Bagaimana Kecemasan Sosial Pada Remaja?

Kecemasan Sosial Pada Remaja

Kecemasan sosial adalah bentuk fobia sosial yang lebih ringan yang merupakan ketakutan yang terus-menerus dan irasional terhadap kehadiran orang lain. Individu berusaha menghindari suatu situasi khusus di mana ia mungkin dikritik dan menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau bertingkah laku dengan cara yang memalukan.

Bagaimana Kecemasan Sosial Pada Remaja ?

Kecemasan Sosial Pada Remaja


Teori perbandingan sosial menyatakan bahwa setiap orang akan melakukan perbandingan antara keadaan dirinya sendiri dengan keadaan orangorang lain yang mereka anggap sebagai pembanding yang realistis. Perbandingan sosial semacam ini terlibat dalam proses evaluasi diri seseorang, dan dalam melakukannya seseorang akan lebih mengandalkan penilaian subyektifnya dibandingkan penilaian obyektif (Herabadi, 2007). Beberapa ahli perkembangan berpendapat bahwa dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan perbandingan sosial ketika mengevaluasi dirinya (Santrock, 2003).

Bila remaja terlanjur membentuk pandangan bahwa penampilan fisik yang ideal itu adalah seperti yang dimiliki para model yang ditampilkan dalam media massa, maka akan ada kecenderungan bahwa remaja akan membandingkan dirinya berdasarkan standar yang tidak realistis. Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap berbagai bentuk tubuh menyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan tubuhnya yang tidak sesuai dengan standar budaya yang berlaku. Keprihatinan timbul karena adanya kesadaran bahwa daya tarik fisik berperan penting dalam hubungan sosial. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa remaja yang sebenarnya memiliki proporsi tinggi badan serta berat badan yang normal mungkin saja memiliki penilaian yang negatif mengenai tubuhnya karena menggunakan tubuh model-model yang dilihatnya di media masa sebagai pembanding. Sampai batas tertentu, proses berpikir kritis terhadap diri sendiri memang akan membantu remaja untuk menilai dirinya sendiri secara sehat dan untuk beradaptasi dengan lingkungannya (Vilegas & Tinsley, 2003, dalam Herabadi, 2007).

Baru-baru ini Verplanken melakukan penelitian mengenai kebiasaan seseorang untuk berpikiran negatif dalam menilai dirinya sendiri (negative selfthinking habit). Negative self-thinking yang menjadi kebiasaan serta terus menerus muncul secara otomatis, sering dan menetap dalam benak seseorang, tentunya tidak lagi berkontribusi terhadap pembentukan konsep diri yang sehat, sebaliknya hal tersebut merupakan suatu disfungsi psikologis, yang selanjutnya dapat menurunkan harga diri serta membuat seseorang rentan untuk mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Negative self-thinking habit yang disfungsional memiliki tiga aspek sebagai berikut: (1) pemikiran tentang diri yang muatannya negatif; (2) frekuensi munculnya pemikiran serupa itu secara sering; dan (3) pemikiran ini muncul tanpa disadari, tanpa disengaja, serta sulit untuk dikontrol (Verplanken, 2006, dalam Herabadi, 2007).

Anak remaja seringkali cemas bila berada di hadapan orang banyak, tidak hanya di hadapan orang yang tidak dikenalnya tetapi juga dengan orang yang dikenalnya. Rasa cemas mereka timbul dari ketakutan akan penilaian orang lain terhadap perubahan tubuh dan perilaku mereka. Pada masa remaja, rasa cemas diekspresikan dalam perilaku yang mudah dikenal seperti murung, gugup, mudah tersinggung, tidur yang tak nyenyak, cepat marah, dan kepekaan yang luar biasa terhadap perkataan atau perbuatan orang lain. Remaja yang merasa cemas tidak bahagia karena merasa tidak tenteram, mereka mungkin mempersalahkan diri sendiri karena merasa bersalah atas ketidakmampuan mereka memenuhi harapan orang tua, guru, dan teman sebaya, dan sering merasa kesepian serta disalahmengertikan (Hurlock, 1999).

