yang patut untuk diketahui adalah, ada beberapa Raja Kutai pernah belajar ke Majapahit untuk mencontoh pemerintahan disana.

Teori lain juga menyebutkan bahwa Kerajaan Kutai Kartanegara didirikan oleh seorang pembesar Hindu Jawa yang berasa dari Kalimantan Selatan, mereka adalah keturunan dinasti kerajaan Daha Kediri yang lebih dulu mendirikan Kerajaan Daha dan Kuripan di Kalimantan Selatan. Hal ini karena didukung dengan penyebutan nama-nama Aji yang diambil dari nama Aji Jaha yang berarti tinggi. Disamping itu pada Kerajaan Kutai Kartanegara terdapat Undang-Undang “ Panji Selaten ” yang diperkirakan ada hubungan dengan cerita Panji yang sangat terkenal di Kerajaan Daha.

Politik Kerajaan Kutai Kartanegara


Aji Batara Agung Nira yang telah yatim piatu kemudian meneruskan tahta dari orang tuanya. Setelah cukup dewasa kemuadian ia menikah dengan Putri Paduka Suri, yakni seorang putri yang dipercaya lahir dari rumpun bambu. Berdasar data yang dihimpun dari manuskrip kerabat Keraton Kutai Kartanegara, menyebutkan antara lain bahwa Putri Paduka Suri sebenarnya adalah salah seorang keturunan Raja Kutai Martadipura, yang bernama Indra Perwati Dewi. Ia anak dari Raja Guna Perana Tungga, dinasti ke-20 dari Kerajaan Kutai Martadipura. Setelah menikah dengan Aji Batara Agung Nira, kemudian bergelar menjadi Putri Paduka Suri.

Kerajaan Kutai Kartanegara berusaha memperkuat Kerajaan dengan melakukan pernikahan politik dengan Kerajaan Kutai Martadipura, yang beribukota di Muara Kaman. Masih kurang jelas motivasi dari perkawinan tersebut. Apakah sekedar untuk menghindarkan perselisihan dengan Kerajaan Kutai Martadipura, atau berusaha untuk menghimpun kekuatan baru.

Selanjutnya, setelah Aji Paduka Nira wafat, ia digantikan oleh anak sulungnya yang bernama Maharaja Sultan (1450-1474M). Maharaja Sultan bersama Raja Indera Mulia dari Kerajaan Kutai Martadipura berangkat ke Majapahit untuk belajar adat istiadat kerajaan. Namun karena suatu alasan, Raja Indera Mulia pulang kembali ke Muara Kaman sebelum menyelesaikan belajarnya tentang adat istiadat kerajaan. Setelah Maharaja Sultan berhasil menamatkan belajarnya di Majapahit, ia kembali ke Kutai Kartanegara. Kemudian menikah dengan Aji Paduka Sari. Dari perkawinan tersebut, Maharaja Sultan mempunyai seorang anak yang bernama Mandarsyah.

Raja Mandarsah memerintah Kutai Kartanegara setelah setelah beliau beranjak dewasa. Karena saat beliau berusia empat tahun, ayah kandungnya, Maharaja Sultan meninggal dunia. Raja Mandarsah saat hidupnya tidak memiliki seorang keturunan untuk meneruskan pemerintahannya. Maka saat itu pemerintahan dilanjutkan oleh Tumenggung Baya-Baya. Ia menjadi Raja kelima dari dinasti Kutai Kartanegara. Ketika wafat, kekuasaan diserahkan kepada anak sulungnya , yaitu Raja Mahkota (1575-1610M) yang baru berusia 14 tahun.