Dalam kehidupan sehari-hari remaja harus menempatkan diri di tengah-tengah realita. Ada remaja yang menghadapi fakta-fakta kehidupan dengan penuh kebenaran, akan tetapi ada juga yang menghadapinya dengan perasaan tidak berdaya, hal ini adalah tanggapan negatif terhadap diri sehingga sekitarnya merupakan sesuatu yang negatif bagi dirinya. Tanggapan ini menjadikan remaja selalu hidup dalam ketakutan yang akan mempengaruhi seluruh alam perasaannya sehingga terjadi keguncangan dalam keseimbangan kepribadian, yaitu suatu keadaan emosi yang labil. Maka dalam keadaan tersebut remaja tidak berpikir secara wajar, jalan pikirannya palsu, dan segala sesuatu yang diluar diri yang dipersepsikan secara salah. Dengan demikian tindakan-tindakannya menjadi tidak adekuat sebab diarahkan untuk kekurangan dirinya. Keadaan ini lama kelamaan tidak dapat dipertahankan lagi, yang akhirnya akan menimbulkan kecemasan sosial pada diri remaja (Sriati, 2008).

Menurut Kay (Sriati, 2008) tugas-tugas perkembangan remaja sebagai berikut :

  1. Menerima fisiknya sendiri berikut keragaman kualitasnya.
  2. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua atau figur-figur yang mempunyai otoritas.
  3. Mengembangkan keterampilan komunikasi interpersonal dan belajar bergaul dengan teman sebaya atau orang lain, baik secara individual maupun kelompok.
  4. Menemukan manusia model yang dijadikan identitasnya.
  5. Menerima dirinya sendiri dan memiliki kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
  6. Memperkuat self control atas dasar skala nilai, prinsip-prinsip atau falsafah hidup.
  7. Mampu meningkatkan reaksi dan penyesuaian diri

Remaja yang gagal melakukan tugas perkembangan dan dianggap tidak matang oleh kelompok sosial dan yang menyadari bahwa orang lain memandangnya tidak mampu menjalankan peran dewasa yang baik, akan mengembangkan kompleks rendah diri. Meskipun mereka tidak meletakkan standar-standar yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri, akan terdapat kesenjangan antara apa yang diinginkan dan apa pandangannya tentangn dirinya sendiri seperti tercermin dalam dugaan mengenai apa pandangan orang lain tentang diri mereka. Kalau kesenjangan ini kecil maka remaja akan mengalami ketidakpuasan, tetapi kalau kesenjangan ini lebar, maka ia cenderung mengganggap dirinya sendiri tidak berharga dan mengalami kecemasan (Hurlock, 1999).

Keberhasilan remaja dalam usaha untuk memperbaiki kepribadiannya bergantung pada banyak faktor. Pertama, ia harus menentukan ideal-ideal yang realistik dan dapat mereka capai, jika tidak, ia pasti akan mengalami kegagalan dan bersamaan dengan itu mengalami perasaan tidak mampu, rendah diri dan bahkan menyerah dan ia menimpakan kegagalannya pada orang lain. Kedua, remaja harus membuat penilaian yang realistik mengenai kekuatan dan kelemahannya. Perbedaan yang mencolok antara kepribadian yang sebenarnya dengan ego ideal akan menimbulkan kecemasan, perasaaan kurang enak, tidak bahagia dan kecenderungan menggunakan reaksi-reaksi bertahan. Ketiga, para remaja harus mempunyai konsep diri yang stabil. Konsep diri biasanya bertambah stabil dalam periode masa remaja. Hal ini memberi perasaan kesinambungan dan memungkinkan remaja memandang diri sendiri dalam cara yang konsisten, tidak memandang diri hari ini berbeda dengan hari lain. Ini juga meningkatkan harga diri dan memperkecil perasaan tidak mampu. Keempat dan yang paling penting, remaja harus merasa cukup puas dengan apa yang mereka capai dan bersedia memperbaiki prestasi-prestasi dalam bidang-bidang yang mereka anggap kurang. Menerima diri sendiri menimbulkan perilaku yang membuat orang lain menyukai dan menerima remaja. Ini kemudian mendorong perilaku remaja yang baik dan mendorong perasaan menerima diri sendiri. Sikap terhadap diri sendiri menentukan kebahagiaan seseorang (Hurlock, 1999)